Hari Raya Hindu Tahun 2009

Oleh: Ni Putu Indah Indrayanti
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Hindu,
Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Bali.

100_9735-copy

Om suastiastu,

Buat umat Hindu sedharma dimanapun berada, Berikut ini adalah hari raya besar Agama Hindu pada tahun 2009. Ada baiknya pada hari-hari tersebut dibawah ini untuk mengadakan persembahyangan atau menghaturkan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase.

Bulan Januari 2009

1. Sabtu, 3- 01 – 09 : Hari Raya Saraswati

2. Minggu, 4 – 01- 09 : Banyu Pinaruh

3. Rabu, 7 – 01 – 09 : Pagerwesi

4. Sabtu, 10 – 01 – 2009 : Purnama Kapitu

5. Selasa, 12 – 01 – 2009 : Kajeng kliwon

6. Sabtu, 17 – 01 – 2009 : Tumpek Landep

7. Rabu, 21 – 01 – 2009 : Bude Cemeng Ukir/ Buda Wage Ukir

8. Sabtu, 24 – 01- 2009 : Hari Sivaratri

9. Minggu, 25 – 01- 2009 : Tilem kapitu

Bulan Februari 2009

1. Senin, 9-2-09 : Purnama Kawulu

2. Sabtu, 21-2-09 : Tumpek Wariga/Uduh/Pengatag

3. Selasa, 24-2-09 : Tilem Kawulu

4. Rabu, 25-2-09 : Buda Wage Warigadean

5. Kamis, 26-2-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Maret 2009

1. Selasa, 3-3-09 : Anggarkasih Julungwangi

2. Rabu, 4-3-09 : Buda Umanis Julungwangi

3. Selasa, 10-3-09 : Purnama kasanga

4. Kamis, 12-3-09 : Wrespati Wage Sungsang, Sugi Manik Jawa

5. Jumat, 13-3-09 : Sukra Kliwon Sungsang, Kajeng Kliwon Sungsang, Sugi Manik Bali

6. Selasa, 17-3-09 : Penampahan Galungan / Anggara Wage Dungulan

7. Rabu, 18-3-09 : Galungan / Buda Kliwon Dungulan

8. Kamis, 19-3-09 : Umanis Galungan / Wrespati Umanis Dungulan

9. Senin, 23-3-09 : Coma Pemacekan Agung

10. Rabu, 25-3-09 : Tilem Kasanga

11. Kamis, 26-3-09 : Nyepi

12. Jumat, 27-3-09 : Ngembak Geni dan Penampahan Kuningan

13. Sabtu, 28-3-09 : Kuningan, Kajeng Kliwon

14. Minggu, 29-3-09 : Umanis Kuningan / Redite Umanis Langkir

Bulan April 2009

1. Rabu, 1-4-09 : Bude Wage Langkir

2. Rabu, 8-4-09 : Buda Umanis Medangsia

3. Kamis, 9-4-09 : Wrespati Paing Medangsia dan Purnama Kadasa

4. Minggu, 12-4-09 : Kajeng Kliwon

5. Rabu, 22-4-09 : Buda Kliwon Pahang

6. Jumat, 24-4-09 : Tilem Kadasa

7. Senin, 27-4-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Mei 2009

1. Sabtu, 2-5-09 : Tumpek Krulut

2. Rabu, 6-5-09 : Buda Wage Merakih

3. Sabtu, 9-5-09 : Purnama Desta

4. Rabu, 27-5-09 : Buda Kliwon Matal dan Kajeng Kliwon

Bulan Juni 2009

1. Sabtu, 6-6-09 : Tumpek Uye

2. Minggu, 7-6-09 : Purnama Asadha

3. Rabu, 10-6-09 : Buda Wage Menail

4. Kamis, 11-6-09 : Kajeng Kliwon

5. Selasa, 16-6-09 : Anggarkasih Prangbakat

6. Rabu, 17-6-09 : Buda Umanis Prangbakat

7. Senin, 22-6-09 : Tilem Asadha

8. Jumat, 26-6-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Juli 2009

1. Selasa, 7-7-09 : Purnama Kasa

2. Sabtu, 11-7-09 : Tumpek Wayang dan Kajeng Kliwon

3. Rabu, 15-7-09 : Buda Wage Klawu

4. Selasa, 21-7-09 : Anggarkasih Dukut dan Tilem Kasa

5. Minggu, 26-7-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Agustus 2009

1. Sabtu, 1-8-09 : Saraswati

2. Minggu, 2-8-09 : Banyu Pinaruh

3. Senin, 3-8-09 : Coma Ribek

4. Rabu, 5-8-09 : Pagerwesi dan Puranama Karo

5. Senin, 10-80-09 : Kajeng Kliwon

6. Sabtu, 15-8-09 : tumpek Landep

7. Rabu, 19-8-09 : Buda wage Ukir

8. Kamis, 20-8-09 : Tilem karo

9.Selasa, 25-8-09 : Anggarkasih Kulantir

10. Rabu, 26-8-09 : Buda Umanis Kulantir

Bulan September 2009

1. Sabtu, 19-9-09 : Tumpek Wariga

2. Rabu, 23-9-09 : Buda Wage warigadean dan Kajeng Kliwon

3. Rabu, 30-9-09 : Buda Umanis Julungwangi

Bulan Oktober 2009

1. Sabtu,3-10-09 : Purnama Kapat

2. Kamis,8-10-09 : Wrespati wage Sungasng, Sugi Manik jawa

3. Jumat, 9-10-09 : Sukra Kliwon Sungsang, Kajeng Kliwon, Sugi Manik bali

4. Rabu, 14-10-09: Buda Kliwon Dungulan/Galungan

5. Kamis, 15-10-09: Wrespati Umanis Dungulan/Umanis Galungan

6. Minggu, 18-10-09 : Redite Wage Kuningan, Tilem kapat

7. Senin, 19-10-09 : Coma Pemacekan Agung

8. Sabtu, 24-10-09 : Kuningan, Kajeng Kliwon

9. Minggu, 25-10-09 : Redite Umanis Langkir/Umanis Kuningan

10. Rabu, 28-10-09: Buda Wage Langkir

Bulan November 2009

1. Senin, 2-11-09 : Purnama Kalima

2. Selasa, 3-11-09 : Anggarkasih Medangsia

3. Rabu, 4-11-09 : Buda Umanis Medangsia

4. Minggu, 8-11-09 : Kajeng Kliwon

5. Selasa, 17-11-09 : Tilem Kalima

6. Rabu, 18-11-09 : Buda Kliwon Pahang

7. Senin, 23-11-09 : Soma Kliwon Krulut, Kajeng Kliwon

8. Sabtu, 28-11-09 : Tumpek Krulut

Bulan Desember 2009

1. Selasa, 1-12-09 : Purnama kanem

2. Rabu, 2-12-09 : Buda wage merakih

3. Selasa, 8-12-09 : Anggarkasih Tambir

4. Rabu, 16-12-09 : Tilem Kanem

5. Rabu, 23-12-09 : Buda Kliwon Matal, Kajeng Kliwon

6. Kamis, 31-12-09 : Purnama Kapitu

100_9884

Tajen: Sebuah Tinjauan dari Perspektif Budaya

