Bali Tourism Watch: Warisan Budaya dan Alam dan Pariwisata di Era Postmodernisme

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Warisan merupakan sesuatu yang ditransformasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perannya adalah sebagai pembawa nilai-nilai budaya di masa lampau ke generasi sekarang. Warisan dipandang sebagai salah satu bagian dari tradisi masyarakat di suatu daerah. Di sisi lain, dalam konsep pariwisata warisan dipandang sebagai bentuk kesadaran (awareness) yang modern. Sifat utama pariwisata adalah dinamis atau berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi.

Studi terkini tentang warisan budaya dan pariwisata cendrung terfokus pada kekuatan tradisi yang identik dengan kestabilan dan kesinambungan, sedangkan dalam pariwisata terjadi perubahan. Sehingga warisan budaya dan pariwisata adalah dua hal yang bertentangan (contradictive). Sejumlah pendekatan teoritis telah dipergunakan untuk menganalisa hubungan antara warisan budaya dan pariwisata. Hubungan antara warisan budaya dan pariwisata dapat dilihat melalui produksi budaya dan konsumsi pariwisata.

Menurut pandangan masyarakat modern, pariwisata dianggap sebagai kegiatan yang berhubungan dengan produksi yang sangat kompleks karena berkaitan erat dengan waktu, daerah regional, nasional dan internasional. Keinginan orang untuk bepergian ke luar daerahnya bukan hanya sebagai mimpi saja tetapi telah manjadi kenyataan. Abad ke-19 yang ditandai dengan revolusi industri merupakan penghancur dari masa lampau dan diganti dengan hal-hal yang baru. Abad ke-20 ditandai dengan kembalinya kesadaran baru untuk mengingat kembali dan berkomunikasi dengan hal-hal yang terjadi di masa lampau. Ini berimplikasi terhadap perkembangan pariwisata sekarang ini yang mana wisatwannya cendrung mencari dan mengunjungi objek-objek wisata yang memiliki nilai-nilai budaya untuk mendapatkan keaslian dan identitas dari suatu pola tradisi.

Bentuk baru dari produksi lampau atau warisan berasosiasi dengan pola konsumsi mempengaruhi wisatawan dalam pemilihan destinasi pariwisata. Keinginan untuk mengunjungi daerah yang asli dan meningkatnya kesadaran dan rasa hormat wisatawan terhadap warisan dan tradisi merupakan penanda adanya hubungan antara lokal (tradisi yang ada di destinasi pariwisata) dan global (budaya dan wisatawan yang berasal dari berbagai negara yang berbeda). Trend inilah yang dipandang sebagai manifestasi posmodernisme.

Heritage tourism menawarkan kesempatan untuk menikmati tradisi-tradisi di masa lampau. Wisatawan posmodernisme menggunakan intelektualitas dan imajinasinya untuk menerima dan mengkomunikasikan pesan yang ada pada warisan tersebut dan mengkonstruksi pandangannya terhadap tempat-tempat bersejarah. Negara-negara berkembang sangat potensial dijadikan sebagai destinasi pariwisata postmodernisme karena merupakan pusat dari tradisi, budaya, agama dan tahayul yang belum tersentuh modernisasi.

MEMAHAMI WARISAN BUDAYA DAN ALAM BUATAN

Arti istilah warian buatan sangat kompleks. Ini digunakan sehubungan dengan pelestarian monumen dan bangunan-bangunan bersejarah selama bertahun-tahun. Dalam konteks pariwisata, warisan mencakup wariasan alam dan budaya. Dalam konteks budaya, warisan digunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk material seperti monumen, peninggalan sejarah dan arsitektur dan artefak yang ditayangkan di museum atau bentuk-bentuk bukan material seperti filosofi, tradisi, kesenian, perayaan besar atau sejarah kepribadian seseorang, cara hidup yang berbeda, dan pendidikan.
Dalam konteks alam, warisan digunakan untuk mendeskripsikan kebun, ladang, taman nasional, hutan belantara, gunung, sungai, flora dan fauna.
Warisan buatan berhubungan dengan struktur dan bangunan bersejarah. Warisan-warisan tersebut dilindungi oleh undang-undang monumen kuno, undang-undang kawasan arkeologi, atau undang-undang warisan nasional karena memiliki jasa yang sangat besar. Selain itu juga bertujuan untuk melestarikan, membangun kembali dan memperkenalkan properti warisan budaya dan alam yang ada di suatu daerah.

