Kembali Berduka

Om suastiastu

Hari ini, Selasa, tanggal dua puluh dua, Bulan November, tahun dua ribu sebelas tepat lima puluh hari kepergian ayahku (Jro Mangku Wayan Natia), aku kembali harus berduka. Kakakku “I Wayan Sudana” meninggalkan aku dan keluargaku untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” setelah menjalani perawatan intensif selama lima hari di Rumah Sakit Angkatan Darat( RSAD) Denpasar.

Almarhum I Wayan Sudana

Sama sekali aku tak menduga kalau kakakku pergi begitu cepat di tengah-tengah perjuanganku menuntut ilmu di negeri seberang. Hari Minggu tanggal dua puluh Bulan November tahun dua ribu sebelas hari terakhir aku bercakap-cakap di telepon dengan kakakku. Pada waktu itu kondisinya sudah baik, dan bilang ke aku kalau dia akan segera pulang dari rumah sakit karena kondisinya semakin bagus sehingga menurut dokter perlu beberapa hari lagi untuk observasi lanjutan.

Kenyataan berkata berbeda, hari selasa pagi banyak pesan yang masuk lewat facebook yang menyatakan bahwa kakakku telah tiada. Terhentak hatiku memandang pesan-pesan di facebook tersebut dan tak tau harus berbuat apa. Sesaat setelah itu, Adikku (Komang) menelponku lewat Skype dan memberitahukan bahwa kakakku wayan telah meninggal dunia. Air mataku kembali menetes sambil berbicara lewat Skype walaupun signalnya agak kurang bagus. Adikku memberitahukan tentang rencana acara pengabenannya. Dari kesimpulan rapat keluarga, pengabenan dilaksanakan di Lampung pada Hari Minggu, tanggal dua puluh tujuh, Bulan November, tahun dua ribu sebelas.

Setelah itu aku menghubungi kakakku (Made) yang mengurus kepulangan jenasah almarhum dari rumah sakit ke Lampung. Berkat dukungan dan bantuan keluarga besar di Bali, pengiriman jenasah almarhum berjalan dengan lancar menggunakan pesawat Garuda Airline. Sore harinya, kakakku (Cenik) dan saudara-saudara yang lain telah bersiaga menjemput jasad almarhum di Bandar Udara Radin Intan, Bandar lampung. Selanjutnya jenasah dibawa ke kampung halaman di Banjar Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Semua keluarga sudah bersiap-siap menyambut kedatangan jenasah kakakku dan juga mempersiapkan upacara untuk pengabenan. Sekitar jam Sembilan malam, jenasah tiba dan langsung disemayamkan di rumah duka.

Almarhum I Wayan Sudana

Pada hari kamis 24/11/2011, dialkukan persiapan pengabenan. Aku merasa sedikit terhibur karena aku bisa menyapa semua saudara-saudara dan krama banjar yang hadir dirumah membantu persiapan melalui Skype yang dibantu oleh sepupuku Wayan Kerta. Satu persatu aku sapa mereka dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya untuk mempersiapkan acara pengabenan almarhum. Istri dan anak almarhum juga tiba pada hari kamis dan kembali cucuran air mata datang serta teriakan tangisan terus terdengar karena kepergian almarhum.

Dari kejauhan aku hanya bisa memantau perkembangan persiapan acara pengabenannya melalui Skype dan facebook dengan adik dan keponaan-keponaanku. Hari Jumat (25/11/2011) sore semua banten sudah siap. Ini berkat kesigapan dan kerja keras semua keluarga, krama banjar adat Madia Agung I dan juga dibantu dari banjar Madia Agung II (Wates) dan III (Jangu Sangsit).

Pada hari Sabtu (26/11/2011) pagi diadakan pembersihan jenasah almarhum yang dilakukan oleh semua saudara dan krama banjar. Selanjutnya jenasah disemayamkan di Bale dan selanjutnya disuguhkan beberapa sajen. Setelah itu dilanjutkan dengan acara nebusin di perempatan agung yang dipimpin oleh Jro Mangku Bagus dan nunas di Pura Dalem yang dipimpin oleh Ida Pandita dari Wates.

Acara nebusin di Perempatan Agung

Malam harinya diadakan acara Dharma Tula yang diberikan oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca dari Bandar Jaya, Lampung Tengah yang akan memimpin acara pengabenan keesokan harinya. Informasi yang aku terima dari adikku melallui facebook, semua pendengar yang mengikuti acara ini sangat antosias mendengarkan ceramahnya karena memang beliau berlatarbelakang seorang guru Agama Hindu. Sebelum acara Dharma Tula dimulai diawali dengan doa bersama untuk mendoakan almarhum mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Acara Dharma Tula oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca

Hari Minggu (27/11/2011) adalah hari pengabenan almarhum I Wayan Sudana. Setelah prosesi upacara di rumah selesai, jenasah almarhum naikkan ke Bade yang dibuat secara gotong royong oleh para krama banjar dan selanjutnya diusung ke kuburan diiringi oleh saudara, krama banjar, teman dan sahabat almarhum serta seka gong yang mengiringi perjalanan dari rumah duka ke kuburan.

Saudara dan Krama Banjar mengiringi jenasah almarhum menuju kuburan

Setelah samapai dikuburan, jenasah ditempatkan ditempat yang telah disediakan dan selanjutnya dibakar dengan menggunakan kayu bakar. Setelah badannya menjadi abu, para saudara mengumpulkan sisa-saisa tulangnya yang selanjutnya di rangkai dan ditempatkan di Pengiriman untuk selanjutnya disucikan oleh Sang Pandita yang memimpin acara tersebut. Setelah itu diadakan persembahyangan bersama sebagai puncak acara pengabenan dan “mepamit” untuk mengucapkan selamat jalan kepada roh almarhum.

Acara pembakaran jenasah almarhum I Wayan Sudana

Setelah selesai sembahyang bersama, sisa-sisa tulang yang sudah disucikan dianyutkan ke sungai untuk mengembalikan semua unsur panca maha bhuta (lima unsur pembentuk tubuh manusia) sehingg secara fisik tubuhnya benar-benar tidak ada di dunia ini.

Sesaat sebelum abu almarhum dianyutkan ke sungai

Setelah Nganyut, dilanjutkan dengan upacar mecaru di rumah duka dan mesapuh sebagai simbolis pembersihan diri dan lingkungan di rumah duka. Dan selanjutnya dilakukan acara Manusia Yadnya “Pawintenan” anggota keluarga alrmarhum yang dipimpin langusng oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca. Ini adalah rangkaian terakhir dari acara pengabenan almarhum I Wayan Sudana.

