Biografi Pemilik Website

March 7, 2007 at 6:03 am (Pemilik Bali Tourism Watch)

Om Suastiastu,

I Nengah Subadra lahir di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan-Lampung pada tanggal 30 Juli 1977. Lulus Sekolah Dasar di SDN 3 Bali Sadhar, tahun 1990. Lulus Sekolah Menengah Pertama di SMPN 2 Banjit tahun 1993. Lulus Sekolah Menengah Atas di SMA Katolik Slamet Riyadi Kotabumi tahun 1996.

Lulus Strata 1 (S1) pada Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Warmadewa tahun 2003. Lulus Program Magister (S2) pada Kajian Pariwisata, Universitas Udayana tahun 2006 dengan predikat kelulusan dengan pujian (cum laude).

logo-kampus

Sekarang sedang menempuh Program Doktor (S3) Bidang Kajian Pariwisata Budaya di University of Lincoln, Brayford Pool, Lincolnshire, United Kingdom. (Rekan-rekan pembaca yang terhormat, Mohon doanya ya…! Biar cepat lulus dan kembali ke tanah air tercinta ‘Indonesia’ untuk mengabdikan ilmu dan pengetahuan yang diperoleh selama masa studi)

Lincoln, United Kingdom

Karir dimulai sebagai staf operasional di Bali Tourist Information Center dari tahun 1996-1998, kemudian bekerja sebagai pengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia untuk orang asing di International Language Courses (ILC) Anugerah Denpasar (1999-2006).

Mulai awal tahun 2006-sekarang bergabung sebagai Dosen Tetap di Yayasan Triatma Surya Jaya yang menaungi lembaga pendidikan Manajemen Pariwisata Indonesia (MAPINDO), Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Triatma Jaya (dulunya Akademi Pariwisata (AKPAR) Triatma Jaya), dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Triatma Mulya di Dalung, Kuta Utara, Badung, Bali Indonesia.

Pengalaman lain mengajar Bahasa Inggris antara lain: Inna Grand Bali Beach Spa, Bali Reef di Resort-Tanjung Benoa-Nusa Dua, The Curl di Legian, Maharta Hotel di Legian-Kuta, Vila Kubu-di Seminyak-Kuta, Direktorat Pariwisata POLDA Bali di Denpasar, Direktorat POLAIR POLDA Bali di Pelabuhan Benoa, Bali Nirwana Golf Course di Tabanan, dan Le Meridien Hotel di Tabanan. Selain itu, aktif juga sebagai penulis di ruang opini dan debat publik di harian umum Bali Post.

Musim Gugur di Lincoln, United Kingdom

Berdasarkan pengalaman mengajar di berbagai tempat sebagaimana tersebut di atas, selanjutnya secara iseng-iseng pada tahun 2000 I Nengah Subadra mendirikan usaha sampingan “Language Assistance”, sebuah Pusat Privat dan Terjemahan Bahasa Asing di Bali yang memberikan layanan privat bahasa asing dan Bahasa Indonesia serta layanan terjemahan bahasa asing biasa dan tersumpah. Puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase karena walaupun usahanya kecil-kecilan, tapi lumayan juga untuk nambahin uang saku.

Hobinya camping, jalan-jalan terutama ke obyek wisata alam dan budaya, mencicipi makanan-makanan tradisional, membaca, menulis, dan mendengarkan semua jenis musik.

Bertempat tinggal di Jalan Nagasari III, Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No.5, Banjar Poh Manis, Kelurahan Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur, Bali-Indonesia. Email: insubadra@yahoo.com.

Om shanti shanti shanti om

Salam hormat saya,

I Nengah Subadra

Pangkalan Ngobrolku (text, audio and video chat) yang bisa dihubungi setiap saat:

Skype: inengahsubadra
12voip: inengahsubadrabali
Gtalk: inengahsubadra@gmail.com
Yahoo Messenger: insubadra
Facebook: Nengah Subadra
Aim Messenger: insubadra
Windows Live Messenger: inengahsubadra@hotmail.com

Lincoln, United Kingdom

Lincoln, United Kingdom

Permalink 2 Comments

Kembali Berduka

November 22, 2011 at 9:18 pm (Pemilik Bali Tourism Watch)

Om suastiastu

Hari ini, Selasa, tanggal dua puluh dua, Bulan November, tahun dua ribu sebelas tepat lima puluh hari kepergian ayahku (Jro Mangku Wayan Natia), aku kembali harus berduka. Kakakku “I Wayan Sudana” meninggalkan aku dan keluargaku untuk selama-lamanya menghadap Sang Pencipta “Ida Sang Hyang Widhi Wasa” setelah menjalani perawatan intensif selama lima hari di Rumah Sakit Angkatan Darat( RSAD) Denpasar.

Almarhum I Wayan Sudana

Sama sekali aku tak menduga kalau kakakku pergi begitu cepat di tengah-tengah perjuanganku menuntut ilmu di negeri seberang. Hari Minggu tanggal dua puluh Bulan November tahun dua ribu sebelas hari terakhir aku bercakap-cakap di telepon dengan kakakku. Pada waktu itu kondisinya sudah baik, dan bilang ke aku kalau dia akan segera pulang dari rumah sakit karena kondisinya semakin bagus sehingga menurut dokter perlu beberapa hari lagi untuk observasi lanjutan.

Kenyataan berkata berbeda, hari selasa pagi banyak pesan yang masuk lewat facebook yang menyatakan bahwa kakakku telah tiada. Terhentak hatiku memandang pesan-pesan di facebook tersebut dan tak tau harus berbuat apa. Sesaat setelah itu, Adikku (Komang) menelponku lewat Skype dan memberitahukan bahwa kakakku wayan telah meninggal dunia. Air mataku kembali menetes sambil berbicara lewat Skype walaupun signalnya agak kurang bagus. Adikku memberitahukan tentang rencana acara pengabenannya. Dari kesimpulan rapat keluarga, pengabenan dilaksanakan di Lampung pada Hari Minggu, tanggal dua puluh tujuh, Bulan November, tahun dua ribu sebelas.

Setelah itu aku menghubungi kakakku (Made) yang mengurus kepulangan jenasah almarhum dari rumah sakit ke Lampung. Berkat dukungan dan bantuan keluarga besar di Bali, pengiriman jenasah almarhum berjalan dengan lancar menggunakan pesawat Garuda Airline. Sore harinya, kakakku (Cenik) dan saudara-saudara yang lain telah bersiaga menjemput jasad almarhum di Bandar Udara Radin Intan, Bandar lampung. Selanjutnya jenasah dibawa ke kampung halaman di Banjar Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Semua keluarga sudah bersiap-siap menyambut kedatangan jenasah kakakku dan juga mempersiapkan upacara untuk pengabenan. Sekitar jam Sembilan malam, jenasah tiba dan langsung disemayamkan di rumah duka.

Almarhum I Wayan Sudana

Pada hari kamis 24/11/2011, dialkukan persiapan pengabenan. Aku merasa sedikit terhibur karena aku bisa menyapa semua saudara-saudara dan krama banjar yang hadir dirumah membantu persiapan melalui Skype yang dibantu oleh sepupuku Wayan Kerta. Satu persatu aku sapa mereka dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya untuk mempersiapkan acara pengabenan almarhum. Istri dan anak almarhum juga tiba pada hari kamis dan kembali cucuran air mata datang serta teriakan tangisan terus terdengar karena kepergian almarhum.

Dari kejauhan aku hanya bisa memantau perkembangan persiapan acara pengabenannya melalui Skype dan facebook dengan adik dan keponaan-keponaanku. Hari Jumat (25/11/2011) sore semua banten sudah siap. Ini berkat kesigapan dan kerja keras semua keluarga, krama banjar adat Madia Agung I dan juga dibantu dari banjar Madia Agung II (Wates) dan III (Jangu Sangsit).

Pada hari Sabtu (26/11/2011) pagi diadakan pembersihan jenasah almarhum yang dilakukan oleh semua saudara dan krama banjar. Selanjutnya jenasah disemayamkan di Bale dan selanjutnya disuguhkan beberapa sajen. Setelah itu dilanjutkan dengan acara nebusin di perempatan agung yang dipimpin oleh Jro Mangku Bagus dan nunas di Pura Dalem yang dipimpin oleh Ida Pandita dari Wates.

