Kisah duka di Hari Senin

Om suastiastu

Pada hari ini, Senin tanggal tiga Oktober dua ribu sebelas tepat pukul delapan belas tiga puluh lima menit waktu Indonesia barat ayahku “Jro Mangku Wayan Natia” berpulang menghadap Ida Sang Hyang Widhi Wase – Tuhan Yang Maha Esa. Kepergiannya benar-benar membuat duka yang mendalam di hatiku, keluargaku dan sahabat-sahabat ayahku serta sisya (murid-murid) yang ditinggalkanya.

Almarhum Ayahnda Jro Mangku Wayan Natia di Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit Kabupaten Waykanan. Lampung

Walaupun aku sudah tau kalau ayahku sudah diopname di rumah sakit di Kotabumi Lampung Utara selama lima hari, namun SMS siang itu (waktu London) yang dikirimkan oleh adikku (Komang) benar-benar mengejutkan hatiku karena berisi pesan duka “Ngah wane be ing ade” (Ngah bapak sudah tiada). Tersentak aku diam dan termenung sejenak dengan istriku (Indah) yang baru saja datang dari menghantar anak perempuanku (Dhita) ke sekolah Playgroup di Priory Witham Academy.

Aku berusaha menghubungi handphone flexy yang sengaja aku belikan untuk ayahku agar aku bisa berkomonikasi dengan ayahku dengan pulsa yang murah, namun tidak aktif. Aku menghubungi dan menyuruh keponaanku (Eka) dan iparku (mbok Dewi) yang saat itu sedang online di facebook untuk menyuruh adikku mengaktifkan telpon flexy itu karena aku sungguh tidak sabar mendengar omongan langsung dari salah satu saudaraku yang sedang berada di rumah sakit menunggu ayahku. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku bisa menghubungi handphone flexy itu dan berbicara dengan adikku. Dia menceritakan kenyataan yang terjadi pada ayahku. Aku menangis tersedu-sedu sambil menanyakan detik-detik terkahir kepergian ayahku dan rencana ritual yang akan dilakukan untuk ayahku. Istriku yang ketika itu sedang mempersiapkan makan siang datang menghampiriku dan memberikan support atas kesedihan dan dukaku pada saat aku berbicara dengan adikku.

Beberapa saat setelah itu aku mendapat pesan dari keponaanku bahwa ritual pengabenan (kremasi) ayahku akan dilaksanakan pada Hari Rabu tanggal lima Oktober 2011. Setelah melihat mepetnya waktu, aku berpikir jarak tempuh antara Lincoln-London-Jakarta-Bandar Lampung-Banjit sangat jauh sehingga aku berkesimpulan bahwa aku tidak bisa pulang untuk melihat ayahku yg terakhir kali sebelum dikremasi. Kembali aku mersa sangat sedih karena hanya aku dari sembilan saudaraku yang masih hidup yang tidak ada dalam acara tersebut. Tetapi tidak apa-apa. Aku akan berdoa buat ayahku dari sini agar ayahku mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya di dunia ini. Aku harus benar-benar minta maaf yang sedalam-dalamnya kepada ayahku karena aku tidak bisa mengurusi ayahku pada saat sakit dan sesudah meninggal karena aku berada nan jauh di negeri seberang.

Kenangan yang terindah bersama semua saudara-saudaraku di pura keluarga, Desa Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung

Seharian aku tidak konsen belajar dan merevisi desertasiku. Aku hanya mengecek facebook dan sms serta telpon dari semua saudara-saudaraku yang membicarakan tentang kepergian ayahku. Menjelang sore sekitar jam limaan waktu London atau sekitar jam sebelas malam waktu Indonesia barat aku kembali menelpon saudaraku di Lampung yang kebetulan pada saat aku bisa berbicara dengan kakakku nomor delapan (Sutar). Selanjutnya aku dan kakakku membicarakan tetang rencana ritual pengabenan dan persiapan-persiapn yang sedang dilakukan oleh saudara-saudaraku, karma banjar Madia Agung satu dan juga para pelayat yang berdatangan dari beberapa desa di Kecamatan Banjit. Kemudian pada malam harinya, ketika aku hendak membuat teh susu untuk menghangatkan suasana malam di musim gugur tahun 2011, aku menemukan sepucuk kartu ucapan bela sungkawa dan seikat karangan bunga dari kerabat-kerabatku bermain gamelan di Lincoln, Inggris. Terima kasih banyak untuk semua saudara dan teman yang sudah bersimpati dan mengucapkan bela sungkawa atas duka yang sedang aku alami ini.