Warisan buatan sering kali dikenal sebagai salah satu bentuk warisan budaya. Menurut United Nations World Heritage Convention Concerning Protection of the World Cultural and Natural Heritage, ada tiga komponen warisan buatan yaitu:

(1) monumen, mencakup karya-karya arsitektur, karya patung dan lukisan yang besifat monumental, elemen atau struktur sifat arkeologi, prasasti, gua dan penghuninya, dan kombinasi bentuk dari nilai-nilai sejarah, seni dan ilmu.

(2) kelompok bangunan, mencakup sekelompok bagunan yang arsitekturnya, keanekaragamannya atau tempatnya memiliki nilai sejarah, seni dan ilmu.
(3) tempat atau kawasan, mencakup karya manusia atau merupakan perpaduan antara buatan manusia dengan alam dan kawasan arkeologi yang memiliki nilai sejarah, estetik, etnologi, dan antropologi.

Menurut Prentice (1993) dalam Nuryanti (1996), warisan buatan juga dideskripsikan sebagai warisan sejarah dan seni sebagai kebalikan dari warisan ilmu dan budaya. Yang termasuk di dalamnya adalah elemen fisik sebagai peninggalan dari sumber-sumber air suci hingga bangunan-bangunan keagamaan, benteng dan kota modern. Warisan yang memiliki nilai pendidikan meliputi tumbuh-tumbuhan, burung, binatang, karang, dan habitat alam. Warisan budaya mencakup kesenian rakyat dan fine art, budaya dan bahasa.

Warisan buatan terdiri dari elemen-elemen material. Elemen-elemen tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu: elemen fixed, elemen semi-fixed dan elemen non fixed. Elemen fixed adalah elemen yang jarang dirubah dan berstruktur tetap seperti bangunan, kota dan reruntuhan bangunan. Elemen semi-fixed adalah elemen yang dapat dirubah secara agak cepat seperti furnitur dan tanaman. Elemen non-fixed adalah elemen yang berhubungan dengan manusia yang ada di dalamnya.

Keanekaragaman dimensi warisan yang disuguhkan dapat digunakan untuk memahami lebih mendalam tentang makna dari suatu warisan buatan. Warisan budaya lebih berhubungan dengan budaya dari pada dengan alam. Warisan buatan merupakan gabungan dari warisan bawaan manusia (human-made) dan fixed element yang memiliki nilai dan makna.

Interpretasi Warisan Budaya dan Alam

Tantangan utama dalam menghubungkan antara warisan dan pariwisata terletak pada rekonstruksi masa lampau dengan masa sekarang melalui interpretasi. Pariwisata warisan merupakan produksi atau reproduksi dari masa lampau sangat bermasalah khususnya berkaitan dengan warisan buatan. Interpretasi warisan buatan bukan hanya melibatkan isu-isu seperti penapsiran arti dari suatu peristiwa di masa lampau, sensitivitas lintas budaya, profesionalisme, pendidikan dan pelatihan tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai kegiatan yang berkaitan termasuk perencanaan konservasi, desain arsitektur dan teknik rekonstruksi.

Menurut Tilden (1997) dalam Nuryanti (1996), interpretasi harus dilakukan lebih jauh dari pada sekedar pertukaran informasi dan harus diinspirasi dan bahkan harus dihasut. Ada enam prinsip dasar interpretasi yaitu: (1) interpretasi yang tidak berhubungan dengan apa yang ditampilkan atau dijelaskan ke sesuatu di antara kepribadian dan pengalaman pengunjung; (2) informasi; (3) interpretasi merupakan seni yang mengkombinasikan berbagai jenis seni, apakah materi yang ditampilkan bersifat ilmiah, sejarah atau arsitektur; (4) tujuan dari interpretasi bukanlah instruksi tetapi provokasi; (5) interpretasi harus menampilkan keseluruhan daripada bagian-bagian tertentu saja; (6) interpretasi ditujukan kepada berbagai segmen pengunjung dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Kompleksnya penginterpretasian warisan budaya buatan ini mengakibatkan sulitnya pemaknaan dari suatu objek. Sehingga pemaknaanya terletak pada pengamat atau pengunjung.