Acara nebusin di Perempatan Agung

Malam harinya diadakan acara Dharma Tula yang diberikan oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca dari Bandar Jaya, Lampung Tengah yang akan memimpin acara pengabenan keesokan harinya. Informasi yang aku terima dari adikku melallui facebook, semua pendengar yang mengikuti acara ini sangat antosias mendengarkan ceramahnya karena memang beliau berlatarbelakang seorang guru Agama Hindu. Sebelum acara Dharma Tula dimulai diawali dengan doa bersama untuk mendoakan almarhum mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Acara Dharma Tula oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca

Hari Minggu (27/11/2011) adalah hari pengabenan almarhum I Wayan Sudana. Setelah prosesi upacara di rumah selesai, jenasah almarhum naikkan ke Bade yang dibuat secara gotong royong oleh para krama banjar dan selanjutnya diusung ke kuburan diiringi oleh saudara, krama banjar, teman dan sahabat almarhum serta seka gong yang mengiringi perjalanan dari rumah duka ke kuburan.

Saudara dan Krama Banjar mengiringi jenasah almarhum menuju kuburan

Setelah samapai dikuburan, jenasah ditempatkan ditempat yang telah disediakan dan selanjutnya dibakar dengan menggunakan kayu bakar. Setelah badannya menjadi abu, para saudara mengumpulkan sisa-saisa tulangnya yang selanjutnya di rangkai dan ditempatkan di Pengiriman untuk selanjutnya disucikan oleh Sang Pandita yang memimpin acara tersebut. Setelah itu diadakan persembahyangan bersama sebagai puncak acara pengabenan dan “mepamit” untuk mengucapkan selamat jalan kepada roh almarhum.

Acara pembakaran jenasah almarhum I Wayan Sudana

Setelah selesai sembahyang bersama, sisa-sisa tulang yang sudah disucikan dianyutkan ke sungai untuk mengembalikan semua unsur panca maha bhuta (lima unsur pembentuk tubuh manusia) sehingg secara fisik tubuhnya benar-benar tidak ada di dunia ini.

Sesaat sebelum abu almarhum dianyutkan ke sungai

Setelah Nganyut, dilanjutkan dengan upacar mecaru di rumah duka dan mesapuh sebagai simbolis pembersihan diri dan lingkungan di rumah duka. Dan selanjutnya dilakukan acara Manusia Yadnya “Pawintenan” anggota keluarga alrmarhum yang dipimpin langusng oleh Ida Pandita Guru Gede Suweca. Ini adalah rangkaian terakhir dari acara pengabenan almarhum I Wayan Sudana.

Kembali aku merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena aku tidak bisa melihat dia untuk terakhir kalinya dan aku tidak bisa hadir dalam acara pengabenannya. Maafkan aku! Aku dari kejauhan hanya bisa berdoa dari kejauhan agar kakakku mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya.

Saya atas nama pribadi dan keluarga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua teman dan sahabat almarhum yang telah mengucapkan bela sungkawa atas kepergiannya. Terima kasih juga kepada semua tim medis Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar yang telah memberikan pelayanan yang terbaik buat almarhum.

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada semua keluarga dan krama Banjar Madia Agung I, Madia Agung II dan Madya Agung III beserta krama yang berasal dari banjar-banjar lainnya di banjit, Way Kanan yang telah membantu mempersiapkan acara pengabenan almarhum I Wayan Sudana. Berkat bantuan dari semua orang tersebut acara pengabenannya dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa rintangan apapun. Terima kasih juga kepada semua saudara yang telah berbagi foto melalui facebook, sehingga bisa aku pakai melengkapi rangkain cerita prosesi pengabenan almarhum. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih!

Beberapa foto acara kremasi almarhum bisa dilihat DI SINI

Om shanti

I Nengah Subadra
United Kingdom, 22/11/2011
Updated: 28/11/2011

Permalink 1 Comment

Informasi dan Harga Terjemahan

November 2, 2011 at 6:05 am (Terjemahan Bahasa Asing) (, , , , , , , )

Anda ingin menterjemahkan dokumen? Hubungi saja kami

Di Bali, Language Assistance merupakan satu-satunya penyedia jasa penerjemahan bahasa asing yang resmi dan tersumpah untuk dokumen-dokumen resmi seperti; ijazah, sertifikat, surat keterangan, akta jual-beli, perjanjian dan lain-lain yang mana semua penerjemahnya memiliki ijin dan sertifikasi dari pihak berwenang.

Penerjemahan bahasa asing yang resmi (legal) dan tersumpah (sworn) yang tersedia di Language Assistance adalah:
1. Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
2. Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
3. Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
4. Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
5. Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
6. Bahasa Mandarin ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
7. Bahasa Prancis ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya

Penerjemahan bahasa asing yang tidak tersumpah (non-sworn) yang tersedia di Language Assistance adalah:
1. Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris dan sebaliknya
2. Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
3. Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
4. Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
5. Bahasa Prancis ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
6. Bahasa Mandarin ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
7. Bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
8. Bahasa Korea ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
9. Bahasa Italia ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
10. Bahasa Rusia ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya
11. Bahasa Spanyol ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya

BIAYA TERJEMAHAN BAHASA ASING TERSUMPAH DAN TERJEMAHAN TIDAK TERSUMPAH DI LANGUAGE ASSISTANCE: Silahkan KLIK DI SINI untuk melihat daftar biaya terjemahan bahasa asing di Language Assistance!

Perlu Terjemahan Cepat..?

Khusus untuk terjemahan biasa atau tidak tersumpah untuk bahasa-bahasa tersebut di atas, tersedia jasa terjemahan SDS (same day service) atau kilat yang harganya DUA KALI LIPAT dari harga terjemahan biasanya.

____________
PENERJEMAH:
____________

1. Prof. Dr. I Nengah Sudipa, MA (Dosen Universitas Udayana)

2. Drs. I Nyoman Muliayana, M. Hum.(Dosen Universitas Warmadewa)

3. Made Sudiarta, S.S., M. Par. (Dosen Politeknik Negeri Bali)

4. I Nengah Subadra, S.S., M. Par. (Dosen STP Triatma Jaya)

5. I Wayan Sudana, S.S., M. Hum. (Dosen Politeknik Negeri Bali)

6. Sastriadi, S.Pd., M.Hum. (Dosen STAHN)

7. Elasmendri, S.S., M.Si. (STIKOM Bali)

8. Drs. I Made Ardana Putra, M.Si. (Dosen Politeknik Negeri Bali)

9. Ni Ketut Dewi Yuliyanti, S.S., M.Hum. (Dosen ISI Denpasar)

KONTAK LANGUAGE ASSISTANCE :

Untuk informasi lebih lengkap silahkan hubungi Language Assistance KLIK DI SINI

Permalink Leave a Comment

Kisah duka di Hari Senin

October 3, 2011 at 9:51 pm (Pemilik Bali Tourism Watch)

Om suastiastu

Pada hari ini, Senin tanggal tiga Oktober dua ribu sebelas tepat pukul delapan belas tiga puluh lima menit waktu Indonesia barat ayahku “Jro Mangku Wayan Natia” berpulang menghadap Ida Sang Hyang Widhi Wase – Tuhan Yang Maha Esa. Kepergiannya benar-benar membuat duka yang mendalam di hatiku, keluargaku dan sahabat-sahabat ayahku serta sisya (murid-murid) yang ditinggalkanya.

Almarhum Ayahnda Jro Mangku Wayan Natia di Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit Kabupaten Waykanan. Lampung

Walaupun aku sudah tau kalau ayahku sudah diopname di rumah sakit di Kotabumi Lampung Utara selama lima hari, namun SMS siang itu (waktu London) yang dikirimkan oleh adikku (Komang) benar-benar mengejutkan hatiku karena berisi pesan duka “Ngah wane be ing ade” (Ngah bapak sudah tiada). Tersentak aku diam dan termenung sejenak dengan istriku (Indah) yang baru saja datang dari menghantar anak perempuanku (Dhita) ke sekolah Playgroup di Priory Witham Academy.

Aku berusaha menghubungi handphone flexy yang sengaja aku belikan untuk ayahku agar aku bisa berkomonikasi dengan ayahku dengan pulsa yang murah, namun tidak aktif. Aku menghubungi dan menyuruh keponaanku (Eka) dan iparku (mbok Dewi) yang saat itu sedang online di facebook untuk menyuruh adikku mengaktifkan telpon flexy itu karena aku sungguh tidak sabar mendengar omongan langsung dari salah satu saudaraku yang sedang berada di rumah sakit menunggu ayahku. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku bisa menghubungi handphone flexy itu dan berbicara dengan adikku. Dia menceritakan kenyataan yang terjadi pada ayahku. Aku menangis tersedu-sedu sambil menanyakan detik-detik terkahir kepergian ayahku dan rencana ritual yang akan dilakukan untuk ayahku. Istriku yang ketika itu sedang mempersiapkan makan siang datang menghampiriku dan memberikan support atas kesedihan dan dukaku pada saat aku berbicara dengan adikku.

