Kembali Berduka

Om suastiastu

Hari ini, Selasa, tanggal dua puluh dua, Bulan November, tahun dua ribu sebelas tepat lima puluh hari kepergian ayahku (Jro Mangku Wayan Natia), aku kembali harus berduka. Kakakku “I Wayan Sudana” meninggalkan aku dan keluargaku untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” setelah menjalani perawatan intensif selama lima hari di Rumah Sakit Angkatan Darat( RSAD) Denpasar.

Almarhum I Wayan Sudana

Sama sekali aku tak menduga kalau kakakku pergi begitu cepat di tengah-tengah perjuanganku menuntut ilmu di negeri seberang. Hari Minggu tanggal dua puluh Bulan November tahun dua ribu sebelas hari terakhir aku bercakap-cakap di telepon dengan kakakku. Pada waktu itu kondisinya sudah baik, dan bilang ke aku kalau dia akan segera pulang dari rumah sakit karena kondisinya semakin bagus sehingga menurut dokter perlu beberapa hari lagi untuk observasi lanjutan.

Kenyataan berkata berbeda, hari selasa pagi banyak pesan yang masuk lewat facebook yang menyatakan bahwa kakakku telah tiada. Terhentak hatiku memandang pesan-pesan di facebook tersebut dan tak tau harus berbuat apa. Sesaat setelah itu, Adikku (Komang) menelponku lewat Skype dan memberitahukan bahwa kakakku wayan telah meninggal dunia. Air mataku kembali menetes sambil berbicara lewat Skype walaupun signalnya agak kurang bagus. Adikku memberitahukan tentang rencana acara pengabenannya. Dari kesimpulan rapat keluarga, pengabenan dilaksanakan di Lampung pada Hari Minggu, tanggal dua puluh tujuh, Bulan November, tahun dua ribu sebelas.

Setelah itu aku menghubungi kakakku (Made) yang mengurus kepulangan jenasah almarhum dari rumah sakit ke Lampung. Berkat dukungan dan bantuan keluarga besar di Bali, pengiriman jenasah almarhum berjalan dengan lancar menggunakan pesawat Garuda Airline. Sore harinya, kakakku (Cenik) dan saudara-saudara yang lain telah bersiaga menjemput jasad almarhum di Bandar Udara Radin Intan, Bandar lampung. Selanjutnya jenasah dibawa ke kampung halaman di Banjar Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Semua keluarga sudah bersiap-siap menyambut kedatangan jenasah kakakku dan juga mempersiapkan upacara untuk pengabenan. Sekitar jam Sembilan malam, jenasah tiba dan langsung disemayamkan di rumah duka.

Almarhum I Wayan Sudana

Pada hari kamis 24/11/2011, dialkukan persiapan pengabenan. Aku merasa sedikit terhibur karena aku bisa menyapa semua saudara-saudara dan krama banjar yang hadir dirumah membantu persiapan melalui Skype yang dibantu oleh sepupuku Wayan Kerta. Satu persatu aku sapa mereka dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya untuk mempersiapkan acara pengabenan almarhum. Istri dan anak almarhum juga tiba pada hari kamis dan kembali cucuran air mata datang serta teriakan tangisan terus terdengar karena kepergian almarhum.

Dari kejauhan aku hanya bisa memantau perkembangan persiapan acara pengabenannya melalui Skype dan facebook dengan adik dan keponaan-keponaanku. Hari Jumat (25/11/2011) sore semua banten sudah siap. Ini berkat kesigapan dan kerja keras semua keluarga, krama banjar adat Madia Agung I dan juga dibantu dari banjar Madia Agung II (Wates) dan III (Jangu Sangsit).

Pada hari Sabtu (26/11/2011) pagi diadakan pembersihan jenasah almarhum yang dilakukan oleh semua saudara dan krama banjar. Selanjutnya jenasah disemayamkan di Bale dan selanjutnya disuguhkan beberapa sajen. Setelah itu dilanjutkan dengan acara nebusin di perempatan agung yang dipimpin oleh Jro Mangku Bagus dan nunas di Pura Dalem yang dipimpin oleh Ida Pandita dari Wates.