Oleh: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Banyaknya tanah yang sudah berpindah tangan ke orang lain, meningkatnya jumlah kemiskinan dan kejahatan, dan penciptaan generasi muda yang malas bekerja telah dijadikan sebagai alasan dasar oleh beberapa orang untuk mengklaim bahwa tajen merupakan kegiatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kehidupan yang curam dan gelap. Kenapa tidak sekalian saja tajen dijadikan sebagai penyebab rusaknya alam dan budaya Bali yang terjadi sekarang ini? Benarkah sedemikian keras pengarus tajen terdapat kehidupan manusia sehingga harus dimusnahkan keberadaanya? Pola pikir manusia yang sempit dan tidak menyeluruh (holistic) mengakibatkan penilaian terhadap tajen hanya sebelah mata dan selalu dipandang sebagai aktifitas dan interaksi sosial yang negatif di dalam kehidupan masyarakat; dan tidak banyak yang mengetahui bahwa tajen merupakan budaya; dan bahkan di Bali, tajen dapat disebut sebagai salah satu budaya lokal asli (indigenous culture).

Sabung Ayam

Karakteristik budaya
Tajen secara jelas memiliki karakteristik-karakteristik budaya. Sebagaimana disebutkan oleh Reisinger (2003), suatu budaya memiliki sepuluh karakteristik, antara lain: fungsi, phenomena sosial, memiliki ketentuan, dapat dipelajari, hanya belaku di dalam grup tertentu, bernilai, bisa dikomonikasikan, dinamis, telah berjalan dalam waktu yang lama, bisa memuaskan keinginan dalam kelompoknya.
Bagi sebagain besar orang, tajen telah dijadikan sebagai media untuk mengadu nasib untuk mengadu keberuntuangan tetapi banyak juga yang menjadikan tajen sebagai sarana hiburan khususnya bagi kalangan yang berduit karena mereka ke tajen hanya untuk mencari kesenangan saja dan sama sekali bukan untuk mencari kemenangan dalam bentuk uang. Selain itu, tajen juga telah difungsikan sebagai lahan untuk berusaha atau sumber mata pencaharian seperti berdagang, jasa pemeliharaan ayam, ojek dan lain-lain.

Tajen merupakan fenomena sosial yang ada di kehidupan sosial masyarakat dan hampir di setiap daerah seperti Bali, Jawa dan Sumatra ada tajen yang di lain tempat sering disebut sabung ayam yang bukan hanya diramaikan olah bebotoh orang Bali saja, tetapi juga dari suku lain seperti Jawa, Lampung, Batak dan Palembang. Aturan main dan perangkat tajen juga sama dengan di Bali karena budaya ini dibawa dan dikembangkan langsung oleh para bebotoh transmigran yang merantau ke daerah-daerah tersebut. Dalam kegiatanya, tajen memiliki aturan-aturan tertentu misalnya seperti penentuan menang-kalahnya pertarungan ayam dan ukuran waktu untuk menyatakan lawannya kalah yang hanya dipahami oleh para bebotoh saja dan hanya dipakai pada saat berada dalam kehidupan tajen saja. Ketika keluar dari arena tajen, aturan tersebut sama sekali tidak dipakai dan berarti di kelompok sosial yang lainnya.

Istilah-istilah yang dipakai di dalam kegiatan tajen hanya bisa dipelajari oleh seseorang yang berminat untuk menekuninya dan sama sekali tidak diwariskan atau diturunkan dari generasi sebelumnya dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Begitu juga cara menentukan lawan ayam aduannya, biasanya diajarkan oleh para bebotoh yang sudah lebih banyak dan lama makan garam dalam dunia tajen. Contoh lain yang harus dipelajari adalah cara mengikat taji (senjata untuk mematikan musuh). Sesorang harus dilatih dan memiliki keahlian khusus untuk mengerjakannya sehingga tidak semua bebotoh bisa melakukannya.

Cok dan gasal merupakan bahasa yang sangat lazim didengar di tajen. Sehingga sangat jelas bahwa ada komonikasi verbal maupun non verbal di antara para petaruh ayam. Selain itu, keberadaan tajen sangat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan jaman. Jenis ayam yang diadu mulai dari ayam kampung biasa, meningkat ke ayam keker, bekisar dan bahkan sampai ayam Bangkok. Begitu juga alat pertaruhannya, kalau dulu mungkin saja bertaruh dengan pis bolong, tetapi sekarang menggunakan uang yang berlaku seperti Rupiah. Makanan ayam jagonya juga demikian. Dulu ayamnya hanya dikasi makan singkong tetapi sekarang sudah berubah diberikan nasi, jagung dan konsentrat yang memiliki kandungan gizi tinggi dan lebih bagus. Dan bahkan, beberapa ayam jago diberikan obat kuat tambahan (supplement) sebelum diadu di arena tajen sehingga mampu mematikan lawannya dalam sekejap.

Tajen bukan merupakan kegiatan yang baru; dan bahkan dapat dikatakan bahwa kita yang hidup sekarang inilah yang jauh lebih baru atau muda daripada keberadaan tajen. Keberadaan tajen terus berlanjut dari jaman dahulu, sekarang dan akan terus ada sampai dengan masa yang akan datang.

678338e898b00ab6

Unsur budaya
Bagi para bebotoh, tajen memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya. Mulai dari pengurungan ayam, pemeliharaan, pengaduan sampai dengan kemenangan ayam kesayangannya. Kepuasan inilah yang dijadikan sebagai salah satu unsur dan merupakan inti dan nilai (value) dari budaya yang tidak berwujud, namun dapat dirasakan (intangible) sebagaimana disebutkan oleh Hofstede (1997). Sedangkan tiga unsur kebudayaan lainnya seperti symbol, hero dan ritual merupakan unsur budaya yang nyata yang dapat dilihat dengan mata (tangible). Dua unsur terluar budaya (symbol dan hero) inilah yang paling sering diperdebatkan dan dikomentari oleh masyarakat awam tanpa melihat lebih jauh dua unsur yang lebih dalam yang merupakan bagian terpenting budaya yaitu ritual dan value dari keberadaan tajen. Di dalam suatu komunitas (misalnya bebotoh) akan terjadi interaksi sosial (Gidden, 1989). Salah satu interaksi sosial dalam bentuk taruhan uang atau judi di antara para bebotoh, sering kali dijadikan sebagai alasan utama dan kambing hitam untuk mengklaim bahwa tajen tidak layak disebut sebagai budaya.

