Bali Tourism Watch: Pariwisata dan Perdamaian

Oleh : I Made Ardana Putra

I have watched the cultures of all lands blow around my house and other winds have blown the seeds of peace, for travel is the language of peace.
(Mahatma Gandhi)

BALI memiliki budaya unik yang beragam, estetis dan alam yang masih alami menjadikan begitu terkenal sebagai salah satu tujuan wisata dunia. Aderhold (1999) berpendapat posisi jual yang unik (unique selling position) mencakup kehidupan beragama, adat, kesenian, kerajinan tangan, dan keramahan masyarakat.

Kepopuleran nama itu sudah disandang sejak tahun 1900-an. Ketika itu diawali oleh Belanda yang berhasil menaklukkan Bali Selatan. Walaupun dengan perjalanan laut, agen-agen perjalanan dan akomodasi sudah memperkenalkan paket perjalanan untuk beberapa hari. Tentu saja, jumlah wisatawan yang berkunjung tidak sebanyak saat ini. Mereka berjumlah hanya ratusan orang setiap tahun.

Berapakah jumlah kunjungan wisatawan tahun-tahun terakhir ini? Menurut data Diparda Bali (2001) jumlah wisatawan sebanyak 1.356.774 dengan tingkat pertumbuhan menurun sebanyak (-3,97) dibandingkan tahun 2000 sebesar (4,21). Kunjungan yang rata-rata meningkat setiap tahun itu, jumlah kunjungan mulai mencapai satu juta wisatawan lebih setiap tahun sejak 1994. Kunjungan wisatawan untuk tahun ini, terutama sejak ledakan bom di Jalan Legian Kuta (12/10) dapat dipastikan jumlah kunjungan menurun dibandingkan tahun-tahun sebelum.

Wajar saja, begitu ledakan, kepanikan terjadi di mana-mana. Ledakan di tempat strategis yang menewaskan kebanyakan wisatawan asing itu, dalam hitungan menit menyebar ke seluruh dunia. Bandara Ngurah Rai sebagai pintu masuk dan keluar wisatawan asing keesokan harinya telah disesaki penumpang untuk kembali ke negeri masing-masing. Ada beberapa negara, dengan alasan kemanusiaan untuk melindungi warga negaranya terpaksa mengirimkan extra flight. Wisatawan yang datang dapat dihitung dengan jari. Ternyata, bom yang diperkirakan seberat 100 kg meledak menimbulkan ketidaknyamanan dan kedamaian, khususnya bagi wisatawan asing. Potensi kepariwisataan yang dimiliki untuk menahan wisatawan tinggal lebih lama di Bali gagal total karena ulah manusia yang dinamai teroris.

Secara teoritis landasan seseorang memutuskan untuk bepergian ke suatu tujuan adalah (a) keamanan merupakan sarat yang paling pokok sebagai tujuan wisata, (b) akses transportasi (udara, laut) untuk berangkat dan kembali ke rumah, (c) fasilitas penunjang dan pelengkap yang terdapat di daerah tujuan wisata itu seperti transportasi lokal, akomodasi, cenderamata, komunikasi dan (d) atraksi wisata yang unik, otentik, dan asli yang dapat dilihat dan dirasakan oleh wisatawan. Terjadinya extra flight lalu jelas sebagai akibat dari ketidaknyamanan oleh pascaledakan. Ketidakpastian keadaan inilah dan ditambah oleh travel warning beberapa negara dari pemasok wisatawan.

Titik-titik terang kebangkitan kepariwisataan ini mulai tumbuh, ketika pelaku-pelaku peledakan mulai teridentifikasi satu demi satu oleh kerja keras aparat keamanan dan jajarannya. Tanda-tanda itu terlihat dari sejumlah negara yang mulai mencabut travel warning untuk Bali. Indonesia, demikian Pulau Bali, kehadiran wisatawan di atas memberikan kontribusi yang besar terhadap kelancaran ekonomi masyarakat. Terutama daerah-daerah yang sudah menjadi kawasan pariwisata dan yang baru berkembang.
Di antara pengaruh positif dan negatif terhadap sosial-budaya masyarakat sudah banyak dibicarakan pakar dan cendekiawan baik di media cetak, elektronik dan pertemuan ilmiah seperti seminar, simposium dan seterusnya. Sebaliknya pembicaraan pakar terhadap kaitan pariwisata dan perdamaian masih minim. Sebenarnya keberadaan pariwisata baik industri dan wisatawan berjasa untuk memperkenalkan diri, memahami antarmasyarakat lokal dan wisatawan asing yang secara tidak langsung bisa melahirkan persahabatan untuk hidup bersanding. Dengan kata lain kepariwisataan dapat menciptakan kedamaian dunia.