Karangan bunga yang aku persembahkan untuk almarhum ayahku

Kepada semua saudara-saudaraku, selamat menjalankan bhakti kepada orang tua kita! Dari kejauhan aku berdoa semoga acara pengabenan ayah kita berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada rintangan dan hambatan.

Om shanti shanti shanti om
I Nengah Subadra
United Kingdom, 03/10/2011

…………………………………………………
Rangkaian acara pengabenan (kremasi)
…………………………………………………

Om Suastiastu

Dari kejauhan, Lincoln-Inggris, aku hanya bisa memantau kegiatan prosesi pengabenan melalui Hamphone flexy yang diterima oleh kakakku (Wayan dan Sutar) dan adikku komang. Sejak diberitakan bahwa ayahku telah tiada, malam itu saudara-saudara sepupuku (Bli Kadek Brana, Bli man Darta, Dek Juntak dan masih banyak lagi saudara-saudara yang lain) sudah mulai memperisapkan kedatangan jenasah dan mengumumkan kepada banjar melalui kul-kul (kentongan) tentang wafatnya ayahku. Malam itu juga serentak krama (anggota) banjar mulai berdatangan mempersiapkan acaranya dan langsung dimulai megebagan (begadang) di rumah duka.

Hari Selasa dilakukan persiapan-persiapan seperti membuat banten (sesajen), bade (pengusung jenasah) dan pengiriman (pengusung abu dan sibol roh) yang dilakukan oleh para pelayat secara sukarela dan bergotong royong oleh umat Hindu di seluruh desa di Kecamatan Banjit seperti Bali Sadhar Utara (mencakup Banjar Madia Agung I, Banjar Madia Agung II, Banjar Madya Agung III), Bali Sadhar Tengah (mencakup Banjar Lebu, Banjar Tabanan dan Banjar Semseman) dan Bali Sadhar Selatan (mencakup Banjar Temakung and Banjar A).

Banyaknya para pelayat yang datang dan membantu persiapan pengabenan almarhum tidak terlepas dari jasa beliau ngayah (melayani) umat sebagi Pinandita Loka Pala Seraya (pendeta) di Pura Kahyangan Tunggal sejak didirikan kekitar tahun 1963-an yang merupakan pura terbesar di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan dan disungsung oleh semua umat Hindu di Kecamatan Banjit yang merupkan transmigran dari Pulau Bali pada saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Pada malam harinya, kata kakaku (Wayan) dilakukan pembacaan doa-doa oleh keluarga dan mekidung oleh para tetua yang biasa melakukan hal tersebut sambil menunggu semua saudara yang tinggal menyebar di Provinsi Lampung dan Bali. Mengingat singkatnya waktu, kelengkapan upacara belum siap dalam sehari sehingga persiapan masih terus berlanjut sampai dengan keesokan harinya sampai sesaat sebelum prosesi awal kremasi dimulai.

Hari Rabu pagi, tanggal lima Oktober 2011 setelah semua persiapan selesai, mulai diadakan prosesi pemandian jenasah almarhum. Setelah itu almarhum disemayaman di Bale dan diteruskan dengan upacara pembersihan jasad oleh Ida Pedanda Buruan dari Seputih Mataram, Lampung Tengah. Setelah itu semua keluarga melakukan persembahyangan bersama untuk mendoakan kepergian almarhum agar mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya (perbuatan). Pada saat yang sama, di Inggris aku, istri dan anakku juga melakukan persembahyangan bersama di rumah dengan membuat banten (sesajen) seadanya.

Banten sederhana yang kupersembahkan dari kejauhan untuk almarhum tercinta

Setelah upacara pembersihan dan penyucian jenasah serta sembahyang bersama selesai, para keluarga, krama banjar arep (utama) yaitu dari Banjar Madia Agung I dan dibantu oleh para pelayat dari banjar lainnya sebagaimana tersebut di atas mulai menaikkan jasad almarhum ke bade untuk selanjutnya diusung menuju setra (kuburuan) yang letaknya di ujung utara Desa Bali Sadhar Utara diiringi dengan Angklung dan Gong yang disumbangkan oleh para umat Hindu dari beberapa banjar.

I Wayan Sudiksa-anak ke-5 (kanan) dan Made Sudiarta-anak ke-6 (kiri) berada di atas keranda jenasah memegang jasad almarhum diiringi oleh umat Hindu dari Kecamatan Banjit, Way Kanan, Lampung

Sesuai dengan informasi dari kakakku (Wayan) yang ikut mengiringinya, perjalanan almarhum dari rumah duka ke kuburan berjalan dengan tertib dan lancar. Setiba di kuburan, jasad almarhum langsung diletakkan di atas kayu bakar yang sudah dipersiapkan oleh para anggota banjar dan pelayat lainnya.