Bahasa yang dipakai seperti cok dan gasal merupakan simbol bahasa yang sangat lumrah didengar di tajen, symbol ini hanya bisa dikomunikasikan oleh para petaruh ayam di arena tajen. Begitu juga ayam dan warna-warna ayam seperti biying, ijo, serawah, kelau dan brunbun merupakan simbul-simbul khusus yang biasanya dipakai dalam menentukan lawan ayam aduannya. Pihak yang terlibat dalam kegiatan tajen seperti bebotoh, tukang kembar, saye dan tukang kurung ayam disebut sebagai hero atau pelaku budaya dan bisa disebut sebagai stakeholders tajen. Sedangkan kegiatan menyuguhkan canang atau segehan dan doa-doa untuk memohon kemenangan yang dilakukan oleh para bebotoh sesaat sebelum kegiatan tajen dimulai merupakan ritual kebudayaan.

Modernisme vs Postmodernisme
Pandangan modernisme dan agama yang selalu melihat dan membenarkan sesuatu dari salah satu dari dua aspek yang semestinya seperti; positif-negatif, baik-buruk, halal-haram, hitam-putih dan sebagainya telah mengakibatkan tajen dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai kegiatan yang negatif. Hukum positif yang berlaku di Indonesia juga bercirikan modernisme yang dalam penentuan keputusannya selalu berdasarkan atas benar dan salah, sehingga segala bentuk perjudian merupakan kegiatan yang melanggar hukum dan dilarang sebagaimana diatur secara khusus di dalam Kitab Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) pasal 303. Peraturan tentang perjudian yang berlaku di Indonesia memang harus hormati oleh semua warga Negara Indonesai dan ditegakkan oleh para aparat penegak hukum. Jadi, hanya interaksi sosial para bebotoh dalam bentuk perjudianlah yang harus dilarang dan dikenakan sangsi. Sedangkan interaksi sosial bebotoh yang lainnya merupakan bagian dari budaya dan bukan merupakan tindakan yang melanggar hukum.

Lain halnya dengan pandangan postmodernisme, yang memandang dan menilai kedua aspek dari suatu hal dengan tatanan yang sama karena pandangannya berada di atas dikotomi (baik-buruk) dan bukan memihak atau berada pada posisi salah satunya. Artinya, biarlah segala sesuatu itu ada dan berkembang sesuai dengan alamnya karena segala sesuatu yang ada sudah memiliki bentuk, fungsi, tujuan masing-masing. Sehingga tajen tidak hanya dipandang sebagai kegiatan yang melanggar hukum dan bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga memiliki ritual dan value yang sebenarnya perlu dilestarikan. Cara pandang postmodernisme sangat bijak, karena selalu menghormati dan menjunjung tinggi keberadaan dikotomi dan tidak memihak ke salah satu pihak serta sama sekali tidak mempermasahkan perbedaan. Pola pikir ini akan secara jelas bertentangan dengan pemikiran para pakar dan aparat penegak hukum dan agamawan.

Penulis, mahasiswa Program Doktor Bidang Pariwisata Budaya, University of Lincoln, Brayford Pool, United Kingdom.

Referensi:
Giddens, A. (1989). Sociology. United Kingdom: Polity Press.
Hofstede, G. (1997). Cultures and Organizations: Software of the Mind. New York: McGraw Hill.
Reisinger, Y and L.W. Turner (2003). Cross-culture Behaviour in Tourism: Concept and Analysis. Great Britain: Butterworth Heinemann.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya. Terima kasih.

Tri Mandala Penentu Batas Kesucian Pura

Penulis:

I Nengah Subadra PhD

Doktor Bidang Pariwisata, alumni University of Lincoln, United Kingdom

Profile Lengkap Penulis LIHAT DI SINI

Bali sebagai salah satu daerah tujuan wisata dunia tidak hanya terkenal dengan keindahan alam, keunikan budaya dan keramah-tamahan masyarakatnya tetapi juga polemik berkepanjangan dan konflik kepentingan di antara para stakeholder pariwisata terutama masyarakat lokal, pemerintah dan investor. Tidak harmonisnya hubungan ketiga stakeholder tersebut telah mengakibatkan perselisihan dan ketidakpuasan yang berakhir pada demonstrasi atau pengerahan massa untuk menuntut penjelasan dari para pejabat yang berwenang tetang batas kesucian pura.

Objek wisata yang memanfaatkan benda-benda dan kawasan warisan budaya (heritage site) menjadi incaran para investor pariwista yang jeli melihat trend wisatawan dunia yang lebih cendrung mengunjungi dan menikmati objek-objek wisata budaya sebagaimana yang dipersembahkan di Bali. Investor akan terus berusaha untuk memasuki dan merongrong kawasan yang semestinya tidak boleh dibangun usaha atau industri pariwisata dengan ribuan cara misalnya dengan menyuap para oknum pejabat pemerintah yang berwenang mengeluarkan ijin membangun dengan sejumlah uang. Bujukan dan rayuan para investor inilah yang membuat para oknum pemerintah gelap mata dan dengan mudah mengeluarkan ijin membangun fasilitas pariwisata seperti hotel, villa dan restoran. Pernahkah para oknum pemberi ijin tersebut berpikir tentang akibat yang akan terjadi setelah penerbitan ijin membangun? Logikanya, Di negara hukum seperti Indonesia tidak akan pernah ada pembangunan apapun jika pemilik bangunan tersebut tidak memiliki ijin jika memang hukum dijalankan. Kasus pembangunan villa di dekat Pura Luhur Uluwatu misalnya, Setelah kasus radius kesucian pura tersebut muncul ke permukaan dan disiarkan di beberapa media massa cetak dan elektronik, maka semua orang melontarkan pernyataan yang sama-sama menyelamatkan diri dan merasa menjadi pahlawan kesiangan. Adakah manipulasi dibalik penerbitan surat ijin pembangunan villa tersebut?

Aksi dan Komentar Dadakan
Wakil rakyat, DPRD juga turut serta mencari popularitas agar nampak peduli terhadap pelestarian budaya Bali dengan mengunjungi langsung tempat pembangunan villa tersebut. Langkah tersebut cukup bagus daripada tidak melakukan tindakan sama sekali atas kasusu tersebut. Yang jelas masyarakat tidak tahu banyak apa yang selanjutnya akan dilakukan setelah kunjungan kerja para wakil rakyat yang terhormat tersebut. Membuat kebijakan dan peraturan yang bisa menyelamatkan aset dan warisan budaya atau sebaliknya membuat peraturan yang memihak para investor yang menjajikan peningkatan pendapatan daerah namun menghancurkan semua aset budaya yang dimiliki Bali.

