Komponen Pariwisata

Oleh: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Keberhasilan pengembangan pariwisata sangat tergantung dan tidak bisa terlepas dari peran para stakeholders. Agar pengembangan pariwisata dapat berhasil, maka perlu adanya kerjasama yang holistik di antara para stakeholders, memperdalam pengertian terhadap pelestarian alam, meningkatkan kesadaran terhadap pelestarian alam serta menjamin keberlanjutan kegiatan pariwisata tersebut. Para stakeholders harus dilibatkan secara aktif pada perencanaan (planning), pengembangan (development), manajemen (management), pengawasan (supervision) dan pengevaluasian (evaluation) pariwisata yang dilakukan secara sistematis, holistik, interdispliner dan partisipatif. Keterlibatan dan kerjasama yang baik di antara stakeholders yang terditi dari; industri pariwisata, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, masyarakat lokal dan wisatawan mutlak diperlukan agar pariwisata dapat berkelanjutan. Pengelolaan pariwisata yang tidak baik dapat berakibat buruk terhadap lingkungan dan bahkan dapat mengancam keberadaan semua biodiversitas dan ekosistem yang ada di wilayah pengembangan pariwisata tersebut.

Sumber:
Subadra, I Nengah. 2006. Ekowisata Hutan Mangrove dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan: Studi Kasus di Mangrove Information Center, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. (tesis) S2 Kajian Pariwisata: Universitas Udayana.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya.

Jika anda membutuhkan atrikel lain tentang pariwisata, silahkan KLIK DI SINI untuk mengunduh (download) beberapa artikel yang berkaitan dengan pariwisata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Sekali lagi, terima kasih atas kunjungan anda. Selamat belajar!

Keberadaan Pekerja Seks Komersial sebagai Dampak Negatif Pariwisata di Bali

Penulis: LIHAT DI SINI

Pengembangan pariwisata di Bali memiliki dua dampak yaitu dampak positif dan dan dampak negatif. Dampak positif yang muncul antara lain; peningkatan pendapatan daerah, peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Sedangkan dampak negatif yang dapat dilihat antara lain; kerusakan dan pencemaran lingkungan yang dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata, peningkatan jumlah tindak kejahatan seperti pencurian dan perampokan, serta praktek prostitusi.

Ditinjau dari perspektif agama, prostitusi dilarang dan ditentang keras keberadaannya oleh semua agama di Indonesia. Namun, keberadaanya sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Ini tidak terlepas dari banyaknya permintaan (demand) terhadap prostitusi dan harus disikapi dengan peningkatan persediaan (supply) prostitusi. Praktek prostitusi dapat dilihat di berbagai tempat pariwisata di Bali seperti; Kuta dan Sanur.

Keputusan untuk berprofesi sebagai pekerja seks komersial yang lazim disebut sebagai PSK (commercial sex worker) dilatarbelakangi oleh beberapa hal seperti; impitan ekonomi, broken-home, ketidakharmonisan dalam hubungan seks dengan pasangannya. Di antara penyebab tersebut, faktor ekonomi merupakan faktor yang paling dominan, terlebih lagi krisis ekonomi dan politik yang menimpa Indonesia khususnya Bali dalam dasa warsa terakhir yang telah memaksa beberapa orang untuk bergelut dalam profesi itu.

Pekerja seks komersial adalah seseorang yang menjual dirinya dengan melakukan hubungan seks untuk tujuan ekonomi. Secara umum ada dua pelaku pekerja seks komersial yaitu; laki-laki yang sering disebut sebagai gigolo dan perempuan yang sering disebut wanita tuna susila (WTS). Konsumen pekerja seks komersial dibagi menjadi dua yaitu; konsumen lokal dan konsumen asing. Konsumen lokal yaitu konsumen yang berasal dari kalangan pekerja industri pariwisata, sopir, dan wisatawan lokal. Konsumen asing adalah konsumen yang berasal dari kalangan wisatawan asing dan orang asing yang berbisnis dan tinggal di Bali.

Berdasarkan modus operasinya, Pekerja seks komersial dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu; pekerja seks jalanan dan pekerja seks terselubung. Pekerja seks komersial jalanan biasanya beroperasi secara terbuka di jalan-jalan yang dilewati wisatawan, di dalam bar, restoran, dan karaoke. Mereka umumnya berasal dari keluarga miskin atau tidak mampu dari berbagai daerah di Indonesia. Biasanya, mereka memiliki dan mengadakan perjanjian-perjanjian khusus seperti penentuan tariff, lokasi, dan pelayanan. Walaupun hanya memiliki kemampuan berbahasa asing yang sangat terbatas, mereka bisa dengan leluasa beoperasi dan berkomonikasi dengan calon pelanggan dan pelanggannya karena didukung oleh bahasa tubuh (body language).

