Bali Tourism Watch: Tourisme, Teledorisme dan Terorisme di Bali

January 16, 2009 at 11:20 pm (Uncategorized)

Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________

Sebagai daerah tujuan wisata yang bertaraf internasional yang memiliki keunikan budaya, keindahan alam dan masyarakat yang ramah , Bali telah dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia Eropa, Asia, Afrika dan Australia. Pesatnya pertumbuhan pembangunan pariwisata dan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali disikapi dengan positif oleh masyarakat lokal dan menganggap fenomena yang terjadi sebagai peluang emas yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejastraannya.

Masyarakat lokal memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata mulai dari perencanaan (planning), pengembangan (development), pengawasan (supervision) dan pengevaluasian (evaluation) program pengembangan pariwisata. Keterlibatan masyarakat lokal yang paling menonjol adalah dalam pengembangan pariwisata, baik pengembangan sarana utama pariwisata seperti akomodasi dan restoran sarana penunjang pariwisata seperti art shop, tempat penukaran uang, toko dan lain-lain; sedangkan peran yang lainnya masih sangat kecil. Adanya beberapa jenis usaha yang digeluti oleh masyarakat lokal tersebut menggambarkan bahwa peran serta masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata dapat ditemukan pada sektor formal dan tidak formal.

Namun, ada beberapa hal penting yang dilupakan oleh masyarakat lokal sehubungan dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata di Bali sehingga dapat mengakibatkan gangguan dan bahkan ancaman terhadap keberlanjutan pariwisata Bali. Kesempatan untuk membuka usaha-usaha kecil seperti pedagang kaki lima misalnya, selain memberikan dampak positif berupa sumber penghasilan bagi pedagangnya, tetapi juga memunculkan dampak negatif seperti kemacetan lalu lintas dan lingkungan nampak kumuh. Ini merupakan salah satu bentuk keteledoran pemerintah dan masyarakat lokal yang menganggap remeh permasalahan ini. Jika ini terus dibiarkan, maka lama-kelamaan akan semakin banyak objek-objek wisata yang akan ditinggalkan karena para wisatawan sudah tidak nyaman lagi melihat pemandangan ini.

Contoh keteledoran lain yang dapat dilihat dengan nyata adalah dalam sistem keamanan. Tidak adanya sistem pengamanan yang menyeluruh (holistic) yang melibatkan aparat pemerintah dan masyarakat merupakan salah satu penyebab dari adanya gangguan keamanan dan serangan terorisme. Mobilitas penduduk juga tidak didata dengan baik sehingga tidak diketahui secara pasti indentitas dan tempat tinggalnya. Yang terjadi sekarang ini, aparat Desa Dinas dan Desa Adat yang diwakili Pecalang hanya memungut uang yang jumlahnya cukup besar setiap bulannya kepada penduduk pendatang tanpa mendata lebih jauh identitas penduduk yang bersangkutan. Sehingga sering kali penduduk pendatang menghindar dari pungutan rutin ini. Semestinya, yang lebih penting adalah pendataan indentitasnya untuk mengetahui secara pasti maksud dan tujuannya menetap dalam jangka waktu tertentu di suatu daerah, bukan jumlah uang yang diperoleh dengan dalih untuk kepentingan keamanan.

Melihat fakta ini, dapat dikatakan bahwa sistem keamanan di Bali masih sangat lemah. Buktinya, banyaknya wisatawan asing yang berkunjung untuk menikmati potensi pariwisata Bali tersebut di atas dan berbagai jenis hiburan tradisional serta dunia gemerlap (dugem) dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara melakukan tindakan kriminal dan yang memakan korban dalam jumlah yang sangat banyak serta gangguan keamanan yang mendapat kecaman dan kutukan dari hampir semua negara di dunia. Serangan bom yang dilakukan oleh para terorist pada bulan Oktober 2002 contohnya, telah mengakibatkan kerugian material, trauma berkepanjangan, cacat tepat, dan korban nyawa manusia.