Sebelum kasus pembangunan villa di Uluwatu marak dibicarakan, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) nampaknya tutup mulut dan seolah-olah tidak ada permasalahan dalam pembangunan villa tersebut. Namun setelah kejadian tersebut baru berani bicara dan mengeluarkan pernyataan dan bisama tentang radius kesucian pura. Pembangun villa di Uluwatu ini merupakan salah satu kasus di antara sekian banyak kasus yang terjadi. Diketahuikah bahwa di tempat-tempat suci yang lainnya sebenarnya memiliki permasalahan yang hampir sama? Sehingga usaha hangat-hangat tahi ayam yang dilakukan dan pernyataan sikap terhadap permasalahan kesucian pura tidak hanya dilakukan pada saat muncul kasus saja. Semestinya PHDI sebagai badan resmi agama hindu yang menaungi semua pemeluk agama hindu di Indonesia mulai mengidentifikasi, merumuskan, membuat, dan menetapkan kebijakan tentang tata cara penentuan batas kesucian pura, bukan sekedar mengeluarkan pernyataan sikap yang berlaku pada saat suatu kasus sedang hangat-hangatnya di masyarakat dan setelah itu tak bersuara lagi.

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) Hindu kacanganpun bermunculan untuk meneriakkan protes terhadap pembangunan villa tersebut. Sesuai dengan fungsinya sebagaimana diuraikan dalam peran stakeholder pariwisata, LSM semestinya turut serta dalam pemantauan penerapan kebijakan dan program pemerintah. Sampai bangunan villa berdiri kokoh dan mulai beroperasipun suara LSM tidak bergeming sama sekali. Namun setelah kasus marak baru mulai memunculkan batang hidungnya dan mengeluarkan pendapat-pendapat yang tidak jelas ujung pangkalnya.

Penentu Batas Kesucian Pura
Konsep Tri Mandala yang pada intinya menjelaskan pembagian lokasi berdasarkan letak, fungsi dan tingkat kesuciannya. Menurut konsep Tri Mandala, pura dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu jaba sisi, jaba tengah dan jeroan. Bangunan apa saja yang terletak di masing-masing tempat tersebut? Pertmana, Jaba sisi (outer courtyard), merupakan bagian terluar dari suatu kawasan pura. Di tempat ini bisanya ditemukan bangunan seperti dapur (pewaregan). Kedua, Jaba tengah (middle courtyard) merupakan bagian tengah dari pura. Pada bagian ini biasyanya dibangun Bale Kulkul, Bale kesenian dan tempat pesantian dan rapat (sangkep) para anggota pengempon pura. Ketiga, Jeroan (inner couryard) merupakan bagian yang tersuci dari pura. Di Jeroan biasanya dibangun tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wase berupa pelinggih-pelinggih seperti Tri Murti yang merupakan tempat pemujaan Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa sebagai pemeralina. Selain itu, ada juga bangunan Padmasana yang digunakan sebagi media pemujaan Tuhan dalam manisfetasinya sebagi Dewa Matarahri (Sang Hyang Surya) yang memberikan sinar terang kepada semua mahluk hidup yang ada di dunia ini. Karena kesucian tempat ini maka tempat inilah para pemedek mengadakan persembahyangan dan pemujaah terhadap Tuhan. Jadi jelaslah bahwa kesucian pura tidak diukur berdasarkan radius atau ukuran tertentu tetapi hanya ditentukan oleh konsep Tri Mandala.

Jika konsep Tri Mandala tidak lagi digunakan untuk mengukur dan menentukan batas kesucian pura dan jika yang digunakan adalah jarak dalam satuan meter atau dalam radius tertentu dan tinggi rendahnya letak pura dengan bangunan di sekirnya, maka banyak tata letak pura akan dipermasalahkan seperti Pura Tanah Lot di Tabanan yang hotel dan fasilitas pariwisata berada berdekatan dan letaknya jauh lebih tinggi dari pura, Pura Goa Lawah di Kelungkung yang mengijinkan para wisatwan masuk sampai ke jeroan pura, Pura Tirta Gangga di Karang Asem yang mengijinkan pembangunan villa yang letaknya hanya dibatasi dengan tembok saja.

Kesimpulannya, kasus tentang radius kesucian pura yang terjadi disebabkan karena tidak ada kerja sama dan hubungan yang harmonis di antara para stakeholder pariwisata (pemerintah, investor, masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat). Hubungan harmonis hanya terjalin antara investor dan pemerintah sedangkan masyarakat dan LSM tidak terlibat di dalamnya sehingga sangat wajar jika mereka menuntut kejelasan dan keadilan.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya. Terima kasih.

Sponsored by

Language Assistance:

PENERJEMAH TERSUMPAH DI BALI

PENERJEMAH BALI

BALI PENERJEMAH

SWORN TRANSLATOR IN DENPASAR BALI

CERTIFIED TRANSLATOR IN DENPASAR BALI

BALI TRANSLATION OFFICE

JASA TERJEMAHAN TERSUMPAH DI DENPASAR BALI

 

Roles of Education in Increasing People’s Cultural Awareness

By: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Education plays an important role in determining the quality of the culture of a country in the world. The educations which mainly affect people’s cultural awareness are; environmental education, social and cultural educations, and technological education.

Environmental education should be given to everyone in the world as everyone lives surrounded by nature and culture. It is evidence that every single second of the time, we may not be separated from the influence of environment since getting up in the morning, doing daily activities such as; studying, earning a living until sleeping. The environment contributes lots of things to our lives. It provides sources of food to eat, water to drink, air to breath and fire to burn or for energy. As an important part of our lives, environment should be well kept in balanced or harmony in order to be able to provide all people’s needs during their lives. Naturally, it is also in accordance with the Hindu Philosophy called “Tri Hita Karana” the harmony relationship among human and God, human and being, and human and nature.

Moreover, Mahatma Gandhi an Indian human activist states strictly that the God creates the earth and all its contents for such purposes. He believes that the earth is enough to produce everyone’s needs as long as they can manage and sustain all creatures well, they are always on a good term, respect each other and live peacefully. On contrary, the earth will not be enough for such a greedy man who never feels satisfied. This last type of man tends to exploit the earth as hard as possible only for his/her own needs, never cares of others, and sometimes he/she thinks that he/she is the only man who lives in the earth.

Knowledge as a part of education also determines someone’s cultural awareness. There are basically two kinds of knowledge namely; internal knowledge and external knowledge. Internal knowledge is knowledge which is used to understand ourselves deeply and has long-life and permanent impacts to our lives. In process of understanding ourselves, there are some useful questions to help such as; what and who am I actually?, what can give me quietness in my life?, how can I get a long-life happiness? etc. Should we are able to understand and answer the questions above well, it really helps us to get what we expect in our lives.