Beberapa saat setelah itu aku mendapat pesan dari keponaanku bahwa ritual pengabenan (kremasi) ayahku akan dilaksanakan pada Hari Rabu tanggal lima Oktober 2011. Setelah melihat mepetnya waktu, aku berpikir jarak tempuh antara Lincoln-London-Jakarta-Bandar Lampung-Banjit sangat jauh sehingga aku berkesimpulan bahwa aku tidak bisa pulang untuk melihat ayahku yg terakhir kali sebelum dikremasi. Kembali aku mersa sangat sedih karena hanya aku dari sembilan saudaraku yang masih hidup yang tidak ada dalam acara tersebut. Tetapi tidak apa-apa. Aku akan berdoa buat ayahku dari sini agar ayahku mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya di dunia ini. Aku harus benar-benar minta maaf yang sedalam-dalamnya kepada ayahku karena aku tidak bisa mengurusi ayahku pada saat sakit dan sesudah meninggal karena aku berada nan jauh di negeri seberang.

Kenangan yang terindah bersama semua saudara-saudaraku di pura keluarga, Desa Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung

Seharian aku tidak konsen belajar dan merevisi desertasiku. Aku hanya mengecek facebook dan sms serta telpon dari semua saudara-saudaraku yang membicarakan tentang kepergian ayahku. Menjelang sore sekitar jam limaan waktu London atau sekitar jam sebelas malam waktu Indonesia barat aku kembali menelpon saudaraku di Lampung yang kebetulan pada saat aku bisa berbicara dengan kakakku nomor delapan (Sutar). Selanjutnya aku dan kakakku membicarakan tetang rencana ritual pengabenan dan persiapan-persiapn yang sedang dilakukan oleh saudara-saudaraku, karma banjar Madia Agung satu dan juga para pelayat yang berdatangan dari beberapa desa di Kecamatan Banjit. Kemudian pada malam harinya, ketika aku hendak membuat teh susu untuk menghangatkan suasana malam di musim gugur tahun 2011, aku menemukan sepucuk kartu ucapan bela sungkawa dan seikat karangan bunga dari kerabat-kerabatku bermain gamelan di Lincoln, Inggris. Terima kasih banyak untuk semua saudara dan teman yang sudah bersimpati dan mengucapkan bela sungkawa atas duka yang sedang aku alami ini.

Karangan bunga yang aku persembahkan untuk almarhum ayahku

Kepada semua saudara-saudaraku, selamat menjalankan bhakti kepada orang tua kita! Dari kejauhan aku berdoa semoga acara pengabenan ayah kita berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada rintangan dan hambatan.

Om shanti shanti shanti om
I Nengah Subadra
United Kingdom, 03/10/2011

…………………………………………………
Rangkaian acara pengabenan (kremasi)
…………………………………………………

Om Suastiastu

Dari kejauhan, Lincoln-Inggris, aku hanya bisa memantau kegiatan prosesi pengabenan melalui Hamphone flexy yang diterima oleh kakakku (Wayan dan Sutar) dan adikku komang. Sejak diberitakan bahwa ayahku telah tiada, malam itu saudara-saudara sepupuku (Bli Kadek Brana, Bli man Darta, Dek Juntak dan masih banyak lagi saudara-saudara yang lain) sudah mulai memperisapkan kedatangan jenasah dan mengumumkan kepada banjar melalui kul-kul (kentongan) tentang wafatnya ayahku. Malam itu juga serentak krama (anggota) banjar mulai berdatangan mempersiapkan acaranya dan langsung dimulai megebagan (begadang) di rumah duka.

Hari Selasa dilakukan persiapan-persiapan seperti membuat banten (sesajen), bade (pengusung jenasah) dan pengiriman (pengusung abu dan sibol roh) yang dilakukan oleh para pelayat secara sukarela dan bergotong royong oleh umat Hindu di seluruh desa di Kecamatan Banjit seperti Bali Sadhar Utara (mencakup Banjar Madia Agung I, Banjar Madia Agung II, Banjar Madya Agung III), Bali Sadhar Tengah (mencakup Banjar Lebu, Banjar Tabanan dan Banjar Semseman) dan Bali Sadhar Selatan (mencakup Banjar Temakung and Banjar A).

Banyaknya para pelayat yang datang dan membantu persiapan pengabenan almarhum tidak terlepas dari jasa beliau ngayah (melayani) umat sebagi Pinandita Loka Pala Seraya (pendeta) di Pura Kahyangan Tunggal sejak didirikan kekitar tahun 1963-an yang merupakan pura terbesar di Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan dan disungsung oleh semua umat Hindu di Kecamatan Banjit yang merupkan transmigran dari Pulau Bali pada saat Gunung Agung meletus tahun 1963. Pada malam harinya, kata kakaku (Wayan) dilakukan pembacaan doa-doa oleh keluarga dan mekidung oleh para tetua yang biasa melakukan hal tersebut sambil menunggu semua saudara yang tinggal menyebar di Provinsi Lampung dan Bali. Mengingat singkatnya waktu, kelengkapan upacara belum siap dalam sehari sehingga persiapan masih terus berlanjut sampai dengan keesokan harinya sampai sesaat sebelum prosesi awal kremasi dimulai.

Hari Rabu pagi, tanggal lima Oktober 2011 setelah semua persiapan selesai, mulai diadakan prosesi pemandian jenasah almarhum. Setelah itu almarhum disemayaman di Bale dan diteruskan dengan upacara pembersihan jasad oleh Ida Pedanda Buruan dari Seputih Mataram, Lampung Tengah. Setelah itu semua keluarga melakukan persembahyangan bersama untuk mendoakan kepergian almarhum agar mendapatkan tempat sesuai dengan karmanya (perbuatan). Pada saat yang sama, di Inggris aku, istri dan anakku juga melakukan persembahyangan bersama di rumah dengan membuat banten (sesajen) seadanya.

Banten sederhana yang kupersembahkan dari kejauhan untuk almarhum tercinta

Setelah upacara pembersihan dan penyucian jenasah serta sembahyang bersama selesai, para keluarga, krama banjar arep (utama) yaitu dari Banjar Madia Agung I dan dibantu oleh para pelayat dari banjar lainnya sebagaimana tersebut di atas mulai menaikkan jasad almarhum ke bade untuk selanjutnya diusung menuju setra (kuburuan) yang letaknya di ujung utara Desa Bali Sadhar Utara diiringi dengan Angklung dan Gong yang disumbangkan oleh para umat Hindu dari beberapa banjar.

I Wayan Sudiksa-anak ke-5 (kanan) dan Made Sudiarta-anak ke-6 (kiri) berada di atas keranda jenasah memegang jasad almarhum diiringi oleh umat Hindu dari Kecamatan Banjit, Way Kanan, Lampung

Sesuai dengan informasi dari kakakku (Wayan) yang ikut mengiringinya, perjalanan almarhum dari rumah duka ke kuburan berjalan dengan tertib dan lancar. Setiba di kuburan, jasad almarhum langsung diletakkan di atas kayu bakar yang sudah dipersiapkan oleh para anggota banjar dan pelayat lainnya.

I Wayan Adnyana Putra-cucu almarhum (paling di depan memakai baju kaos biru), anggota POLRES Lampung Barat mengawal perjalanan almarhum menuju kuburan

Setelah itu dilakukan pembersihan jasad kembali dengan menggunakan tirtha (air suci) dari beberapa pura seperti Pura Kahyangan Tunggal, Pura Tangkas Kori Agung, Pura Batur, Pura Mrajapati, Pura Dalem, Pura Keluarga dan juga Tirtha dari Ida Pedanda. Begitu selesai acara pemberisahan ini, jenasah beliau langsung dibakar. Beberapa saat setelah itu, para keluarga dipersilahkan untuk pulang membersihkan diri dan mengganti pakaian untuk mengikuti acara puncak pengabenan (kremasinya). Sedangkan karma banjar dan pelayat masih tetap di kuburan sambil menunggu pembakaran jenasah selesai.

