Biografi Pemilik Website
Om Suastiastu,
I Nengah Subadra lahir di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan-Lampung pada tanggal 30 Juli 1977. Lulus Sekolah Dasar di SDN 3 Bali Sadhar tahun 1990. Lulus Sekolah Menengah Pertama di SMPN 2 Banjit tahun 1993. Lulus Sekolah Menengah Atas di SMA Katolik Slamet Riyadi Kotabumi tahun 1996.

Lulus Strata 1 (S1) pada Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Warmadewa tahun 2003. Lulus Program Magister (S2) pada Kajian Pariwisata, Universitas Udayana tahun 2006 dengan predikat kelulusan dengan pujian (cum laude).

Sekarang sedang menempuh Program Doktor (S3) Bidang Kajian Pariwisata Budaya di University of Lincoln, Brayford Pool, Lincoln, United Kingdom. Sedang menyusun proposal desertasi tentang pengembangan pariwisata budaya di Bali.
(Rekan-rekan pembaca yang terhormat, Mohon doanya ya…! Biar cepat lulus dan kembali ke tanah air tercinta ‘Indonesia’ untuk mengabdikan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh selama masa studi)

Karir dimulai sebagai staf operasional di Bali Tourist Information Center dari tahun 1996-1998, kemudian bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia untuk orang asing di International Language Courses (ILC) Anugerah Denpasar.
Mulai awal tahun 2006 bergabung sebagai dosen di Yayasan Triatma Surya Jaya yang menaungi lembaga pendidikan Manajemen Pariwisata Indonesia (MAPINDO), Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Triatma Jaya (dulunya Akademi Pariwisata (AKPAR) Triatma Jaya), dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Triatma Mulya di Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali Indonesia.
Pengalaman lain mengajar Bahasa Inggris antara lain: Bali Reef di Resort-Tanjung Benoa-Nusa Dua, The Curl di Legian, Maharta Hotel di Legian-Kuta, Vila Kubu-di Seminyak-Kuta, Direktorat Pariwisata POLDA Bali di Denpasar, Direktorat POLAIR POLDA Bali di Pelabuhan Benoa, Bali Nirwana Golf Course di Tabanan, dan Le Meridien Hotel di Tabanan. Selain itu, aktif juga sebagai penulis di ruang opini dan debat publik di harian umum Bali Post.

Hobinya camping, jalan-jalan terutama ke obyek wisata alam dan budaya, mencicipi makanan-makanan tradisional, membaca, menulis, dan mendengarkan semua jenis musik.
Di Bali, tinggal di Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No.5, Banjar Poh Manis, Kelurahan Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur, Bali-Indonesia. Telepon +62 0361 466980, Handphone di Bali: 081-239-26673, Email: insubadra@yahoo.com.
Di Inggris tinggal di 157 Monks Road, Lincoln, United Kingdom, LN2 5JJ. Handphone:+44 077 904 45786,
Om santih santih santih om
Salam hormat saya,
I Nengah Subadra
Pangkalan Ngobrolku (text, audio and video chat) yang bisa dihubungi setiap saat:
1. Skype, dengan ID : inengahsubadra
2. 12Voip, dengan ID : inengahsubadrabali
3. Oovoo, dengan ID mahadhita
4. Yahoo Messenger, dengan ID : insubadra
Bali Tourism Watch: Lowongan Kerja
Bali Tourism Watch memberikan informasi peluang kerja. Kami hanya menyediakan informasi. Isi berita / informasi di luar tanggung jawab Bali Tourism Watch.
VACANCY
Indy Tours & Travel is seeking a highly committed individuals for the position of TICKETING and OPERATION.
General qualification:
1. Relevant Educational background.
2. Good Communication skills both Written and Spoken English.
3. High sense of customer service oriented.
4. Outgoing personality.
5. Good Attitude
6. Able to work in a Team
Administration and operation
1. Male/Female, 21 – 30 years old.
2. Min. Diploma 3.
3. Experience in similar position is preferable
4. Fresh graduate are welcome
5. Excellent communication skills both written and spoken English, other Languages will be advantage point
6. Computer literature
7. Able to work under pressure
Qualified applicants can send their resume/CV and recent photograph immediately to indytours@yahoo.com or come directly to Indy Tours & Travel, Jl. Imam Bonjol No. 281 Denpasar, Phone: 0361 484806, Fax: 0361 489101
Indy Tours & Travel
Office Bali:
Jl. Imam Bonjol No 581 A Bali
Ph: (0361) 484 806;
Fx: (0361) 489 101;
Office Lombok:
Jl. Patimura No.1, Griya Praja Asri Jatisela Gunung Sari – NTB
Ph/Fx: (0370) 616 3285
email : indytours@yahoo.com
Bali Tourism Watch: Hari Raya Hindu Tahun 2009
Oleh: Ni Putu Indah Indrayanti
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Hindu,
Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Bali.