There are a number of methods to have the internal knowledge and know the real life such as; yoga, meditation, fasting, etc. Yoga is a process of unifying our thoughts to a focus “the Almighty God” and releasing our negative spirits and bad minds. Yoga simply teaches us how to respect and care of all God’s creatures without any exceptions. Meditation is a process of relaxing our body by focusing our thoughts to the Almighty God. There are actually a number of purposes of meditation, for instance; relaxation, health, refreshing mind, getting quietness, etc. Fasting is process of controlling our emotions and desires.

These methods guide us to master internal knowledge which is exactly the only way to get peaceful life and the real heaven. Meanwhile, the external knowledge affects our lives temporary and tends to be changeable, it just shows the way to fulfill our fundamental needs such as; foods, housing, and clothes.

Culture is everything made by man which is generated from generation to generation. Therefore, a culture can be a big and small work or creation. Culture has multi-capacities from the forms and reality of human being which can be seen from micro interpersonal communication of the man until processes and values of a norm in a group of community.

As a part of the human life, culture should be highly concerned and sustained in order the next generation can benefit from cultures generated from the previous generation. If we can not sustain the cultures well, sooner or later they will be disappeared and defeated by the epoch. More particular the small cultures will be easily disappeared by the rapid growth of globalization. Due to this importance, culture should be taught in all places such; at home, at schools (from kindergarten until university), at work, etc. By giving cultural educations, it is expected to increase the cultural awareness of the human being, so they can give equity to all people without discriminating their backgrounds at all.

There are at least four unsolvable cultural discriminations in the world such as; race, religion, language and descent. Some examples of those discriminations can be clearly seen in our life. The race discrimination which currently occurred in French, it discriminated the white and black men in certain sectors of works. The white men tend to have more roles and better positions than the black men. It surely rose up the black men’s emotions which finally caused riots, destructions, fired. This case happened due to the black men did not get equal treatment from the government and laws regulated in French.

Religion discrimination occurs in Indonesia. There are five religions which are acknowledged by the government namely; Hindu, Buddhist, Moslem, Catholic and Christian. Religion which is actually a holy teaching to guide the human being to be closer to the Almighty God also raises discrimination. It happens because each religion claims to be the best religion to reach the heaven. Basically all religions have the same purpose. However, they have different ways to reach the purpose and different names for the God. Different religion will call the God with different names, for instance; Hindu calls its God as Sang Hyang Widhi, Moslem calls its God as Allah, etc.

Language as a communication media and identity of a country discriminates people in over the world. The people who master foreign languages will tend to be proud of themselves and they think that they are the only men who tag along the globalization. Meanwhile, the people who do not master foreign languages will be supposed to be old-fashioned men. This idea is not absolutely true because most of the local people defend their language as an identity of their origin. The most important statement which helps protecting their local language is “I have what you have, but you do not have what I have. It means that other languages particularly foreign language can be learnt more easily, meanwhile the local language is hard to learn as it consists of not only language but also culture inside.

Descent discrimination can be easily seen in Bali, the caste system which was formerly formatted by the Dutch during its colonialism in Indonesia particularly Bali is actually no longer appropriate anymore now really discriminates Balinese people particularly for customary life practices in the villages. The four castes are: (1) Brahmana, it is the priest groups; (2) Ksatria, it is the warrior and security groups; (3) Wesyia, it is the seller and businessmen groups; and (4) Sudra, it is the farmer and labor groups.

As believed by the Hindu worshipers that all people were created by Dewa Brahma, preserved by Dewa Wisnu and destroyed by Dewa Siwa in which Dewa Brahma, Dewa Wisnu and Dewa Siwa are the manifestations of the Almighty God. Therefore, people shall have the same right and obligation in front of the God and not to be discriminated by such caste.

Those four discriminations make the people have narrow mind which raises sentiments such as; region sentiment, economy sentiment, hero sentiment, religion sentiment, language sentiment, etc. which finally end with conflicts. These sentiments threaten the social life and stumble the development of the culture, education and nation in all countries in the world. One solution which helps to solve the problem of discrimination is to go back to the concept of “Ibu Pertiwi” which means one for all and all creatures live in the earth is only a big family which should respect and trust each other.

In a social life, there are a number of norms and values which relate to cultural practices such as; ritual, religion and spirituality. Ritual and religion mostly educate the people about the ways to worship the Almighty God based on their beliefs and religions, for instance in Bali, the Hindu worshipers who worship the God by offering certain materials such as flower, water and fire which formed as a “Canang Sari” or “Banten” and their hands are unified in front of their foreheads while worshiping the God. Meanwhile, spirituality emphasizes and focuses in increasing people’s etiquette, attitude, behavior, discipline and morality as God’s creatures without any discrimination. The main concept of spirituality is that “God is only one power and a single identity, and there is not single conclusion of God’s deity”. Due to its universality, spirituality is learnt and practiced by most of the people in the world nowadays and they sometimes do not want to talk about religion which mainly teaches about differentiation of two different things (in Bali called “Rwa Bineda”) namely; good spirit which guides the people to go to the heaven and bad spirit which guides the people to go to the hell.

Technology is the application of science and knowledge which is purposed to generate benefit and usage to the human being. The application is in the form of a tool and its way or method to use it. As the technology development really depends on the development of education, therefore the students who study in all educational institutions formally or informally should be taught both the way of developing the technology to be more sophisticated and the capability of the human being to understand the meaning of the technology as it has both positive and negative impacts. Misunderstanding in meaning the technology will bring many negative impacts such as; suffering, individualism, dissatisfaction, discrimination, etc. To avoid the negative impacts of technology and to be not dependent on technology, there are two ways of understanding the meanings of technology, namely; functional and symbolic meanings. Functional meaning views the technology as a need. Meanwhile symbolic meaning views the technology as a wish or desire which sometimes used to rise up the prestige. For example a mobile phone, it can be seen from two points of views. A mobile phone will have a functional meaning when it is seen as a basic need which shall be fulfilled and used as a communication media without considering the brands, series, facilities, etc. A mobile phone will have a symbolic meaning when it is seen not only as a communication media but also as sense of prestige. For those who mean the mobile phone as a symbolic meaning will tend to change their mobile phone at any times and always look for the newest series and the most complete facility in order to be supposed to have the highest prestige. Symbolic meaning guides us to be another man. Be aware!

Technology with its two characters such as; constructive and destructive is simply like fire, it can help people to cook something to eat or drink but it can also burn the people up. Therefore, people should be able to use the technology wisely in order to get more advantages than disadvantages of technology.