Kembali aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena aku tidak bisa melihat dia untuk terakhir kalinya dan aku tidak bisa hadir dalam acara pengabenannya. Maafkan aku! Aku dari kejauhan hanya bisa berdoa dari kejauhan agar kakakku mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua teman dan sahabat almarhum yang telah mengucapkan bela sungkawa atas kepergiannya. Terima kasih juga kepada semua tim medis Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar yang telah memberikan pelayanan yang terbaik buat almarhum.

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada semua keluarga dan krama Banjar Madia Agung I, Madia Agung II dan Madya Agung III beserta krama yang berasal dari banjar-banjar lainnya di banjit, Way Kanan yang telah membantu mempersiapkan acara pengabenan almarhum I Wayan Sudana. Berkat bantuan dari semua orang tersebut acara pengabenannya dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa rintangan apapun. Terima kasih juga kepada semua saudara yang telah berbagi foto melalui facebook, sehingga bisa aku pakai melengkapi rangkain cerita prosesi pengabenan almarhum. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih!

Beberapa foto acara kremasi almarhum bisa dilihat DI SINI

Om shanti

I Nengah Subadra
United Kingdom, 22/11/2011
Updated: 28/11/2011

Advertisements

Kisah duka di Hari Senin

Om suastiastu

Pada hari ini, Senin tanggal tiga Oktober dua ribu sebelas tepat pukul delapan belas tiga puluh lima menit waktu Indonesia barat ayahku “Jro Mangku Wayan Natia” berpulang menghadap Ida Sang Hyang Widhi Wase – Tuhan Yang Maha Esa. Kepergiannya benar-benar membuat duka yang mendalam di hatiku, keluargaku dan sahabat-sahabat ayahku serta sisya (murid-murid) yang ditinggalkanya.

Almarhum Ayahnda Jro Mangku Wayan Natia di Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit Kabupaten Waykanan. Lampung

Walaupun aku sudah tau kalau ayahku sudah diopname di rumah sakit di Kotabumi Lampung Utara selama lima hari, namun SMS siang itu (waktu London) yang dikirimkan oleh adikku (Komang) benar-benar mengejutkan hatiku karena berisi pesan duka “Ngah wane be ing ade” (Ngah bapak sudah tiada). Tersentak aku diam dan termenung sejenak dengan istriku (Indah) yang baru saja datang dari menghantar anak perempuanku (Dhita) ke sekolah Playgroup di Priory Witham Academy.

Aku berusaha menghubungi handphone flexy yang sengaja aku belikan untuk ayahku agar aku bisa berkomonikasi dengan ayahku dengan pulsa yang murah, namun tidak aktif. Aku menghubungi dan menyuruh keponaanku (Eka) dan iparku (mbok Dewi) yang saat itu sedang online di facebook untuk menyuruh adikku mengaktifkan telpon flexy itu karena aku sungguh tidak sabar mendengar omongan langsung dari salah satu saudaraku yang sedang berada di rumah sakit menunggu ayahku. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku bisa menghubungi handphone flexy itu dan berbicara dengan adikku. Dia menceritakan kenyataan yang terjadi pada ayahku. Aku menangis tersedu-sedu sambil menanyakan detik-detik terkahir kepergian ayahku dan rencana ritual yang akan dilakukan untuk ayahku. Istriku yang ketika itu sedang mempersiapkan makan siang datang menghampiriku dan memberikan support atas kesedihan dan dukaku pada saat aku berbicara dengan adikku.

Beberapa saat setelah itu aku mendapat pesan dari keponaanku bahwa ritual pengabenan (kremasi) ayahku akan dilaksanakan pada Hari Rabu tanggal lima Oktober 2011. Setelah melihat mepetnya waktu, aku berpikir jarak tempuh antara Lincoln-London-Jakarta-Bandar Lampung-Banjit sangat jauh sehingga aku berkesimpulan bahwa aku tidak bisa pulang untuk melihat ayahku yg terakhir kali sebelum dikremasi. Kembali aku mersa sangat sedih karena hanya aku dari sembilan saudaraku yang masih hidup yang tidak ada dalam acara tersebut. Tetapi tidak apa-apa. Aku akan berdoa buat ayahku dari sini agar ayahku mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya di dunia ini. Aku harus benar-benar minta maaf yang sedalam-dalamnya kepada ayahku karena aku tidak bisa mengurusi ayahku pada saat sakit dan sesudah meninggal karena aku berada nan jauh di negeri seberang.

Kenangan yang terindah bersama semua saudara-saudaraku di pura keluarga, Desa Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung

Seharian aku tidak konsen belajar dan merevisi desertasiku. Aku hanya mengecek facebook dan sms serta telpon dari semua saudara-saudaraku yang membicarakan tentang kepergian ayahku. Menjelang sore sekitar jam limaan waktu London atau sekitar jam sebelas malam waktu Indonesia barat aku kembali menelpon saudaraku di Lampung yang kebetulan pada saat aku bisa berbicara dengan kakakku nomor delapan (Sutar). Selanjutnya aku dan kakakku membicarakan tetang rencana ritual pengabenan dan persiapan-persiapn yang sedang dilakukan oleh saudara-saudaraku, karma banjar Madia Agung satu dan juga para pelayat yang berdatangan dari beberapa desa di Kecamatan Banjit. Kemudian pada malam harinya, ketika aku hendak membuat teh susu untuk menghangatkan suasana malam di musim gugur tahun 2011, aku menemukan sepucuk kartu ucapan bela sungkawa dan seikat karangan bunga dari kerabat-kerabatku bermain gamelan di Lincoln, Inggris. Terima kasih banyak untuk semua saudara dan teman yang sudah bersimpati dan mengucapkan bela sungkawa atas duka yang sedang aku alami ini.

Karangan bunga yang aku persembahkan untuk almarhum ayahku

Kepada semua saudara-saudaraku, selamat menjalankan bhakti kepada orang tua kita! Dari kejauhan aku berdoa semoga acara pengabenan ayah kita berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada rintangan dan hambatan.