Acara pembakaran jenasah almarhum Jro Mangku Wayan Natia

Tepat pada jam tujuh belas lewat lima puluh tujuh waktu Indonesai Barat, adikku (Komang) menulis status di facebook yang menyatakan bahwa jasad ayahku telah menjadi abu. Selanjutnya dilakukan dengan acara penulangan (memungut tulang-tulang yang masih tersisa) untuk selanjutnya dikumpulkan, dibersihkan dibungkus menjadi sekah (simbol roh) yang kemudian disucikan kembali oleh Pedanda dan didoakan bersama keluarga dan para umat Hindu yang hadir. Tatkala saudara-saudaraku sibuk memungut dan membersihkan tulang-tulang sisa pambakaran jasad ayahku, sambil menulis artikel ini yang diiringi dengan tabuh lelambatan (musik untuk orang meninggal) yang sengaja aku putar di laptopku untuk menghiburku ketika suasana duka aku alami di rantau, aku kembali menangis tersedu-sedu karena hanya aku yang tidak ada disana untuk memungut tulang-tulang almarhum.

Ketika simbol roh almarhum sudah selesai dirangkai, langsung dipangku oleh kakakku (Wayan). Selanjutnya Ida Pedanda mulai menghaturkan sesajen dan mensukikan roh almarhum. Setelah roh dianggap suci, kemudian symbol tersebut diletakkan di Pengiriman (tempat mengusung roh suci). Tepat jam sembilan belas lewat empat puluh waktu Indonesia Barat dua sms dari kakakku (Wayan dan Made) dan pesan dari adikku (Komang) dari facebook masuk memberitakan bahwa acara mepamit segera dimulai. Selanjutnya aku bergegas untuk melakukan persembahyangan dari kejauhan untuk mendoakan arwah ayahku dan pamitan dengannya.

Setelah sembahyang bersama yang diikuti oleh semua keluarga dan umat Hindu yang hadir dalam acara pengabenan ini (persembahyangan ini sekaligus untuk mepamit (perpisahan) sebagai simbol pisahnya hidup beliau dengan keluarga yang masih hidup di dunia ini). Selanjutnya simbol roh almarhum yang telah ditempatkan di Pengiriman diusung oleh krama banjar dan dibuang ke sungai yang letaknya di belakang Dalem dan Mrajapati sebagai simbol pengembalian semua unsur-unsur pembentuk tubuh manusia yang dalam Hindu dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Sehingga inilah akhir dari seluruh rangkaian acara pengabenan almarhum Jro Mangku Wayan Natia.

Malam harinya sekitar jam delapan waktu London, aku, istriku (Indah) dan anak perempuanku (Dhita) kembali melakukan persembahyangan bersama untuk mendoakan arwah ayahku agar mendapatkan mendapatkan tempat sesuai denga karmanya di dunia ini; dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase-Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan ketabahan dan ketenangan kepadaku dan semua keluarga yang ditinggalkan.

Saya secara pribadi dan atas nama keluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada semua keluarga dan teman-teman yang telah bersimpati dan berdoa atas kepergian ayahku. Terima kasih juga kepada semua keluarga, krama banjar, para seka gong and angklung, semua umat Hindu di Kecamatan Banjit yang ikut mempersipkan dan turut serta melaksanakan acara ini, serta para pelayat yang merupakan kerabat dari almarhum dan saudara-saudaraku yang telah hadir dan menyaksikan acara kremasi almarhum ayahku.

Om shanti shanti shanti om
I Nengah Subadra
United Kingdom, 05/10/2011

Permalink Leave a Comment

Hari Raya Hindu Tahun 2009

February 3, 2009 at 11:02 am (Budaya)

Oleh: Ni Putu Indah Indrayanti
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Hindu,
Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Bali.

100_9735-copy

Om suastiastu,

Buat umat Hindu sedharma dimanapun berada, Berikut ini adalah hari raya besar Agama Hindu pada tahun 2009. Ada baiknya pada hari-hari tersebut dibawah ini untuk mengadakan persembahyangan atau menghaturkan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase.