Om suastiastu,
Buat umat Hindu sedharma dimanapun berada, Berikut ini adalah hari raya besar Agama Hindu pada tahun 2009. Ada baiknya pada hari-hari tersebut dibawah ini untuk mengadakan persembahyangan atau menghaturkan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase.
Bulan Januari 2009
1. Sabtu, 3- 01 – 09 : Hari Raya Saraswati
2. Minggu, 4 – 01- 09 : Banyu Pinaruh
3. Rabu, 7 – 01 – 09 : Pagerwesi
4. Sabtu, 10 – 01 – 2009 : Purnama Kapitu
5. Selasa, 12 – 01 – 2009 : Kajeng kliwon
6. Sabtu, 17 – 01 – 2009 : Tumpek Landep
7. Rabu, 21 – 01 – 2009 : Bude Cemeng Ukir/ Buda Wage Ukir
8. Sabtu, 24 – 01- 2009 : Hari Sivaratri
9. Minggu, 25 – 01- 2009 : Tilem kapitu
Bulan Februari 2009
1. Senin, 9-2-09 : Purnama Kawulu
2. Sabtu, 21-2-09 : Tumpek Wariga/Uduh/Pengatag
3. Selasa, 24-2-09 : Tilem Kawulu
4. Rabu, 25-2-09 : Buda Wage Warigadean
5. Kamis, 26-2-09 : Kajeng Kliwon
Bulan Maret 2009
1. Selasa, 3-3-09 : Anggarkasih Julungwangi
2. Rabu, 4-3-09 : Buda Umanis Julungwangi
3. Selasa, 10-3-09 : Purnama kasanga
4. Kamis, 12-3-09 : Wrespati Wage Sungsang, Sugi Manik Jawa
5. Jumat, 13-3-09 : Sukra Kliwon Sungsang, Kajeng Kliwon Sungsang, Sugi Manik Bali
6. Selasa, 17-3-09 : Penampahan Galungan / Anggara Wage Dungulan
7. Rabu, 18-3-09 : Galungan / Buda Kliwon Dungulan
8. Kamis, 19-3-09 : Umanis Galungan / Wrespati Umanis Dungulan
9. Senin, 23-3-09 : Coma Pemacekan Agung
10. Rabu, 25-3-09 : Tilem Kasanga
11. Kamis, 26-3-09 : Nyepi
12. Jumat, 27-3-09 : Ngembak Geni dan Penampahan Kuningan
13. Sabtu, 28-3-09 : Kuningan, Kajeng Kliwon
14. Minggu, 29-3-09 : Umanis Kuningan / Redite Umanis Langkir
Bulan April 2009
1. Rabu, 1-4-09 : Bude Wage Langkir
2. Rabu, 8-4-09 : Buda Umanis Medangsia
3. Kamis, 9-4-09 : Wrespati Paing Medangsia dan Purnama Kadasa
4. Minggu, 12-4-09 : Kajeng Kliwon
5. Rabu, 22-4-09 : Buda Kliwon Pahang
6. Jumat, 24-4-09 : Tilem Kadasa
7. Senin, 27-4-09 : Kajeng Kliwon
Bulan Mei 2009
1. Sabtu, 2-5-09 : Tumpek Krulut
2. Rabu, 6-5-09 : Buda Wage Merakih
3. Sabtu, 9-5-09 : Purnama Desta
4. Rabu, 27-5-09 : Buda Kliwon Matal dan Kajeng Kliwon
Bulan Juni 2009
1. Sabtu, 6-6-09 : Tumpek Uye
2. Minggu, 7-6-09 : Purnama Asadha
3. Rabu, 10-6-09 : Buda Wage Menail
4. Kamis, 11-6-09 : Kajeng Kliwon
5. Selasa, 16-6-09 : Anggarkasih Prangbakat
6. Rabu, 17-6-09 : Buda Umanis Prangbakat
7. Senin, 22-6-09 : Tilem Asadha
8. Jumat, 26-6-09 : Kajeng Kliwon
Bulan Juli 2009
1. Selasa, 7-7-09 : Purnama Kasa
2. Sabtu, 11-7-09 : Tumpek Wayang dan Kajeng Kliwon
3. Rabu, 15-7-09 : Buda Wage Klawu
4. Selasa, 21-7-09 : Anggarkasih Dukut dan Tilem Kasa
5. Minggu, 26-7-09 : Kajeng Kliwon
Bulan Agustus 2009
1. Sabtu, 1-8-09 : Saraswati
2. Minggu, 2-8-09 : Banyu Pinaruh
3. Senin, 3-8-09 : Coma Ribek
4. Rabu, 5-8-09 : Pagerwesi dan Puranama Karo
5. Senin, 10-80-09 : Kajeng Kliwon
6. Sabtu, 15-8-09 : tumpek Landep
7. Rabu, 19-8-09 : Buda wage Ukir
8. Kamis, 20-8-09 : Tilem karo
9.Selasa, 25-8-09 : Anggarkasih Kulantir
10. Rabu, 26-8-09 : Buda Umanis Kulantir
Bulan September 2009
1. Sabtu, 19-9-09 : Tumpek Wariga
2. Rabu, 23-9-09 : Buda Wage warigadean dan Kajeng Kliwon
3. Rabu, 30-9-09 : Buda Umanis Julungwangi
Bulan Oktober 2009
1. Sabtu,3-10-09 : Purnama Kapat
2. Kamis,8-10-09 : Wrespati wage Sungasng, Sugi Manik jawa
3. Jumat, 9-10-09 : Sukra Kliwon Sungsang, Kajeng Kliwon, Sugi Manik bali
4. Rabu, 14-10-09: Buda Kliwon Dungulan/Galungan
5. Kamis, 15-10-09: Wrespati Umanis Dungulan/Umanis Galungan
6. Minggu, 18-10-09 : Redite Wage Kuningan, Tilem kapat
7. Senin, 19-10-09 : Coma Pemacekan Agung
8. Sabtu, 24-10-09 : Kuningan, Kajeng Kliwon
9. Minggu, 25-10-09 : Redite Umanis Langkir/Umanis Kuningan
10. Rabu, 28-10-09: Buda Wage Langkir
Bulan November 2009
1. Senin, 2-11-09 : Purnama Kalima
2. Selasa, 3-11-09 : Anggarkasih Medangsia
3. Rabu, 4-11-09 : Buda Umanis Medangsia
4. Minggu, 8-11-09 : Kajeng Kliwon
5. Selasa, 17-11-09 : Tilem Kalima
6. Rabu, 18-11-09 : Buda Kliwon Pahang
7. Senin, 23-11-09 : Soma Kliwon Krulut, Kajeng Kliwon
8. Sabtu, 28-11-09 : Tumpek Krulut
Bulan Desember 2009
1. Selasa, 1-12-09 : Purnama kanem
2. Rabu, 2-12-09 : Buda wage merakih
3. Selasa, 8-12-09 : Anggarkasih Tambir
4. Rabu, 16-12-09 : Tilem Kanem
5. Rabu, 23-12-09 : Buda Kliwon Matal, Kajeng Kliwon
6. Kamis, 31-12-09 : Purnama Kapitu

Anakku ‘Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara’
Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara
(Putri pasangan I Nengah Subadra dan Ni Putu Indah Indrayanti)

Lahir di Denpasar pada tanggal 19 Januari 2008 (Saniscara Umanis Sungsang, Penaggal Ping 12 Paniron) menurut sistem penaggalan Bali, di Rumah Sakit Umum Puri Raharja-Bali.
Arti:
Anak perempuan tertua yang memiliki pengetahuan luas
Kosa Kata:
1. Widya : Ilmu / pengetahuan
2. Maha : Tertinggi / tertua
3. Dhita : Puteri
4. Anisvara : Tertinggi / Luas
Asal-usul nama anakku
Nama Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara ditentukan berdasarkan pada api suci yang dinyalakan dihadapan sesajen (banten) dan diyakini bahwa api suci tersebut disaksikan oleh Dewa Brahma-dewa api yang merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa yang bertugas sebagai pencipta alam semesta dan isinya. Nama tersebut merupakan hasil kontribusi dari Ayahnda I Nengah Subadra (Widya Anisvara), Ibunda Ni Putu Indah Indrayanti (Dhita), dan Kakeknda Jro Mangku Wayan Natia (Maha). Nama panggilanya adalah Dhita.

Apalah artinya sebuah nama?
Nama merupakan harapan utama orang tua dan diharapkan anak tersebut mencapai apa yang dicita-citakan orang tuanya. Namun, kebenaran terhadap makna nama sangat tergantung dari karma pada kehidupan sebelumnya dan prilaku dalam hidupnya sehingga tidak ada jaminan bagi yang memiliki nama bagus dan penuh arti akan mencapai tujuan yang diharapkan.

Prosesi Acara Manusia Yadanya:
1. Magedong-gedongan
Diadakan pada bulan September 2008 di Perumahan Nuansa Pengungsih, Jalan Trenggana XIVA No.14 Penatih
2. Kelahiran
Lahir pada tanggal 19 Januari 2008 di Rumah Sakit Puri Raharja. Ari-arinya dikubur di rumah Made. Saat tiba di rumah dibuatkan acara penyambutan dengan banten. Operasi sesar di lakukan oleh Dokter Haya. Masuk rumah sakit jam enaman, sekitar jam 8 pagi sudah lahir.
3. Kepus Puser
Dibuatkan banten oleh Dadong Sekar, di Beleleng. Potongan tali pusarnya dikeringkan kemudian disimpan di pelangkiran (tempat sembahyang kecil).
4. Roras Dina
Dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2008 atau dua belas hari setelah kelahiran, bantennya dibuatkan banten oleh Dadong Suplag, We Ranis dan Dadong Sekar. Dilanjutkan dengan acara pebyakalaan/pembersihan Papanya.

