Tajen: Sebuah Tinjauan dari Perspektif Budaya

Oleh: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Banyaknya tanah yang sudah berpindah tangan ke orang lain, meningkatnya jumlah kemiskinan dan kejahatan, dan penciptaan generasi muda yang malas bekerja telah dijadikan sebagai alasan dasar oleh beberapa orang untuk mengklaim bahwa tajen merupakan kegiatan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam kehidupan yang curam dan gelap. Kenapa tidak sekalian saja tajen dijadikan sebagai penyebab rusaknya alam dan budaya Bali yang terjadi sekarang ini? Benarkah sedemikian keras pengarus tajen terdapat kehidupan manusia sehingga harus dimusnahkan keberadaanya? Pola pikir manusia yang sempit dan tidak menyeluruh (holistic) mengakibatkan penilaian terhadap tajen hanya sebelah mata dan selalu dipandang sebagai aktifitas dan interaksi sosial yang negatif di dalam kehidupan masyarakat; dan tidak banyak yang mengetahui bahwa tajen merupakan budaya; dan bahkan di Bali, tajen dapat disebut sebagai salah satu budaya lokal asli (indigenous culture).

Sabung Ayam

Karakteristik budaya
Tajen secara jelas memiliki karakteristik-karakteristik budaya. Sebagaimana disebutkan oleh Reisinger (2003), suatu budaya memiliki sepuluh karakteristik, antara lain: fungsi, phenomena sosial, memiliki ketentuan, dapat dipelajari, hanya belaku di dalam grup tertentu, bernilai, bisa dikomonikasikan, dinamis, telah berjalan dalam waktu yang lama, bisa memuaskan keinginan dalam kelompoknya.
Bagi sebagain besar orang, tajen telah dijadikan sebagai media untuk mengadu nasib untuk mengadu keberuntuangan tetapi banyak juga yang menjadikan tajen sebagai sarana hiburan khususnya bagi kalangan yang berduit karena mereka ke tajen hanya untuk mencari kesenangan saja dan sama sekali bukan untuk mencari kemenangan dalam bentuk uang. Selain itu, tajen juga telah difungsikan sebagai lahan untuk berusaha atau sumber mata pencaharian seperti berdagang, jasa pemeliharaan ayam, ojek dan lain-lain.

Tajen merupakan fenomena sosial yang ada di kehidupan sosial masyarakat dan hampir di setiap daerah seperti Bali, Jawa dan Sumatra ada tajen yang di lain tempat sering disebut sabung ayam yang bukan hanya diramaikan olah bebotoh orang Bali saja, tetapi juga dari suku lain seperti Jawa, Lampung, Batak dan Palembang. Aturan main dan perangkat tajen juga sama dengan di Bali karena budaya ini dibawa dan dikembangkan langsung oleh para bebotoh transmigran yang merantau ke daerah-daerah tersebut. Dalam kegiatanya, tajen memiliki aturan-aturan tertentu misalnya seperti penentuan menang-kalahnya pertarungan ayam dan ukuran waktu untuk menyatakan lawannya kalah yang hanya dipahami oleh para bebotoh saja dan hanya dipakai pada saat berada dalam kehidupan tajen saja. Ketika keluar dari arena tajen, aturan tersebut sama sekali tidak dipakai dan berarti di kelompok sosial yang lainnya.

Istilah-istilah yang dipakai di dalam kegiatan tajen hanya bisa dipelajari oleh seseorang yang berminat untuk menekuninya dan sama sekali tidak diwariskan atau diturunkan dari generasi sebelumnya dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Begitu juga cara menentukan lawan ayam aduannya, biasanya diajarkan oleh para bebotoh yang sudah lebih banyak dan lama makan garam dalam dunia tajen. Contoh lain yang harus dipelajari adalah cara mengikat taji (senjata untuk mematikan musuh). Sesorang harus dilatih dan memiliki keahlian khusus untuk mengerjakannya sehingga tidak semua bebotoh bisa melakukannya.

Cok dan gasal merupakan bahasa yang sangat lazim didengar di tajen. Sehingga sangat jelas bahwa ada komonikasi verbal maupun non verbal di antara para petaruh ayam. Selain itu, keberadaan tajen sangat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan jaman. Jenis ayam yang diadu mulai dari ayam kampung biasa, meningkat ke ayam keker, bekisar dan bahkan sampai ayam Bangkok. Begitu juga alat pertaruhannya, kalau dulu mungkin saja bertaruh dengan pis bolong, tetapi sekarang menggunakan uang yang berlaku seperti Rupiah. Makanan ayam jagonya juga demikian. Dulu ayamnya hanya dikasi makan singkong tetapi sekarang sudah berubah diberikan nasi, jagung dan konsentrat yang memiliki kandungan gizi tinggi dan lebih bagus. Dan bahkan, beberapa ayam jago diberikan obat kuat tambahan (supplement) sebelum diadu di arena tajen sehingga mampu mematikan lawannya dalam sekejap.