Bulan Januari 2009

1. Sabtu, 3- 01 – 09 : Hari Raya Saraswati

2. Minggu, 4 – 01- 09 : Banyu Pinaruh

3. Rabu, 7 – 01 – 09 : Pagerwesi

4. Sabtu, 10 – 01 – 2009 : Purnama Kapitu

5. Selasa, 12 – 01 – 2009 : Kajeng kliwon

6. Sabtu, 17 – 01 – 2009 : Tumpek Landep

7. Rabu, 21 – 01 – 2009 : Bude Cemeng Ukir/ Buda Wage Ukir

8. Sabtu, 24 – 01- 2009 : Hari Sivaratri

9. Minggu, 25 – 01- 2009 : Tilem kapitu

Bulan Februari 2009

1. Senin, 9-2-09 : Purnama Kawulu

2. Sabtu, 21-2-09 : Tumpek Wariga/Uduh/Pengatag

3. Selasa, 24-2-09 : Tilem Kawulu

4. Rabu, 25-2-09 : Buda Wage Warigadean

5. Kamis, 26-2-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Maret 2009

1. Selasa, 3-3-09 : Anggarkasih Julungwangi

2. Rabu, 4-3-09 : Buda Umanis Julungwangi

3. Selasa, 10-3-09 : Purnama kasanga

4. Kamis, 12-3-09 : Wrespati Wage Sungsang, Sugi Manik Jawa

5. Jumat, 13-3-09 : Sukra Kliwon Sungsang, Kajeng Kliwon Sungsang, Sugi Manik Bali

6. Selasa, 17-3-09 : Penampahan Galungan / Anggara Wage Dungulan

7. Rabu, 18-3-09 : Galungan / Buda Kliwon Dungulan

8. Kamis, 19-3-09 : Umanis Galungan / Wrespati Umanis Dungulan

9. Senin, 23-3-09 : Coma Pemacekan Agung

10. Rabu, 25-3-09 : Tilem Kasanga

11. Kamis, 26-3-09 : Nyepi

12. Jumat, 27-3-09 : Ngembak Geni dan Penampahan Kuningan

13. Sabtu, 28-3-09 : Kuningan, Kajeng Kliwon

14. Minggu, 29-3-09 : Umanis Kuningan / Redite Umanis Langkir

Bulan April 2009

1. Rabu, 1-4-09 : Bude Wage Langkir

2. Rabu, 8-4-09 : Buda Umanis Medangsia

3. Kamis, 9-4-09 : Wrespati Paing Medangsia dan Purnama Kadasa

4. Minggu, 12-4-09 : Kajeng Kliwon

5. Rabu, 22-4-09 : Buda Kliwon Pahang

6. Jumat, 24-4-09 : Tilem Kadasa

7. Senin, 27-4-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Mei 2009

1. Sabtu, 2-5-09 : Tumpek Krulut

2. Rabu, 6-5-09 : Buda Wage Merakih

3. Sabtu, 9-5-09 : Purnama Desta

4. Rabu, 27-5-09 : Buda Kliwon Matal dan Kajeng Kliwon

Bulan Juni 2009

1. Sabtu, 6-6-09 : Tumpek Uye

2. Minggu, 7-6-09 : Purnama Asadha

3. Rabu, 10-6-09 : Buda Wage Menail

4. Kamis, 11-6-09 : Kajeng Kliwon

5. Selasa, 16-6-09 : Anggarkasih Prangbakat

6. Rabu, 17-6-09 : Buda Umanis Prangbakat

7. Senin, 22-6-09 : Tilem Asadha

8. Jumat, 26-6-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Juli 2009

1. Selasa, 7-7-09 : Purnama Kasa

2. Sabtu, 11-7-09 : Tumpek Wayang dan Kajeng Kliwon

3. Rabu, 15-7-09 : Buda Wage Klawu

4. Selasa, 21-7-09 : Anggarkasih Dukut dan Tilem Kasa

5. Minggu, 26-7-09 : Kajeng Kliwon

Bulan Agustus 2009

1. Sabtu, 1-8-09 : Saraswati

2. Minggu, 2-8-09 : Banyu Pinaruh

3. Senin, 3-8-09 : Coma Ribek

4. Rabu, 5-8-09 : Pagerwesi dan Puranama Karo

5. Senin, 10-80-09 : Kajeng Kliwon

6. Sabtu, 15-8-09 : tumpek Landep

7. Rabu, 19-8-09 : Buda wage Ukir

8. Kamis, 20-8-09 : Tilem karo

9.Selasa, 25-8-09 : Anggarkasih Kulantir

10. Rabu, 26-8-09 : Buda Umanis Kulantir

Bulan September 2009

1. Sabtu, 19-9-09 : Tumpek Wariga

2. Rabu, 23-9-09 : Buda Wage warigadean dan Kajeng Kliwon

3. Rabu, 30-9-09 : Buda Umanis Julungwangi

Bulan Oktober 2009

1. Sabtu,3-10-09 : Purnama Kapat

2. Kamis,8-10-09 : Wrespati wage Sungasng, Sugi Manik jawa

3. Jumat, 9-10-09 : Sukra Kliwon Sungsang, Kajeng Kliwon, Sugi Manik bali

4. Rabu, 14-10-09: Buda Kliwon Dungulan/Galungan

5. Kamis, 15-10-09: Wrespati Umanis Dungulan/Umanis Galungan

6. Minggu, 18-10-09 : Redite Wage Kuningan, Tilem kapat

7. Senin, 19-10-09 : Coma Pemacekan Agung

8. Sabtu, 24-10-09 : Kuningan, Kajeng Kliwon

9. Minggu, 25-10-09 : Redite Umanis Langkir/Umanis Kuningan

10. Rabu, 28-10-09: Buda Wage Langkir

Bulan November 2009

1. Senin, 2-11-09 : Purnama Kalima

2. Selasa, 3-11-09 : Anggarkasih Medangsia

3. Rabu, 4-11-09 : Buda Umanis Medangsia

4. Minggu, 8-11-09 : Kajeng Kliwon

5. Selasa, 17-11-09 : Tilem Kalima

6. Rabu, 18-11-09 : Buda Kliwon Pahang

7. Senin, 23-11-09 : Soma Kliwon Krulut, Kajeng Kliwon

8. Sabtu, 28-11-09 : Tumpek Krulut

Bulan Desember 2009

1. Selasa, 1-12-09 : Purnama kanem

2. Rabu, 2-12-09 : Buda wage merakih

3. Selasa, 8-12-09 : Anggarkasih Tambir

4. Rabu, 16-12-09 : Tilem Kanem

5. Rabu, 23-12-09 : Buda Kliwon Matal, Kajeng Kliwon

6. Kamis, 31-12-09 : Purnama Kapitu

100_9884

Permalink Leave a Comment

Anakku ‘Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara’

January 19, 2009 at 7:40 pm (Pemilik Bali Tourism Watch)

Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara
(Putri pasangan I Nengah Subadra dan Ni Putu Indah Indrayanti)

Hello Papa....

Lahir di Denpasar pada tanggal 19 Januari 2008 (Saniscara Umanis Sungsang, Penaggal Ping 12 Paniron) menurut sistem penaggalan Bali, di Rumah Sakit Umum Puri Raharja-Bali.

Arti:
Anak perempuan tertua yang memiliki pengetahuan luas

Kosa Kata:
1. Widya : Ilmu / pengetahuan
2. Maha : Tertinggi / tertua
3. Dhita : Puteri
4. Anisvara : Tertinggi / Luas

Asal-usul nama anakku
Nama Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara ditentukan berdasarkan pada api suci yang dinyalakan dihadapan sesajen (banten) dan diyakini bahwa api suci tersebut disaksikan oleh Dewa Brahma-dewa api yang merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa yang bertugas sebagai pencipta alam semesta dan isinya. Nama tersebut merupakan hasil kontribusi dari Ayahnda I Nengah Subadra (Widya Anisvara), Ibunda Ni Putu Indah Indrayanti (Dhita), dan Kakeknda Jro Mangku Wayan Natia (Maha). Nama panggilanya adalah Dhita.

17012009029

Apalah artinya sebuah nama?
Nama merupakan harapan utama orang tua dan diharapkan anak tersebut mencapai apa yang dicita-citakan orang tuanya. Namun, kebenaran terhadap makna nama sangat tergantung dari karma pada kehidupan sebelumnya dan prilaku dalam hidupnya sehingga tidak ada jaminan bagi yang memiliki nama bagus dan penuh arti akan mencapai tujuan yang diharapkan.

Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara

Prosesi Acara Manusia Yadanya:
1. Magedong-gedongan
Diadakan pada bulan September 2008 di Perumahan Nuansa Pengungsih, Jalan Trenggana XIVA No.14 Penatih

2. Kelahiran
Lahir pada tanggal 19 Januari 2008 di Rumah Sakit Puri Raharja. Ari-arinya dikubur di rumah Made. Saat tiba di rumah dibuatkan acara penyambutan dengan banten. Operasi sesar di lakukan oleh Dokter Haya. Masuk rumah sakit jam enaman, sekitar jam 8 pagi sudah lahir.

3. Kepus Puser
Dibuatkan banten oleh Dadong Sekar, di Beleleng. Potongan tali pusarnya dikeringkan kemudian disimpan di pelangkiran (tempat sembahyang kecil).

4. Roras Dina
Dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2008 atau dua belas hari setelah kelahiran, bantennya dibuatkan banten oleh Dadong Suplag, We Ranis dan Dadong Sekar. Dilanjutkan dengan acara pebyakalaan/pembersihan Papanya.

Nyante dulu ah..

5. Tutug Kambuhan
Hanya dibuatkan banten petanggeh karena ada pecaruan atau tawur agung di Pesangkan-Duda Timur. Dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2008. Banten dibuatkan oleh Dadong Sekar.

6.Telu Bulanan
Dilaksanakan pada tangga 3 Mei 2008 (Saniscara Umanis Bala) di Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No 5, Denpasara. Banten dibuatkan oleh Mbok Ranis dan Dadong Suplag. Banten dilengkapi dengan guling yang disumbangkan oleh Made. Dipuput oleh Jro Mangku dari Banjar Plagan. Upacara dirangkaikan dengan Tutug Kambuhan dan ngenjek tanah pertama kalinya. Mengundang semua sepupu yang ada di Denpasar, teman-teman di kampus dan tetangga. Acara berjalan dengan baik dan lancar.

7.Otonan
Dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2008 (Saniscara Umanis Sungsang). Diadakan di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Banten dibuatkan oleh Wayahnya ‘Jro Mangku Wayan Natia’. Pada hari yang sama, cucu dan cicitnya yang lain juga dibuatkan acara Manusia Yadnya (upacara persembahan untuk manusia) yaitu; mekutang bok, (potong rambut), tiga bulanan, otonan dan potong gigi. Mengundang lebih dari dua ratus orang yang besasal dari beberapa desa di Kecamatan Banjit. Acaranya berjalan dan sukses, berkat kerja sama yang baik antara keluarga dan warga setempat. Papa dan mamanya Dhita mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam acara tersebut.

Upacara Potong Rambut

8. Ulang Tahun Pertama
Selamat Ulang Tahun ya Dhita sayang….. Kasian deah… ulang tahun pertamanya nga ditemani Papanya. Maklum, sedang menuntut ilmu di negeri sebrang, tepatnya di Lincoln, United Kingdom. Katanya sih untuk bekal di hari tua katanya.

Tumpeng Nasi Kuning

Perayaan ulang tahunnya yang pertama sangat meriah karena banyak mengundang, kira 50 oranglah….. Yang diundang adalah tetangga dan anak-anaknya, keluarga papa dan mama, dan juga temen-temen mama di kampus. Katanya sih bikin tumpeng nasi kuning, biar sekalian undangannya makan nasi kuning. Hadiah juga banyak tuh dapet, boneka, baju, jaket, mainan dan masih buanyak…. lagi.

17012009009

Papa dari kejauhan hanya bisa berdoa buat Dhita, semoga cepat besar, jalannya semakin lancar (sekarang baru bisa tiga sampai lima langkah), dan panjang umur.

dsc01814

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Tourisme, Teledorisme dan Terorisme di Bali

January 16, 2009 at 11:20 pm (Uncategorized)

Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________

Sebagai daerah tujuan wisata yang bertaraf internasional yang memiliki keunikan budaya, keindahan alam dan masyarakat yang ramah , Bali telah dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia Eropa, Asia, Afrika dan Australia. Pesatnya pertumbuhan pembangunan pariwisata dan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali disikapi dengan positif oleh masyarakat lokal dan menganggap fenomena yang terjadi sebagai peluang emas yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejastraannya.

Masyarakat lokal memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata mulai dari perencanaan (planning), pengembangan (development), pengawasan (supervision) dan pengevaluasian (evaluation) program pengembangan pariwisata. Keterlibatan masyarakat lokal yang paling menonjol adalah dalam pengembangan pariwisata, baik pengembangan sarana utama pariwisata seperti akomodasi dan restoran sarana penunjang pariwisata seperti art shop, tempat penukaran uang, toko dan lain-lain; sedangkan peran yang lainnya masih sangat kecil. Adanya beberapa jenis usaha yang digeluti oleh masyarakat lokal tersebut menggambarkan bahwa peran serta masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata dapat ditemukan pada sektor formal dan tidak formal.