Om shanti shanti shanti om
I Nengah Subadra
United Kingdom, 03/10/2011

…………………………………………………
Rangkaian acara pengabenan (kremasi)
…………………………………………………

Om Suastiastu

Dari kejauhan, Lincoln-Inggris, aku hanya bisa memantau kegiatan prosesi pengabenan melalui Hamphone flexy yang diterima oleh kakakku (Wayan dan Sutar) dan adikku komang. Sejak diberitakan bahwa ayahku telah tiada, malam itu saudara-saudara sepupuku (Bli Kadek Brana, Bli man Darta, Dek Juntak dan masih banyak lagi saudara-saudara yang lain) sudah mulai memperisapkan kedatangan jenasah dan mengumumkan kepada banjar melalui kul-kul (kentongan) tentang wafatnya ayahku. Malam itu juga serentak krama (anggota) banjar mulai berdatangan mempersiapkan acaranya dan langsung dimulai megebagan (begadang) di rumah duka.

Hari Selasa dilakukan persiapan-persiapan seperti membuat banten (sesajen), bade (pengusung jenasah) dan pengiriman (pengusung abu dan sibol roh) yang dilakukan oleh para pelayat secara sukarela dan bergotong royong oleh umat Hindu di seluruh desa di Kecamatan Banjit seperti Bali Sadhar Utara (mencakup Banjar Madia Agung I, Banjar Madia Agung II, Banjar Madya Agung III), Bali Sadhar Tengah (mencakup Banjar Lebu, Banjar Tabanan dan Banjar Semseman) dan Bali Sadhar Selatan (mencakup Banjar Temakung and Banjar A).

Banyaknya para pelayat yang datang dan membantu persiapan pengabenan almarhum tidak terlepas dari jasa beliau ngayah (melayani) umat sebagi Pinandita Loka Pala Seraya (pendeta) di Pura Kahyangan Tunggal sejak didirikan kekitar tahun 1963-an yang merupakan pura terbesar di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan dan disungsung oleh semua umat Hindu di Kecamatan Banjit yang merupkan transmigran dari Pulau Bali pada saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Pada malam harinya, kata kakaku (Wayan) dilakukan pembacaan doa-doa oleh keluarga dan mekidung oleh para tetua yang biasa melakukan hal tersebut sambil menunggu semua saudara yang tinggal menyebar di Provinsi Lampung dan Bali. Mengingat singkatnya waktu, kelengkapan upacara belum siap dalam sehari sehingga persiapan masih terus berlanjut sampai dengan keesokan harinya sampai sesaat sebelum prosesi awal kremasi dimulai.

Hari Rabu pagi, tanggal lima Oktober 2011 setelah semua persiapan selesai, mulai diadakan prosesi pemandian jenasah almarhum. Setelah itu almarhum disemayaman di Bale dan diteruskan dengan upacara pembersihan jasad oleh Ida Pedanda Buruan dari Seputih Mataram, Lampung Tengah. Setelah itu semua keluarga melakukan persembahyangan bersama untuk mendoakan kepergian almarhum agar mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya (perbuatan). Pada saat yang sama, di Inggris aku, istri dan anakku juga melakukan persembahyangan bersama di rumah dengan membuat banten (sesajen) seadanya.

Banten sederhana yang kupersembahkan dari kejauhan untuk almarhum tercinta

Setelah upacara pembersihan dan penyucian jenasah serta sembahyang bersama selesai, para keluarga, krama banjar arep (utama) yaitu dari Banjar Madia Agung I dan dibantu oleh para pelayat dari banjar lainnya sebagaimana tersebut di atas mulai menaikkan jasad almarhum ke bade untuk selanjutnya diusung menuju setra (kuburuan) yang letaknya di ujung utara Desa Bali Sadhar Utara diiringi dengan Angklung dan Gong yang disumbangkan oleh para umat Hindu dari beberapa banjar.

I Wayan Sudiksa-anak ke-5 (kanan) dan Made Sudiarta-anak ke-6 (kiri) berada di atas keranda jenasah memegang jasad almarhum diiringi oleh umat Hindu dari Kecamatan Banjit, Way Kanan, Lampung

Sesuai dengan informasi dari kakakku (Wayan) yang ikut mengiringinya, perjalanan almarhum dari rumah duka ke kuburan berjalan dengan tertib dan lancar. Setiba di kuburan, jasad almarhum langsung diletakkan di atas kayu bakar yang sudah dipersiapkan oleh para anggota banjar dan pelayat lainnya.

I Wayan Adnyana Putra-cucu almarhum (paling di depan memakai baju kaos biru), anggota POLRES Lampung Barat mengawal perjalanan almarhum menuju kuburan

Setelah itu dilakukan pembersihan jasad kembali dengan menggunakan tirtha (air suci) dari beberapa pura seperti Pura Kahyangan Tunggal, Pura Tangkas Kori Agung, Pura Batur, Pura Mrajapati, Pura Dalem, Pura Keluarga dan juga Tirtha dari Ida Pedanda. Begitu selesai acara pemberisahan ini, jenasah beliau langsung dibakar. Beberapa saat setelah itu, para keluarga dipersilahkan untuk pulang membersihkan diri dan mengganti pakaian untuk mengikuti acara puncak pengabenan (kremasinya). Sedangkan karma banjar dan pelayat masih tetap di kuburan sambil menunggu pembakaran jenasah selesai.

Acara pembakaran jenasah almarhum Jro Mangku Wayan Natia

Tepat pada jam tujuh belas lewat lima puluh tujuh waktu Indonesai Barat, adikku (Komang) menulis status di facebook yang menyatakan bahwa jasad ayahku telah menjadi abu. Selanjutnya dilakukan dengan acara penulangan (memungut tulang-tulang yang masih tersisa) untuk selanjutnya dikumpulkan, dibersihkan dibungkus menjadi sekah (simbol roh) yang kemudian disucikan kembali oleh Pedanda dan didoakan bersama keluarga dan para umat Hindu yang hadir. Tatkala saudara-saudaraku sibuk memungut dan membersihkan tulang-tulang sisa pambakaran jasad ayahku, sambil menulis artikel ini yang diiringi dengan tabuh lelambatan (musik untuk orang meninggal) yang sengaja aku putar di laptopku untuk menghiburku ketika suasana duka aku alami di rantau, aku kembali menangis tersedu-sedu karena hanya aku yang tidak ada disana untuk memungut tulang-tulang almarhum.