5. Tutug Kambuhan
Hanya dibuatkan banten petanggeh karena ada pecaruan atau tawur agung di Pesangkan-Duda Timur. Dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2008. Banten dibuatkan oleh Dadong Sekar.
6.Telu Bulanan
Dilaksanakan pada tangga 3 Mei 2008 (Saniscara Umanis Bala) di Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No 5, Denpasara. Banten dibuatkan oleh Mbok Ranis dan Dadong Suplag. Banten dilengkapi dengan guling yang disumbangkan oleh Made. Dipuput oleh Jro Mangku dari Banjar Plagan. Upacara dirangkaikan dengan Tutug Kambuhan dan ngenjek tanah pertama kalinya. Mengundang semua sepupu yang ada di Denpasar, teman-teman di kampus dan tetangga. Acara berjalan dengan baik dan lancar.
7.Otonan
Dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2008 (Saniscara Umanis Sungsang). Diadakan di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Banten dibuatkan oleh Wayahnya ‘Jro Mangku Wayan Natia’. Pada hari yang sama, cucu dan cicitnya yang lain juga dibuatkan acara Manusia Yadnya (upacara persembahan untuk manusia) yaitu; mekutang bok, (potong rambut), tiga bulanan, otonan dan potong gigi. Mengundang lebih dari dua ratus orang yang besasal dari beberapa desa di Kecamatan Banjit. Acaranya berjalan dan sukses, berkat kerja sama yang baik antara keluarga dan warga setempat. Papa dan mamanya Dhita mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam acara tersebut.

8. Ulang Tahun Pertama
Selamat Ulang Tahun ya Dhita sayang….. Kasian deah… ulang tahun pertamanya nga ditemani Papanya. Maklum, sedang menuntut ilmu di negeri sebrang, tepatnya di Lincoln, United Kingdom. Katanya sih untuk bekal di hari tua katanya.

Perayaan ulang tahunnya yang pertama sangat meriah karena banyak mengundang, kira 50 oranglah….. Yang diundang adalah tetangga dan anak-anaknya, keluarga papa dan mama, dan juga temen-temen mama di kampus. Katanya sih bikin tumpeng nasi kuning, biar sekalian undangannya makan nasi kuning. Hadiah juga banyak tuh dapet, boneka, baju, jaket, mainan dan masih buanyak…. lagi.

Papa dari kejauhan hanya bisa berdoa buat Dhita, semoga cepat besar, jalannya semakin lancar (sekarang baru bisa tiga sampai lima langkah), dan panjang umur.

Bali Tourism Watch: Tourisme, Teledorisme dan Terorisme di Bali
Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________
Sebagai daerah tujuan wisata yang bertaraf internasional yang memiliki keunikan budaya, keindahan alam dan masyarakat yang ramah , Bali telah dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia Eropa, Asia, Afrika dan Australia. Pesatnya pertumbuhan pembangunan pariwisata dan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali disikapi dengan positif oleh masyarakat lokal dan menganggap fenomena yang terjadi sebagai peluang emas yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejastraannya.
Masyarakat lokal memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata mulai dari perencanaan (planning), pengembangan (development), pengawasan (supervision) dan pengevaluasian (evaluation) program pengembangan pariwisata. Keterlibatan masyarakat lokal yang paling menonjol adalah dalam pengembangan pariwisata, baik pengembangan sarana utama pariwisata seperti akomodasi dan restoran sarana penunjang pariwisata seperti art shop, tempat penukaran uang, toko dan lain-lain; sedangkan peran yang lainnya masih sangat kecil. Adanya beberapa jenis usaha yang digeluti oleh masyarakat lokal tersebut menggambarkan bahwa peran serta masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata dapat ditemukan pada sektor formal dan tidak formal.
Namun, ada beberapa hal penting yang dilupakan oleh masyarakat lokal sehubungan dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata di Bali sehingga dapat mengakibatkan gangguan dan bahkan ancaman terhadap keberlanjutan pariwisata Bali. Kesempatan untuk membuka usaha-usaha kecil seperti pedagang kaki lima misalnya, selain memberikan dampak positif berupa sumber penghasilan bagi pedagangnya, tetapi juga memunculkan dampak negatif seperti kemacetan lalu lintas dan lingkungan nampak kumuh. Ini merupakan salah satu bentuk keteledoran pemerintah dan masyarakat lokal yang menganggap remeh permasalahan ini. Jika ini terus dibiarkan, maka lama-kelamaan akan semakin banyak objek-objek wisata yang akan ditinggalkan karena para wisatawan sudah tidak nyaman lagi melihat pemandangan ini.
Contoh keteledoran lain yang dapat dilihat dengan nyata adalah dalam sistem keamanan. Tidak adanya sistem pengamanan yang menyeluruh (holistic) yang melibatkan aparat pemerintah dan masyarakat merupakan salah satu penyebab dari adanya gangguan keamanan dan serangan terorisme. Mobilitas penduduk juga tidak didata dengan baik sehingga tidak diketahui secara pasti indentitas dan tempat tinggalnya. Yang terjadi sekarang ini, aparat Desa Dinas dan Desa Adat yang diwakili Pecalang hanya memungut uang yang jumlahnya cukup besar setiap bulannya kepada penduduk pendatang tanpa mendata lebih jauh identitas penduduk yang bersangkutan. Sehingga sering kali penduduk pendatang menghindar dari pungutan rutin ini. Semestinya, yang lebih penting adalah pendataan indentitasnya untuk mengetahui secara pasti maksud dan tujuannya menetap dalam jangka waktu tertentu di suatu daerah, bukan jumlah uang yang diperoleh dengan dalih untuk kepentingan keamanan.
Melihat fakta ini, dapat dikatakan bahwa sistem keamanan di Bali masih sangat lemah. Buktinya, banyaknya wisatawan asing yang berkunjung untuk menikmati potensi pariwisata Bali tersebut di atas dan berbagai jenis hiburan tradisional serta dunia gemerlap (dugem) dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara melakukan tindakan kriminal dan yang memakan korban dalam jumlah yang sangat banyak serta gangguan keamanan yang mendapat kecaman dan kutukan dari hampir semua negara di dunia. Serangan bom yang dilakukan oleh para terorist pada bulan Oktober 2002 contohnya, telah mengakibatkan kerugian material, trauma berkepanjangan, cacat tepat, dan korban nyawa manusia.
Peledakan bom tersebut bukan hanya mendapatkan respon dari pemerintah daerah dan pusat saja, tetapi juga dari negara-negara di dunia khususnya negara yang warga negaranya menjadi korban peledakan. Negara-negara internasional mengutuk keras tindakan anarkis yang dilakukan para teroris tersebut dan beberapa di antaranya mengirimkan bantuan dan pertolongan medis sebagai bentuk simpati terhadap tragedy yang terjadi. Negara Australia misalnya, dengan terbuka negara ini mengulurkan bantuan untuk membantu penanganan para korban yang tidak bisa lagi diobati di rumah sakit yang ada di Bali. Keprihatinan negara asing terhadap peledakan bom tersebut juga dibuktikan dengan adanya negara-negara asing yang mengirimkan bantuan inteligen dan tim forensik yang ahli dalam bidang penginvestigasian dan pengungkapan kasus kejahatan.
Tragisnya peledakan bom tersebut secara langsung berdampak terhadap pariwisata khususnya di Bali. Jumlah keberangkatan (depature) wisatawan di Bandar Undara Internasional Ngurah Rai meningkat dengan pesat. Banyak wisatawan asing segera meninggalkan Bali untuk menghindari serangan bom susulan dan karena rasa takut yang berlebihan. Sebaliknya kedatangan (arrival) wisatawan asing menurun secara drastis karena para calon wisatawan yang akan datang ke Bali membatalkan rencana perjalanan liburannya ke Bali setelah mendengar berita di media massa dan internet bahwa Bali dalam keadaan tidak aman yang dipertegas lagi dengan dikeluarkannya surat-surat seperti saran untuk tidak berkunjung (travel advisory), peringatan berkunjung (travel warning) dan larangan berkujung (travel banned) oleh beberapa negara asing yang warga negaranya menjadi korban dalam tragedi bom tersebut.
Usaha keras pemerintah, industri pariwisata, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, wisatawan dan masyarakat lokal dalam memulihkan kondisi pariwisata di Bali pasca bom Bali I cukup membuahkan hasil. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada saat diterapkanya program Bali Recovery. Tetapi kemampuan para stakeholders pariwisata tersebut diuji kembali dengan adanya peledakan bom yang kedua kali di Raja’s Cafe, Kuta dan Banega Cafe, Jimbaran yang juga memakan korban harta, benda dan nyawa manusia. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada peledakan bom kembali di Bali jika tidak dilakukan perbaikan dalam sistem keamanan dengan segera.
Jadi, untuk menjaga citra dan keberlanjutan pariwisata Bali yang sudah dikenal dengan keunikan budaya, keindahan alam dan keamanan daerahnya maka perlu adanya keterlibatan seluruh stakeholder pariwisata (pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, industry pariwisata, masyarakat dan wisatawan) untuk menjaga kebersihan dan keamanan di Pulau Bali.
Bali Tourism Watch: Antara London dan Lincoln
London, 11 September 2008
Waktu sudah menunjukan pukul 05.30 waktu London (7 jam lebih lambat dari jam di Bali) akhirnya aku tiba di Bandara Heathrow di Terminal 4. Begitu turun dari pesawat aku harus ke bagian imigrasi untuk stempel passport dan Visa. Disana aku harus menunjukan surat tanda sudah diterima (Letter of Acceptance) dari universitas untuk menjamin bahwa aku benar2 mau sekolah di Inggris.