Namun, ada beberapa hal penting yang dilupakan oleh masyarakat lokal sehubungan dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata di Bali sehingga dapat mengakibatkan gangguan dan bahkan ancaman terhadap keberlanjutan pariwisata Bali. Kesempatan untuk membuka usaha-usaha kecil seperti pedagang kaki lima misalnya, selain memberikan dampak positif berupa sumber penghasilan bagi pedagangnya, tetapi juga memunculkan dampak negatif seperti kemacetan lalu lintas dan lingkungan nampak kumuh. Ini merupakan salah satu bentuk keteledoran pemerintah dan masyarakat lokal yang menganggap remeh permasalahan ini. Jika ini terus dibiarkan, maka lama-kelamaan akan semakin banyak objek-objek wisata yang akan ditinggalkan karena para wisatawan sudah tidak nyaman lagi melihat pemandangan ini.

Contoh keteledoran lain yang dapat dilihat dengan nyata adalah dalam sistem keamanan. Tidak adanya sistem pengamanan yang menyeluruh (holistic) yang melibatkan aparat pemerintah dan masyarakat merupakan salah satu penyebab dari adanya gangguan keamanan dan serangan terorisme. Mobilitas penduduk juga tidak didata dengan baik sehingga tidak diketahui secara pasti indentitas dan tempat tinggalnya. Yang terjadi sekarang ini, aparat Desa Dinas dan Desa Adat yang diwakili Pecalang hanya memungut uang yang jumlahnya cukup besar setiap bulannya kepada penduduk pendatang tanpa mendata lebih jauh identitas penduduk yang bersangkutan. Sehingga sering kali penduduk pendatang menghindar dari pungutan rutin ini. Semestinya, yang lebih penting adalah pendataan indentitasnya untuk mengetahui secara pasti maksud dan tujuannya menetap dalam jangka waktu tertentu di suatu daerah, bukan jumlah uang yang diperoleh dengan dalih untuk kepentingan keamanan.

Melihat fakta ini, dapat dikatakan bahwa sistem keamanan di Bali masih sangat lemah. Buktinya, banyaknya wisatawan asing yang berkunjung untuk menikmati potensi pariwisata Bali tersebut di atas dan berbagai jenis hiburan tradisional serta dunia gemerlap (dugem) dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara melakukan tindakan kriminal dan yang memakan korban dalam jumlah yang sangat banyak serta gangguan keamanan yang mendapat kecaman dan kutukan dari hampir semua negara di dunia. Serangan bom yang dilakukan oleh para terorist pada bulan Oktober 2002 contohnya, telah mengakibatkan kerugian material, trauma berkepanjangan, cacat tepat, dan korban nyawa manusia.

Peledakan bom tersebut bukan hanya mendapatkan respon dari pemerintah daerah dan pusat saja, tetapi juga dari negara-negara di dunia khususnya negara yang warga negaranya menjadi korban peledakan. Negara-negara internasional mengutuk keras tindakan anarkis yang dilakukan para teroris tersebut dan beberapa di antaranya mengirimkan bantuan dan pertolongan medis sebagai bentuk simpati terhadap tragedy yang terjadi. Negara Australia misalnya, dengan terbuka negara ini mengulurkan bantuan untuk membantu penanganan para korban yang tidak bisa lagi diobati di rumah sakit yang ada di Bali. Keprihatinan negara asing terhadap peledakan bom tersebut juga dibuktikan dengan adanya negara-negara asing yang mengirimkan bantuan inteligen dan tim forensik yang ahli dalam bidang penginvestigasian dan pengungkapan kasus kejahatan.

Tragisnya peledakan bom tersebut secara langsung berdampak terhadap pariwisata khususnya di Bali. Jumlah keberangkatan (depature) wisatawan di Bandar Undara Internasional Ngurah Rai meningkat dengan pesat. Banyak wisatawan asing segera meninggalkan Bali untuk menghindari serangan bom susulan dan karena rasa takut yang berlebihan. Sebaliknya kedatangan (arrival) wisatawan asing menurun secara drastis karena para calon wisatawan yang akan datang ke Bali membatalkan rencana perjalanan liburannya ke Bali setelah mendengar berita di media massa dan internet bahwa Bali dalam keadaan tidak aman yang dipertegas lagi dengan dikeluarkannya surat-surat seperti saran untuk tidak berkunjung (travel advisory), peringatan berkunjung (travel warning) dan larangan berkujung (travel banned) oleh beberapa negara asing yang warga negaranya menjadi korban dalam tragedi bom tersebut.

Usaha keras pemerintah, industri pariwisata, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, wisatawan dan masyarakat lokal dalam memulihkan kondisi pariwisata di Bali pasca bom Bali I cukup membuahkan hasil. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada saat diterapkanya program Bali Recovery. Tetapi kemampuan para stakeholders pariwisata tersebut diuji kembali dengan adanya peledakan bom yang kedua kali di Raja’s Cafe, Kuta dan Banega Cafe, Jimbaran yang juga memakan korban harta, benda dan nyawa manusia. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada peledakan bom kembali di Bali jika tidak dilakukan perbaikan dalam sistem keamanan dengan segera.

Jadi, untuk menjaga citra dan keberlanjutan pariwisata Bali yang sudah dikenal dengan keunikan budaya, keindahan alam dan keamanan daerahnya maka perlu adanya keterlibatan seluruh stakeholder pariwisata (pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, industry pariwisata, masyarakat dan wisatawan) untuk menjaga kebersihan dan keamanan di Pulau Bali.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Antara London dan Lincoln

January 10, 2009 at 11:20 pm (Pengalamanku Jalan-Jalan)

London, 11 September 2008

Waktu sudah menunjukan pukul 05.30 waktu London (7 jam lebih lambat dari jam di Bali) akhirnya aku tiba di Bandara Heathrow di Terminal 4. Begitu turun dari pesawat aku harus ke bagian imigrasi untuk stempel passport dan Visa. Disana aku harus menunjukan surat tanda sudah diterima (Letter of Acceptance) dari universitas untuk menjamin bahwa aku benar2 mau sekolah di Inggris.

65f379bd2d75d3c2

Selain itu, aku harus menjalani pemeriksaan kesehatan di ruang isolasi karena dalam Visaku aku akan berada di Inggris selama 4 tahunan. Pemeriksaan ini hanya dilakukan bagi orang asing yang mau menetap lebih dari 6 bulan di Inggris. Aku harus buka baju dan dirongsen. Setelah dinyatakan sehat, selanjutya aku datang lagi ke bagian imigrasi untuk lapor.

Setelah selesai urusan imigrasi, baru aku mengambil barang. Tinggal tasku yang muter2 di sana karena aku lama bener menjalani pemeriksaan. Setelah semua barang terkumpul, aku keluar melalui terminal 4. Belum ada seorangpun perwakilan dari universitas yang jemput aku. Ternyata mereka menjemput di terminal 3. Aku harus kembali naik kereta api (gratis) kira-kira 15 menitan untuk menuju terminal 3. Aku ditunjuin dan diantar langsung oleh seorang staf bandara ke meeting point di terminal 3. Baik sekali ibu itu lho…… Aku telepon nomor orang yang jemput. Ternyata deringannya ada di belakangku. Akhirnya dia nyuruh aku putar badan dan dia langsung tersenyum. Setelah itu aku memperkenalkan diri dan mengecek namaku di daftar kedatangan mahasiswa internasional.

Setelah itu aku duduk2 di ruang tunggu sambil nunggu jam 11.30 pagi. Lumayan juga sih nunggunya (3 jaman lah..). Aku sempat tidur2an di kursi panjang dan makan kue2 yang aku dapet di pesawat BA 12 sambil nunggu berangkat ke Lincoln. Jam dua belas siang aku meninggalkan Heathrow menuju Lincoln, Brayford. Naik bus kira2 empat jam baru sampai di tujuan. Setelah sampai aku langsung dicarikan taksi oleh staf kampus menuju tempat tinggalku.