Ketika simbol roh almarhum sudah selesai dirangkai, langsung dipangku oleh kakakku (Wayan). Selanjutnya Ida Pedanda mulai menghaturkan sesajen dan mensukikan roh almarhum. Setelah roh dianggap suci, kemudian symbol tersebut diletakkan di Pengiriman (tempat mengusung roh suci). Tepat jam sembilan belas lewat empat puluh waktu Indonesia Barat dua sms dari kakakku (Wayan dan Made) dan pesan dari adikku (Komang) dari facebook masuk memberitakan bahwa acara mepamit segera dimulai. Selanjutnya aku bergegas untuk melakukan persembahyangan dari kejauhan untuk mendoakan arwah ayahku dan pamitan dengannya.

Setelah sembahyang bersama yang diikuti oleh semua keluarga dan umat Hindu yang hadir dalam acara pengabenan ini (persembahyangan ini sekaligus untuk mepamit (perpisahan) sebagai simbol pisahnya hidup beliau dengan keluarga yang masih hidup di dunia ini). Selanjutnya simbol roh almarhum yang telah ditempatkan di Pengiriman diusung oleh krama banjar dan dibuang ke sungai yang letaknya di belakang Dalem dan Mrajapati sebagai simbol pengembalian semua unsur-unsur pembentuk tubuh manusia yang dalam Hindu dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Sehingga inilah akhir dari seluruh rangkaian acara pengabenan almarhum Jro Mangku Wayan Natia.

Malam harinya sekitar jam delapan waktu London, aku, istriku (Indah) dan anak perempuanku (Dhita) kembali melakukan persembahyangan bersama untuk mendoakan arwah ayahku agar mendapatkan mendapatkan tempat sesuai denga karmanya di dunia ini; dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase-Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan ketabahan dan ketenangan kepadaku dan semua keluarga yang ditinggalkan.

Saya secara pribadi dan atas nama keluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada semua keluarga dan teman-teman yang telah bersimpati dan berdoa atas kepergian ayahku. Terima kasih juga kepada semua keluarga, krama banjar, para seka gong and angklung, semua umat Hindu di Kecamatan Banjit yang ikut mempersipkan dan turut serta melaksanakan acara ini, serta para pelayat yang merupakan kerabat dari almarhum dan saudara-saudaraku yang telah hadir dan menyaksikan acara kremasi almarhum ayahku.

Om shanti shanti shanti om
I Nengah Subadra
United Kingdom, 05/10/2011

Anakku ‘Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara’

Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara
(Putri pasangan I Nengah Subadra dan Ni Putu Indah Indrayanti)

Hello Papa....

Lahir di Denpasar pada tanggal 19 Januari 2008 (Saniscara Umanis Sungsang, Penaggal Ping 12 Paniron) menurut sistem penaggalan Bali, di Rumah Sakit Umum Puri Raharja-Bali.

Arti:
Anak perempuan tertua yang memiliki pengetahuan luas

Kosa Kata:
1. Widya : Ilmu / pengetahuan
2. Maha : Tertinggi / tertua
3. Dhita : Puteri
4. Anisvara : Tertinggi / Luas

Asal-usul nama anakku
Nama Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara ditentukan berdasarkan pada api suci yang dinyalakan dihadapan sesajen (banten) dan diyakini bahwa api suci tersebut disaksikan oleh Dewa Brahma-dewa api yang merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa yang bertugas sebagai pencipta alam semesta dan isinya. Nama tersebut merupakan hasil kontribusi dari Ayahnda I Nengah Subadra (Widya Anisvara), Ibunda Ni Putu Indah Indrayanti (Dhita), dan Kakeknda Jro Mangku Wayan Natia (Maha). Nama panggilanya adalah Dhita.

17012009029

Apalah artinya sebuah nama?
Nama merupakan harapan utama orang tua dan diharapkan anak tersebut mencapai apa yang dicita-citakan orang tuanya. Namun, kebenaran terhadap makna nama sangat tergantung dari karma pada kehidupan sebelumnya dan prilaku dalam hidupnya sehingga tidak ada jaminan bagi yang memiliki nama bagus dan penuh arti akan mencapai tujuan yang diharapkan.

Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara

Prosesi Acara Manusia Yadanya:
1. Magedong-gedongan
Diadakan pada bulan September 2008 di Perumahan Nuansa Pengungsih, Jalan Trenggana XIVA No.14 Penatih

2. Kelahiran
Lahir pada tanggal 19 Januari 2008 di Rumah Sakit Puri Raharja. Ari-arinya dikubur di rumah Made. Saat tiba di rumah dibuatkan acara penyambutan dengan banten. Operasi sesar di lakukan oleh Dokter Haya. Masuk rumah sakit jam enaman, sekitar jam 8 pagi sudah lahir.

3. Kepus Puser
Dibuatkan banten oleh Dadong Sekar, di Beleleng. Potongan tali pusarnya dikeringkan kemudian disimpan di pelangkiran (tempat sembahyang kecil).

4. Roras Dina
Dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2008 atau dua belas hari setelah kelahiran, bantennya dibuatkan banten oleh Dadong Suplag, We Ranis dan Dadong Sekar. Dilanjutkan dengan acara pebyakalaan/pembersihan Papanya.

Nyante dulu ah..

5. Tutug Kambuhan
Hanya dibuatkan banten petanggeh karena ada pecaruan atau tawur agung di Pesangkan-Duda Timur. Dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2008. Banten dibuatkan oleh Dadong Sekar.

6.Telu Bulanan
Dilaksanakan pada tangga 3 Mei 2008 (Saniscara Umanis Bala) di Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No 5, Denpasara. Banten dibuatkan oleh Mbok Ranis dan Dadong Suplag. Banten dilengkapi dengan guling yang disumbangkan oleh Made. Dipuput oleh Jro Mangku dari Banjar Plagan. Upacara dirangkaikan dengan Tutug Kambuhan dan ngenjek tanah pertama kalinya. Mengundang semua sepupu yang ada di Denpasar, teman-teman di kampus dan tetangga. Acara berjalan dengan baik dan lancar.

7.Otonan
Dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2008 (Saniscara Umanis Sungsang). Diadakan di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Banten dibuatkan oleh Wayahnya ‘Jro Mangku Wayan Natia’. Pada hari yang sama, cucu dan cicitnya yang lain juga dibuatkan acara Manusia Yadnya (upacara persembahan untuk manusia) yaitu; mekutang bok, (potong rambut), tiga bulanan, otonan dan potong gigi. Mengundang lebih dari dua ratus orang yang besasal dari beberapa desa di Kecamatan Banjit. Acaranya berjalan dan sukses, berkat kerja sama yang baik antara keluarga dan warga setempat. Papa dan mamanya Dhita mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam acara tersebut.

