Bali Tourism Watch: EFA Pendobrak Kesenjangan Sosial, Budaya dan Ekonomi

Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________

Tingginya jumlah penyandang buta huruf di dunia yang empat puluh persennya berada di negara-negara peserta konferensi internasional Education for All (EFA). Permasalahan pendidikan memerlukan penanganan yang sangat serius dan mendesak karena dengan adanya kesempatan untuk mengenyam pendidikan akan membantu meningkatkan kualitas hidup, harkat dan martabatnya sebagai manusia yang berbudaya.

Sebenarnya telah banyak yang upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mengentaskan buta huruf, tetapi upaya yang dilakukan tersebut belum maksimal sehingga di beberapa daerah di Indonesia memiliki angka buta huruf yang cukup tinggi. Program pendidikan wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan dan diterapkan oleh Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah juga belum mampu menyentuh semua lapisan masyarakat karena mereka umumnya masih terhambat dengan permasalahan biaya pendidikan yang pada kenyataannya bahwa untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) saja harus mengeluarkan biaya yang sangat tinggi terutama bagi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi dan berpenghasilan rendah sehingga tidak jarang ditemukan anak-anak mereka memilih untuk berhenti sekolah dan berusaha bekerja untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan kemampuannya. Keterbatasan dalam mendapatkan akses pendidikan inilah yang menghantarkan generasi putus sekolah tersebut ke jurang kehidupan yang curam dan gelap. Selain pendidikan formal, pemerintah juga telah melakukan upaya lain seperti pembukaan program kejar paket A untuk SD, paket B untuk SMP, dan paket C untuk SMA. Sedangkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan fisik dan mental telah dikembangkan juga beberapa sekolah luar biasa (SLB). Program-program pemerintah tersebut semata-mata ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, kualitas hidup dan kesejasteraan warga negara Indonesia.

Anggaran pendidikan sebesar 20% dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) belum bisa terealisasi sampai saat ini karena masih banyak permasalahan negara yang belum terselesaikan seperti keamanan, kemiskinan, infrastruktur dan kesehatan yang juga memerlukan dana yang cukup besar. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama negeri maupun swasta setidaknya merupakan salah satu bukti dari komitmen pemerintah untuk memberikan pendidikan murah kepada warga negara Indonesia. Dana ini ditujukan untuk mempersempit kesenjangan ekonomi di kalangan masyarakat sehingga semua warga negara Indonesia tidak perlu lagi memikirkan biaya sekolah sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan sampai dengan tingkat SMP. Walaupun penyaluran dan pengelolaan dana BOS telah melalui Komite Sekolah namun dalam penerapanya masih mengalami beberapa kendala dan fakta yang terjadi di lapangan bahwa masih banyak sekolah-sekolah yang memungut biaya pendidikan kepada siswa.

Penerapan program-program pendidikan pemerintah tersebut di atas diharapkan juga mampu menghapus kesenjangan hak antara laki-laki dan perempuan dalam bidang pendidikan. Buktinya, di sekolah-sekolah tidak lagi didominasi oleh murid laki-laki saja tetapi sudah banyak perempuan yang ikut serta menimba ilmu untuk kepentingan bersama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kesamaan hak dalam memperoleh pendidikan sudah diaplikasikan di semua tingkat pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Dengan adanya kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan maka secara otomatis akan terjadi kesamaan kesempatan dalam merebut peluang kerja dan memegang posisi dalam suatu perusahaan.

Kualitas dan outcome pendidikan sangat tergantung dari kualitas pendidik (guru atau dosen) dan tenaga kependidikan (petugas administrasi). Semua pendidik harus memiliki kompetensi (skill, knowledge dan attitude) sehingga mampu bekerja secara profesional dalam bidang keilmuannya. Selain meningkatkan kompetensi, pemerintah juga berusaha keras untuk meningkatkan pendapatan para guru dan dosen dengan mengeluarkan kebijakan baru tentang sertifikasi guru dan dosen. Guru dan dosen yang lulus sertifikasi secara otomatis akan mendapatkan tambahan sebesar satu kali lipat dari gaji pokoknya. Dengan peningkatan pendapatan ini diharapkan para guru dan dosen mampu bekerja secara profesional untuk mendidik para tunas bangsa agar memiliki kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang cerah. Pelaksanaan sertifikasi guru tampaknya masih mengalami beberapa kendala karena tidak semua guru bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program sertifikasi terutama bagi para guru yang memiliki pendidikan di bawah strata-1 sedangkan mereka sudah mengabdikan dirinya kepada negara selama puluhan tahun. Pemerintah semestinya mempertimbangkan dan memberikan perlakuan khusus bagi guru-guru yang telah lama mengabdi namun memiliki pendidikan di bawah dari yang disyaratkan untuk mengikuti sertifikasi. Jika tidak, akan terjadi kesenjangan pendapatan antara guru-guru baru yang memiliki pendidikan Strata-1 dengan guru-guru lama yang memiliki pendidikan lebih rendah.

Peningkatan kuantitas dan kualitas fasilitas dan sarana penunjang pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium dan buku juga akan membantu meningkatkan mutu pendidikan. Bagi sekolah yang terletak di perkotaan, umumnya sudah memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap dan modern bahkan beberapa diantaranya telah dilengkapi dengan sistem teknologi informasi dan akses internet. Sedangkan sekolah-sekolah yang terletak di daerah-daerah terpencil sering kali tidak memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap. Mereka hanya memiliki gedung sekolah yang terdiri dari ruangan belajar dan ruangan guru. Sebagai contoh, Sekolah Dasar yang terletak di Banjar Janglap, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Sekolah ini terletak di daerah perbukitan yang agak terpencil dan hanya memiliki tiga ruangan kelas belajar. Sebagaimana diketahui bahwa ruangan belajar yang dibutuhkan untuk Sekolah Dasar adalah minimal enam kelas (kelas I – VI). Usaha yang dilakukan untuk menutupi kekurangan ruang belajar tersebut adalah dengan membagi satu ruangan menjadi dua dengan papan/triplek. Ruangan belajar saja tidak cukup, apalagi fasilitas belajar yang lainnya? Namun patut diacungi jempol bahwa guru-guru dan murid-muridnya memililki semangat yang tinggi untuk bersama-sama berjuang mencerdaskan generasi penerus perjuangan bangsa ini.

Sebagai tuan rumah penyelenggara konferensi internasional EFA, Indonesia memiliki beberapa kepantingan antara lain; menunjukan kepada dunia bahwa Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh untuk meningkatkan mutu pendidikan, mengadopsi pola-pola pengembangan pendidikan dari negara yang telah memiliki kualitas pendidikan yang lebih tinggi, menjalin hubungan kerjasama untuk kepentingan pertukaran guru dan pelajar, serta merevisi jumlah penyandang buta huruf yang diharapkan bisa mengangkat posisi Indonesia ke peringkat yang lebih tinggi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s