Promosi Bukan Penentu Keberhasilan Pemasaran Pariwisata Bali

Oleh: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Hasil studi banding yang tidak berujung pangkal yang dalam Bahasa Bali sering disebut “saru geremeng” yang dilakukan oleh beberapa anggota dewan ke luar negeri (Inggris) beberapa minggu yang lalu memang sangat perlu dipertanyakan karena apa yang dicari pada lawatan tersebut tidaklah menjawab persoalan-persoalan pariwisata Bali yang sebenarnya. Lemahnya kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pariwisata orang yang melakukan promosi tersebut telah dengan mudah menjastifikasi bahwa promosilah yang dianggap paling penting dalam mengenalan dan penarikan minat para calon wisatawan untuk datang dan mengunjungi Pulau Bali. Sebenarnya opini itu sama sekali tidak benar dan tidak masuk akal karena masih ada banyak faktor penentu keberhasilan pariwisata Bali. Sudah adakah pengidentifikasian awal tentang apa yang harus dipromosikan dan bagaimana cara serta strategi yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil promosi pariwisata yang maksimal?

Promosi merupakan salah satu bagian dari bauran pemasaran pariwisata sehingga dalam kegiatan pariwisata promosi tidak bisa berjalan sendiri dan terpisah dari indikator-indikator bauran pemasaran pariwisata yang lainnya. Secara keseluruhan bauran promosi pariwisata mencakup produk (product), harga (price), promosi (promotion), sistem distibusi (place), kerjasama (partnership), pengemasan paket wisata (packaging), program kegiatan wisata (programming), penampilan objek subjek pariwisata (performance), dan sumber daya manusia (people). Seluruh indikator bauran pemasaran pariwisata tersebut harus bersinergi dalam kegiatan pariwisata agar memperoleh hasil pemasaran pariwisata yang optimal.

Tindakan promosi harus berdasarkan pada analisis terhadap situasi dan permintaan pasar terkini. Ini berarti bahwa promosi yang dilakukan harus berdasarkan hasil analisis data penelitian tentang segmentasi pasar pariwisata, bukan merupakan pendapat dan perasaan penguasa atau pemegang yang memandang perlu atau tidaknya diadakan promosi. Apa dasar pengadaan promosi anggota dewan tersebut? Mengingat promosi sangat penting dalam pemasaran pariwisata, maka penelitian tentang promosi pariwisata harus dilakukan secara berkelanjutan sebelum, selama dan setelah promosi sehingga dapat dilihat efektivitas promosi yang telah dilakukan. Hasil penelitian ini dipergunakan untuk menentukan target audensi atau calon wisatawa, mengetahui informasi-informasi pariwisata yang dibutuhkan oleh para wisatawan, dan mengevaluasi keberhasilan promosi yang sedang dilakukan dan setelah selesai dilakukan. Punyakah Bali tenaga-tenaga ahli yang handal untuk melakukan penelitian ini? Sudahkah para ahli tersebut dilibatkan dalam pembangunan pariwisata Bali?

Promosi pariwisata yang efektif mencakup pengidentifikasian target calon wisatawan yang akan dicapai, pengidentifikasian tujuan komunikasi yang akan dicapai, formulasi bentuk pesan dan informasi pariwisata untuk mencapai tujuan, pilihan media untuk menyampaikan pesan dan informasi secara efektif kepada calon wisatawan yang dituju, alokasi anggaran untuk mencapai produksi dan penyampaian pesan, dan evaluasi mekanisme penjualan jasa dan produk-produk pariwisata.

Lebih parahnya lagi, Dinas Pariwisata Provinsi Bali dan Badan Pariwisata Bali (Bali Tourism Board) yang diharapkan mampu bekerja secara holistik untuk menangani masalah dan mencari solusi permasalahan pariwisata di Bali yang semata-mata untuk keberlanjutan pariwisata Bali ternyata hanya mampu bekerja secara parsial. Usaha-usaha yang dilakukan selama ini hanya terfokus untuk mendatangkan wisatawan dengan cara mengadakan promosi wisata dan pemberian penghargaan kepada hotel yang menerapkan konsep Tri Hita Karana, dan mempertahankan citra Bali sebagai destinasi wisata terbaik. Sedangkan usaha-usaha pelestarian potensi pariwisata utama (keunikan budaya, keindahan alam dan keramah tamahan masyarakat) yang dimiliki Bali nyaris tak tersentuh dan terkesan dibiarkan begitu saja. Pada kenyataannya, belum ada usaha yang signifikan yang dilakukan pada indikator bauran pemaasaran lainya yang merupakan idikator terpenting untuk keberlanjutan pariwisata Bali seperti; memperbaiki dan melestarikan objek dan daya tarik wisata, penataan kawasan wisata, pendataan secara berkala fasilitas pariwisata (hotel, vila, bungalow, dan restoran) dan pembinaan terhadap sumber daya manusia dan pengelola objek wisata nyaris terlupakan.

Seharusnya pemerintah dan badan pariwisata ini bekerja dari tingkat bawah mulai dari penataan objek-objek wisata secara fisik agar keindahan dan kebersihannya terjamin sehingga nyaman untuk dikunjungi, memberikan pelatihan pengelolaan objek wisata agar siap dalam menerima kunjungan wisatawan, dan yang tak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata.