Kasus 12 Oktober lalu dapat digunakan sebagai contoh, masyarakat lokal tidak ada yang terpancing untuk melakukan kekerasan, walaupun tanah kelahiran dan penghidupan diporakporandakan. Saat itu tidak terdengar adanya penjarahan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat lokal Kuta telah menyadari bahwa faktor keamanan menjadi ukuran utama wisatawan untuk berkunjung. Kasus Kamis Kelabu 1999, ketika kerusuhan terjadi di Bali, masyarakat memblokir dan menjaga wilayah agar aman dari kerusuhan.

Duta Bangsa
Kepariwisataan dapat digunakan alat sebagai duta-duta bangsa. Keberadaannya dapat diumpamakan sebagai sebuah mesin penggerak pemahaman dunia luar (internasional), dan sekaligus perdamaian yang telah dirancang oleh badan dunia seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tahun 1980-an telah berlangsung Konferensi International Kepariwisataan di Manila yang mendeklarasikan, ”dunia pariwisata dapat dijadikan elemen penting untuk perdamaian dunia”. Pengakuan peran penting pariwisata dalam peningkatan perdamaian dunia telah pula dicetuskan melalui ”Columbia Charter”, yang telah dipersiapkan pada First Clobal Conference: Tourism – A Vital Force for Peace, yang berlangsung di Vancouver tahun 1988.

Selain itu, banyak tokoh dunia mengakui keuntungan dan sifat kepariwisataan. Mendiang Presiden Amerika Serikat John F. Keneddy menegaskan commitment terhadap dunia perpelancongan. Dia mengatakan:
Perjalanan menjadikan satu kekuatan besar dalam perdamaian dan memahami masing-masing dari kita. Sebagai manusia yang hidup berpindah-pindah di dunia dan belajar untuk mengenal orang lain, agar bisa mengerti kebiasaan satu dengan lainnya dan saling dapat menghargai adat kebiasaan yang lain, dan dapat menghargai kualitas dari masing-masing orang dan negara yang berbeda. Kita sedang menumbuhkan saling pengertian internasional yang dapat dengan tepat memperbaiki suasana perdamaian dunia. (Keneddy, 1063).

Sementara itu, memang ada pengakuan adanya kontribusi dari sektor kepariwisataan terkait dengan perdamaian dunia. Disadari betul oleh Var, dkk. (1999), sampai saat ini memang sedikit penelitian berbicara terkait dengan bidang ini. Dalam penelitian mereka menemukan ada korelasi positif bahwa pariwisata mempercepat saling pengertian. Pakar pariwisata Revolstad (1988) menemukan bahwa salah satu tujuan perjalanan masyarakat Amerika ke luar negeri adalah untuk mengenal lebih dalam budaya masyarakat dari negara yang dikunjungi. Kondisi ini memberikan iklim kondusif untuk membangun hubungan yang harmonis.

Bagaimanapun, pertanyaan yang nyata akan lahir pula: Apakah kepariwisata meningkatkan perdamaian? Belum dapat terjawab secara tegas atau diperlihatkan melalui penelitian emperis. Perdamaian dunia merupakan sifat yang tidak terlihat, sebagai akibat dari dampak langsung pariwisata. Ini merupakan satu konsep yang masih sulit untuk diukur. Sementara itu, masyarakat umum mengakui bahwa kemunculan pariwisata sebagai tonggak awal perdamaian.

Adalah Din (1998) mengemukan bahwa keinginan uiniversal adalah perdamaian. Hasrat untuk meraih jalan itu salah satu adalah melalui pariwisata yang dapat memahami perbedaan budaya sebagai prasarat utama. Pernyataan yang sama dikatakan Barlow (1998) bahwa: pariwisata merupakan jalan panjang menuju perdamaian sebelum diterima secara menyeluruh sebagai kekuatan yang bisa membantu manusia mendekati kenyataan damai dan harmonis.

