Bali Tourism Watch: Isu-isu Seputar Dharma Santih Nasional Tahun 2007

Oleh: I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata
Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________

Isu-isu Seputar Dharma Santhi Nasional Tahun 2007
dalam Rangka Peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1929
di Ardha Chandra, Taman Budaya, Denpasar-Bali.

Sebagai pulau yang sering disebu-sebut sebagai seribu pura (island of thousand temples) dan pulau dewata (the island of God), Bali tak henti-hentinya mengadakan upacara yadnya dan ritual keagamaan lainnya demi keberlanjutan (kerajegan) budaya, agama, dan adat istiadat Bali.

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat memilih dan menetapkan Bali sebagai tempat penyelenggaraan Dharma Santih Nasional Tahun 2007 yang tahun sebelumnya (2006) diadakan di Sulawesi dan perayanaan Dharma Santhi sebelumnya diselenggarakan di provinsi-provinsi lainnya di Indonesia secara bergiliran. Event ini sangat tepat dilaksanakan di Bali mengingat perubahan-perubahan yang terjadi dalam dasa warsa terakhir terutama perubahan alam, budaya, dan prilaku yang mungkin disebabkan karena imbas reformasi dan globalisasi.

Setidaknya ada beberapa hal yang disampaikan dalam acara puncak Dharma Santih, antara lain makna Hari Raya Nyepi dan Dharma Santih, Tat Twam Asi, dan Tri Hita Karana. Misi yang yang digemakan dalam perayaan tersebut memiliki makna yang sangat tinggi untuk memanusiakan manusia-manusia yang prilakunya sudah menyimpang dari prilaku manusia yang sebenarnya.

Nyepi merupakan salah satu hari raya umat Hindu di Indonesia yang bertujuan untuk memperoleh ketenangan dengan cara melakukan Catur Brata Penyepian yang mencakup: (1) Tidak menyalakan api (amati geni), Api yang dimaksud sebenarnya bukanlah semata-mata api fisik yang bisa menyala dan berkobar tetapi api yang ada dalam diri manusia yang sering kali membangkitkan rasa emosi dan kemarahan; (2) Tidak bekerja (amati karya), dilakukan untuk memberikan kesempatan badan manusia yang fisik dan non fisik untuk beristirahat secara total; (3) Tidak bersenang-senang atau menikmati hiburan dalam bentuk apapun (amati lelanguan), yaitu pengendalian untuk tidak menikmati hiburan fisik seperti mendengarkan musik, menonton televisi, dan bermain handphone begitu juga pikiran dan ilustrasi manusia yang sering kali menerbangkan manusia ke alam tidak nyata atau mimpi terhadap kesenangan; dan (3) Tidak bepergian (amati lelungaan), yaitu upaya untuk mengendalikan diri atau fisik dan pikiran manusia untuk melakukan aktivitas perjalanan. Secara fisik dapat dilakukan dengan cara mengurung diri dalam kamar atau rumah, namun yang agak susah adalah menghentikan pikiran manusia yang selalu terbang ke mana-mana.

Secara harpiah, Dharma Santih berasal dari dua kata yaitu; Dharma yang berarti pengabdian atau melakukan sesuatu dan Santhi yang berarti damai atau tulus. Jadi, Dharma Santih merupakan upaya untuk memupuk prilaku yang tulus dan iklas serta tanpa pamrih. Sebagai contoh, memaafkan seseorang yang pernah melukai atau menyakiti prasaan atau berbuat sesuatu yang jahat pada diri kita sehingga terjalin hubungan yang baik dan erat kembali dan selanjutnya diajak untuk saling mengasihi. Contoh lain adalah menghaturkan persembahan kepada Tuhan. Memuja kebesaran Tuhan harus dengan penuh ketulusan dan keiklasan. Artinya walaupun hanya sedikit hal yang bisa dipersembahkan kepada Tuhan namun didasari dengan ketulusan dan keiklasan akan jauh lebih berarti dan bermakna dibandingkan dengan persembahan dalam skala besar namun tidak didasari atas rasa iklas dan tulus.

Perselisihan dan konflik antar warga yang semakin sering terjadi akhir-akhir ini di Indonesia khususnya Bali merupakan salah satu indikasi bahwa pemaknaan dan pelaksanaan konsep Tat Twam Asi sudah semakin usang dan luntur. Tat Twam Asi berarti aku adalah kamu dan sebaliknya kamu adalah aku. Ini merupakan konsep yang mengajarkan kasih sayang antar sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Dalam Bhagawad Gita secara tegas disebutkan bahwa “lakukanlah segala sesuatu hanya semata-mata untuk diriKu karena dalam setiap dirimu ada diriKu”. Yang dimaksudkan “Aku“ adalah Tuhan. Artinya, di dalam setiap makhluk hidup di dunia ini diciptakan oleh Tuhan dan ada Tuhannya. Kutipan di atas sangatlah jelas mengarahkan manusia untuk saling mencintai dan menyayangi antar sesama ciptaan Tuhan karena jika melakukan hal-hal yang menyakiti sesama berarti menyakiti Tuhan.