Selain itu, aku harus menjalani pemeriksaan kesehatan di ruang isolasi karena dalam Visaku aku akan berada di Inggris selama 4 tahunan. Pemeriksaan ini hanya dilakukan bagi orang asing yang mau menetap lebih dari 6 bulan di Inggris. Aku harus buka baju dan dirongsen. Setelah dinyatakan sehat, selanjutya aku datang lagi ke bagian imigrasi untuk lapor.
Setelah selesai urusan imigrasi, baru aku mengambil barang. Tinggal tasku yang muter2 di sana karena aku lama bener menjalani pemeriksaan. Setelah semua barang terkumpul, aku keluar melalui terminal 4. Belum ada seorangpun perwakilan dari universitas yang jemput aku. Ternyata mereka menjemput di terminal 3. Aku harus kembali naik kereta api (gratis) kira-kira 15 menitan untuk menuju terminal 3. Aku ditunjuin dan diantar langsung oleh seorang staf bandara ke meeting point di terminal 3. Baik sekali ibu itu lho…… Aku telepon nomor orang yang jemput. Ternyata deringannya ada di belakangku. Akhirnya dia nyuruh aku putar badan dan dia langsung tersenyum. Setelah itu aku memperkenalkan diri dan mengecek namaku di daftar kedatangan mahasiswa internasional.
Setelah itu aku duduk2 di ruang tunggu sambil nunggu jam 11.30 pagi. Lumayan juga sih nunggunya (3 jaman lah..). Aku sempat tidur2an di kursi panjang dan makan kue2 yang aku dapet di pesawat BA 12 sambil nunggu berangkat ke Lincoln. Jam dua belas siang aku meninggalkan Heathrow menuju Lincoln, Brayford. Naik bus kira2 empat jam baru sampai di tujuan. Setelah sampai aku langsung dicarikan taksi oleh staf kampus menuju tempat tinggalku.
Begitu sampai di 157 Monks Road, tuan rumahku sudah menyambut dan membantu mengangkat tasku yang beratnya 29.5 kg itu ke lantai dua. Kurus-kurus ternyata ibu kost kuat bener ngangkatnya. He… he.. Setelah itu aku langsung diperkenalkan dengan teman2 yang tinggal serumah dan tempat kamar mandi, dapur serta cara menggunakan fasilitas2 di dapur. Maklum,… udah lama nga pernah masak. Kan ada istriku, he.. he… Aku Cuma dikasi satu seprai dan bantal. Jadi aku mesti beli lagi entar. Dia bilang murah sih kalo beli di toko bekas. Ini gambar rumah yang aku tempati.

Perjalanan dari Bali sampai Lincoln, Brayford-United Kingdom (totalnya 21 jam naik pesawat) memang bener2 melelahkan. Makanya begitu tuan rumah pulang, aku langsung makan roti dulu, dah itu tidur….!
Cape deh….
Bali Tourism Watch: Antara Singapura dan Heathrow
Singapura, 10 September 2008
Begitu tiba di Bandara, aku segera rubah jam. Harus dimajukan satu jam atau sama dengan jam di Bali, biar nga terlambat. Aku lihat jadwal penerbangan pesawat BA 12 di papan ternyata belum muncul. Aku lama menunggu (30 menitan), belum juga muncul karena aku belum tau dari terminal berapa berangkatnya. Akhirnya aku tanya ke bagian informasi dan akhirnya aku tau terminal keberangkatannya. Nunggunya lumayan lama sih…. 4 jam kali ye… Nih fotoku waktu nungguin penerbangan berikutnya.

Pas masuk ke ruang check in, udah mulai deg-degan karena semua laptop digeledah dan diperiksa oleh staf keamanan bandara. Aku hanya takut laptopku disita karena ada beberapa programnya yang nga asli kayaknya. Syukurlah semuanya berjalan dengan baik. Setelah jam 11 malem, semua penumpang naik ke pesawat British Airways dengan nomor penerbangan BA 12. Aku terus dan tetap berdoa agar dalam perjalanan selamat walaupun pesawatnya juga gede sama dengan SQ, tapi BA sedikit lebih bagus tempat duduknya dan pelayanannya.