Menurut Herbert (1989) dalam Nuryanti (1996) interpretasi dapat menghasilkan keluaran bagi penginterpretasi dan pengunjung. Pengunjung akan memberikan apresiasi terhadap objek warisan, kesadaran dan pemahamannya meningkat, puas dan menikmati objek-objek tersebut. Keuntungan bagi para penginterpretasi adalah akan meningkatnya kunjungan wisatawan apabila wisatawan tersebut memperoleh informasi dan pelayanan yang memuaskan. Oleh karena itu, interpretasi harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh dalam pemasaran, manajemen dan perencanaan pariwisata warisan budaya dan alam.

Memasarkan Warisan Budaya dan Alam Buatan

Sekarang ini, kawasan-kawasan warisan budaya dan alam dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara. Tetapi umumnya dikunjungi oleh wisatawan domestik karena berasosiasi dengan sejarah dan budayanya. Ini memiliki implikasi yang sangat penting dalam musim kunjungan, pemasaran dan pola prilaku wisatawan dan manajemen kawasan.

Segmentasi merupakan konsep penting dalam pemasaran pariwisata khususnya untuk pemasaran pariwisata minat khusus. Pangsa pasar pariwisata warisan budaya dan alam sangat heterogen. Menurut Prentice (1993), segmen pasar pariwisata warisan budaya dan alam dapat dibedakan menjadi lima kelompok utama yaitu: (1) wisatawan berpendidikan, (2) profesional, (3) keluarga atau kelompok, (4) murid sekolah, dan (5) pencari tempat-tempat nostalgia. Pemasaran yang sukses sangat pandai dalam membidik calon wisatawan untuk membeli atau mengkonsumsi produk pariwisata yang dijual.

Pariwisata warisan budaya dan alam dipandang sebagai salah satu pariwisata minat khusus. Tetapi diperlukan penentuan skala warisan yang bisa dipasarkan karena hanya beberapa kawasan warisan budaya dan alam yang menjadi daya tarik wisata internasional. Penentuan skala apakah sebagai daya tarik internasional, nasional, daerah atau lokal memiliki implikasi yang sangat penting misalnya; mempengaruhi lama tinggal dan wisatawan dan pemilihan produk wisata.

Pariwisata warisan merupakan bagian dari pariwisata budaya dalam skala yang lebih luas. Bagi kebanyakan wisatawan, budaya merupakan hal kedua dalam pemilihan tempat berlibur dan terkadang sama sekali tidak menjadi tujuan. Oleh karena itu, pariwisata warisan tidak dapat dipisahkan dari atraksi wisata di suatu kawasan, tetapi harus dipandang sebagai satu komponen pariwisata secara keseluruhan.

Di negara-negara maju, konsep perencanaan pemasaran pariwisata warisan biasanya dilakukan oleh sektor publik atau merupakan kerja sama antara sektor publik dan swasta. Sektor publik memegang peranan yang sangat penting terutama dalam penyelesaian masalah atau konflik. Sedangkan di negara-negara berkembang yang kekurangan akan sektor swasta dan pengalaman dalam industri pariwisata, peran sektor publik lebih kompleks. Sektor publik bukan hanya bertanggung jawab terhadap pendidikan pariwisata dan pengaturan industri pariwisata tetapi juga harus mengambil peran pengusaha.

Merencanakan Warisan Budaya dan Alam
Metode-metode yang dilakukan untuk mencapai tujuan melibatkan penilaian dan keputusan dari berbagai perspektif: sosial-budaya, konservasi, ekonomi dan arsitektur. Perspektif tersebut mempengaruhi keputusan mengenai apa yang harus dipreservasi, apa yang harus dibangun, apakah struktur lama memiliki fungsi yang baru, penggunaan kembali atau tidak digunakan sama sekali.

Pendekatan dan metode perencanaan warisan buatan umumnya mengunakan beberapa tingkat revitalisasi untuk mencapai preservasi dan pembangunan yang seimbang. Pendekatan yang dimaksud bisa merupakan gabungan dari bagian atau keseluruahan konsep berikut ini:

(1) konservasi merupakan usaha untuk mempreservasi bentuk fisik dan kegiatan sehingga nilai dan makna dari bentuk dan kegiatan tersebut dapat berkelanjutan. Nilai dan maknanya termasuk aspek budaya, sejarah, tradisi, artistik,sosial, ekonomi, fungsi, lingkungan dan pengalaman. Perspektif nilai dan maknanya harus mencakup masa lampau, sekarang dan yang akan datang.

(2) gentrifikasi merupakan usaha untuk meningkatkan vitalitas dari bentuk fisik dan kegiatan dengan cara meningkatkan kualitas tempat dengan merubah strukturnya.