Seandainya saja semua orang Hindu di Bali bisa menerapkan konsep Tat Twam Asi ini, maka tidak akan pernah ada kasus-kasus seperti; pelarangan penguburan dan pembakaran mayat di Gianyar dan Tabanan, perusakan dan pembakaran rumah dari Kasta (bukan warna) Brahmana di Klungkung, dan berdirinya Parisada Hindu Dharma Bali (PHDB) yang secara jelas mengkotak-kotakan pemeluk Agama Hindu di Indonesia karena PHDB sama sekali tidak universal yang secara terang-terangan tugasnya disebutkan untuk mengurus pemeluk Agama Hindu yang menggunakan sarana sesajen atau banten atau wali atau Bali.
Sedangkan pemeluk Agama Hindu yang tidak menggunakan banten di luar tugas dan tanggung jawabnya (Dharma Wacana di Bali TV, 30 April 2007).

Jadi singkatnya, PHDB tidak mengakomodasi aspirasi seluruh pemeluk Agama Hindu di Indonesia dan berbeda dengan visi dan misi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) yang sangat universal dan menyeluruh (holistic) yang mengakomodasi aspirasi dan kepentingan umat Hindu di seluruh Indonesia tanpa memandang latar belakang suku dan sarana yang digunakan untuk melakukan persembahan kepada Tuhan.

Permasalahan-permasalahan tersebut secara jelas menggambarkan bahwa tidak ada lagi rasa saling menyayangi dan mengasihi, yang ada hanyalah perbedaan yang yang berujung pada perselisihan dan konflik antar masyarakat.

Selain konsep Tat Twam Asi, masih ada satu konsep lagi yang berupaya untuk memupuk rasa saling cinta dan kasih sesama ciptaan Tuhan yaitu konsep Tri Hita Karana. Konsep ini beresensi pada keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan antara manusia dengan lingkungan.

Hubungan antara manusia dengan Tuhan sudah tidak diragukan lagi. Ini dapat dilihat dengan nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dalam setiap kegiatan selalu diawali dengan doa atau upacara keagamaan yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan anugerah dari Tuhan. Umat Hindu Bali melakukan persembahan dengan menghaturkan berbagai jenis sesaji (banten) begitu juga Umat Hindu non Bali melakukan persembahan dengan doa-doa atau sarana yang lainnya.

Hubungan manusia dengan sesama manusia masih tetap terjalin dengan baik, tetapi dalam beberapa kasus tidak dapat dipungkiri bahwa hubungan antar sesama nampaknya sudah agak memudar sebagaimana dijelaskan pada pembahasan Tat Twam Asi di atas. Mengingat pentingnya hubungan manusia dengan sesama ini, maka disarankan kepada semua manusia khususnya Umat Hindu di manapun berada agar mulai introspeksi diri (mulat sarira) dengan menilai segala perbuatan yang telah dilakukan selama ini dan kembali ke Ajaran Dharma dan konsep Tat Twam Asi sehingga terjalin hubungan yang harmonis antar sesama manusia. Adakah dalam setiap pikiranmu untuk hidup di dunia ini dengan tenang dan damai?

Hubungan manusia dengan alam atau lingkungan sudah semakin tidak harmonis. Manusia sudah mulai merusak alam seperti penebangan hutan untuk kepentingan bisnis jual-beli kayu dan perluasan areal pertanian, pengalihan fungsi lahan produktif menjadi pembangunan gedung-gedung untuk perumahan dan perkantoran, dan reklamasi (perluasan daratan dengan menimbun laut) yang mengakibatkan abrasi (pengikisan) pantai. Alampun melakukan hal yang sama kepada manusia sehingga manusia harus menghadapi berbagai cobaan seperti; kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, dan tsunami yang mengakibatkan kerugian harta dan benda serta melayangkan ribuan dan bahkan jutaan nyawa manusia.

One thought on “Bali Tourism Watch: Isu-isu Seputar Dharma Santih Nasional Tahun 2007

  1. Ketut Manik says:

    Terbentuknya PDHB merupakan kemunduran dan pembodohan yang luar biasa. Yah, namanya juga jaman Kali… Mari kita berdoa supaya mereka (PDHB) diberikan pikiran yang jernih dan nalar yang sehat….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s