Begitu sampai di 157 Monks Road, tuan rumahku sudah menyambut dan membantu mengangkat tasku yang beratnya 29.5 kg itu ke lantai dua. Kurus-kurus ternyata ibu kost kuat bener ngangkatnya. He… he.. Setelah itu aku langsung diperkenalkan dengan teman2 yang tinggal serumah dan tempat kamar mandi, dapur serta cara menggunakan fasilitas2 di dapur. Maklum,… udah lama nga pernah masak. Kan ada istriku, he.. he… Aku Cuma dikasi satu seprai dan bantal. Jadi aku mesti beli lagi entar. Dia bilang murah sih kalo beli di toko bekas. Ini gambar rumah yang aku tempati.

100_2977

Perjalanan dari Bali sampai Lincoln, Brayford-United Kingdom (totalnya 21 jam naik pesawat) memang bener2 melelahkan. Makanya begitu tuan rumah pulang, aku langsung makan roti dulu, dah itu tidur….!

Cape deh….

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Antara Singapura dan Heathrow

January 10, 2009 at 11:04 pm (Pengalamanku Jalan-Jalan)

Singapura, 10 September 2008

Begitu tiba di Bandara, aku segera rubah jam. Harus dimajukan satu jam atau sama dengan jam di Bali, biar nga terlambat. Aku lihat jadwal penerbangan pesawat BA 12 di papan ternyata belum muncul. Aku lama menunggu (30 menitan), belum juga muncul karena aku belum tau dari terminal berapa berangkatnya. Akhirnya aku tanya ke bagian informasi dan akhirnya aku tau terminal keberangkatannya. Nunggunya lumayan lama sih…. 4 jam kali ye… Nih fotoku waktu nungguin penerbangan berikutnya.

International Singapore Airport

Pas masuk ke ruang check in, udah mulai deg-degan karena semua laptop digeledah dan diperiksa oleh staf keamanan bandara. Aku hanya takut laptopku disita karena ada beberapa programnya yang nga asli kayaknya. Syukurlah semuanya berjalan dengan baik. Setelah jam 11 malem, semua penumpang naik ke pesawat British Airways dengan nomor penerbangan BA 12. Aku terus dan tetap berdoa agar dalam perjalanan selamat walaupun pesawatnya juga gede sama dengan SQ, tapi BA sedikit lebih bagus tempat duduknya dan pelayanannya.

ef6d1cb11e9f622a

Di pesawat mulai mendapatkan beberapa snack dan minuman ringan. Lumayan,… ngilangin nervous klo naik pesawat. Penerbangannya memang bener2 lama. Udah dapat tidur lama juga belum sampe2. Dalam perjalanan juga banyak sekali goncangan2, cukup dasyat lagi…. Jadi ngeri deah… goncangannya bisa sampai 15-30 menit lho….. Klo aku pas nga tidur, aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa….. Tapi klo udah tidur, ya pasrah aja deah… dan hanya percaya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase sebagai juru penyelamatku. Pesawatnya kayaknya otomatis, sepuluh menit sebelum bergoncang, lampu tanda mengenakan sabuk pengaman pasti menyala dan berbunyi “tink…”. Jadi hapal dah kalo mau ada goncangan.

Beberapa kali mendapatkan suguhan makanan, tapi aku tetap saja ngerasa makanan itu aneh dan serasa Uyah Sere lebih enak, he…. he…. Terus terang, aku makannya tak selahap penumbang yang duduk di samping dan depanku. Mereka lahap semua makannya. Hanya beberapa roti dan minumannya kusimpan dalam kantong kecil yang biasanya dipakai tempat muntahan sehingga aku bisa membawanya ke rumah atau makan nantinya.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Antara Bali dan Singapura

January 10, 2009 at 10:45 pm (Pengalamanku Jalan-Jalan)

Bali, 10 September 2008

Hari ini saat yang paling berat bagiku untuk meninggalkan semua keluargaku di Indonesia karena aku harus pergi jauh menuntut ilmu. Walau itu menyedihkan tapi aku harus tetap pergi dan menjalaninya. Harapanku hanya satu, yaitu aku berhasil dan sukses menuntut ilmu sehingga berguna bagi diriku, keluargaku, bangsa dan tanah airku. Satu lagu yang selalu mengingatkanku untuk kepergianku ini adalah “Teluk Bayur Permai”. Namun terpaksa harus aku ganti beberapa lirik lagunya agar pas dengan kepergianku. Ini lagunya;

Selamat tinggal Pulau Bali tercinta
Daku pergi jauh ke negeri seberang

Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua
Selamat tinggal istri dan anakku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan emailmu setiap minggu
Kan kujadikan pembuluh rindu

Reff:
Lambaian tanganmu kurasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Airmata berlinang tak terasakan olehku
Nantikanlah aku di Pulau Bali……

Perlu diketahui bahwa ini merupakan kepergianku ke luar negeri untuk pertama kalinya. Aku tak tau ke arah mana aku harus pergi. Aku hanya terus berdoa sambil menelusuri jalan yang semestinya aku tempuh yang ditunjukan oleh Yang Maha Kuasa.

Di Bandara Ngurah Rai, Bali. Beberapa saat sebelum berangkat ke Inggris

Sejak kepergianku dilepas oleh istri (Indah) dan anakku (Dhita) beserta keluarga di Bandara. Aku memang harus berjalan sendiri. Aku menunggu beberapa saat sebelum terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta, tiket untuk ke Singapura dan Inggrispun belum aku pegang. Aku harus menunggu orang yang tak kukenal rupanya yang mau bawain tiketku. Lama menunggu sampai jam 3 sore belum juga datang. Padahal, check-in untuk penerbangan internasional paling lambat dua jam sebelum keberangkatan. Setelah melakukan kontak melalui telepon dan sms, akhirnya jam 4 sore aku ketemu dengan orangnya dan tiketnya dibawa langsung. Dia membantuku check-in di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Dua puluh menitan aku menunggu, waktu menunjukan pukul 5 sore waktu Jakarta. Setelah itu aku berangkat menuju Singapura dengan menggunakan pesawat SQ Airlines. Pesawat besar berbadan lebar, satu baris berisi sebelas orang penumpang. Aku nga tau berapa jumlah semua penumpangnya (yang jelas 64 x 11=?). Aku dapat tempat duduk paling belakang pojok sebelah kanan, tepatnya 64 K. Karena check-in terakhir kale ye….? Makanya,…. lain kali lebih awal donk Check-innya…..! biar dapet tempat duduk agak di Depan. He… he…

Sejak dalam pesawat inilah aku harus mulai memakan makanan yang tidak pernah aku makan sebelumnya. Makan malam di pesawat dengan satu tampal besar ikan tuna dan kentang goreng serta keju. Tapi lumayan bikin perut kenyang walaupun tanpa nasi. Aku hanya sempat ngobrol2 sebentar dengan penumpang yang duduk di sebelahku. Dia kerja di Kedutaan Besar Singapura untuk Indonesia. Dia cukup baik dan ramah sehingga dia ngasi tau beberapa informasi tentang bandara yang akan segera kudarati. Setelah terbang kira-kira 2 jam, aku sampai di Bandara Sang Hai, Singapura.

Permalink Leave a Comment

Tajen: Sebuah Tinjauan dari Perspektif Budaya

December 19, 2008 at 11:29 am (Budaya)

Oleh: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Banyaknya tanah yang sudah berpindah tangan ke orang lain, meningkatnya jumlah kemiskinan dan kejahatan, dan penciptaan generasi muda yang malas bekerja telah dijadikan sebagai alasan dasar oleh beberapa orang untuk mengklaim bahwa tajen merupakan kegiatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kehidupan yang curam dan gelap. Kenapa tidak sekalian saja tajen dijadikan sebagai penyebab rusaknya alam dan budaya Bali yang terjadi sekarang ini? Benarkah sedemikian keras pengarus tajen terdapat kehidupan manusia sehingga harus dimusnahkan keberadaanya? Pola pikir manusia yang sempit dan tidak menyeluruh (holistic) mengakibatkan penilaian terhadap tajen hanya sebelah mata dan selalu dipandang sebagai aktifitas dan interaksi sosial yang negatif di dalam kehidupan masyarakat; dan tidak banyak yang mengetahui bahwa tajen merupakan budaya; dan bahkan di Bali, tajen dapat disebut sebagai salah satu budaya lokal asli (indigenous culture).

