Bali Tourism Watch: Membandingkan Pola Kegiatan Wisatawan gang Datang Pertama Kali dengan yang Sudah Pernah Datang

___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Gitelson dan Crompton ( 1984) merupakan orang-orang yang pertama kali menemukan pentingnya pemasaran terhadap wisatawan yang datang kembali dan implikasi pemasarannya. Penelitian-penelitian lain menyatakan bahwa terdapat beberapa perbedaan yang signifikan berkaitan dengan komposisi dan perjalanan wisatawan baik yang pertama kali datang maupun yang berulang. Secara khusus wisatawan yang datang pertama kali biasanya lebih banyak mengunjungi pertunjukan-pertunjukan dalam tujuan kunjungannya dibandingkan dengan wisatawan yang datang berulang. Dengan demikian, wisatawan yang datang pertama kali tampaknya lebih aktif.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pola kegiatan di antara wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang dalam tema lingkungan kebun raya untuk mendapatkan wawasan terhadap persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan pada masing-masing pola kunjungan. Hipotesis kami yang pertama dapat dirumuskan sebagai berikut:

Hipostesa 1: wisatawan yang datang pertama kali berbeda dengan wisatawan yang datang berulang dalam hal pola aktivitasnya dalam tema kebun raya, secara logika bahwa wisatawan yang datang pertama kali lebih banyak menghabiskan waktu di kebun raya, lebih banyak memilih berbagai aktivitas dari pada wisatawan yang datang berulang, dan umumnya mereka lebih cenderung mengikuti rute yang disediakan di taman.

Hipotesa ini dilakukan berdasarkan dugaan bahwa wisatawan yang datang pertama kali memiliki informasi lebih sedikit mengenai tema kebun, dan karena itu mereka lebih cenderung untuk mengeksplorasi lebih banyak dari pada lebih selektif dalam menentukan pilihan ( Misalnya, Um & Crompton, 1990 ).

Namun wisatawan yang datang pertama kali dapat menggunakan sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai tujuan wisata, mengimplikasikan bahwa mereka sadar terhadap alternatif-alternatif yang ada ketika mereka menentukan untuk melakukan kegiatan. Apabila wisatawan yang datang pertama kali mau menggunakan informasi ini dengan baik, pola kegiatan wisatanya akan menjadi hampir sama dengan kegiatan wisatawan yang sudah datang berulang. Hal ini yang membawakan kita kepada hipotesis yang kedua:

Hipotesa 2: Perbedaannya pada pola kegiatan wisata antara wisatawan yang datang pertama kali dengan yang sudah datang berulang dimudahkan dengan penggunaan informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di kebun raya.

Wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang merupakan dua jenis wisatawan yang mungkin mengunjungi sebuah tujuan wisata. Kedua kelompok ini memegang peran yang mendasar dari suatu tujuan wisata yang rata-rata baik dan berhasil. Karena alasan inilah, secara kolektif, para pimpinan tujuan wisata berusaha keras untuk mendapatkan keseimbangan di antara kunjungan wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang ( Opperman 1997 ). Wisatawan yang datang pertama kali menunjukkan konsumen baru yang berpetualang menjelajahi sebuah tujuan wisata yang pertama kalinya. sedikitnya pengunjung baru biasanya menjadi sebuah petunjuk / tanda bahwa sebuah tujuan wisata sedang mengalami penurunan. Namun, hal tersebut tidaklah tetap, mudah berubah, dan membutuhkan biaya pemasaran yang mahal untuk mengejar, tanpa jaminan akan berhasil. Pandangan wisatawan yang datang pertama kali bisa memilih untuk mengunjungi atau menolak tujuan wisata dengan berbagai alasan yang sedikit berhubungan dengan kualitas yang sebenarnya dari pengalaman yang ada.

Pengunjung yang datang berulang, dipihak lain, menunjukkan pengaruh penyetabilan bagi kebanyakan tujuan wisata ( Oppermann, 2000). Wisatawan seperti ini telah mengenali tempat-tempat wisata dan merasa puas dengan pengalaman yang ditawarkan. Terlebih lagi, itu dapat memberikan sumber pemasukan yang stabil yang menjadikan bisnis dan tujuan wisata sebagai penanaman modal dalam pertumbuhan pasar baru. Yang sangat penting, biaya untuk mendatangkan lagi bisnis secara berulang pada prinsipnya lebih sedikit daripada mereka yang mendekati para pelanggan baru ( Pasific Asia Travel Association 1997 ).