In conclusion, education really plays an important role to increase the people’s cultural awareness which guides further to be universal men who care and respect all human being and God’s creatures in the earth without any discrimination at all. As known that living in this world is very complicated. Therefore, to face the problems during our live, just live simply and think highly!

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya. Terima kasih.

Bali Tourism Watch: Cock Fighting

By: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

A basic concept of Balinese life is the maintenance of a harmonious balance between the world of men and the world of the spirits. Apart from satisfying their everyday needs, the Balinese feel that they are obliged to perform certain religious rites. One of these rites is to appease the evil spirits who inhabit the ground. This can be done by the sacrifice of an animal so that its blood sheds on the ground. This is the original idea of the cock fighting we are seeing today. Besides its religious significance until recently cock fights were often held for gambling.

Many prominent Balinese were involved in this. However since 1981 this gambling has been banned and cock fight are only allowed for religious reasons. A license for holding a cock fight tournament is still quite easy to contain from the nearest Police Head Quarter if there is a ceremony.

Cock fight has been known in Bali since before the Hindu period. It is not known if it was an original Balinese practice or not. The fact is that cock fights are practiced all over the world.

Raising a good rooster for cock fighting needs serious care and attention. In Bali this is man’s job. No women is ever seen taking and active part in the care of the roosters. It is absolutely the men’s world.

Extensive care and attention must be given to the favourite rooster. As you see in that village hall, the men are caressing, fondling and massaging their future champion. They believe that more that a healthy diet and regular exercise the rooster needs affection from its owner.

Still in the line of physical, the cocks are kept caged. They are never set free to mingle with hens. As we see here, two roosters in their cages are put comfortably under the shady trees to cool them.

In regular alternation with this, the birds are put but in the heat of the sun over a dusty hole so that they can have sun and dust baths. It is bathed regular, early in the morning or late in the afternoon. Occasionally warm water is used. After several months or a year the creature is fit to challenge an opponent in the arena.

Before they are brought to a tournament they must be trained to fight with extensive exercises. Sparring partners are usually picked from the neighbors favorite birds. These rooster in cages and baskets are waiting to be matched and confronted with their opponents inside the ring.
There are two squares, the outer square and the inner one. At each corner a lineman is stationed. As well there are 2 empires and time keeper sitting an a plat form. The time keeper is quipped with a clay pot full of water and half a coconut shell as the “water clock”. As well, there is a round counter and small metal gong (kemong) which serves as the bell, the signal the start, the end of each round and to stop the fight if needed.

One fight consists of maximum of five rounds. Two rounds are helping the outer lines, two in the inner lines and one inside a cage if necessary. Normally 2 and 3 rounds are sufficient to and the deadly fight.

Two expert rooster handlers ( juru kembar ) are matching a pair of roosthers to try to match roosters of equal size, height and temperament. They inspect the roosters in the turn. By doing this each handler can make a personal judgment before they decide to match a pair. As for the bettors, their judgment is based on the physical appearance of the rooster including, shape, colour and temperament.

After both parties agree to challenge each other, the fight is announced by the umpires. This is followed by the discussion about the amount of the central bet ( roh dalem ). The rooster handlers the tie on the murderous blade on to the left leg of each rooster supervised by an assistant umpire (saya taji ).

After each creature is armed with the best blade, the cocks are confronted with each other in the ring. And the people other than umpires, linemen and the rooster handlers must leave the ring immediately. Before the first round begins, a chance is given
To the betters to make up their mind which cock to bet on. This short period of time is usually very noisy because each better has to call out his side, and the amount of the bet till he finds the opponent.

The amount of the bet is sometimes unbelievable compared with the standard of living in Bali and the per-capita income. The odds of the bet varies. It can be even odds such as Rp. 1.000,- against Rp. 1.000,- if the cocks are equally popular. If one cock is more popular than the other the odds can be one of the following :
3 against 2 (neludo)
5 against 4 (ngasal)
4 against 3 (ngecok)
10 against 9 (ngedapang)

The umpires are discussing the central bet, with the expert handlers. The central bet is usually placed by the expert handler concerned, the owner of the bird the blade owner and some additional supports. Apart from the entrance tickets, sellers of food and others, the tax is collected only from the central bet.

After the bets, the procedure is fixed and the first round begins. According to the cock fight code, for the first and the second rounds the roosters are released from the outer square line, following the cardinal directions. The third and the fourth rounds use the inner square line so that the birds must fight each other at a closer distance.

The fifth round done inside a cage prepared for this purpose. Generally a fight needs 2 or three rounds. The fight does not necessarily follow the standard order of rounds. If one of the birds can hardly stand up, or is not strong enough to fight, or if it doesn’t want to continue the fight, they are put in the cage so that they have fight. If one of the rooster strikes the other in the cage and the opponent does not strike back, especially if it kneels down, or is knocked out, it is considered to have lost.

The owner of the winning cock receives an amount of money equal to his bet plus the carcass of the loosing cock, minus one leg. This is because the owner of the winning blade receives one of the legs of the loosing bird. The cruelest part of the fight is when one of the legs of the loosing bird is cut off while it is still alive.

Yang Senantiasa Bersamaku

Oleh: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan berinteraksi sosial dengan sesama, manusia tidak terlepas dan tidak akan pernah terlepas dari kenangan (memory), hubungan sosial (social relation), dan hubungan alam (nature relation).

Selama masih hidup, manusia tidak akan pernah terlepas dari ingatan atau kenangan, baik kenangan yang bersifat baik dan buruk maupun kenangan yang baru saja dialami dan kenangan yang sudah lama. Kenangan-kenangan tersebut sifatnya melekat dan tidak bisa dilupakan dengan mudah atau dibuang di suatu tempat. Kegiatan berlibur, berkebun, dan menikmati berbagai jenis hiburan lainnya hanya mampu melupakan kenangan untuk beberapa saat. Setelah kegiatan tersebut selesai dilaksanakan, maka kenangan akan muncul kembali. Yang bisa dilakukan untuk mengurani kenangan adalah dengan menerapkan konsep dasar yoga yang sangat erat kaitannya dengan sistem pernafasan (prana).

Ada dua konsep dasar dalam yoga yaitu menerima (receiving)-yang dalam latihan dan praktek yoga dilakukan dengan cara menarik nafas dan mengeluarkan (releasing)-yang dalam latihan dan praktek yoga dilakukan dengan menghembuskan nafas. Apabila dipahami lebih mendalam, penarikan nafas berarti menerima hal-hal yang diperlukan oleh tubuh atau sifat dan energi serta pemikiran positif agar berguna bagi tubuh. Sedangkan penghembusan nafas berarti pembuangan hal-hal yang negatif yang bertujuan untuk mengurangi beban tubuh dan pikiran manusia menampung kedua sifat (baik dan buruk). Singkatnya, Manusia hanya bisa tenang jika hanya mengambil hal-hal positif dari suatu peristiwa untuk dijadikan dan dikembangkan untuk mengembangkan diri dan tidak mengambil apalagi menyimpan hal-hal yang negatif yang sering kali membangkitkan emosi dan berujung pada perselisihan.