Peledakan bom tersebut bukan hanya mendapatkan respon dari pemerintah daerah dan pusat saja, tetapi juga dari negara-negara di dunia khususnya negara yang warga negaranya menjadi korban peledakan. Negara-negara internasional mengutuk keras tindakan anarkis yang dilakukan para teroris tersebut dan beberapa di antaranya mengirimkan bantuan dan pertolongan medis sebagai bentuk simpati terhadap tragedy yang terjadi. Negara Australia misalnya, dengan terbuka negara ini mengulurkan bantuan untuk membantu penanganan para korban yang tidak bisa lagi diobati di rumah sakit yang ada di Bali. Keprihatinan negara asing terhadap peledakan bom tersebut juga dibuktikan dengan adanya negara-negara asing yang mengirimkan bantuan inteligen dan tim forensik yang ahli dalam bidang penginvestigasian dan pengungkapan kasus kejahatan.

Tragisnya peledakan bom tersebut secara langsung berdampak terhadap pariwisata khususnya di Bali. Jumlah keberangkatan (depature) wisatawan di Bandar Undara Internasional Ngurah Rai meningkat dengan pesat. Banyak wisatawan asing segera meninggalkan Bali untuk menghindari serangan bom susulan dan karena rasa takut yang berlebihan. Sebaliknya kedatangan (arrival) wisatawan asing menurun secara drastis karena para calon wisatawan yang akan datang ke Bali membatalkan rencana perjalanan liburannya ke Bali setelah mendengar berita di media massa dan internet bahwa Bali dalam keadaan tidak aman yang dipertegas lagi dengan dikeluarkannya surat-surat seperti saran untuk tidak berkunjung (travel advisory), peringatan berkunjung (travel warning) dan larangan berkujung (travel banned) oleh beberapa negara asing yang warga negaranya menjadi korban dalam tragedi bom tersebut.

Usaha keras pemerintah, industri pariwisata, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, wisatawan dan masyarakat lokal dalam memulihkan kondisi pariwisata di Bali pasca bom Bali I cukup membuahkan hasil. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada saat diterapkanya program Bali Recovery. Tetapi kemampuan para stakeholders pariwisata tersebut diuji kembali dengan adanya peledakan bom yang kedua kali di Raja’s Cafe, Kuta dan Banega Cafe, Jimbaran yang juga memakan korban harta, benda dan nyawa manusia. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada peledakan bom kembali di Bali jika tidak dilakukan perbaikan dalam sistem keamanan dengan segera.

Jadi, untuk menjaga citra dan keberlanjutan pariwisata Bali yang sudah dikenal dengan keunikan budaya, keindahan alam dan keamanan daerahnya maka perlu adanya keterlibatan seluruh stakeholder pariwisata (pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, industry pariwisata, masyarakat dan wisatawan) untuk menjaga kebersihan dan keamanan di Pulau Bali.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: EFA Pendobrak Kesenjangan Sosial, Budaya dan Ekonomi

April 9, 2008 at 7:08 am (Uncategorized)

Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________

Tingginya jumlah penyandang buta huruf di dunia yang empat puluh persennya berada di negara-negara peserta konferensi internasional Education for All (EFA). Permasalahan pendidikan memerlukan penanganan yang sangat serius dan mendesak karena dengan adanya kesempatan untuk mengenyam pendidikan akan membantu meningkatkan kualitas hidup, harkat dan martabatnya sebagai manusia yang berbudaya.

Sebenarnya telah banyak yang upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mengentaskan buta huruf, tetapi upaya yang dilakukan tersebut belum maksimal sehingga di beberapa daerah di Indonesia memiliki angka buta huruf yang cukup tinggi. Program pendidikan wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan dan diterapkan oleh Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah juga belum mampu menyentuh semua lapisan masyarakat karena mereka umumnya masih terhambat dengan permasalahan biaya pendidikan yang pada kenyataannya bahwa untuk mengenyam pendidikan di sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) saja harus mengeluarkan biaya yang sangat tinggi terutama bagi masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi dan berpenghasilan rendah sehingga tidak jarang ditemukan anak-anak mereka memilih untuk berhenti sekolah dan berusaha bekerja untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan kemampuannya. Keterbatasan dalam mendapatkan akses pendidikan inilah yang menghantarkan generasi putus sekolah tersebut ke jurang kehidupan yang curam dan gelap. Selain pendidikan formal, pemerintah juga telah melakukan upaya lain seperti pembukaan program kejar paket A untuk SD, paket B untuk SMP, dan paket C untuk SMA. Sedangkan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan fisik dan mental telah dikembangkan juga beberapa sekolah luar biasa (SLB). Program-program pemerintah tersebut semata-mata ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, kualitas hidup dan kesejasteraan warga negara Indonesia.