Tajen bukan merupakan kegiatan yang baru; dan bahkan dapat dikatakan bahwa kita yang hidup sekarang inilah yang jauh lebih baru atau muda daripada keberadaan tajen. Keberadaan tajen terus berlanjut dari jaman dahulu, sekarang dan akan terus ada sampai dengan masa yang akan datang.

678338e898b00ab6

Unsur budaya
Bagi para bebotoh, tajen memiliki kepuasan tersendiri dibandingkan dengan kegiatan yang lainnya. Mulai dari pengurungan ayam, pemeliharaan, pengaduan sampai dengan kemenangan ayam kesayangannya. Kepuasan inilah yang dijadikan sebagai salah satu unsur dan merupakan inti dan nilai (value) dari budaya yang tidak berwujud, namun dapat dirasakan (intangible) sebagaimana disebutkan oleh Hofstede (1997). Sedangkan tiga unsur kebudayaan lainnya seperti symbol, hero dan ritual merupakan unsur budaya yang nyata yang dapat dilihat dengan mata (tangible). Dua unsur terluar budaya (symbol dan hero) inilah yang paling sering diperdebatkan dan dikomentari oleh masyarakat awam tanpa melihat lebih jauh dua unsur yang lebih dalam yang merupakan bagian terpenting budaya yaitu ritual dan value dari keberadaan tajen. Di dalam suatu komunitas (misalnya bebotoh) akan terjadi interaksi sosial (Gidden, 1989). Salah satu interaksi sosial dalam bentuk taruhan uang atau judi di antara para bebotoh, sering kali dijadikan sebagai alasan utama dan kambing hitam untuk mengklaim bahwa tajen tidak layak disebut sebagai budaya.

Bahasa yang dipakai seperti cok dan gasal merupakan simbol bahasa yang sangat lumrah didengar di tajen, symbol ini hanya bisa dikomunikasikan oleh para petaruh ayam di arena tajen. Begitu juga ayam dan warna-warna ayam seperti biying, ijo, serawah, kelau dan brunbun merupakan simbul-simbul khusus yang biasanya dipakai dalam menentukan lawan ayam aduannya. Pihak yang terlibat dalam kegiatan tajen seperti bebotoh, tukang kembar, saye dan tukang kurung ayam disebut sebagai hero atau pelaku budaya dan bisa disebut sebagai stakeholders tajen. Sedangkan kegiatan menyuguhkan canang atau segehan dan doa-doa untuk memohon kemenangan yang dilakukan oleh para bebotoh sesaat sebelum kegiatan tajen dimulai merupakan ritual kebudayaan.

Modernisme vs Postmodernisme
Pandangan modernisme dan agama yang selalu melihat dan membenarkan sesuatu dari salah satu dari dua aspek yang semestinya seperti; positif-negatif, baik-buruk, halal-haram, hitam-putih dan sebagainya telah mengakibatkan tajen dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai kegiatan yang negatif. Hukum positif yang berlaku di Indonesia juga bercirikan modernisme yang dalam penentuan keputusannya selalu berdasarkan atas benar dan salah, sehingga segala bentuk perjudian merupakan kegiatan yang melanggar hukum dan dilarang sebagaimana diatur secara khusus di dalam Kitab Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) pasal 303. Peraturan tentang perjudian yang berlaku di Indonesia memang harus hormati oleh semua warga Negara Indonesai dan ditegakkan oleh para aparat penegak hukum. Jadi, hanya interaksi sosial para bebotoh dalam bentuk perjudianlah yang harus dilarang dan dikenakan sangsi. Sedangkan interaksi sosial bebotoh yang lainnya merupakan bagian dari budaya dan bukan merupakan tindakan yang melanggar hukum.

Lain halnya dengan pandangan postmodernisme, yang memandang dan menilai kedua aspek dari suatu hal dengan tatanan yang sama karena pandangannya berada di atas dikotomi (baik-buruk) dan bukan memihak atau berada pada posisi salah satunya. Artinya, biarlah segala sesuatu itu ada dan berkembang sesuai dengan alamnya karena segala sesuatu yang ada sudah memiliki bentuk, fungsi, tujuan masing-masing. Sehingga tajen tidak hanya dipandang sebagai kegiatan yang melanggar hukum dan bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga memiliki ritual dan value yang sebenarnya perlu dilestarikan. Cara pandang postmodernisme sangat bijak, karena selalu menghormati dan menjunjung tinggi keberadaan dikotomi dan tidak memihak ke salah satu pihak serta sama sekali tidak mempermasahkan perbedaan. Pola pikir ini akan secara jelas bertentangan dengan pemikiran para pakar dan aparat penegak hukum dan agamawan.

Penulis, mahasiswa Program Doktor Bidang Pariwisata Budaya, University of Lincoln, Brayford Pool, United Kingdom.

Referensi:
Giddens, A. (1989). Sociology. United Kingdom: Polity Press.
Hofstede, G. (1997). Cultures and Organizations: Software of the Mind. New York: McGraw Hill.
Reisinger, Y and L.W. Turner (2003). Cross-culture Behaviour in Tourism: Concept and Analysis. Great Britain: Butterworth Heinemann.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya. Terima kasih.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s