Seandainya industri-industri pariwisata dan pelaku-pelakunya menjaga kredibilitas dan selanjutnya mendukung perdamaian dunia sebagai sifat positif dari kepariwisataan, untuk mengukur pengaruh dan hubungan antara pariwisata dan perdamaian akan terlihat dengan jelas. Ini menciptakan pertanyaan serius; apakah promosi perdamaian dunia sebagai sifat pariwisata yang sebenarnya, atau apakah ini hanya sebagai kata-kata pemanis di bibir.

Dalam dunia kepariwisataan dikenal ada 3 jenis hubungan yang bersifat internasional yang telah diidentifikasikan oleh Matthews (1978). Pertama, hubungan antarpribadi dari satu warga negara dengan warga negara lain yang berbeda, baik pengalaman hidup maupun budaya. Kedua, hubungan internasional antarsatu pemerintah dengan pemerintah lain yang terikat oleh hubungan bisnis dan industri. Satu pemerintahan memiliki perjanjian kerja untuk penerbangan, keimigrasian, bea cukai dan proses pajak ganda. Ketiga, sektor corporate — hubungan internasional dari tataran pemerintah dimana kepariwisataan ditemukan sebagai suatu kerja sama pemerintah dengan investor-investor asing. Contoh dari hubungan ini mencakup usaha penerbangan, bank, hotel dan tour operator dan industri yang lain.

Hubungan antarpribadi pada tataran pertama dikatakan dapat lebih menuju kepariwisataan dan perdamaian. Persahabatan ini sebagai sesuatu penghargaan yang dapat menguji hubungannya. Satu argumentasi dikemukakan persepsi individu menginginkan keterjalinan yang selalu harmonis. Dengan kata lain, perdamaian itu dipandang sebagai keadaan kelompok bukan pribadi-pribadi. Sebagai pertimbangan, pandangan dari seseorang terhadap masalah ini sangat didasari oleh konsep pemikiran yang positif demi keharmonisan. Ini bisa terjadi antarindividu dengan individu, antarkelompok dengan kelompok atau pada dua level hubungan internasional lainnya.

Saling Pengertian
Memang belum banyak penelitian adanya pengaruh positif sosial, budaya dan politik dari kepariwisataan terhadap fungsi dan kontribusi perdamaian dunia. Banyak penelitian menunjukkan segi negatif pariwisata terhadap sosial dan budaya masyarakat. Namun, banyak pula hasil penelitian yang meyakinkan bahwa pariwisata menumbuhkan saling pengertian antarmanusia yang berbeda kebangsaan. Selain itu, Bloomstrom (1978, 1979) mewartakan bahwa kepariwisataan dapat membawa saling pengertian dan kemakmuran kalau pariwisata dirancang, diorganisir dan dikelola dengan baik.

Terkait dengan pengertian ini, D’Amore (1988) menguraikan dua hal pokok dalam konsep kepariwisataan. Pertama, mengenalkan pertukaran budaya sebagai alat untuk memperkecil perbedaan antara individu dengan individu yang berbeda bangsa. Kedua, pariwisata merupakan cara terbaik untuk mengembangkan saling pengertian individu atau masyarakat yang berbeda sebagai akibat dari kontak lintas budaya. Adanya dua aspek ini perlu dikondisikan agar selalu menunjukkan keharmonisan dan berjalan dengan baik.

Kemudian, tidaklah begitu berlebih, apabila pernyataan D’Amore dapat digunakan sebagai variabel kuantitatif dari hubungan di antara pariwisata dan perdamaian dunia. Bersandingnya ribuan umat dari berbagai suku, ras, agama, kebangsaan pada Upacara Pamarisudha Karipubhaya, Jumat (15/11) di Kuta dapat secara langsung menimbulkan saling pengertian akan perbedaan-perbedaan budaya yang dimiliki.

Penulis Kandidat Doktor di Program Pascasarjana, Kajian Budaya Unud, staf pengajar Politeknik Negeri Bali.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s