Anggaran pendidikan sebesar 20% dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) belum bisa terealisasi sampai saat ini karena masih banyak permasalahan negara yang belum terselesaikan seperti keamanan, kemiskinan, infrastruktur dan kesehatan yang juga memerlukan dana yang cukup besar. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama negeri maupun swasta setidaknya merupakan salah satu bukti dari komitmen pemerintah untuk memberikan pendidikan murah kepada warga negara Indonesia. Dana ini ditujukan untuk mempersempit kesenjangan ekonomi di kalangan masyarakat sehingga semua warga negara Indonesia tidak perlu lagi memikirkan biaya sekolah sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan sampai dengan tingkat SMP. Walaupun penyaluran dan pengelolaan dana BOS telah melalui Komite Sekolah namun dalam penerapanya masih mengalami beberapa kendala dan fakta yang terjadi di lapangan bahwa masih banyak sekolah-sekolah yang memungut biaya pendidikan kepada siswa.

Penerapan program-program pendidikan pemerintah tersebut di atas diharapkan juga mampu menghapus kesenjangan hak antara laki-laki dan perempuan dalam bidang pendidikan. Buktinya, di sekolah-sekolah tidak lagi didominasi oleh murid laki-laki saja tetapi sudah banyak perempuan yang ikut serta menimba ilmu untuk kepentingan bersama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Kesamaan hak dalam memperoleh pendidikan sudah diaplikasikan di semua tingkat pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Dengan adanya kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan maka secara otomatis akan terjadi kesamaan kesempatan dalam merebut peluang kerja dan memegang posisi dalam suatu perusahaan.

Kualitas dan outcome pendidikan sangat tergantung dari kualitas pendidik (guru atau dosen) dan tenaga kependidikan (petugas administrasi). Semua pendidik harus memiliki kompetensi (skill, knowledge dan attitude) sehingga mampu bekerja secara profesional dalam bidang keilmuannya. Selain meningkatkan kompetensi, pemerintah juga berusaha keras untuk meningkatkan pendapatan para guru dan dosen dengan mengeluarkan kebijakan baru tentang sertifikasi guru dan dosen. Guru dan dosen yang lulus sertifikasi secara otomatis akan mendapatkan tambahan sebesar satu kali lipat dari gaji pokoknya. Dengan peningkatan pendapatan ini diharapkan para guru dan dosen mampu bekerja secara profesional untuk mendidik para tunas bangsa agar memiliki kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang cerah. Pelaksanaan sertifikasi guru tampaknya masih mengalami beberapa kendala karena tidak semua guru bisa mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program sertifikasi terutama bagi para guru yang memiliki pendidikan di bawah strata-1 sedangkan mereka sudah mengabdikan dirinya kepada negara selama puluhan tahun. Pemerintah semestinya mempertimbangkan dan memberikan perlakuan khusus bagi guru-guru yang telah lama mengabdi namun memiliki pendidikan di bawah dari yang disyaratkan untuk mengikuti sertifikasi. Jika tidak, akan terjadi kesenjangan pendapatan antara guru-guru baru yang memiliki pendidikan Strata-1 dengan guru-guru lama yang memiliki pendidikan lebih rendah.

Peningkatan kuantitas dan kualitas fasilitas dan sarana penunjang pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium dan buku juga akan membantu meningkatkan mutu pendidikan. Bagi sekolah yang terletak di perkotaan, umumnya sudah memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap dan modern bahkan beberapa diantaranya telah dilengkapi dengan sistem teknologi informasi dan akses internet. Sedangkan sekolah-sekolah yang terletak di daerah-daerah terpencil sering kali tidak memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap. Mereka hanya memiliki gedung sekolah yang terdiri dari ruangan belajar dan ruangan guru. Sebagai contoh, Sekolah Dasar yang terletak di Banjar Janglap, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Sekolah ini terletak di daerah perbukitan yang agak terpencil dan hanya memiliki tiga ruangan kelas belajar. Sebagaimana diketahui bahwa ruangan belajar yang dibutuhkan untuk Sekolah Dasar adalah minimal enam kelas (kelas I – VI). Usaha yang dilakukan untuk menutupi kekurangan ruang belajar tersebut adalah dengan membagi satu ruangan menjadi dua dengan papan/triplek. Ruangan belajar saja tidak cukup, apalagi fasilitas belajar yang lainnya? Namun patut diacungi jempol bahwa guru-guru dan murid-muridnya memililki semangat yang tinggi untuk bersama-sama berjuang mencerdaskan generasi penerus perjuangan bangsa ini.

