Tentang Prosesi Pernikahanku

Tak terasa lamanya hidup menyendiri dan membujang selama 15 tahun sejak aku menjadi bujangan. Pacar berganti pacar, silih berganti, dan akhirnya berakhir di tengah jalan. Namun tidak untuk pacarku yang satu ini “Ni Putu Indah Indrayanti” . Memang aku harus mengakhiri masa pacaranku dengannya dan kulanjutkan ke jenjang hubungan yang lebih dekat dan istimewa yang diwujudkan dalam ikatan perkawinan.

Setelah lama mengenalnya (kurang lebih 2 tahun) baru aku memutuskan untuk menjalin hubungan cinta dengannya yang berawal kira-kira bulan Oktober 2006. Aku ngak ngerti, cintaku dengannya benar-benar tidak berawal dan sampai sekarang aku ngak tau kapan aku menyatakan cinta. Mudah-mudahan aja cintaku dengannya juga tak kan pernah berakhir.

Hanya kedekatan dan keterbukaan di antara aku dan dialah yang menyatukannya. Sejujurnya, aku cinta dan sayang dia. Namun itu semua tak pernah terucap dari mulutku. Aku cuma menunjukan rasa cinta dan sayangku dengan memberikan perhatian dan segala sesuatu yang kumiliki dengan iklas dan ketulusan hatiku alias tanpa pamerih. Mungkin saja ini yang menyebabkan dia tak pernah bertanya padaku apakah cinta dan sayang padanya. Kurasa dengan perhatian dan perlakuan yang iklas sudah cukup untuk mempercayai aku sebagai orang yang dicinta.

Setelah menjalin hubungan selama 8 bulan akhirnya aku dan dia memutuskan untuk sama-sama mengakhiri masa lajang dan kemudian menikah. Prosesi pernikahanku dengannya adalah sebagai berikut:

1.Tanggal 7 Juni 2007, upacara “ngendek” yaitu peminangan secara kekeluargaan dan menentukan waktu dan sarana upacara untuk prosesi selanjutnya. Dilakukan juga acara tukar cincin. Dilaksanakan di Banjar Jawa-Kota Singaraja. Dihadiri oleh semua keluarga dekatku dan keluarga dekatnya. Acara ini juga bertujuan untuk saling memperkenalkan diri untuk memasuki anggota keluarga yang baru. Dihadiri sekitar 50 orang keluarga dekat.

2.Tanggal 18 Juni 2007, upacara “ngidih, mepamit, dan merebu atau mebyakaon”. Upacara ngidih dilakukan oleh para pengelingsir dan tokoh adat dari kampungku dan kampungnya. Upacara mepamit merupakan upacara pamitan secara keagamaan dari pura keluarganya dan kemudian dipindahkan ke pura keluargaku. Upacara ngidih dan mepamit dilaksanakan di Banjar Jawa-Singaraja. Upacara merebu merupakan upacara pengesahan hubungan pernikahan yang disaksikan oleh masyarakat, tokoh adat dan keluarga sehingga hubungan pernikahannya dinyatakan sah dan resmi. Upacara merebu dilaksanakan di kampung nenek moyangku yaitu di Banjar Pesangkan, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karang Asem, Provinsi Bali. Dihadiri oleh 280 orang yang terdiri dari anggota Banjar Jawa (50 Kepala Keluarga) dan anggota Banjar Pesangkan (90 Kepala Keluarga).

3.Tanggal 15 Juli 2007, upacara “mewidhi-widhana atau mebantalan. Merupakan upacara puncak atau tertinggi dalam pernikahan. Disaksikan oleh masyarakat dan tokoh adat serta keluarga sebagai saksi di dunia. Disaksikan oleh banten atau sesajen sebagai saksi di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wase (Tuhan). Disaksikan juga oleh para bhuta kala yang diwujudkan dengan mempersembahan “segehan” dan “pecaruan”. Acara ini dilaksanakan rumah orang tuaku di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Dihadiri oleh semua anggota Banjar Pesangkan dan undangan bapakku yang berjumlah 200 orang dan anggota muda-mudi Ikatan Remaja Pesangkan (IKRAP) yang berjumlah 60 orang.

4.Hari Minggu, tanggal 29 Juli 2007, acara resepsi kecil-kecilan. Undangannya adalah teman-teman kerja, keluarga, dan teman-teman lamaku. Diadakan di rumah kakakku di Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No.5, Banjar Poh Manis, Kelurahan Dangin Puri, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar. Dihadiri oleh teman-temanku dan istriku berjumlah 250 orang.

Panjangnya prosesi dan sucinya pernikahan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dan acuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Semoga “awigenam astu” Ida Sang Hyang Widhi Wase memberkati dan memuluskan semua rencanaku ini dan menjauhkan segala macam rintangan dan hambatan yang dapat mengganggu acaraku.

Akhir kata, I Nengah Subadra dan keluarga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu acara pernikahan dari awal sampai akhir. Hanya karena bantuannyalah acara pernikahan saya dapat berjalan dengan sukses dan lancar tanpa halagan apapun.

Tuhan, hanya kepadaMu aku memohon. Semoga hubungan pernikahanku dengan dia berjalan dengan baik dan langgeng sampai akhir hayatku.

Wedding Party

Wedding Party

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s