Upacara Potong Rambut

8. Ulang Tahun Pertama
Selamat Ulang Tahun ya Dhita sayang….. Kasian deah… ulang tahun pertamanya nga ditemani Papanya. Maklum, sedang menuntut ilmu di negeri sebrang, tepatnya di Lincoln, United Kingdom. Katanya sih untuk bekal di hari tua katanya.

Tumpeng Nasi Kuning

Perayaan ulang tahunnya yang pertama sangat meriah karena banyak mengundang, kira 50 oranglah….. Yang diundang adalah tetangga dan anak-anaknya, keluarga papa dan mama, dan juga temen-temen mama di kampus. Katanya sih bikin tumpeng nasi kuning, biar sekalian undangannya makan nasi kuning. Hadiah juga banyak tuh dapet, boneka, baju, jaket, mainan dan masih buanyak…. lagi.

17012009009

Papa dari kejauhan hanya bisa berdoa buat Dhita, semoga cepat besar, jalannya semakin lancar (sekarang baru bisa tiga sampai lima langkah), dan panjang umur.

dsc01814

 

 

Birthday celebration in Lincoln, United Kingdom, 2012
100_8192

Satu Tahun Kepergian Ibuku Tercinta

Om suastiastu

Sembilan belas Desember dua ribu delapan. Pagi itu aku mendapatkan kabar dari sodaraku di Lampung, kalau ibu sedang dirawat di rumah sakit. Hanya selang beberapa saat saja, aku mendengar kembali berita bahwa ibu telah tiada. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ibuku akan pergi meninggalkanku selamanya secepat itu, karna kepergian ibuku ke tempat sodaraku di Kota Bandar Lampung bukan untuk berobat, tetapi hanya untuk bermain dan membeli spring bed untuk keperluan dan kenyamanan tidur di kampungku yang terletak di Banjit, Kabupaten Way Kanan.

Memang ada sedikit kejanggalan sebelum ibuku meninggal. Ibuku hanya mau diantar ke Bandar Lampung oleh Bli Sugatra, kakakku yang paling tua. Biasanya, kemana-mana selalu dianter oleh Bli Subali, kakakku nomor empat karena dia punya mobil. Dan ibuku hanya mau dijemput oleh kakaku nomor empat itu. Setelah dua hari di tempatnya Cenik, kakakku nomor lima dan setalah diajak keliling-keliling, jalan-jalan dan membeli apa yang diinginkan oleh ibuku. Sehari sebelum ibuku pulang ke Banjit, kampungku tempat ibu dan bapakku tinggal, kemudian jatuh sakit dan keadaannya terus memburuk. Walaupun sudah diberikan pertolongan pertama oleh Mba Dewi, istri kakakku yang kebetulan seorang dokter, tetapi masih saja tidak ada perubahan. Sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. Petugas rumah sakit sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa ibuku. Namun semuanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil sehingga belum genap sehari ibuku berada di rumah sakit itu, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal sehari sebelum meninggal, kakakku yang nomor empat yang kebetulan saat itu berada di Bandar Lampung untuk keperluan dinas sudah nelpon ke Handphone ibuku langsung bahwa akan dijemput besok sorenya sesuai dengan yag diharapkan ibuku. Tetapi akhirnya kakakku menjemput ibuku yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Jasadnya selanjutnya langsung dibawa ke kampong di Banjit.

Aku, pagi pagi yg cuacanya buruk, hujan angin, sebelum mendapatkan kabar terakhir bahwa ibuku meninggal, tetap saja berangkat ke kampus karena aku tak menduga ibuku akan pergi selamanya. Aku hanya berdoa sebelum aku berangkat, biar ibuku cepat sembuh. Namun beberapa saat aku tiba di kampus, aku ditelpon oleh Made, kakakku nomor enam kalau ibuku sudah meninggal. Akupun bergegas pulang dan menelpon Wayan, kakakku nomor sembilan untuk memesan tiket pesawat untuk berangkat ke Lampung, kampung halamanku yang tercinta. Aku langsung ke rumah Made dan mendiskusikan keberangkatan keluarga dari Bali. Keesokan harinya aku dan semua keluarga kakakku, kecuali istriku yang pada saat itu sedang hamil tua, berangkat ke Lampung.

Setiba di rumah, nampak persiapan-persiapan sudah dilakukan oleh para sodara dan anggota Banjar Pesangkan di tempat orang tuaku tinggal. Isak tangispun mulai sesaat aku dan sodara-sodaraku melihat ibuku yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku, yang kata sodara-sodaru periang dan kata mantan-mantan pacarku tak memiliki perasaanpun ikut bersedih, menangis dengan linangan air mata. Aku memang harus benar-benar tegar, menyadarkan diriku bawha memang suatu saat aku akan berpisah dan ditinggalkan. Aku hanya berpikir, mungkin inilah saatnya ibuku meninggalkanku dan sodara-sodaraku.

Persiapan pengabenan (kremasi) ibuku terus dilakukan dan ribuan orang berdatangan melayat yang berasal dari berbagai banjar, desa, dan kecamatan, kabupaten dan provinsi karena Bapakku seorang public figure (pendeta) yang selalu membantu umat Hindu di Lampung menyelesaikan upacara keagamaan dengan keiklasan. Kesigapan para anggota banjar dan tamu yang lainnya patut diacungi jempol karena dalam dua hari semua perlengkapan upacara kremasi untuk ibuku siap. Mereka bahu membahu, siang dan malam dirumahku untuk membuat sesajen dan Bade (alat pembawa mayat) dan Lembu sebagai simbul pengantar nyawa. Mereka tidak hanya menyumbangkan tenaganya, tetapi juga menyumbangkan materi yang mereka miliki seperti ayam, bebek dan bahkan sampai dengan kayu untuk membuat Bade. Aku benar-benar kagum dengan para umat Hindu di tempatku ini karena mereka sangat menghormati keluargaku dan mengabdikan dirinya kepada keluargaku serta membantu ibuku untuk terakhir kalinya. Aku patut mengucapkan terima kasih atas semua bantuan para anggota banjar dan tamu yang hadir pada saat persiapan dan pelaksanaan upacara kremasi ibuku, walaupun secara lisan sudah disampaikan oleh perwakilan sodaraku kepada mereka semua. Sekali lagi, terima kasih untuk semua kelaurga, kerabat dan sahabat yang sudah membantu prosesi acara kremasi ibuku tercinta.