Sebagai tuan rumah penyelenggara konferensi internasional EFA, Indonesia memiliki beberapa kepantingan antara lain; menunjukan kepada dunia bahwa Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang kuat dan sungguh-sungguh untuk meningkatkan mutu pendidikan, mengadopsi pola-pola pengembangan pendidikan dari negara yang telah memiliki kualitas pendidikan yang lebih tinggi, menjalin hubungan kerjasama untuk kepentingan pertukaran guru dan pelajar, serta merevisi jumlah penyandang buta huruf yang diharapkan bisa mengangkat posisi Indonesia ke peringkat yang lebih tinggi.

Permalink Leave a Comment

Learn Bahasa Indonesia in Bali

August 27, 2007 at 4:54 am (Uncategorized)

Learn Bahasa Indonesia at the Language Assistance

Pusat Private dan Terjemahan Bahasa Asing Tersumpah di Bali

Language Assistance (LA) is one of the foremost Indonesian and foreign language training centres in Denpasar, Bali-Indonesia. It focuses on personalised course (one student taught by one teacher) to optimize the outcome.

Please kindly CLICK HERE to see the details of Indonesian language course at the Language Assistance! Thank you.

Permalink Leave a Comment

Learn Bahasa Indonesia in Bali at Language Assistance

August 26, 2007 at 8:38 am (Uncategorized)

Learn Bahasa Indonesia at the Language Assistance

Pusat Private dan Terjemahan Bahasa Asing Tersumpah di Bali

Language Assistance (LA) is one of the foremost Indonesian and foreign language training centres in Denpasar, Bali-Indonesia. It focuses on personalised course (one student taught by one teacher) to optimize the outcome.

Please kindly CLICK HERE to see the details of Indonesian language course at the Language Assistance! Thank you.

Permalink Leave a Comment

JOGER’S MARKETING STYLE

May 12, 2007 at 12:48 pm (Uncategorized)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

JOGER’S MARKETING STYLE IS BASED ON THE SPIRIT OF HONEST, FRIENDLY, AND PLEASANT “DECEPTION” & MAKING OURSELVES HAPPY IN THE WIDE MEANING, INCLUDING MAKING “THE STAKEHOLDERS” HAPPY.

You may not agree to my opinion 100%, but according to my observation up to now (since 1980), there are apparently many businessmen tending to be deceived by unpretentious feeling because they do not honestly want to admit that the business world is actually the world of tricks among the stakeholders which is protected by laws and common sense and develops based on the principle of making each other happy.

Then (since 1987), based on the conscious mind and good goal, I dare to admit that marketing is actually “a deception” toward the stakeholders in a good way (honest, friendly, & useful), legally (not criminal), and pleasantly (making everyone happy), so that whoever we trick never feel to be deceived, even on the contrary, they feel happy, satisfied, and glad, and they will be back to us enforcedly to be tricked continuously.

And next, when they come back to their village or city of theirs happily and spiritedly and with the sense of belonging, they will tell their relatives and friends that do not want to believe directly, about their pleasant experience after being tricked by us. However, because they do not want to believe the story directly, then they feel necessary to come and see or experience “the deceptions” that we always do them more creatively and pleasantly.

Welcome to Joger, the factory of words, that has been applying “Happiness oriented” business concept, not “Profit oriented” which is not suitable with our idea. Please come by, see and feel the honesty, friendliness, and how naturally useful we are, and we are always ready to welcome you with the motto “Buying or not, always thank you!” See and compare the quality and price of our stuffs which are very bad and expensive freely, because in our place we display our stuffs openly and we give each stuff fixed price (not in the form of secret code), so that you can compare easily. As in our place, browsing and touching are still free of charge! (Joger 260503, morning)

PS:
In this case, the happiness of a businessman is how to make money honestly, friendly, and usefully in general according to the principles of need, properness, and our ability, so that we can properly be rich, without making or letting the other parts keep being poor or poorer and poorer.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Principles of Sustainable Tourism

May 12, 2007 at 12:33 pm (Uncategorized)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Principles of Sustainable Tourism

Its informative. Travelers not only learn about the destination, they learn how to help sustain its character while deepening their own travel experiences. Residents learn that the ordinary and familiar may be of interest and value to outsiders.
It supports integrity of place. Destination-savvy travelers seek out businesses that emphasize the character of the locale in terms of architecture, cuisine, heritage, aesthetics, and ecology. Tourism revenues in turn raise local perceived value of those assets.