I Wayan Adnyana Putra-cucu almarhum (paling di depan memakai baju kaos biru), anggota POLRES Lampung Barat mengawal perjalanan almarhum menuju kuburan

Setelah itu dilakukan pembersihan jasad kembali dengan menggunakan tirtha (air suci) dari beberapa pura seperti Pura Kahyangan Tunggal, Pura Tangkas Kori Agung, Pura Batur, Pura Mrajapati, Pura Dalem, Pura Keluarga dan juga Tirtha dari Ida Pedanda. Begitu selesai acara pemberisahan ini, jenasah beliau langsung dibakar. Beberapa saat setelah itu, para keluarga dipersilahkan untuk pulang membersihkan diri dan mengganti pakaian untuk mengikuti acara puncak pengabenan (kremasinya). Sedangkan karma banjar dan pelayat masih tetap di kuburan sambil menunggu pembakaran jenasah selesai.

Acara pembakaran jenasah almarhum Jro Mangku Wayan Natia

Tepat pada jam tujuh belas lewat lima puluh tujuh waktu Indonesai Barat, adikku (Komang) menulis status di facebook yang menyatakan bahwa jasad ayahku telah menjadi abu. Selanjutnya dilakukan dengan acara penulangan (memungut tulang-tulang yang masih tersisa) untuk selanjutnya dikumpulkan, dibersihkan dibungkus menjadi sekah (simbol roh) yang kemudian disucikan kembali oleh Pedanda dan didoakan bersama keluarga dan para umat Hindu yang hadir. Tatkala saudara-saudaraku sibuk memungut dan membersihkan tulang-tulang sisa pambakaran jasad ayahku, sambil menulis artikel ini yang diiringi dengan tabuh lelambatan (musik untuk orang meninggal) yang sengaja aku putar di laptopku untuk menghiburku ketika suasana duka aku alami di rantau, aku kembali menangis tersedu-sedu karena hanya aku yang tidak ada disana untuk memungut tulang-tulang almarhum.

Ketika simbol roh almarhum sudah selesai dirangkai, langsung dipangku oleh kakakku (Wayan). Selanjutnya Ida Pedanda mulai menghaturkan sesajen dan mensukikan roh almarhum. Setelah roh dianggap suci, kemudian symbol tersebut diletakkan di Pengiriman (tempat mengusung roh suci). Tepat jam sembilan belas lewat empat puluh waktu Indonesia Barat dua sms dari kakakku (Wayan dan Made) dan pesan dari adikku (Komang) dari facebook masuk memberitakan bahwa acara mepamit segera dimulai. Selanjutnya aku bergegas untuk melakukan persembahyangan dari kejauhan untuk mendoakan arwah ayahku dan pamitan dengannya.

Setelah sembahyang bersama yang diikuti oleh semua keluarga dan umat Hindu yang hadir dalam acara pengabenan ini (persembahyangan ini sekaligus untuk mepamit (perpisahan) sebagai simbol pisahnya hidup beliau dengan keluarga yang masih hidup di dunia ini). Selanjutnya simbol roh almarhum yang telah ditempatkan di Pengiriman diusung oleh krama banjar dan dibuang ke sungai yang letaknya di belakang Dalem dan Mrajapati sebagai simbol pengembalian semua unsur-unsur pembentuk tubuh manusia yang dalam Hindu dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Sehingga inilah akhir dari seluruh rangkaian acara pengabenan almarhum Jro Mangku Wayan Natia.

Malam harinya sekitar jam delapan waktu London, aku, istriku (Indah) dan anak perempuanku (Dhita) kembali melakukan persembahyangan bersama untuk mendoakan arwah ayahku agar mendapatkan mendapatkan tempat sesuai denga karmanya di dunia ini; dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase-Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan ketabahan dan ketenangan kepadaku dan semua keluarga yang ditinggalkan.

Saya secara pribadi dan atas nama keluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada semua keluarga dan teman-teman yang telah bersimpati dan berdoa atas kepergian ayahku. Terima kasih juga kepada semua keluarga, krama banjar, para seka gong and angklung, semua umat Hindu di Kecamatan Banjit yang ikut mempersipkan dan turut serta melaksanakan acara ini, serta para pelayat yang merupakan kerabat dari almarhum dan saudara-saudaraku yang telah hadir dan menyaksikan acara kremasi almarhum ayahku.

Om shanti shanti shanti om
I Nengah Subadra
United Kingdom, 05/10/2011

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s