(3) rehabilitasi merupakan usaha untuk membawa kembali bentuk fisik dan kegiatan di wilayah yang telah mengalami degredasi. (4) renovasi merupakan usaha untuk merubah bentuk fisik dan kegiatan agar bisa mengadopsi fungsi-fungsi baru.

(5) restorasi merupakan usaha untuk memperbaiki kondisi bentuk fisik dan kegiatan dengan mengurangi elemen baru atau tambahan dan menggantikan elemen-elemen yang hilang agar sesuai dengan bentuk semula.

(6) rekonstruksi merupakan usaha untuk membawa kembali kondisi bentuk fisik dan kegiatan semirip mungkin ke suatu keadaan pada suatu masa sebelumnya.

Ketergantungan antara Warisan dengan Masyarakat
Di negara-negara berkembang, kebanyakan dari struktur-struktur warisan seperti bangunan, peninggalan arkeologi, kota kuno, museum dan lain-lain ditemukan di tengah masyarakat seperti; kota besar, kota atau desa. Masyarakat lokal berinteraksi langsung dengan struktur tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Pariwisata bisa mempromosikan rehabilitasi kawasan bersejarah sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal. Bagi masyarakat lokal, keuntungan terpenting yang diinginkan dari pariwisata adalah keuntungan ekonomi dalam hal ini meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja. Dampak ekonomi ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: dampak langsung, dampak tidak langsung dan motivasi (induce).

Dampak langsung dapat dilihat pada keterlibatan masyarakat dalam industri pariwisata dalam bentuk penerimaan upah, gaji dan keuntungan dan juga temasuk pendapatan pemerintah melalui pajak dan biaya. Dampak tidak langsung disebabkan karena adanya kebutuhan industri pariwisata untuk membeli sesuatu untuk mempertahankan kegiatan bisnisnya seperti buruh, makanan, minuman dan hal-hal yang dikonsumsi oleh industri pariwisata. Dampak induce dapat dilihat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat sehingga ada pertukaran ekonomi di antara masyarakat.

Beberapa kasus yang terjadi di negara-negara berkembang, perkembangan pariwisata warisan budaya dan alam bukan hanya mengkontruksi kembali hal-hal yang terjadi di masa lampau tetapi juga mengkonstruksi ekonomi. Tetapi hubungan antara pariwisata warisan alam dan budaya dengan masyarakat lokal lebih dari hanya dalam pekerjaan dan pendapatan. Termasuk di dalamnya adalah mengenai kepemilikan tanah, kompetisi antara yang baru dengan yang lama, perubahan gaya hidup.

Di kebanyakan negara-negara maju masalah yang berhubungan dengan pariwisata warisan budaya dan alam lebih biasa terjadi pada permasalahan perencanaan dan pembangunan seperti pemusnahan bangunan-bangunan, keramaian, pengaturan lalu lintas dan parkir.

Di negara-negara berkembang menghadapi sumber dana yang terbatas dan kemampuan istitusioanal yang tidak memadai. Sehingga tidak hanya mengalami kendala dalam perencanaan dan manajemen tetapi juga masalah pendanaan pembangunan.

KESIMPULAN
Heritage tourism merupakan pariwisata minat khusus yang berbasiskan budaya dan alam. Agar dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan perencanaan, pembangunan, pengembangan, manajemen dan pemasaran yang baik oleh para stakeholder pariwisata, antara lain; pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, industri pariwisata, dan wisatawan.

Sumber Bacaan:

Nuryanti, Wiendu. 1996. Heritage and Postmodern Tourism. Gadjah Mada University, Indonesia.

One thought on “Bali Tourism Watch: Warisan Budaya dan Alam dan Pariwisata di Era Postmodernisme

  1. hendry says:

    ok juga blongnya jadi bisa buat referensi saya skripsian nih mas..oh ya saya hendry 22 di bogor…anak ipb jurusan arsitektur lanskap,sekarang lagi skripsian gitu mas..saya ambil lanskap sejarah dan studi kasusnya di kawasan pecinan glodok…(judulnya…studi potensi lanskap kawasan pecinan glodok sebagai kawasan wisata sejarah di jakarta barat)
    mas bisa bantu saya refernsi apa yang mas punya buat memperkaya khasanah perskripsian saya?^^ karena saya agak2 bingung nih..apalagi di bab metodologinya…ok deh segitu aja dulu…terima kasih

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s