Acara nebusin di Perempatan Agung

Malam harinya diadakan acara Dharma Tula yang diberikan oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca dari Bandar Jaya, Lampung Tengah yang akan memimpin acara pengabenan keesokan harinya. Informasi yang aku terima dari adikku melallui facebook, semua pendengar yang mengikuti acara ini sangat antosias mendengarkan ceramahnya karena memang beliau berlatarbelakang seorang guru Agama Hindu. Sebelum acara Dharma Tula dimulai diawali dengan doa bersama untuk mendoakan almarhum mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Acara Dharma Tula oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca

Hari Minggu (27/11/2011) adalah hari pengabenan almarhum I Wayan Sudana. Setelah prosesi upacara di rumah selesai, jenasah almarhum naikkan ke Bade yang dibuat secara gotong royong oleh para krama banjar dan selanjutnya diusung ke kuburan diiringi oleh saudara, krama banjar, teman dan sahabat almarhum serta seka gong yang mengiringi perjalanan dari rumah duka ke kuburan.

Saudara dan Krama Banjar mengiringi jenasah almarhum menuju kuburan

Setelah samapai dikuburan, jenasah ditempatkan ditempat yang telah disediakan dan selanjutnya dibakar dengan menggunakan kayu bakar. Setelah badannya menjadi abu, para saudara mengumpulkan sisa-saisa tulangnya yang selanjutnya di rangkai dan ditempatkan di Pengiriman untuk selanjutnya disucikan oleh Sang Pandita yang memimpin acara tersebut. Setelah itu diadakan persembahyangan bersama sebagai puncak acara pengabenan dan “mepamit” untuk mengucapkan selamat jalan kepada roh almarhum.

Acara pembakaran jenasah almarhum I Wayan Sudana

Setelah selesai sembahyang bersama, sisa-sisa tulang yang sudah disucikan dianyutkan ke sungai untuk mengembalikan semua unsur panca maha bhuta (lima unsur pembentuk tubuh manusia) sehingg secara fisik tubuhnya benar-benar tidak ada di dunia ini.

Sesaat sebelum abu almarhum dianyutkan ke sungai

Setelah Nganyut, dilanjutkan dengan upacar mecaru di rumah duka dan mesapuh sebagai simbolis pembersihan diri dan lingkungan di rumah duka. Dan selanjutnya dilakukan acara Manusia Yadnya “Pawintenan” anggota keluarga alrmarhum yang dipimpin langusng oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca. Ini adalah rangkaian terakhir dari acara pengabenan almarhum I Wayan Sudana.

Kembali aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena aku tidak bisa melihat dia untuk terakhir kalinya dan aku tidak bisa hadir dalam acara pengabenannya. Maafkan aku! Aku dari kejauhan hanya bisa berdoa dari kejauhan agar kakakku mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua teman dan sahabat almarhum yang telah mengucapkan bela sungkawa atas kepergiannya. Terima kasih juga kepada semua tim medis Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar yang telah memberikan pelayanan yang terbaik buat almarhum.

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada semua keluarga dan krama Banjar Madia Agung I, Madia Agung II dan Madya Agung III beserta krama yang berasal dari banjar-banjar lainnya di banjit, Way Kanan yang telah membantu mempersiapkan acara pengabenan almarhum I Wayan Sudana. Berkat bantuan dari semua orang tersebut acara pengabenannya dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa rintangan apapun. Terima kasih juga kepada semua saudara yang telah berbagi foto melalui facebook, sehingga bisa aku pakai melengkapi rangkain cerita prosesi pengabenan almarhum. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih!

Beberapa foto acara kremasi almarhum bisa dilihat DI SINI

Om shanti

I Nengah Subadra
United Kingdom, 22/11/2011
Updated: 28/11/2011

One thought on “Kembali Berduka

  1. Ahmet says:

    Rasanya baru kemaren kita melakukan canda dan tawa. suka dan duka kira rasakan bersama. Sobat, Selamat jalan…kita disini hanya sedang menungu sampai saatnya tiba…..

    Ahmet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s