It benefits residents. Travel businesses do their best to employ and train local people, buy local supplies, and use local services.
It conserves resources. Environmentally aware travelers favor businesses that minimize pollution, waste, energy consumption, water usage, landscaping chemicals, and unnecessary nighttime lighting.

It respects local culture and tradition. Foreign visitors learn about and observe local etiquette, including using at least a few courtesy words in the local language. Residents learn how to deal with foreign expectations that may differ from their own.
It does not abuse its product. Stakeholders anticipate development pressures and apply limits and management techniques to prevent the “loved to death” syndrome. Businesses cooperate to sustain natural habitats, heritage sites, scenic appeal, and local culture.

It strives for quality, not quantity. Communities measure tourism success not by sheer numbers of visitors, but by length of stay, money spent, and quality of experience.

It means great trips. Satisfied, excited visitors bring new knowledge home and send friends off to experience the same thing – which provides continuing business for the destination.
Increasing evidence shows that an integrated approach to tourism planning and management is now required to achieve sustainable tourism. It is only recently that there has been a growing recognition of the importance of combining the needs of traditional urban management (transportation, land use planning, marketing, economic development, fire and safety etc.) with the need to plan for tourism.

Some of the most important principles of sustainable tourism development include:
• Tourism should be initiated with the help of broad-based community-inputs and the community should maintain control of tourism development.

• Tourism should provide quality employment to its community residents and a linkage between the local businesses and tourism should be established.

• A code of practice should be established for tourism at all levels-national, regional, and local – based on internationally accepted standards. Guidelines for tourism operations, impact assessment, monitoring of cumulative impacts, and limits to acceptable change should be established.

• Education and training programmes to improve and manage heritage and natural resources should be established.

Source:
Jamieson, Walter and Alix Noble, 2000. “A Manual for Sustainable Tourism Destination Management” CUC-UEM Project, AIT.

Permalink Leave a Comment

Middle Test untuk yang Tidak Lulus

May 12, 2007 at 12:24 pm (Uncategorized)

Middle Test for Failed Students

By: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum, & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Direction:
Translate the following sentences into well-constructed English and answer them using your own words!

1.Jam berapa anda biasanya pergi ke kantor?

2.Naik apa anda biasanya pergi ke kantor?

3.Jam berapa istri anda pergi ke pasar?

4.Berapa lama biasaya anda bekerja dalam sehari?

5.Dimana istri anda biasanya berbelanja?

6.Jam berapa anda biasanya makan siang?

7.Dimana anda biasanya makan siang?

8.Dimana anak-anak anda bersekolah?

9.Jam berapa mereka pergi ke sekolah?

10.Jam berapa mereka pulang?

11.Naik apa mereka biasaya pergi ke sekolah?

12.Dimana anak laki- laki anda bersekolah?

13.Mengapa anda belajar bahasa Inggris?

14.Dengan siapa anda belajar bahasa Inggris?

15.Berapa jam anda belajar bahasa Inggris dalam sehari?

16.Berapa kali anda belajar bahsa Inggris dalam seminggu?

17.Dengan siapa anda belajar bahasa Inggris?

18.Dengan siapa anda biasanya memperaktekan bahasa Inggris anda?

19.Bagaimana anda memperbaiki bahasa Inggris anda?

20.Berapa kali anda mandi dalam sehari?

7:46 AM 5/12/2007

Permalink Leave a Comment

Topik Debat Minggu Ini

March 7, 2007 at 6:35 am (Uncategorized)

Ini merupakan rubrik untuk berdiskusi dan berdebat di dunia maya. anda bisa berargumentasi sebebasnya berdasarkan teori, hasil kajian, dan pengalaman.

Topik Debat: “Sistem Kasta Indikator Ketidaksetaraan Masyarakat Bali”

Tulis opini anda ke insubadra@yahoo.com dan akan ditanyangkan di website saya ini

Selamat berdebat!

Permalink 1 Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.