Di pesawat mulai mendapatkan beberapa snack dan minuman ringan. Lumayan,… ngilangin nervous klo naik pesawat. Penerbangannya memang bener2 lama. Udah dapat tidur lama juga belum sampe2. Dalam perjalanan juga banyak sekali goncangan2, cukup dasyat lagi…. Jadi ngeri deah… goncangannya bisa sampai 15-30 menit lho….. Klo aku pas nga tidur, aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa….. Tapi klo udah tidur, ya pasrah aja deah… dan hanya percaya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase sebagai juru penyelamatku. Pesawatnya kayaknya otomatis, sepuluh menit sebelum bergoncang, lampu tanda mengenakan sabuk pengaman pasti menyala dan berbunyi “tink…”. Jadi hapal dah kalo mau ada goncangan.
Beberapa kali mendapatkan suguhan makanan, tapi aku tetap saja ngerasa makanan itu aneh dan serasa Uyah Sere lebih enak, he…. he…. Terus terang, aku makannya tak selahap penumbang yang duduk di samping dan depanku. Mereka lahap semua makannya. Hanya beberapa roti dan minumannya kusimpan dalam kantong kecil yang biasanya dipakai tempat muntahan sehingga aku bisa membawanya ke rumah atau makan nantinya.
Bali Tourism Watch: Antara Bali dan Singapura
Bali, 10 September 2008
Hari ini saat yang paling berat bagiku untuk meninggalkan semua keluargaku di Indonesia karena aku harus pergi jauh menuntut ilmu. Walau itu menyedihkan tapi aku harus tetap pergi dan menjalaninya. Harapanku hanya satu, yaitu aku berhasil dan sukses menuntut ilmu sehingga berguna bagi diriku, keluargaku, bangsa dan tanah airku. Satu lagu yang selalu mengingatkanku untuk kepergianku ini adalah “Teluk Bayur Permai”. Namun terpaksa harus aku ganti beberapa lirik lagunya agar pas dengan kepergianku. Ini lagunya;
Selamat tinggal Pulau Bali tercinta
Daku pergi jauh ke negeri seberang
Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua
Selamat tinggal istri dan anakku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan emailmu setiap minggu
Kan kujadikan pembuluh rindu
Reff:
Lambaian tanganmu kurasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Airmata berlinang tak terasakan olehku
Nantikanlah aku di Pulau Bali……
Perlu diketahui bahwa ini merupakan kepergianku ke luar negeri untuk pertama kalinya. Aku tak tau ke arah mana aku harus pergi. Aku hanya terus berdoa sambil menelusuri jalan yang semestinya aku tempuh yang ditunjukan oleh Yang Maha Kuasa.

Sejak kepergianku dilepas oleh istri (Indah) dan anakku (Dhita) beserta keluarga di Bandara. Aku memang harus berjalan sendiri. Aku menunggu beberapa saat sebelum terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta, tiket untuk ke Singapura dan Inggrispun belum aku pegang. Aku harus menunggu orang yang tak kukenal rupanya yang mau bawain tiketku. Lama menunggu sampai jam 3 sore belum juga datang. Padahal, check-in untuk penerbangan internasional paling lambat dua jam sebelum keberangkatan. Setelah melakukan kontak melalui telepon dan sms, akhirnya jam 4 sore aku ketemu dengan orangnya dan tiketnya dibawa langsung. Dia membantuku check-in di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.
Dua puluh menitan aku menunggu, waktu menunjukan pukul 5 sore waktu Jakarta. Setelah itu aku berangkat menuju Singapura dengan menggunakan pesawat SQ Airlines. Pesawat besar berbadan lebar, satu baris berisi sebelas orang penumpang. Aku nga tau berapa jumlah semua penumpangnya (yang jelas 64 x 11=?). Aku dapat tempat duduk paling belakang pojok sebelah kanan, tepatnya 64 K. Karena check-in terakhir kale ye….? Makanya,…. lain kali lebih awal donk Check-innya…..! biar dapet tempat duduk agak di Depan. He… he…
Sejak dalam pesawat inilah aku harus mulai memakan makanan yang tidak pernah aku makan sebelumnya. Makan malam di pesawat dengan satu tampal besar ikan tuna dan kentang goreng serta keju. Tapi lumayan bikin perut kenyang walaupun tanpa nasi. Aku hanya sempat ngobrol2 sebentar dengan penumpang yang duduk di sebelahku. Dia kerja di Kedutaan Besar Singapura untuk Indonesia. Dia cukup baik dan ramah sehingga dia ngasi tau beberapa informasi tentang bandara yang akan segera kudarati. Setelah terbang kira-kira 2 jam, aku sampai di Bandara Sang Hai, Singapura.
Bali Tourism Watch: Tajen: Sebuah Tinjauan dari Perspektif Budaya
Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________
Banyaknya tanah yang sudah berpindah tangan ke orang lain, meningkatnya jumlah kemiskinan dan kejahatan, dan penciptaan generasi muda yang malas bekerja telah dijadikan sebagai alasan dasar oleh beberapa orang untuk mengklaim bahwa tajen merupakan kegiatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kehidupan yang curam dan gelap. Kenapa tidak sekalian saja tajen dijadikan sebagai penyebab rusaknya alam dan budaya Bali yang terjadi sekarang ini? Benarkah sedemikian keras pengarus tajen terdapat kehidupan manusia sehingga harus dimusnahkan keberadaanya? Pola pikir manusia yang sempit dan tidak menyeluruh (holistic) mengakibatkan penilaian terhadap tajen hanya sebelah mata dan selalu dipandang sebagai aktifitas dan interaksi sosial yang negatif di dalam kehidupan masyarakat; dan tidak banyak yang mengetahui bahwa tajen merupakan budaya; dan bahkan di Bali, tajen dapat disebut sebagai salah satu budaya lokal asli (indigenous culture).