Pekerja seks terselubung biasanya beroperasi secara tersembunyi yang sering kali menyamar sebagai pemandu wisata illegal dan freelance, pedagang asong, pegawai salon kecantikan, menyewakan papan selancar, dan menjual makanan dan minuman di sekitar Pantai Kuta. Profesi aslinya sangat berpeluang untuk mencari kerja sampingan. Mereka biasanya memanfaatkan waktu kerjanya untuk menggoda dan merayu calon pelanggannya dengan berbagai cara untuk mengadakan pendekatan. Upaya pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan pelanggan antara lain; dengan menawarkan diri sebagai teman, teman kencan, dan pemandu wisata. Kedekatan hubungan ini biasanya terus berlanjut walaupun pelanggannya sudah tidak di Bali lagi. Setidaknya mereka masih terus berkomunikasi dengan berbagai sarana seperti; telepon, surat, dan email.

Kedekatan hubungan antara Pekerja seks komersial dengan pelanggannya sering kali berlanjut sehingga tidak jarang digunakan sebagai sumber dana untuk biaya hidup di tengah hangar-bingarnya pariwisata seperti; tempat tinggal, makan dan minum, serta kebutuhan sehari-hari. Sebagian hubungannya terus berlanjut hingga ke pelaminan atau perkawinan.

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya.

Jika anda membutuhkan atrikel lain tentang pariwisata, silahkan KLIK DI SINI untuk mengunduh (download) beberapa artikel yang berkaitan dengan pariwisata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Sekali lagi, terima kasih atas kunjungan anda. Selamat belajar!

Lingkungan Bisnis Tour Operator

Oleh: I Nengah Subadra
Lihat Profile Penulis

Lingkungan bisnis tour operator mencakup: prilaku konsumen (consumer behavior), pemerintah (government), bank dan institusi-institusi keuangan (bank and financial institutions), pesaing (competitors), iklim (climate), pihak yang berkontribusi (shareholders), media dan pendapat pemimpin (media and leader’s opinion), pemasok (suppliers), badan resmi dan setengah resmi (legal and quasi-legal bodies), produk yang competitif/bersaing (competitive products), perubahan demografi (demographic changes), dan agen dan penyalur (agents and distributors). Masing-masing peran dari lingkungan bisnis tour operator tersebut akan dijabarkan secara jelas di bawah ini.

1.Prilaku konsumen (consumer behavior). Dalam kegiatannya, tour operator harus selalu memperhatikan prilaku konsumen (calon wisatawan) dengan menggunakan metode STP (segmenting, targeting dan positioning). Dengan menggunakan metode ini, tour operator harus mengetahui prilaku wisatawan yang menyangkut pendapatan (income) dan ketertarikan (interest). Sebagai contoh; wisatawan yang berasal dari Jerman akan lebih cendrung menyukai aktivitas tour yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan historis (historical), wisatawan yang berasal dari Jepang sangat menyukai kegiatan berbelanja (shopping). Melihat contoh prilaku wisatawan dari kedua negara ini, oleh karena itu sangat diperlukan penyediaan sarana dan prasarana pariwisata yang berkualitas dan berstandar internasional agar mampu memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para wisatawan tersebut sehingga mampu memberikan nilai (value) dan sesuai dengan target komunikasi yaitu dampak (effect).

2.Pemerintah (government). Peran pemerintah dalam dunia pariwisata khususnya dalam kegiatan tour operator sangat mutlak diperlukan. Beberapa peran yang dimainkan oleh pemerintah adalah :

(a) Penerbitan atau pengeluaran ijin (license) usaha jasa perdagangan pariwisata. Setiap pembangunan baik sarana dan prasarana utama maupun penunjang yang berhubungan dengan kegiatan pariwisata harus mendapatkan ijin dari pemerintah yang dikoordinasikan dengan beberapa departemen atau dinas yang terkait. Sebagai contoh, untuk pembuatan sebuah usaha perdagangan jasa pariwisata “Tourist Information Center” (TIC), dalam pengurusan ijinnya melibatkan beberapa dinas seperti; Dinas Pariwisata, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Dinas Pajak dan Pendapatan. Dengan melibatkan beberapa dinas tersebut diharapkan agar usaha jasa perdagangan pariwisata tersebut benar-benar terkoordinasi dengan baik dan bisa memberikan masukan (contribution) kepada pemerintah yang berupa peningkatan pendapatan daerah (regional revenue);

