Satu Tahun Kepergian Ibuku Tercinta

Om suastiastu

Sembilan belas Desember dua ribu delapan. Pagi itu aku mendapatkan kabar dari sodaraku di Lampung, kalau ibu sedang dirawat di rumah sakit. Hanya selang beberapa saat saja, aku mendengar kembali berita bahwa ibu telah tiada. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ibuku akan pergi meninggalkanku selamanya secepat itu, karna kepergian ibuku ke tempat sodaraku di Kota Bandar Lampung bukan untuk berobat, tetapi hanya untuk bermain dan membeli spring bed untuk keperluan dan kenyamanan tidur di kampungku yang terletak di Banjit, Kabupaten Way Kanan.

Memang ada sedikit kejanggalan sebelum ibuku meninggal. Ibuku hanya mau diantar ke Bandar Lampung oleh Bli Sugatra, kakakku yang paling tua. Biasanya, kemana-mana selalu dianter oleh Bli Subali, kakakku nomor empat karena dia punya mobil. Dan ibuku hanya mau dijemput oleh kakaku nomor empat itu. Setelah dua hari di tempatnya Cenik, kakakku nomor lima dan setalah diajak keliling-keliling, jalan-jalan dan membeli apa yang diinginkan oleh ibuku. Sehari sebelum ibuku pulang ke Banjit, kampungku tempat ibu dan bapakku tinggal, kemudian jatuh sakit dan keadaannya terus memburuk. Walaupun sudah diberikan pertolongan pertama oleh Mba Dewi, istri kakakku yang kebetulan seorang dokter, tetapi masih saja tidak ada perubahan. Sehingga harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. Petugas rumah sakit sudah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa ibuku. Namun semuanya sia-sia dan tidak membuahkan hasil sehingga belum genap sehari ibuku berada di rumah sakit itu, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal sehari sebelum meninggal, kakakku yang nomor empat yang kebetulan saat itu berada di Bandar Lampung untuk keperluan dinas sudah nelpon ke Handphone ibuku langsung bahwa akan dijemput besok sorenya sesuai dengan yag diharapkan ibuku. Tetapi akhirnya kakakku menjemput ibuku yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Jasadnya selanjutnya langsung dibawa ke kampong di Banjit.

Aku, pagi pagi yg cuacanya buruk, hujan angin, sebelum mendapatkan kabar terakhir bahwa ibuku meninggal, tetap saja berangkat ke kampus karena aku tak menduga ibuku akan pergi selamanya. Aku hanya berdoa sebelum aku berangkat, biar ibuku cepat sembuh. Namun beberapa saat aku tiba di kampus, aku ditelpon oleh Made, kakakku nomor enam kalau ibuku sudah meninggal. Akupun bergegas pulang dan menelpon Wayan, kakakku nomor sembilan untuk memesan tiket pesawat untuk berangkat ke Lampung, kampung halamanku yang tercinta. Aku langsung ke rumah Made dan mendiskusikan keberangkatan keluarga dari Bali. Keesokan harinya aku dan semua keluarga kakakku, kecuali istriku yang pada saat itu sedang hamil tua, berangkat ke Lampung.

Setiba di rumah, nampak persiapan-persiapan sudah dilakukan oleh para sodara dan anggota Banjar Pesangkan di tempat orang tuaku tinggal. Isak tangispun mulai sesaat aku dan sodara-sodaraku melihat ibuku yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku, yang kata sodara-sodaru periang dan kata mantan-mantan pacarku tak memiliki perasaanpun ikut bersedih, menangis dengan linangan air mata. Aku memang harus benar-benar tegar, menyadarkan diriku bawha memang suatu saat aku akan berpisah dan ditinggalkan. Aku hanya berpikir, mungkin inilah saatnya ibuku meninggalkanku dan sodara-sodaraku.

Persiapan pengabenan (kremasi) ibuku terus dilakukan dan ribuan orang berdatangan melayat yang berasal dari berbagai banjar, desa, dan kecamatan, kabupaten dan provinsi karena Bapakku seorang public figure (pendeta) yang selalu membantu umat Hindu di Lampung menyelesaikan upacara keagamaan dengan keiklasan. Kesigapan para anggota banjar dan tamu yang lainnya patut diacungi jempol karena dalam dua hari semua perlengkapan upacara kremasi untuk ibuku siap. Mereka bahu membahu, siang dan malam dirumahku untuk membuat sesajen dan Bade (alat pembawa mayat) dan Lembu sebagai simbul pengantar nyawa. Mereka tidak hanya menyumbangkan tenaganya, tetapi juga menyumbangkan materi yang mereka miliki seperti ayam, bebek dan bahkan sampai dengan kayu untuk membuat Bade. Aku benar-benar kagum dengan para umat Hindu di tempatku ini karena mereka sangat menghormati keluargaku dan mengabdikan dirinya kepada keluargaku serta membantu ibuku untuk terakhir kalinya. Aku patut mengucapkan terima kasih atas semua bantuan para anggota banjar dan tamu yang hadir pada saat persiapan dan pelaksanaan upacara kremasi ibuku, walaupun secara lisan sudah disampaikan oleh perwakilan sodaraku kepada mereka semua. Sekali lagi, terima kasih untuk semua kelaurga, kerabat dan sahabat yang sudah membantu prosesi acara kremasi ibuku tercinta.

Di antara kesebelas sodarku, aku adalah anak tersayang ibuku dan semua sodaraku mengakui fakta ini. Aku anak laki-laki terkecil, aku memang merasa mendapatkan kasih sayang lebih dari ibuku. Semua yang ku minta, selalu dikasi ama ibuku dan aku juga tidak pernah dimarah. Sebenarnya, banyak sekali hal yang terkenang dalam benakku tentang ibuku. Yang paling berkesan adalah nyanyian ibuku setiap saat aku dalam gendongan ibuku, pada waktu aku masih kecil. Syair lagu ini sekarang aku jadikan pegangan hidupku dan akan ku teruskan ke generasiku kelak. Aku juga hanya hafal sepenggal dari lagu itu, begini syairnya:

Dabdabang cening dabdabang (anakku mulailah)
Mumpung rage enu cerik (selagi engkau masih kecil)
Melajah ningkahang rage (belajarlah berprilaku baik)
Ede pati iri hati (jangan pernah iri hati)
Ede ngaden awak bise (jangan menunjukkan bahwa dirimu bisa / jangan sok tau)
Depang anake ngadanin (biarlah oranglain yang menilainya)
……. Sayangnya, tak tau lagi aku sambungan lagu ini……………???

Tulisan ini sengaja aku buat untuk melepaskan rasa kangenku dengan ibuku yang tercinta, terlebih lagi aku sekarang sedang berada di negeri orang sendirian, tanpa keluarga sama sekali, untuk menuntut ilmu. Semoga ibuku mendengar kerinduanku ini dan memberikan dorongan dan motivasi kepadaku agar aku bisa menyelesaikan studiku dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sehingga aku bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan sodara-sodaraku di Bali dan Lampung.

Ibuku, aku selalu berdoa untukmu. Semoga Ibu mendapatkan tempat yang semestinya sesuai dengan perbuatan ibu ketika masih hidup di dunia ini. Aku juga mendoakan semua leluhurku agar mendapatkan kedamaian dan Moksah di alam sana.

Om santih santih santih om.

19 Desember 2008
I Nengah Subadra
Lincoln, United Kingdom.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s