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang terlemah dan tidak mampu bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia tidak akan pernah terlepas dari hubugan sosial. Siapapun dia, pejabat, penjahat, pengusaha, penguasa, pemborong, pembohong, peluncur, pelacur, dan yang lainya akan selalu berinteraksi dengan keluarga, teman, atau rekan kerjanya dalam menjalani kehidupannya. Terlebih lagi bagi masyarakat kaya raya (borguiese), mereka sama sekali tidak berdaya. Untuk makan saja harus dibantu oleh beberapa pekerja rumah tangga (PRT) mulai dari persiapan memasak, pada saat makan, dan setelah selesai makan. Contoh lain, pengusaha yang memiliki modal finansial yang sangat kuatpun tidak mampu melakukan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain (karyawan) sebagai pengelola usahanya. Mengingat hubungan antar manusia sangat penting dan mutlak diperlukan, maka semua manusia harus secara bersama-sama menjalin hubungan yang harmoni antar sesama agar terbentuk kehidupan yang tenang dan damai.

Selain kenangan dan hubungan sosial, manusia juga tidak terlepas dari hubungan alam. Kontribusi alam terhadap kehidupan sangat besar dan dalam setiap detikpun manusia selalu berhubungan dengan alam. Setidaknya ada lima unsur alam yang selalu berjalan seirama dengan kehidupan manusia, antara lain; tanah (earth), air (water), api (fire), udara (air) dan ruang atau eter (ether). Kelima unsur tersebut disediakan dan diberikan secara gratis oleh Tuhan untuk dinikmati bersama dengan makhluk ciptaanNya.

Manusia selalu berhubungan dengan tanah. Tempat manusia berpijak, berjalan, dan tinggal didasari oleh tanah walaupun faktanya sudah disemen atau diaspal namun tetap harus membutuhkan tanah sebagai penyangganya. Manusia perlu lahan untuk menanam berbagai jenis tanaman untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti; beras, sayur, bumbu, dan buah-buahan. Memang kita tidak makan tanah, tetapi hal-hal yang dibutuhkan manusia tersebut harus ditanam di tanah sehingga bisa hidup, berkembang, berbuah, dan akhirnya dipanen untuk dikonsumsi. Mengingat besarnya peran tanah dalam kehidupan manusia, maka setiap manusia diharapkan untuk memanfaatkan tanah sebaik-baiknya dan tidak untuk diperebutkan (terutama tanah warisan) dan dirusak.

Sebagian besar bagian bumi ini adalah air yang berupa lautan. Air memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam setiap tubuh manusia mengandung unsur air. Setidaknya manusia harus minum delapan gelas setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air bagi tubuh manusia. Selain untuk keperluan tubuh, air juga digunakan untuk berbagai kepentingan seperti mencuci, memasak, menyiram, mandi dan lain-lain. Seandainya setiap manusia sadar akan pentingnya air, maka tidak akan pernah ditemukan adanya pembuangan sampah, limbah padat ke sumber-sumber mata air, sungai, danau dan laut yang dapat mengakibatkan pencemaran air. Mencemari air berarti mencemari kehidupan manusia, merusak air berarti merusak kehidupan manusia. Menghancurkan sumber-sumber mata air berarti menghancurkan sumber kehidupan manusia.

Tubuh manusia memerlukan api dalam bentuk energi untuk menggerakkan tubuh, untuk memperoses makanan menjadi zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Sebelum suatu makanan dinikmati, semuanya harus dimasak terlebih dahulu. Untuk memasak bahan mentah menjadi matang dalam berbagai jenis makanan memerlukan api. Manusia memang agak jarang menggunakan api secara langsung kecuali bagi para perokok, tukang masak, tukang las dan sebagainya. Tapi pernahkan manusia sadar bahwa segala sesuatu yang ada ini memerlukan api. Untuk mengoperasikan komputer yang merupakan hasil karya dari perkembangan teknologi juga memerlukan api dalam bentuk energi listrik.

Ciri-ciri manusia yang masih hidup adalah bernafas. Udara merupakan unsur yang sangat penting dalam sistem pernafasan. Organ-organ manusia hanyalah sebagai alat untuk bernafas. Diperlukan udara yang sehat (tanpa polusi) untuk menjaga tubuh tetap dalam keadaan sehat, segar, dan bugar. Udara yang kotor yang dihirup mansuai dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti; flu, filek, dan radang paru-paru. Faktanya, di beberapa tempat khsusunya di kota-kota besar sudah sulit dan hampir tidak bisa menemukan dan menghirup udara segar lagi. Hai ini terjadi tidak terlepas dari ulah manusia yang terus membangun industri dan menambah berbagai jenis kendaraan bermotor (motor, mobil, kapal laut, dan kapal udara) yang asapnya mengakibatkan terjadinya pencemaran udara.

Setiap benda yang ada di bumi ini memiliki dan memerlukan ruang yang sangat relatif sesuai dengan besar atau kecilnya ukuran benda tersebut. Manusia memerlukan ruang untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya.
Kelima unsur alam; tanah, air, api, udara, dan eter akan senantiasa menemani manusia sampai akhir hayatnya. Dan ketika sudah matipun beberapa unsur alam tersebut masih tetap setia menemani. Bagi rekan yang beragama Islam, Kristen dan Katolik akan ditemani oleh tanah. Sedangkan bagi rekan-rekan yang beragama hindu akan menyatu dan kembali ke lima unsur alam tersebut.

Referensi:
Krisnanda, Swami. 2007. The Thing We Carry with Us. Philosopy Study Center. India.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya. Terima kasih.

Bali Tourism Watch: Yang Senantiasa Bersamaku

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________

Yang Senantiasa Bersamaku

Sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan berinteraksi sosial dengan sesama, manusia tidak terlepas dan tidak akan pernah terlepas dari kenangan (memory), hubungan sosial (social relation), dan hubungan alam (nature relation).

Selama masih hidup, manusia tidak akan pernah terlepas dari ingatan atau kenangan, baik kenangan yang bersifat baik dan buruk maupun kenangan yang baru saja dialami dan kenangan yang sudah lama. Kenangan-kenangan tersebut sifatnya melekat dan tidak bisa dilupakan dengan mudah atau dibuang di suatu tempat. Kegiatan berlibur, berkebun, dan menikmati berbagai jenis hiburan lainnya hanya mampu melupakan kenangan untuk beberapa saat. Setelah kegiatan tersebut selesai dilaksanakan, maka kenangan akan muncul kembali. Yang bisa dilakukan untuk mengurani kenangan adalah dengan menerapkan konsep dasar yoga yang sangat erat kaitannya dengan sistem pernafasan (prana).