Kesimpulannya, sehebat apapun tim promosi pariwisata tidak akan mampu mendatangkan wisatawan ke Bali tanpa dibarengi dengan perubahan-perubahan bdan penyelamatan serta penataan sumber daya alam dan budaya yang dijadikan daya tarik wisata, objek wisata dan kawasan wisata agar terlihat lebih menarik dan pengeloalaanya lebih profesional sehingga mampu bersaing dengan destinasi-destinasi pariwisata lainnya di dunia.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya.

Jika anda membutuhkan atrikel lain tentang pariwisata, silahkan KLIK DI SINI untuk mengunduh (download) beberapa artikel yang berkaitan dengan pariwisata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Sekali lagi, Terima kasih atas kunjungan anda. Selamat belajar!

4 thoughts on “Promosi Bukan Penentu Keberhasilan Pemasaran Pariwisata Bali

  1. Gede Agus says:

    sangat menarik sekali komentar Bapak mengenai promosi pariwisata kita. sbg orang Bali, setidaknya kita juga wajib menjaga citra pariwisata Bali dan kalo bisa sekaligus menjadi mediator promosi pariwisata Bali.he2..misalnya ketika temen2 kita yang berasal dari luar Bali, ingin berlibur ke Bali, kita bisa menjadi guide “dadakan”.tul engga Pak?
    Mungkin saya sedikit fanatik terhadap Bali, sampai-sampai saya menyusun skripsi untuk pariwisata Bali. sedikit tidaknya membantu promosi Bali di kalangan para pengguna GPS Indonesia bahkan mungkin mancanegara. maaf saya mahasiswa Teknik Geodesi UGM, sekarang ini sedang menyusn skripsi mengenai pembuatan peta tema pariwisata untuk perangkat GPS seri map dgn studi kasus di Kuta. saya mohon bantuan Bapak, untuk memberikan literatur mengenai fasilitas penunjang pariwisata. mohon pencerahan dari Bapak..
    Tolong dibalas via email nggih Pak?

  2. salam Bpk I Nengah Subadra ( maaf jika saya salah memanggil ), perkenalkan nama saya aloysia nungki saya biasa di panggil nungki.

    Saya sangat tertarik sekali dengan tulisan bapak, tentang promosi bukan penentu keberhasilan di Bali, dan mampu menjadikan “pecut” di dalam diri saya untuk segera merelasikan keinginan saya untuk mendirikan Usaha Perjalana Wisata dengan mengeksplore keindahan dan daya tarik Nusantara terlebih lagi di Solo. ( karena kini Solo sedang bangkit dan sebisa mungkin bisa menjadi daerah tujuan wisata utama selain Bali🙂 )

    Saya sebenarnya adalah lulusan DIII Pariwisata, pak. Namun sayang sekali saya tak bisa mengaplikasikan ilmu saya, karena saya larut dalam usaha yang saya rintis bersama teman-teman di bidang Entertaiment. Padahal dalam hati kecil saya saya ingin sekali menjalani bisnis di bidang Pariwisata.

    Sekarang, setelah usha saya di Entertain sudah mulai berjalan, dan bisa untuk di”duakan” ( terlebih lagi karena sekarang niat dan modal sudah lumayan ada :0) saya ingin kemabali terjun ke dunia Pariwisata dengan mendirikan Usaha Perjalan Wisata.

    Untuk itu, saya mohon kesediaan bapak, untuk mau berbagi ilmu dengan saya mengenai bidang tersebut, karena jika harus sekolah lagi saya rasa nanti modalnya tak cukup ( yah, harus ada prioritas khan?).

    Sekarang ini Usaha Perjalanan Wisata ini sedang saya rintis dengan kaki dan tangan saya sendiri, dalam arti, saya buat paket wisata sendiri, saya jual sendiri, hingga saya folowup sendiri, dan mudah-mudahan setelah saya mengirim surat ini, akan ada tanggapan dari mereka yang telah saya titipi proposal. ( saya baru jalan 3 kali pak ).

    Apakah yang saya lakukan itu efektif pak?
    disela-sela saya bertemu klien untuk urusan Enetertaint, saya sempatkan untuk menawarkan program perjalanan saya, apakah itu efektif dan sudahs esuai dengan kode etik pak?

    Maaf ya pak saya terlalu banyak menulis, ( walau sebenarnya banyak sekali yang iingin saya tulis , tapi waktu mendesak saya, maklum semua hal saya urus sendiri pak :0)

    Jika saya meminta kesediaan bapak untuk bersedia menjadi mentor atau mitra saya, apakah bapak bersedia? dan saya harap kabar baik adalah jawabannya ya pak.

    Terimakasih pak, saya tunggu kabar baiknya, oh ya juga bisa melalui sms di :
    No hp nungki : 0857 2535 4321
    No esia Nungki : 0271 – 922 2077

    sekali lagi terimakasih ya pak.
    salam

    nungki

  3. ya betul tapi juga partisipasi masyarakat seperti melestarikan budaya karena itu merupakan salah pint interest tersendiri

  4. ya betul tapi juga butuh partisipasi masyarakat dalam melestarikan budaya karena itu merupakan salah point interest tersendiri yg dapat mendatangkan wisatawan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s