Sabung Ayam

Karakteristik budaya
Tajen secara jelas memiliki karakteristik-karakteristik budaya. Sebagaimana disebutkan oleh Reisinger (2003), suatu budaya memiliki sepuluh karakteristik, antara lain: fungsi, phenomena sosial, memiliki ketentuan, dapat dipelajari, hanya belaku di dalam grup tertentu, bernilai, bisa dikomonikasikan, dinamis, telah berjalan dalam waktu yang lama, bisa memuaskan keinginan dalam kelompoknya.
Bagi sebagain besar orang, tajen telah dijadikan sebagai media untuk mengadu nasib untuk mengadu keberuntuangan tetapi banyak juga yang menjadikan tajen sebagai sarana hiburan khususnya bagi kalangan yang berduit karena mereka ke tajen hanya untuk mencari kesenangan saja dan sama sekali bukan untuk mencari kemenangan dalam bentuk uang. Selain itu, tajen juga telah difungsikan sebagai lahan untuk berusaha atau sumber mata pencaharian seperti berdagang, jasa pemeliharaan ayam, ojek dan lain-lain.

Tajen merupakan fenomena sosial yang ada di kehidupan sosial masyarakat dan hampir di setiap daerah seperti Bali, Jawa dan Sumatra ada tajen yang di lain tempat sering disebut sabung ayam yang bukan hanya diramaikan olah bebotoh orang Bali saja, tetapi juga dari suku lain seperti Jawa, Lampung, Batak dan Palembang. Aturan main dan perangkat tajen juga sama dengan di Bali karena budaya ini dibawa dan dikembangkan langsung oleh para bebotoh transmigran yang merantau ke daerah-daerah tersebut. Dalam kegiatanya, tajen memiliki aturan-aturan tertentu misalnya seperti penentuan menang-kalahnya pertarungan ayam dan ukuran waktu untuk menyatakan lawannya kalah yang hanya dipahami oleh para bebotoh saja dan hanya dipakai pada saat berada dalam kehidupan tajen saja. Ketika keluar dari arena tajen, aturan tersebut sama sekali tidak dipakai dan berarti di kelompok sosial yang lainnya.

Istilah-istilah yang dipakai di dalam kegiatan tajen hanya bisa dipelajari oleh seseorang yang berminat untuk menekuninya dan sama sekali tidak diwariskan atau diturunkan dari generasi sebelumnya dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Begitu juga cara menentukan lawan ayam aduannya, biasanya diajarkan oleh para bebotoh yang sudah lebih banyak dan lama makan garam dalam dunia tajen. Contoh lain yang harus dipelajari adalah cara mengikat taji (senjata untuk mematikan musuh). Sesorang harus dilatih dan memiliki keahlian khusus untuk mengerjakannya sehingga tidak semua bebotoh bisa melakukannya.

Cok dan gasal merupakan bahasa yang sangat lazim didengar di tajen. Sehingga sangat jelas bahwa ada komonikasi verbal maupun non verbal di antara para petaruh ayam. Selain itu, keberadaan tajen sangat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan jaman. Jenis ayam yang diadu mulai dari ayam kampung biasa, meningkat ke ayam keker, bekisar dan bahkan sampai ayam Bangkok. Begitu juga alat pertaruhannya, kalau dulu mungkin saja bertaruh dengan pis bolong, tetapi sekarang menggunakan uang yang berlaku seperti Rupiah. Makanan ayam jagonya juga demikian. Dulu ayamnya hanya dikasi makan singkong tetapi sekarang sudah berubah diberikan nasi, jagung dan konsentrat yang memiliki kandungan gizi tinggi dan lebih bagus. Dan bahkan, beberapa ayam jago diberikan obat kuat tambahan (supplement) sebelum diadu di arena tajen sehingga mampu mematikan lawannya dalam sekejap.

Tajen bukan merupakan kegiatan yang baru; dan bahkan dapat dikatakan bahwa kita yang hidup sekarang inilah yang jauh lebih baru atau muda daripada keberadaan tajen. Keberadaan tajen terus berlanjut dari jaman dahulu, sekarang dan akan terus ada sampai dengan masa yang akan datang.

678338e898b00ab6

Unsur budaya
Bagi para bebotoh, tajen memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya. Mulai dari pengurungan ayam, pemeliharaan, pengaduan sampai dengan kemenangan ayam kesayangannya. Kepuasan inilah yang dijadikan sebagai salah satu unsur dan merupakan inti dan nilai (value) dari budaya yang tidak berwujud, namun dapat dirasakan (intangible) sebagaimana disebutkan oleh Hofstede (1997). Sedangkan tiga unsur kebudayaan lainnya seperti symbol, hero dan ritual merupakan unsur budaya yang nyata yang dapat dilihat dengan mata (tangible). Dua unsur terluar budaya (symbol dan hero) inilah yang paling sering diperdebatkan dan dikomentari oleh masyarakat awam tanpa melihat lebih jauh dua unsur yang lebih dalam yang merupakan bagian terpenting budaya yaitu ritual dan value dari keberadaan tajen. Di dalam suatu komunitas (misalnya bebotoh) akan terjadi interaksi sosial (Gidden, 1989). Salah satu interaksi sosial dalam bentuk taruhan uang atau judi di antara para bebotoh, sering kali dijadikan sebagai alasan utama dan kambing hitam untuk mengklaim bahwa tajen tidak layak disebut sebagai budaya.

Bahasa yang dipakai seperti cok dan gasal merupakan simbol bahasa yang sangat lumrah didengar di tajen, symbol ini hanya bisa dikomunikasikan oleh para petaruh ayam di arena tajen. Begitu juga ayam dan warna-warna ayam seperti biying, ijo, serawah, kelau dan brunbun merupakan simbul-simbul khusus yang biasanya dipakai dalam menentukan lawan ayam aduannya. Pihak yang terlibat dalam kegiatan tajen seperti bebotoh, tukang kembar, saye dan tukang kurung ayam disebut sebagai hero atau pelaku budaya dan bisa disebut sebagai stakeholders tajen. Sedangkan kegiatan menyuguhkan canang atau segehan dan doa-doa untuk memohon kemenangan yang dilakukan oleh para bebotoh sesaat sebelum kegiatan tajen dimulai merupakan ritual kebudayaan.

Modernisme vs Postmodernisme
Pandangan modernisme dan agama yang selalu melihat dan membenarkan sesuatu dari salah satu dari dua aspek yang semestinya seperti; positif-negatif, baik-buruk, halal-haram, hitam-putih dan sebagainya telah mengakibatkan tajen dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai kegiatan yang negatif. Hukum positif yang berlaku di Indonesia juga bercirikan modernisme yang dalam penentuan keputusannya selalu berdasarkan atas benar dan salah, sehingga segala bentuk perjudian merupakan kegiatan yang melanggar hukum dan dilarang sebagaimana diatur secara khusus di dalam Kitab Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) pasal 303. Peraturan tentang perjudian yang berlaku di Indonesia memang harus hormati oleh semua warga Negara Indonesai dan ditegakkan oleh para aparat penegak hukum. Jadi, hanya interaksi sosial para bebotoh dalam bentuk perjudianlah yang harus dilarang dan dikenakan sangsi. Sedangkan interaksi sosial bebotoh yang lainnya merupakan bagian dari budaya dan bukan merupakan tindakan yang melanggar hukum.

Lain halnya dengan pandangan postmodernisme, yang memandang dan menilai kedua aspek dari suatu hal dengan tatanan yang sama karena pandangannya berada di atas dikotomi (baik-buruk) dan bukan memihak atau berada pada posisi salah satunya. Artinya, biarlah segala sesuatu itu ada dan berkembang sesuai dengan alamnya karena segala sesuatu yang ada sudah memiliki bentuk, fungsi, tujuan masing-masing. Sehingga tajen tidak hanya dipandang sebagai kegiatan yang melanggar hukum dan bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga memiliki ritual dan value yang sebenarnya perlu dilestarikan. Cara pandang postmodernisme sangat bijak, karena selalu menghormati dan menjunjung tinggi keberadaan dikotomi dan tidak memihak ke salah satu pihak serta sama sekali tidak mempermasahkan perbedaan. Pola pikir ini akan secara jelas bertentangan dengan pemikiran para pakar dan aparat penegak hukum dan agamawan.

Penulis, mahasiswa Program Doktor Bidang Pariwisata Budaya, University of Lincoln, Brayford Pool, United Kingdom.

Referensi:
Giddens, A. (1989). Sociology. United Kingdom: Polity Press.
Hofstede, G. (1997). Cultures and Organizations: Software of the Mind. New York: McGraw Hill.
Reisinger, Y and L.W. Turner (2003). Cross-culture Behaviour in Tourism: Concept and Analysis. Great Britain: Butterworth Heinemann.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya. Terima kasih.

Permalink Leave a Comment

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.