Di antara kesebelas sodarku, aku adalah anak tersayang ibuku dan semua sodaraku mengakui fakta ini. Aku anak laki-laki terkecil, aku memang merasa mendapatkan kasih sayang lebih dari ibuku. Semua yang ku minta, selalu dikasi ama ibuku dan aku juga tidak pernah dimarah. Sebenarnya, banyak sekali hal yang terkenang dalam benakku tentang ibuku. Yang paling berkesan adalah nyanyian ibuku setiap saat aku dalam gendongan ibuku, pada waktu aku masih kecil. Syair lagu ini sekarang aku jadikan pegangan hidupku dan akan ku teruskan ke generasiku kelak. Aku juga hanya hafal sepenggal dari lagu itu, begini syairnya:

Dabdabang cening dabdabang (anakku mulailah)
Mumpung rage enu cerik (selagi engkau masih kecil)
Melajah ningkahang rage (belajarlah berprilaku baik)
Ede pati iri hati (jangan pernah iri hati)
Ede ngaden awak bise (jangan menunjukkan bahwa dirimu bisa / jangan sok tau)
Depang anake ngadanin (biarlah oranglain yang menilainya)
……. Sayangnya, tak tau lagi aku sambungan lagu ini……………???

Tulisan ini sengaja aku buat untuk melepaskan rasa kangenku dengan ibuku yang tercinta, terlebih lagi aku sekarang sedang berada di negeri orang sendirian, tanpa keluarga sama sekali, untuk menuntut ilmu. Semoga ibuku mendengar kerinduanku ini dan memberikan dorongan dan motivasi kepadaku agar aku bisa menyelesaikan studiku dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga aku bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan sodara-sodaraku di Bali dan Lampung.

Ibuku, aku selalu berdoa untukmu. Semoga Ibu mendapatkan tempat yang semestinya sesuai dengan perbuatan ibu ketika masih hidup di dunia ini. Aku juga mendoakan semua leluhurku agar mendapatkan kedamaian dan Moksah di alam sana.

Om santih santih santih om.

19 Desember 2008
I Nengah Subadra
Lincoln, United Kingdom.

Sekilas tentang Keluarga Pemilik Website

Doktor I Nengah Subadra adalah anak ke-10 dari sebelas bersaudara dari pasangan Jro Mangku Wayan Natia (almarhum)-seorang Pinandita Loka Palaya Seraya yang dulunya mengabdikan diri kepada umat Hindu di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung dengan Ni Wayan Weniati (almarhum), keturunan Wayah Jro Mangku Gelgel (almarhum), Kumpi Jro Mangku Tangkas (almarhum) yang berasal dari keluarga besar Rurung Bale Gede-Banjar Pesangkan, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karang Asem-Bali.

Kesebelas saudara kandung tersebut adalah; I Wayan Sugatra, Amd.Ag (alm), Letnan Dua (Pol) I Made Sucipta, Nyoman Sumerthi, S.Pd., I Ketut Subali, S.Pd., I Wayan Sudiksa, S.IP, S.Sos., Made Sudiarta, S.S., M.Par., Ni Nyoman Suratni (alm), I Ketut Sutarsa, S.Pd., M.Pd, I Wayan Sudana, S.S., M.Hum.(alm), I Nengah Subadra, S.S., M. Par., PhD dan Ni Komang Suhadnyani, SE. Berikut ini deskripsi singkat tentang masing-masing keluarga.

494677254_602817c130_b1

I Wayan Sugatra (Almarhum)
Jabatan terakhir yang diemban adalah Kepala Sekolah di Sekolah Dasar Negeri 4 Bali Sadhar, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan beristrikan Ni Made Sarwati-ibu rumah tangga dan memiliki tiga orang anak bernama; Ni Luh Suci Ardani-pegawai tata usaha di SMPN 2 Banjit, Ni Kadek Yeni Ekawati, Sp.D.-guru di SD 4 Bali Sadhar, dan Ni Komang Maha Diastiti-mahasiswi Institute Hindu Dharma Negeri (IHDN).
494677254_602817c130_b-copy-4

Anak pertamanya (Ni Luh Suci Ardani) sudah menikah dengan I Wayan Kerti-seorang montir elektronik di lampung dan sudah memiliki dua orang anak yaitu Komang Dian dan Ketut Dony.

Anak keduanya (Ni Kadek Yeni Ekawati) sudah menikah dengan Wayan berasal dari Singaraja pada awal tahun 2009. Belum memiliki anak.

Anak ketiganya (Ni Komang Maha Diastiti) baru saja menikah dengan Wayan berasal dari Bangli, Bali – seorang Teknisi Komputer di Ubud Bali. Belum mempunyai anak.

I Made Sucipta
Seorang perwira polisi berpangkat Letnan Satu, bertugas di POLDA Lampung berisitrikan Nurbaiti-ibu rumah tangga dan memiliki tiga orang anak bernama; Brigadir (Pol) I Wayan Adnyana Eka Saputra-anggota Satlantas Polres Lampung Barat di Liwa, Brigadir (Pol) I Made Anom Anuprawica-anggota Buser di Polsek Panjang, Bandar Lampung, dan Ni Nyoman Desty Ayu Agni Astiti-Mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Bandar Lampung (UBL).
100_2414

Anak pertamanya (I Wayan Adnyana Eka Saputra) sudah menikah dengan Dewa Ayu Ika Puspasari-ibu rumah tangga dan sudah memiliki dua orang anak perempuan bernama Putu Ayu Maharani (7 tahun) dan Made (1 tahun).
Yan Adnyana

Rara

Anak keduanya (I Made Anom Anuprawica) sudah menikah dengan Ayu-alumni Fakultas Ekonomi Universitas Bandar Lampung dan sudah memiliki seorang anak bernama Divya.
Dede ayu divia

Nyoman Sumerthi
Seorang Kepala Sekolah di SDN 5 Kotabumi-Lampung Utara bersuamikan I Dewa Gede Rai-pensiunan anggota polisi di POLRES Lampung Utara. Memiliki tiga orang anak laki-laki bernama; I Dewa Gede Ardana Putra-seorang pegawai negeri sipil di Biro Kepegawaian Daerah (BKD), Kota Denpasar, I Dewa Gede Indrayana Putra-alumni Fakultas Pertanian Universitas Udayana sekarang sedang menempuh program Master bidang Ilmu Pertanian di Universitas Lampung, dan I Dewa Gede Udayana Putra-alumni Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana ekarang sedang menempuh program Master bidang Psikologi di Universitas Surabaya.
100_2321