Secara umum bahwa wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang menunjukkan prilaku kunjungan yang berbeda dalam kunjungannya. Wistawan yang datang berulang dalah wisatawan yang sadar dengan tujuan wisatanya yang mengerti terhadap kegiatan-kegiatan wisata yang ada. Lebih jauh lagi, sebagai pelanggan lama, mereka telah memiliki kesempatan untuk bergabung dalam berbagai kegiatan wisata dan karena itu mungkin menjadi menarik dalam bergabung pada kegiatan lain wisatawan. Wisatawan yang datang pertama kali , di pihak lain, merupakan pengunjung yang sengaja berwisata yang mungkin tidak sadar dengan apa yang tersedia dan siapa, bahkan ketika sadar, akan menginginkan memperoleh pengalaman yang pertama kalinya.

Hal itulah yang menjadi ironis, namun, yang secara relatif sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk menguji perbedaan dalam hal pola di antara kedua jenis segmen pasar ini, dengan diberikannya prilaku wisata dipengaruhi oleh serangkaian faktor-faktor, termasuk pengalaman masa lampau ( Buhalis, 1999). Suatu asumsi yang nyata yang ada di antara pelaku industri pariwisata di mana kedua kelompok ini berbagi motivasi yang serupa, walaupun tidak ada anggapan yang mendasar akan hal itu.

Pentingnya Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang menunjukan adanya segmen pasar yang atraktif dan efektif bagi sebagian besar tujuan wisata. Gitelson dan Crompton ( 1984) misalnya, melaporkan bahwa banyak area tujuan wisata harus terjadi secara alamiah, dengan mempercayakan sepenuhnya pada kunjungan ulang.

Oppermann ( 1998 ) yang menyatakan bahwa satu mitos yang sering berulang dalam literatur pemasaran yaitu biayanya lima atau enam kali lipat lebih, uang dan usaha untuk mendekati pengunjung baru dari pada mempercayakan pelanggan yang ada untuk datang kembali ke suatu tujuan wisata.

Dalam membangun kunjungan ulang merupakan sebuah sarana di mana para penyalur wisata dapat meningkatkan hasil pendapatan dan menekan biaya dengan cara mengurangi kepercayaan pada tugas yang jauh lebih sulit untuk mendekati wisatawan baru ( Gyte dan Phelps 1989; Gitelson dan Crompton 1984).

Pengunjung wisata ulang tidak hanya menunjukan kesetabilan sumber dari pendapatan dari wisatawan, hal itu juga bertindak sebagai saluran informasi yang secara informal menghubungkan jaringa kepada teman, keluarga, dan para pelancong yang potensial lainnya terhadap sebuah tujuan wisata.. apabila terpuaskan oleh persamaan nilai pelayanan yang mereka terima, wisatawan yang datang berulang biasanya secara efektif menggunakan komunikasi dari mulut ke mulut, untuk mempromosikan kesadaran tujuan wisata dan dan merangsang pandangan pelancong untuk menjadi pengunjung ( Reid dan Reid 1993).

Dengan kata lain, hal ini lebih mudah dapat diakses dari pada para pengunjung pertama kali, sejauh catatan organisasi-organisasi yang bertahan, membuat target pemasaran langsung menjadi lebih memungkinkan untuk dikerjakan dengan mudah. Pengetahuan ini memberikan para penyalur wisata atau para pelaku wisata kelas atas untuk dapat mentargetkan dengan tepat segmen wisatawan yang datang berulang dan mengumpulkan respon langsung terhadap promosi ( Reid dan Reid 1993).

Secara relatip, sedikit jumlah penelitian yang telah dipublikasikan untuk menguji fenomena dan motivasi bagi kunjungan ulang. Gitelson dan Crompton ( 1984) mengemukakan lima alasan kenapa orang-orang memegang kunjungan ulang: resiko penurunan / ketenangan dengan sebuah tujuan wisata yang khusus, resiko penurunan / menemukan jenis orang yang sama, keinginan emosional terhadap suatu tempat, mengeksplorasi lebih jauh sebuah tujuan wisata, dan memberitahukan tujuan wisata tersebut kepada orang lain.