Ada dua konsep dasar dalam yoga yaitu menerima (receiving)-yang dalam latihan dan praktek yoga dilakukan dengan cara menarik nafas dan mengeluarkan (releasing)-yang dalam latihan dan praktek yoga dilakukan dengan menghembuskan nafas. Apabila dipahami lebih mendalam, penarikan nafas berarti menerima hal-hal yang diperlukan oleh tubuh atau sifat dan energi serta pemikiran positif agar berguna bagi tubuh. Sedangkan penghembusan nafas berarti pembuangan hal-hal yang negatif yang bertujuan untuk mengurangi beban tubuh dan pikiran manusia menampung kedua sifat (baik dan buruk). Singkatnya, Manusia hanya bisa tenang jika hanya mengambil hal-hal positif dari suatu peristiwa untuk dijadikan dan dikembangkan untuk mengembangkan diri dan tidak mengambil apalagi menyimpan hal-hal yang negatif yang sering kali membangkitkan emosi dan berujung pada perselisihan.

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang terlemah dan tidak mampu bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia tidak akan pernah terlepas dari hubugan sosial. Siapapun dia, pejabat, penjahat, pengusaha, penguasa, pemborong, pembohong, peluncur, pelacur, dan yang lainya akan selalu berinteraksi dengan keluarga, teman, atau rekan kerjanya dalam menjalani kehidupannya. Terlebih lagi bagi masyarakat kaya raya (borguiese), mereka sama sekali tidak berdaya. Untuk makan saja harus dibantu oleh beberapa pekerja rumah tangga (PRT) mulai dari persiapan memasak, pada saat makan, dan setelah selesai makan. Contoh lain, pengusaha yang memiliki modal finansial yang sangat kuatpun tidak mampu melakukan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain (karyawan) sebagai pengelola usahanya. Mengingat hubungan antar manusia sangat penting dan mutlak diperlukan, maka semua manusia harus secara bersama-sama menjalin hubungan yang harmoni antar sesama agar terbentuk kehidupan yang tenang dan damai.

Selain kenangan dan hubungan sosial, manusia juga tidak terlepas dari hubungan alam. Kontribusi alam terhadap kehidupan sangat besar dan dalam setiap detikpun manusia selalu berhubungan dengan alam. Setidaknya ada lima unsur alam yang selalu berjalan seirama dengan kehidupan manusia, antara lain; tanah (earth), air (water), api (fire), udara (air) dan ruang atau eter (ether). Kelima unsur tersebut disediakan dan diberikan secara gratis oleh Tuhan untuk dinikmati bersama dengan makhluk ciptaanNya.

Manusia selalu berhubungan dengan tanah. Tempat manusia berpijak, berjalan, dan tinggal didasari oleh tanah walaupun faktanya sudah disemen atau diaspal namun tetap harus membutuhkan tanah sebagai penyangganya. Manusia perlu lahan untuk menanam berbagai jenis tanaman untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti; beras, sayur, bumbu, dan buah-buahan. Memang kita tidak makan tanah, tetapi hal-hal yang dibutuhkan manusia tersebut harus ditanam di tanah sehingga bisa hidup, berkembang, berbuah, dan akhirnya dipanen untuk dikonsumsi. Mengingat besarnya peran tanah dalam kehidupan manusia, maka setiap manusia diharapkan untuk memanfaatkan tanah sebaik-baiknya dan tidak untuk diperebutkan (terutama tanah warisan) dan dirusak.

Sebagian besar bagian bumi ini adalah air yang berupa lautan. Air memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam setiap tubuh manusia mengandung unsur air. Setidaknya manusia harus minum delapan gelas setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air bagi tubuh manusia. Selain untuk keperluan tubuh, air juga digunakan untuk berbagai kepentingan seperti mencuci, memasak, menyiram, mandi dan lain-lain. Seandainya setiap manusia sadar akan pentingnya air, maka tidak akan pernah ditemukan adanya pembuangan sampah, limbah padat ke sumber-sumber mata air, sungai, danau dan laut yang dapat mengakibatkan pencemaran air. Mencemari air berarti mencemari kehidupan manusia, merusak air berarti merusak kehidupan manusia. Menghancurkan sumber-sumber mata air berarti menghancurkan sumber kehidupan manusia.

Tubuh manusia memerlukan api dalam bentuk energi untuk menggerakkan tubuh, untuk memperoses makanan menjadi zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Sebelum suatu makanan dinikmati, semuanya harus dimasak terlebih dahulu. Untuk memasak bahan mentah menjadi matang dalam berbagai jenis makanan memerlukan api. Manusia memang agak jarang menggunakan api secara langsung kecuali bagi para perokok, tukang masak, tukang las dan sebagainya. Tapi pernahkan manusia sadar bahwa segala sesuatu yang ada ini memerlukan api. Untuk mengoperasikan komputer yang merupakan hasil karya dari perkembangan teknologi juga memerlukan api dalam bentuk energi listrik.

Ciri-ciri manusia yang masih hidup adalah bernafas. Udara merupakan unsur yang sangat penting dalam sistem pernafasan. Organ-organ manusia hanyalah sebagai alat untuk bernafas. Diperlukan udara yang sehat (tanpa polusi) untuk menjaga tubuh tetap dalam keadaan sehat, segar, dan bugar. Udara yang kotor yang dihirup mansuai dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti; flu, filek, dan radang paru-paru. Faktanya, di beberapa tempat khsusunya di kota-kota besar sudah sulit dan hampir tidak bisa menemukan dan menghirup udara segar lagi. Hai ini terjadi tidak terlepas dari ulah manusia yang terus membangun industri dan menambah berbagai jenis kendaraan bermotor (motor, mobil, kapal laut, dan kapal udara) yang asapnya mengakibatkan terjadinya pencemaran udara.

Setiap benda yang ada di bumi ini memiliki dan memerlukan ruang yang sangat relatif sesuai dengan besar atau kecilnya ukuran benda tersebut. Manusia memerlukan ruang untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya.
Kelima unsur alam; tanah, air, api, udara, dan eter akan senantiasa menemani manusia sampai akhir hayatnya. Dan ketika sudah matipun beberapa unsur alam tersebut masih tetap setia menemani. Bagi rekan yang beragama Islam, Kristen dan Katolik akan ditemani oleh tanah. Sedangkan bagi rekan-rekan yang beragama hindu akan menyatu dan kembali ke lima unsur alam tersebut.

Referensi:
Krisnanda, Swami. 2007. The Thing We Carry with Us. Philosopy Study Center. India.