I Ketut Subali
Menjabat sebagai Kepala Sekolah di SDN 4 Bali Sadhar, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan-Lampung beristrikan NI Made Awasi seorang guru negeri di tempat yang sama. Memiliki empat orang anak bernama; Luh Eka Laba-lulusan Fakultas Olahraga di Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSA) di Singaraja-Bali dan sekarang sedang menempuh program Master (S2) di Universitas Negeri Solo, Kadek Dwi Arista-sekolah di SMAN 3 Kotabumi Lampung Utara, Komang Trisna Dewi dan I Ketut Catur yang keduanya masih sekolah di SDN 4 Bali Sadhar.
100_2567

I Wayan Sudiksa
Sekarang ini menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma Provinsi Lampung, menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung dari Fraksi Partai Karya Pembangunan Bangsa (PKPB) tahun 2009-2014, dulunya sebagai salah satu staf di PT. Bukit Asam, Tarahan, Panjang-Bandar Lampung beristrikan Dewi Retno Sari-seorang dokter yang bertugas di Puskesmas Kemiling, Bandar Lampung. Memiliki tiga orang anak bernama laki-laki; Putu Aditya, Made Artha Winata, dan Komang Gita.
s6301331

Made Sudiarta
Seorang dosen negeri bertugas di Politeknik Negeri Bali (PNB), dulunya menikah dengan I Gusti Ayu Indra Sukadi-seorang pegawai swasta dan sudah memiliki tiga orang anak bernama; Ni Putu Ayu Yuliani Indiasih-sedang sekolah di SMAN 8 Denpasar-Bali, Ni Made Usha Jayanthi-sedang sekolah di SMAN 8 Denpasar-Bali, dan I Komang Ardhinata Wibawa-sedang sekolah di SMPN 12 Denpasar-Bali.
100_2859

Ni Nyoman Suratni
(Almarhum)

I Ketut Sutarsa
Seorang Guru di SDN 1 Bali Sadhar, Banjit – Way Kanan, juga seorang pengusaha alias sudagar sapi di Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan beristrikan Ni Made Sidemen-ibu rumah tangga dan sudah memiliki tiga anak laki-laki bernama; I Gede Suweda Anggana Putra-sedang sekolah di SMAN 2 Bandar Lampung, I Made Wahyu dan yang terakhir bernama I Komang Esa.
494677254_602817c130_b-copy-3

I Wayan Sudana (Almarhum)
Seorang dosen negeri di Politeknik Negeri Bali (PNB), sebelumnya bekerja sebagai pegawai swasta di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) Bali beristrikan Ni Wayan Sukreni-Alumni Jurusan Pendidikan Agama di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) di Bali dan sudah memiliki dua orang anak bernama Ni Putu Hita Wulandari Natia, dan I Made Damara Natia.
494677254_602817c130_b-copy-2

I Nengah Subadra
Seorang dosen swasta di Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata (STIPAR) Triatma Jaya, Dalung-Bali. Menikah dengan Ni Putu Indah Indrayanti-alumni Jurusan Pendidikan Agama di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) di Bali. Memiliki seorang anak perempuan bernama Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara-seorang siswi taman kanak-kanak di TK Hindu Widya Kerti, Denpasar Bali; dan seorang anak laki-laki bernama I Made Indra Mahawicaksana-berumur 2,5 tahun. I Nengah Subadra lahir di Lampung pada tahun 1977.
s6301330

Lulus strata 1 (S1) di Fakultas Sastra Jurusan Sastra Inggris di Universitas Warmadewa pada tahun 2003 dan menamatkan Program Master (S2) di Program Pascasarjana Kajian Pariwisata jurusan Sosial Budaya Pariwisata di Universitas Udayana pada tahun 2006 dengan predikat kelulusan Cum Laude dan merupakan alumni Program Doktor (S3) bidang Pariwisata Budaya di University of Lincoln, Brayford Pool, Lincoln, United Kingdom. Hobinya jalan-jalan, membaca dan menulis. Aktif sebagai pengisi ruang opini dan debat publik di harian umum Bali Post dan mengajar di beberapa lembaga pendidikan Bahasa Inggris; seperti International Language Courses (ILC) Anugerah, Bali Professional Training Center, dan Bilingual Language Center.
100_70062

Ni Komang Suhadnyani
Seorang guru negeri di SMP Kemiling, Bandar Lampung (baru pindah dari SMPN 2 Banjit, Kabupaten Way Kanan-Lampung). Lulus di Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen di Universitas Maha Saraswati. Dulunya aktif sebagai pengajar bahasa Inggris di beberapa SD, SMP dan SMA di Banjit- Lampung. Sekarang ini juga masih menjabat sebagai Ketua Yayasan Jagadhita yang mengelola Pasraman Hindu yang terletak di Desa Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Way Kanan, Lampung.
494677254_602817c130_b-copy

Menikah dengan I Komang Budayana, AMd., baru saja memiliki satu anak laki-laki bernama I Wayan Yogiswara Giri Anugrah.
Giri

Biografi I Nengah Subadra

Om Suastiastu,

I Nengah Subadra lahir di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan-Lampung pada tanggal 30 Juli 1977. Lulus Sekolah Dasar di SDN 3 Bali Sadhar, tahun 1990. Lulus Sekolah Menengah Pertama di SMPN 2 Banjit tahun 1993. Lulus Sekolah Menengah Atas di SMA Katolik Slamet Riyadi Kotabumi tahun 1996.

Lulus Strata 1 (S1) pada Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Warmadewa tahun 2003. Lulus Program Magister (S2) pada Kajian Pariwisata, Universitas Udayana tahun 2006 dengan predikat kelulusan dengan pujian (cum laude).

Sekarang sedang menempuh Program Doktor (S3) Bidang Kajian Pariwisata Budaya di University of Lincoln, Brayford Pool, Lincolnshire, United Kingdom. (Rekan-rekan pembaca yang terhormat, Mohon doanya ya…! Biar cepat lulus dan kembali ke tanah air tercinta ‘Indonesia’ untuk mengabdikan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh selama masa studi)

Karir dimulai sebagai staf operasional di Bali Tourist Information Center dari tahun 1996-1998, kemudian bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia untuk orang asing di International Language Courses (ILC) Anugerah Denpasar (1999-2006).

Mulai awal tahun 2006-sekarang bergabung sebagai Dosen Tetap di Yayasan Triatma Surya Jaya yang menaungi lembaga pendidikan Manajemen Pariwisata Indonesia (MAPINDO), Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Triatma Jaya (dulunya Akademi Pariwisata (AKPAR) Triatma Jaya), dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Triatma Mulya di Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali Indonesia.