Mereka menemukan perbedaan-perbedaan yang signifikan terhadap motivasi-motivasi kedua kelompok wisatawan ini, di mana wisatawan yang datang berulang cenderung menunjukan keinginan untuk bersantai dibandingkan dengan wisatawan yang baru datang pertama kali, sementara wisatawan yang datang pertama kali lebih suka mencari pengalaman-pengalaman dibidangkan budaya dan pengalaman-pengalaman lain yang bermacam-macam.

Fakeye dan Crompton ( 1991) meneliti perbedaan-perbedaan dalam persepsi calon wisatawan baik yang datang pertama kali maupun yang datang berulang, di Lower Rio Grande Valley. Penelitian ini menghasilkan bahwa orang yang belum pernah mengunjungi sebuah tujuan wisata sebelum merasa terbawa dalam faktor hayalan sangatlah berbeda dengan mereka yang sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Mereka juga menemukan bahwa semakin sering seorang wistawan mengunjungi suatu tempat, semakin lebih besar kesempatan sosial dan pertunjukan-pertunjukan telah dikenalnya dan menghargainya. Hampir sama dengan mereka yang telah pernah ke Valley merasakan unsur-unsur yang berkaitan dengan konsumsi pengalaman, misalnya seperti sarana dan prasarana, makanan, masyarakat yang ramah, dan kedai minuman dan hiburan malam menjadi lebih penting dari pada yang bukan wisatawan lakukan.
Sebaliknya, calon wisatawan ayng pertama kali datang mengidentifikasi alam dan budaya ramah tamah, penginapan, dan transportasi yang menjadi hal yang lebih penting.

Motivasi yang Mempengaruhi Prilaku
Uysal dan Hagan (1993) meringkas literatur mengenai faktor-faktor pendorong, dan mendeskripsikannya sebagai faktor-faktor internal yang membangunkan, mengarahkan dan mengintegrasikan prilaku seseorang dari satu sudut pandang pariwisata sebagai suatu rangkaian kebutuhan dan prilaku yang mempengaruhi seseorang untuk bertindak pada kepariwisataan yang mengkhusus dengan menggunakan cara yang diarahkan. Karena itu dianggap sangat penting dalam memahami prilaku pariwisata ( iso-Ahola 1982, sebagaimana dikutip dari Uysal dan Hagan 1993 ).

Para peneliti tertarik untuk mengukur motivasi-motivasi wisatawan untuk dapat mengidentifikasikan perbedaan jenis-jenis wisatawan secara lebih mudah ( Fodness 1994 ) dan juga untuk mendapatkan wawasan terhadap prilaku perjalanan wisata. Sejumlah penelitian telah menunjukan suatu hubungan antara motivasi dan aktivitas.

Pola-polanya terdiri dari faktor-faktor luar dan dalam ( Crompton, 1997 ). Motivasi-motivasi wisatawan telah dijadikan tauladan sebagaimana menggunakan tipologi psikologis / fisyologis ( Iso-Aloha 1982, seperti yang dikutip dari Uysal dan Hagan 1993 ) atau seperti dalam gabungan dari faktor-faktor penarik dan pendorong ( Mill dan Morrison 1985; Pizam, Neumann, dan Reichel 1997 ). Memperhatikan pendekatan-pendekatan yang diadopsi, secara umum dikenal bahwa motivasi itu termasuk elemen-elemen dalam sebagaimana prilaku individu masing-masing, keinginan, pendapat, pengetahuan, dan kebutuhan untuk berlibur, berpasangan dengan pelengkapan tujuan wisata termasuk mainan anak-anak, fasilitas, keuntungan yang diharapkan, dan kesan-kesan ayng dipromosikan pada tujuan wisata tersebut. Faktor-faktor ini dimodifikasi dengan faktor-faktor demograpi sosial dan ekonomi termasuk usia, jenis kelamin, pendapatan, cara hidup keluarga, golongan kecil dan latar belakang budaya ( uysal dan Hagan 1993 ).

McIntosh, Goeldner dan Ritchie ( 1994 ) secara implisit menghubungkan motivasi itu dengan prilaku. Mereka mengklasifikasikan motivasi tersebut menjadi empat kategori dasar: fisik, budaya, hubungan antar perorangan, dan status dan martabat.. individu yang termotivasi dengan alasan fisik atau dengan suatu kebutuhan untuk ikut serta dalam kegiatan rekreasi dan olahraga.

Mereka yang berwisata dengan motif budaya akan mencari kegiatan-kegiatan yang dapat memuaskan rasa penasarannya mengenai lingkungna, budaya, dan masyarakat. Wisatawan semacam ini ingin mengetahui perbedaan-perbedan diantara agama, seni, musik, makanan, dan gaya hidup msyarkat ayng tinggal di negara yang dikunjungi.