Karakteristik budaya
Tajen secara jelas memiliki karakteristik-karakteristik budaya. Sebagaimana disebutkan oleh Reisinger (2003), suatu budaya memiliki sepuluh karakteristik, antara lain: fungsi, phenomena sosial, memiliki ketentuan, dapat dipelajari, hanya belaku di dalam grup tertentu, bernilai, bisa dikomonikasikan, dinamis, telah berjalan dalam waktu yang lama, bisa memuaskan keinginan dalam kelompoknya.
Bagi sebagain besar orang, tajen telah dijadikan sebagai media untuk mengadu nasib untuk mengadu keberuntuangan tetapi banyak juga yang menjadikan tajen sebagai sarana hiburan khususnya bagi kalangan yang berduit karena mereka ke tajen hanya untuk mencari kesenangan saja dan sama sekali bukan untuk mencari kemenangan dalam bentuk uang. Selain itu, tajen juga telah difungsikan sebagai lahan untuk berusaha atau sumber mata pencaharian seperti berdagang, jasa pemeliharaan ayam, ojek dan lain-lain.
Tajen merupakan fenomena sosial yang ada di kehidupan sosial masyarakat dan hampir di setiap daerah seperti Bali, Jawa dan Sumatra ada tajen yang di lain tempat sering disebut sabung ayam yang bukan hanya diramaikan olah bebotoh orang Bali saja, tetapi juga dari suku lain seperti Jawa, Lampung, Batak dan Palembang. Aturan main dan perangkat tajen juga sama dengan di Bali karena budaya ini dibawa dan dikembangkan langsung oleh para bebotoh transmigran yang merantau ke daerah-daerah tersebut. Dalam kegiatanya, tajen memiliki aturan-aturan tertentu misalnya seperti penentuan menang-kalahnya pertarungan ayam dan ukuran waktu untuk menyatakan lawannya kalah yang hanya dipahami oleh para bebotoh saja dan hanya dipakai pada saat berada dalam kehidupan tajen saja. Ketika keluar dari arena tajen, aturan tersebut sama sekali tidak dipakai dan berarti di kelompok sosial yang lainnya.
Istilah-istilah yang dipakai di dalam kegiatan tajen hanya bisa dipelajari oleh seseorang yang berminat untuk menekuninya dan sama sekali tidak diwariskan atau diturunkan dari generasi sebelumnya dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Begitu juga cara menentukan lawan ayam aduannya, biasanya diajarkan oleh para bebotoh yang sudah lebih banyak dan lama makan garam dalam dunia tajen. Contoh lain yang harus dipelajari adalah cara mengikat taji (senjata untuk mematikan musuh). Sesorang harus dilatih dan memiliki keahlian khusus untuk mengerjakannya sehingga tidak semua bebotoh bisa melakukannya.
Cok dan gasal merupakan bahasa yang sangat lazim didengar di tajen. Sehingga sangat jelas bahwa ada komonikasi verbal maupun non verbal di antara para petaruh ayam. Selain itu, keberadaan tajen sangat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan jaman. Jenis ayam yang diadu mulai dari ayam kampung biasa, meningkat ke ayam keker, bekisar dan bahkan sampai ayam Bangkok. Begitu juga alat pertaruhannya, kalau dulu mungkin saja bertaruh dengan pis bolong, tetapi sekarang menggunakan uang yang berlaku seperti Rupiah. Makanan ayam jagonya juga demikian. Dulu ayamnya hanya dikasi makan singkong tetapi sekarang sudah berubah diberikan nasi, jagung dan konsentrat yang memiliki kandungan gizi tinggi dan lebih bagus. Dan bahkan, beberapa ayam jago diberikan obat kuat tambahan (supplement) sebelum diadu di arena tajen sehingga mampu mematikan lawannya dalam sekejap.
Tajen bukan merupakan kegiatan yang baru; dan bahkan dapat dikatakan bahwa kita yang hidup sekarang inilah yang jauh lebih baru atau muda daripada keberadaan tajen. Keberadaan tajen terus berlanjut dari jaman dahulu, sekarang dan akan terus ada sampai dengan masa yang akan datang.