Pengalaman lain mengajar Bahasa Inggris antara lain: Inna Grand Bali Beach Spa, Bali Reef di Resort-Tanjung Benoa-Nusa Dua, The Curl di Legian, Maharta Hotel di Legian-Kuta, Vila Kubu-di Seminyak-Kuta, Direktorat Pariwisata POLDA Bali di Denpasar, Direktorat POLAIR POLDA Bali di Pelabuhan Benoa, Bali Nirwana Golf Course di Tabanan, dan Le Meridien Hotel di Tabanan. Selain itu, aktif juga sebagai penulis di ruang opini dan debat publik di harian umum Bali Post.

Musim Gugur di Lincoln, United Kingdom

Hobinya camping, jalan-jalan terutama ke obyek wisata alam dan budaya, mencicipi makanan-makanan tradisional, membaca, menulis, dan mendengarkan semua jenis musik.

Bertempat tinggal di Jalan Nagasari III, Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No.5, Banjar Poh Manis, Kelurahan Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur, Bali-Indonesia. Email: insubadra@yahoo.com.

Om shanti shanti shanti om

Salam hormat saya,

I Nengah Subadra

Lincoln, United Kingdom

Lincoln, United Kingdom

Tentang Prosesi Pernikahanku

Tak terasa lamanya hidup menyendiri dan membujang selama 15 tahun sejak aku menjadi bujangan. Pacar berganti pacar, silih berganti, dan akhirnya berakhir di tengah jalan. Namun tidak untuk pacarku yang satu ini “Ni Putu Indah Indrayanti” . Memang aku harus mengakhiri masa pacaranku dengannya dan kulanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih dekat dan istimewa yang diwujudkan dalam ikatan perkawinan.

Setelah lama mengenalnya (kurang lebih 2 tahun) baru aku memutuskan untuk menjalin hubungan cinta dengannya yang berawal kira-kira bulan Oktober 2006. Aku ngak ngerti, cintaku dengannya benar-benar tidak berawal dan sampai sekarang aku ngak tau kapan aku menyatakan cinta. Mudah-mudahan aja cintaku dengannya juga tak kan pernah berakhir.

Hanya kedekatan dan keterbukaan di antara aku dan dialah yang menyatukannya. Sejujurnya, aku cinta dan sayang dia. Namun itu semua tak pernah terucap dari mulutku. Aku cuma menunjukan rasa cinta dan sayangku dengan memberikan perhatian dan segala sesuatu yang kumiliki dengan iklas dan ketulusan hatiku alias tanpa pamerih. Mungkin saja ini yang menyebabkan dia tak pernah bertanya padaku apakah cinta dan sayang padanya. Kurasa dengan perhatian dan perlakuan yang iklas sudah cukup untuk mempercayai aku sebagai orang yang dicinta.

Setelah menjalin hubungan selama 8 bulan akhirnya aku dan dia memutuskan untuk sama-sama mengakhiri masa lajang dan kemudian menikah. Prosesi pernikahanku dengannya adalah sebagai berikut:

1.Tanggal 7 Juni 2007, upacara “ngendek” yaitu peminangan secara kekeluargaan dan menentukan waktu dan sarana upacara untuk prosesi selanjutnya. Dilakukan juga acara tukar cincin. Dilaksanakan di Banjar Jawa-Kota Singaraja. Dihadiri oleh semua keluarga dekatku dan keluarga dekatnya. Acara ini juga bertujuan untuk saling memperkenalkan diri untuk memasuki anggota keluarga yang baru. Dihadiri sekitar 50 orang keluarga dekat.

2.Tanggal 18 Juni 2007, upacara “ngidih, mepamit, dan merebu atau mebyakaon”. Upacara ngidih dilakukan oleh para pengelingsir dan tokoh adat dari kampungku dan kampungnya. Upacara mepamit merupakan upacara pamitan secara keagamaan dari pura keluarganya dan kemudian dipindahkan ke pura keluargaku. Upacara ngidih dan mepamit dilaksanakan di Banjar Jawa-Singaraja. Upacara merebu merupakan upacara pengesahan hubungan pernikahan yang disaksikan oleh masyarakat, tokoh adat dan keluarga sehingga hubungan pernikahannya dinyatakan sah dan resmi. Upacara merebu dilaksanakan di kampung nenek moyangku yaitu di Banjar Pesangkan, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karang Asem, Provinsi Bali. Dihadiri oleh 280 orang yang terdiri dari anggota Banjar Jawa (50 Kepala Keluarga) dan anggota Banjar Pesangkan (90 Kepala Keluarga).

3.Tanggal 15 Juli 2007, upacara “mewidhi-widhana atau mebantalan. Merupakan upacara puncak atau tertinggi dalam pernikahan. Disaksikan oleh masyarakat dan tokoh adat serta keluarga sebagai saksi di dunia. Disaksikan oleh banten atau sesajen sebagai saksi di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wase (Tuhan). Disaksikan juga oleh para bhuta kala yang diwujudkan dengan mempersembahan “segehan” dan “pecaruan”. Acara ini dilaksanakan rumah orang tuaku di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Dihadiri oleh semua anggota Banjar Pesangkan dan undangan bapakku yang berjumlah 200 orang dan anggota muda-mudi Ikatan Remaja Pesangkan (IKRAP) yang berjumlah 60 orang.

4.Hari Minggu, tanggal 29 Juli 2007, acara resepsi kecil-kecilan. Undangannya adalah teman-teman kerja, keluarga, dan teman-teman lamaku. Diadakan di rumah kakakku di Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No.5, Banjar Poh Manis, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Dihadiri oleh teman-temanku dan istriku berjumlah 250 orang.

Panjangnya prosesi dan sucinya pernikahan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dan acuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Semoga “awigenam astu” Ida Sang Hyang Widhi Wase memberkati dan memuluskan semua rencanaku ini dan menjauhkan segala macam rintangan dan hambatan yang dapat mengganggu acaraku.

Akhir kata, I Nengah Subadra dan keluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu acara pernikahan dari awal sampai akhir. Hanya karena bantuannyalah acara pernikahan saya dapat berjalan dengan sukses dan lancar tanpa halagan apapun.

Tuhan, hanya kepadaMu aku memohon. Semoga hubungan pernikahanku dengan dia berjalan dengan baik dan langgeng sampai akhir hayatku.

Wedding Party

Wedding Party