Keinginan untuk memuaskan kebutuhan pribadi mengajak orang untuk berwisata baik untuk mendapatkan teman baru atau untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman dan keluarga. Pada akhirnya individu masing-masing termotivasi untuk berwisata untuk mendapatkan status dan harga diri akan mencari pengalaman-pengalaman yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini.

Prilaku
Pendekatan terkini terhadap perhitungan loyalitas berdasarkan pada perilaku konsumen, sering kali berdasarkan pada prilaku pembelian yang aktual, atau pada kasus-kasus yang lain pada perilaku pembelian yang tercatat. Jacoby dan Chestnut (1987) menyarankan bahwa pendekatan perilaku selanjutnya dapat dibagi lagi menjadi lima tipe yaitu; skuensi pembelian merk, proporsi pembelian merk, kemungkinan pembelian merk, perhitungan sintetis dan berbagai perhitungan yang lain

Kunjungan Ulang
Salah satu kebutuhan terkini terhadap fenomena kunjungan ulang adalah kajian Gitelson dan Crompton (1984) tentang pemasaran liburan berulang dan implikasi pemasarannya. Mereka melaporkan, banyak atraksi dan daerah tujuan wisata seperti pantai atau resor memotivasi untuk melakukan kunjungan ulang.

Selain itu mereka juga menyebutkan lima alasan orang melakukan kunjungan ulang: Pengurangan resiko/isi destinasi tertentu; pengurangan resiko/mencari orang yang sama; perasaan emosional terhadap suatu tempat; eksplorasi lanjutan terhadap suatu destinasi; menunjukan destinasi kepada orang lain. Menginvestigasi peran novel dalam perjalanan yang menyenangkan, Bello dan Etzel (1985) menyatakan bahwa orang dengan penghasilan yang rendah dalam kehidupan sehari-harinya akan mencari liburan yang berkelas dalam liburannya (perjalanan novel), yang mana orang-orang yang hidupnya pasang-surut dengan berbagai masalah dan tantangan akan mencari liburan yang menyediakan stimulasi yang minimum atau sesuai dengan keberadaannya.

Penelitian Fakeye dan Crompton terhadap bukan pengunjung, dan pengunjung pertama dan pengunjung berulang menyarankan bahwa citra yang berbeda dan lebih kompleks dari daerah destinasi berkembang ketika pengunjung tersebut telah menghabiskan waktunya beberapa kali di daerah tersebut. Tetapi, kajiannya juga menyatakan bahwa kebanyakan dari perbedaan dan perubahan citra dapat ditemukan pada kunjungan awal; kunjungan ulang selanjutnya cendrung untuk memastikan citra-citra yang dibuat.

Ryan (1995) melaporkan munculnya kunjungan ulang yang tinggi di antara pengunjung dewasa di pulau Mediterrancan Majorca. Hanya sepertiganya yang belum pernah berkunjung ke sana, sepertiganya lagi pernah berkunjung ke sana satu atau dua kali dan sepertiganya lagi sudah sering berkunjung ke sana. Pada kenyataannya, dilaporkan bahwa 10% dari pengunjung telah berkunjung ke pulau tersebut paling tidak satu kali dalam lima tahun sebelumnya, ini menyatakan segmen loyalitas konsumen.

Ryan menyatakan bahwa loyalitas yang tinggi sesuai dengan teori-teori resiko kebencian dan pentingnya pengalaman liburan yang memuaskan dalam menentukan pilihan destinasi. Selanjutnya, Ryan menyatakan bahwa beberapa responden melaporkan identifikasi yang kuat dengan pulau tersebut dan apa yang disajikan di pulau tersebut.

One thought on “Bali Tourism Watch: Membandingkan Pola Kegiatan Wisatawan gang Datang Pertama Kali dengan yang Sudah Pernah Datang

  1. selo yudibrata says:

    pariwisata adalah salah satu bidang yang saya minati, dengan membaca artikel saudara, saya banyak mendapat pengetahuan mengetahui pariwisata bali dan indonesia pada umumnya.
    ada sesuatu yang menjadi pertanyaan bagi saya, dari sekian banyak definisi pariwisata…menurut saudara,apakah arti atau nilai pariwisata bagi orang indonesia pada umumnya?
    terimakasih

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s