Unsur budaya
Bagi para bebotoh, tajen memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya. Mulai dari pengurungan ayam, pemeliharaan, pengaduan sampai dengan kemenangan ayam kesayangannya. Kepuasan inilah yang dijadikan sebagai salah satu unsur dan merupakan inti dan nilai (value) dari budaya yang tidak berwujud, namun dapat dirasakan (intangible) sebagaimana disebutkan oleh Hofstede (1997). Sedangkan tiga unsur kebudayaan lainnya seperti symbol, hero dan ritual merupakan unsur budaya yang nyata yang dapat dilihat dengan mata (tangible). Dua unsur terluar budaya (symbol dan hero) inilah yang paling sering diperdebatkan dan dikomentari oleh masyarakat awam tanpa melihat lebih jauh dua unsur yang lebih dalam yang merupakan bagian terpenting budaya yaitu ritual dan value dari keberadaan tajen. Di dalam suatu komunitas (misalnya bebotoh) akan terjadi interaksi sosial (Gidden, 1989). Salah satu interaksi sosial dalam bentuk taruhan uang atau judi di antara para bebotoh, sering kali dijadikan sebagai alasan utama dan kambing hitam untuk mengklaim bahwa tajen tidak layak disebut sebagai budaya.
Bahasa yang dipakai seperti cok dan gasal merupakan simbol bahasa yang sangat lumrah didengar di tajen, symbol ini hanya bisa dikomunikasikan oleh para petaruh ayam di arena tajen. Begitu juga ayam dan warna-warna ayam seperti biying, ijo, serawah, kelau dan brunbun merupakan simbul-simbul khusus yang biasanya dipakai dalam menentukan lawan ayam aduannya. Pihak yang terlibat dalam kegiatan tajen seperti bebotoh, tukang kembar, saye dan tukang kurung ayam disebut sebagai hero atau pelaku budaya dan bisa disebut sebagai stakeholders tajen. Sedangkan kegiatan menyuguhkan canang atau segehan dan doa-doa untuk memohon kemenangan yang dilakukan oleh para bebotoh sesaat sebelum kegiatan tajen dimulai merupakan ritual kebudayaan.
Modernisme vs Postmodernisme
Pandangan modernisme dan agama yang selalu melihat dan membenarkan sesuatu dari salah satu dari dua aspek yang semestinya seperti; positif-negatif, baik-buruk, halal-haram, hitam-putih dan sebagainya telah mengakibatkan tajen dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai kegiatan yang negatif. Hukum positif yang berlaku di Indonesia juga bercirikan modernisme yang dalam penentuan keputusannya selalu berdasarkan atas benar dan salah, sehingga segala bentuk perjudian merupakan kegiatan yang melanggar hukum dan dilarang sebagaimana diatur secara khusus di dalam Kitab Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) pasal 303. Peraturan tentang perjudian yang berlaku di Indonesia memang harus hormati oleh semua warga Negara Indonesai dan ditegakkan oleh para aparat penegak hukum. Jadi, hanya interaksi sosial para bebotoh dalam bentuk perjudianlah yang harus dilarang dan dikenakan sangsi. Sedangkan interaksi sosial bebotoh yang lainnya merupakan bagian dari budaya dan bukan merupakan tindakan yang melanggar hukum.
Lain halnya dengan pandangan postmodernisme, yang memandang dan menilai kedua aspek dari suatu hal dengan tatanan yang sama karena pandangannya berada di atas dikotomi (baik-buruk) dan bukan memihak atau berada pada posisi salah satunya. Artinya, biarlah segala sesuatu itu ada dan berkembang sesuai dengan alamnya karena segala sesuatu yang ada sudah memiliki bentuk, fungsi, tujuan masing-masing. Sehingga tajen tidak hanya dipandang sebagai kegiatan yang melanggar hukum dan bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga memiliki ritual dan value yang sebenarnya perlu dilestarikan. Cara pandang postmodernisme sangat bijak, karena selalu menghormati dan menjunjung tinggi keberadaan dikotomi dan tidak memihak ke salah satu pihak serta sama sekali tidak mempermasahkan perbedaan. Pola pikir ini akan secara jelas bertentangan dengan pemikiran para pakar dan aparat penegak hukum dan agamawan.
Penulis, mahasiswa Program Doktor Bidang Pariwisata Budaya, University of Lincoln, Brayford Pool, United Kingdom.
Referensi:
Giddens, A. (1989). Sociology. United Kingdom: Polity Press.
Hofstede, G. (1997). Cultures and Organizations: Software of the Mind. New York: McGraw Hill.
Reisinger, Y and L.W. Turner (2003). Cross-culture Behaviour in Tourism: Concept and Analysis. Great Britain: Butterworth Heinemann.
Satu Tahun Kepergian Ibuku Tercinta
Om suastiastu
Sembilan belas Desember dua ribu delapan. Pagi itu aku mendapatkan kabar dari sodaraku di Lampung, kalau ibu sedang dirawat di rumah sakit. Hanya selang beberapa saat saja, aku mendengar kembali berita bahwa ibu telah tiada. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ibuku akan pergi meninggalkanku selamanya secepat itu, karna kepergian ibuku ke tempat sodaraku di Kota Bandar Lampung bukan untuk berobat, tetapi hanya untuk bermain dan membeli spring bed untuk keperluan dan kenyamanan tidur di kampungku yang terletak di Banjit, Kabupaten Way Kanan.
Memang ada sedikit kejanggalan sebelum ibuku meninggal. Ibuku hanya mau diantar ke Bandar Lampung oleh Bli Sugatra, kakakku yang paling tua. Biasanya, kemana-mana selalu dianter oleh Bli Subali, kakakku nomor empat karena dia punya mobil. Dan ibuku hanya mau dijemput oleh kakaku nomor empat itu. Setelah dua hari di tempatnya Cenik, kakakku nomor lima dan setalah diajak keliling-keliling, jalan-jalan dan membeli apa yang diinginkan oleh ibuku. Sehari sebelum ibuku pulang ke Banjit, kampungku tempat ibu dan bapakku tinggal, kemudian jatuh sakit dan keadaannya terus memburuk. Walaupun sudah diberikan pertolongan pertama oleh Mba Dewi, istri kakakku yang kebetulan seorang dokter, tetapi masih saja tidak ada perubahan. Sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. Petugas rumah sakit sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa ibuku. Namun semuanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil sehingga belum genap sehari ibuku berada di rumah sakit itu, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal sehari sebelum meninggal, kakakku yang nomor empat yang kebetulan saat itu berada di Bandar Lampung untuk keperluan dinas sudah nelpon ke Handphone ibuku langsung bahwa akan dijemput besok sorenya sesuai dengan yag diharapkan ibuku. Tetapi akhirnya kakakku menjemput ibuku yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Jasadnya selanjutnya langsung dibawa ke kampong di Banjit.
Aku, pagi pagi yg cuacanya buruk, hujan angin, sebelum mendapatkan kabar terakhir bahwa ibuku meninggal, tetap saja berangkat ke kampus karena aku tak menduga ibuku akan pergi selamanya. Aku hanya berdoa sebelum aku berangkat, biar ibuku cepat sembuh. Namun beberapa saat aku tiba di kampus, aku ditelpon oleh Made, kakakku nomor enam kalau ibuku sudah meninggal. Akupun bergegas pulang dan menelpon Wayan, kakakku nomor sembilan untuk memesan tiket pesawat untuk berangkat ke Lampung, kampung halamanku yang tercinta. Aku langsung ke rumah Made dan mendiskusikan keberangkatan keluarga dari Bali. Keesokan harinya aku dan semua keluarga kakakku, kecuali istriku yang pada saat itu sedang hamil tua, berangkat ke Lampung.
Setiba di rumah, nampak persiapan-persiapan sudah dilakukan oleh para sodara dan anggota Banjar Pesangkan di tempat orang tuaku tinggal. Isak tangispun mulai sesaat aku dan sodara-sodaraku melihat ibuku yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku, yang kata sodara-sodaru periang dan kata mantan-mantan pacarku tak memiliki perasaanpun ikut bersedih, menangis dengan linangan air mata. Aku memang harus benar-benar tegar, menyadarkan diriku bawha memang suatu saat aku akan berpisah dan ditinggalkan. Aku hanya berpikir, mungkin inilah saatnya ibuku meninggalkanku dan sodara-sodaraku.
Persiapan pengabenan (kremasi) ibuku terus dilakukan dan ribuan orang berdatangan melayat yang berasal dari berbagai banjar, desa, dan kecamatan, kabupaten dan provinsi karena Bapakku seorang public figure (pendeta) yang selalu membantu umat Hindu di Lampung menyelesaikan upacara keagamaan dengan keiklasan. Kesigapan para anggota banjar dan tamu yang lainnya patut diacungi jempol karena dalam dua hari semua perlengkapan upacara kremasi untuk ibuku siap. Mereka bahu membahu, siang dan malam dirumahku untuk membuat sesajen dan Bade (alat pembawa mayat) dan Lembu sebagai simbul pengantar nyawa. Mereka tidak hanya menyumbangkan tenaganya, tetapi juga menyumbangkan materi yang mereka miliki seperti ayam, bebek dan bahkan sampai dengan kayu untuk membuat Bade. Aku benar-benar kagum dengan para umat Hindu di tempatku ini karena mereka sangat menghormati keluargaku dan mengabdikan dirinya kepada keluargaku serta membantu ibuku untuk terakhir kalinya. Aku patut mengucapkan terima kasih atas semua bantuan para anggota banjar dan tamu yang hadir pada saat persiapan dan pelaksanaan upacara kremasi ibuku, walaupun secara lisan sudah disampaikan oleh perwakilan sodaraku kepada mereka semua. Sekali lagi, terima kasih untuk semua kelaurga, kerabat dan sahabat yang sudah membantu prosesi acara kremasi ibuku tercinta.
Di antara kesebelas sodarku, aku adalah anak tersayang ibuku dan semua sodaraku mengakui fakta ini. Aku anak laki-laki terkecil, aku memang merasa mendapatkan kasih sayang lebih dari ibuku. Semua yang ku minta, selalu dikasi ama ibuku dan aku juga tidak pernah dimarah. Sebenarnya, banyak sekali hal yang terkenang dalam benakku tentang ibuku. Yang paling berkesan adalah nyanyian ibuku setiap saat aku dalam gendongan ibuku, pada waktu aku masih kecil. Syair lagu ini sekarang aku jadikan pegangan hidupku dan akan ku teruskan ke generasiku kelak. Aku juga hanya hafal sepenggal dari lagu itu, begini syairnya:
Dabdabang cening dabdabang (anakku mulailah)
Mumpung rage enu cerik (selagi engkau masih kecil)
Melajah ningkahang rage (belajarlah berprilaku baik)
Ede pati iri hati (jangan pernah iri hati)
Ede ngaden awak bise (jangan menunjukkan bahwa dirimu bisa / jangan sok tau)
Depang anake ngadanin (biarlah oranglain yang menilainya)
……. Sayangnya, tak tau lagi aku sambungan lagu ini……………???
Tulisan ini sengaja aku buat untuk melepaskan rasa kangenku dengan ibuku yang tercinta, terlebih lagi aku sekarang sedang berada di negeri orang sendirian, tanpa keluarga sama sekali, untuk menuntut ilmu. Semoga ibuku mendengar kerinduanku ini dan memberikan dorongan dan motivasi kepadaku agar aku bisa menyelesaikan studiku dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga aku bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan sodara-sodaraku di Bali dan Lampung.
Ibuku, aku selalu berdoa untukmu. Semoga Ibu mendapatkan tempat yang semestinya sesuai dengan perbuatan ibu ketika masih hidup di dunia ini. Aku juga mendoakan semua leluhurku agar mendapatkan kedamaian dan Moksah di alam sana.
Om santih santih santih om.
19 Desember 2008
I Nengah Subadra
Lincoln, United Kingdom.
Bali Tourism Watch: Kartini Bali dalam Pariwisata
Oleh I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________
Latar belakang yang memotivasi munculnya gerakan feminimisme adalah karena terjadinya penerapan sistem patriarki yaitu suatu sistem yang menyatakan bahwa pria memiliki kedudukan (position) yang lebih tinggi dan kekuasaan (authority) yang lebih luas dari pada perempuan dan bahkan kaum perempuan dianggap sebagai kelompok lain (the other) dalam suatu keluarga. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kesenjangan yang sangat dalam antara kaum pria dan perempuan. Sehingga sistem patriarki ini sering kali menjadikan kaum perempuan merasa tertindas dan tersisihkan bahkan tidak berdaya sama sekali. Selain itu, besarnya tuntutan ekonomi dan biaya hidup di kota-kota besar khususnya yang berada di suatu daerah tujuan wisata memaksa suatu keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pengeluaran dengan melibatkan perempuan (istri) dalam upaya untuk mendapatkan penghasilan tambahan untuk meringankan beban dan tugas utama lelaki (suami) sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas rumah tangganya.
Perbaikan keadaan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup memicu perubahan pola pikir masyarakat sekarang untuk memberikan kesempatan kepada semua anaknya untuk mengenyam pendidikan tanpa membedakan jenis kelamin. Pemerintah juga memberikan kesempatan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk menempuh pendidikan sampai dengan minimal Sekolah Menengah Pertama (SMP). Program pemerintah ini dikenal dengan wajib belajar sembilan tahun. Bagi orang tua yang mampu, mereka akan melanjutkan sekolah anaknya sampai dengan Sekolah Menegah Atas (SMA) dan beberapa dari mereka melanjutkan sekolahnya ke peruruan tinggi. Sekolah dan perguruan tinggi memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada laki-laki dan perempuan dalam memilih program studi sesuai dengan bakat dan ketertarikannya. Kebijakan ini merupakan bukti keseriusan pemerintah untuk mendorong terus gerakan fenimisme di Indonesia guna meneruskan perjuangan mulia Raden Ajeng Kartini yaitu mendobrak ketertidasan perempuan.
Dengan gerakan feminimisme ini, sekarang kaum perempuan sudah memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai hal seperti dalam memperoleh pekerjaan, pendidikan, pembagian warisan, dan lain-lain. Sebagai contoh dalam bidang pekerjaan, secara umum sekarang ini jumlah perempuan yang bekerja sebagai pekerja yang menghasilkan uang (paid worker) dalam berbagai sektor semakin meningkat jumlahnya khususnya yang bekerja di industri pariwisata. Walaupun mereka bekerja sebagai pekerja tetap (permanent worker), pekerja harian (daily worker), pekerja kontrakan/sementara (temporary worker) dan pekerja paruh waktu (part-time worker) namun keadaan ini setidaknya menunjukan secara jelas bahwa kaum perempuan telah memiliki peran atau andil dalam pembangunan dalam era globalisasi ini.
Selain berperan sebagai pekerja yang dibayar di berbagai industri pariwisata, perempuan Bali juga berfungsi sebagai unpaid worker untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tambahan (extended jobs) di luar jam kerjanya seperti memasak, mengasuh anak, membersihkan rumah dan lain-lain di rumahnya. Ketika berada di rumah, perempuan Bali kembali ke fungsinya (nature of woman) yaitu sebagai ibu rumah tangga yang berkewajiban melaksanakan tugas tersebut di atas dan juga tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiataan keagamaan, adat dan sosial budaya khususnya bagi perempuan yang sudah berkeluarga. Di samping sebagai paid worker dan unpaid worker perempuan Bali harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan kodratnya seperti melahirkan bayi dan menyusui anak. Berdasarkan jenis pekerjaan yang harus dikerjakan oleh para perempuan maka patut diacungi jempol kegigihan dan ketangguhan perempuan-perempuan Bali kini.
Karena kemapuan, profesioanlisme, keahlian dan pengalamannya, perempuan Bali kini mampu menempati berbagai posisi di industri-industri pariwisata di Bali. Di hotel misalnya, perempuan Bali umumnya menduduki posisi sebagai staf penjualan dan pemasaran, receptionist, room-maid, florist, public relation, spa therapist dan beberapa di antaranya menduduki posisi supervisor dan manager. Sedangkan di restoran, perempuan Bali biasanya bekerja sebagai waitress, cook dan chef. Di Biro Perjalanan Wisata, perempuan Bali umumnya bekerja sebagai staf reservation, cashier, sales and marketing, dan pemandu wisata. Seiring dengan berkembangnya waktu dan semakin meningkatnya keberanian perempuan Bali, sekarang ini sudah banyak dari mereka yang bekerja di kapal-kapal pesiar internasional yang umumya berlayar mengarungi perairan Asia dan Eropa.
Gerakan fenimisme dan hasil perjuangannya telah mampu menyetarakan diri dengan kaum pria juga telah tersurat secara jelas dalam filosofi agama Hindu yakni sistem “warna” (menghargai dan menghormati seseorang berdasarkan profesi yang digeluti dan tidak membedakan jenis kelamin serta gelar yang melekat pada dirinya tidak diwariskan ke generasi berikutnya). Artinya, seorang perempuan berhak untuk menduduki posisi apapun di suatu perusahaan sesuai dengan kompetensinya (pengetahuan, keahlian dan prilaku) dan perempuan tersebut harus dihormati posisinya sesuai dengan jabatan yang dipegang dan tugas yang diemban. Konsep ini sangat bertentangan dengan sistem kasta (menghormati seseorang berdasarkan garis keturunan dan gelar yang melekat pada dirinya diturunkan ke generasi berikutnya walaupun memiliki profesi yang berbeda dengan generasi pendahulunya).
Konsep dan pandangan post-modernism yang intinya menghargai perbedaan dan sama sekali tidak mempertentangkan perbedaan terutama jenis kelamin dalam pekerjaan juga membuka peluang yang luas bagi para perempuan untuk terus berjuang dan menyetarakan diri dalam berbagai posisi di industri pariwisata di Bali. Para penganut paham postmodernism memandang bahwa karena perbedaanlah sesuatu itu ada dan dibiarkan berkembang apa adanya serta tidak saling mencampuri satu sama lainya. Maju terus gerakan feminisme!