(b) Pemungutan dan pengelolaan pajak (tax) jasa perdagangan pariwisata. Pemerintah juga bertanggung jawab dalam menangani dan mengelola pajak pendapatan yang diperoleh dari pajak perdagangan jasa pariwisata. Dalam kegiatan pariwisata, jumlah pendapatan pajak terbesar diperoleh dari pajak hotel dan restoran (PHR), namun tak tertutup kemungkinan dari pajak-pajak kegiatan pariwisata yang lainnya. Namun jumlahnya tidak begitu signifikan. Penanganan pajak hotel dan restoran belum dikelola dengan baik dan secara profesional oleh pemerintah kita. Ini dapat dilihat dengan jelas bahwa masih banyak hotel dan restoran yang membayar pajak tidak sesuai dengan jumlah pembayaran yang sebenarnya karena masih banyak hotel dan restoran menggunakan laporan pembayaran pajak yang datanya dimanipulasi sehingga mereka membayar pajak jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya dibayar kepada pemerintah. Apabila penangan pembayaran pajak ini dapat dikelola dengan baik, maka secara otomatis dapat menekan kebocoran keuangan dan meningkatkan pendapatan daerah;

(c) Penetapan peraturan (regulation) tentang perdagangan jasa pariwisata. Pemerintah berhak untuk mengeluarkan peraturan-peraturan tentang perdagangan jasa pariwisata. Ini bertujuan untuk mengarahkan pembangunan pariwisata ke depan agar keberadaan pariwisata dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bukan sebaliknya yaitu keberadaan pariwisata merusak tatanan kehidupan masyarakat, budaya dan lingkungan. Dengan adanya otonomi daerah (regional autonomy), masing-masing pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengelola daerahnya sendiri. Sehingga peraturan yang dibuat dan dikeluarkan di suatu daerah provinsi, kota madya atau kabupaten berupa Peraturan Daerah (PERDA) yang memiliki kekuatan hukum (power of law) di wilayah atau daerah tersebut;

(d) Dan penentuan dan pengawasan produk-produk (allowed products) jasa perdagangan pariwisata. Dengan penetapan dan pengawasan terhadap produk-produk pariwisata diharapkan dapat mengindari dan menekan terjadinya praktek-praktek penjualan produk pariwisata yang tidak sesuai dengan kaedah perdagangan jasa pariwisata.

3.Bank dan institusi-institusi keuangan (bank and financial institutions) sangat berperan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata. Dalam hal pembuatan usaha atau investasi baru, pernyataan bank (bank statement) yang menyangkut mengenai laporan jumlah tabungan atau kekayaan yang dimiliki oleh seorang pemilik usaha atau penanam modal sangat diperlukan dalam proses pengurusan perijinan di dinas-dinas terkait. Ini digunakan untuk memastikan bahwa pemilik usaha memang mampu secara keuangan (financial) dalam membangun suatu usaha perdagangan jasa pariwisata. Bank dan lembaga keuangan lainnya juga berperan dalam pemberian pinjaman (loan) bagi para pengusaha yang ingin meningkatkan modal dan memperluas jaringan usahanya. Bagi pengusaha yang telah berhasil, bank juga berperan dalam pemberian jasa pengamanan uang mereka. Uang mereka akan ditabung di bank demi keselamatan.

4.Pesaing (competitors) juga berperan dalam kegiatan kepariwisataan. Pesaing berperan dalam peningkatan kualitas produk (product) dan pelayanan (service), penetapan harga (price), sistem promosi (promotion) dan distribusi (place / distribution) yang telah dimiliki. Dengan melihat dan mengamati produk dan pelayanan, harga, promosi dan distribusi yang dimiliki pesaing, kita dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan pesaing tersebut. dengan mengetahui kelemahan dan kekurangan tersebut, kita bisa mengambil posisi dan menentukan strategi baru untuk memberikan produk dan pelayanan yang lebih berkualitas, memberikan harga yang lebih competitif / bersaing, membuat strategi promosi dan distribusi yang lebih bagus sehingga mampu mengalahkan pesaing tersebut.

5.Iklim (climate). Peran iklim dalam kegiatan pariwisata juga cukup penting terutama dalam perkiraan cuaca (weather forecast). Ini sangat erat kaitannya dengan pelayanan jasa transportasi khususnya transportasi udara dan laut. Dengan mengetahui informasi mengenai cuaca tersebut, para pengemudi pesawat (pilot) dan pengemudi kapal laut (nahkoda) mengetahui secara pasti waktu yang tepat untuk menjalankan pesawat atau kapalnya. Informasi cuaca ini juga dapat mengurangi resiko kecelakaan yang terjadi. Melihat berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan gunung meletus yang terjadi belakangan ini, perlu juga diadakan dan dibangun berbagai perangkat sistem peringatan dini (early warning system) untuk mengurangi jumlah korban dari bencana (disaster). Dengan informasi perkiraan cuaca dan pemasangan perangkat sistem peringatan dini, wisatawan akan mengetahui secra pasti tentang tempat-tempat yang layak dikunjungi dan tidak membahayakan dan mengancam nyawanya.

6.Pihak yang berkontribusi (shareholders). Pihak-pihak ini sangat berperan dalam kegiatan perdagangan jasa pariwisata. Umumnya, para shareholders berkontribusi banyak pada saat dimualianya suatu usaha perdagangan jasa pariwisata yang berupa penanaman modal (investment) sebagai modal awal dalam proses pembangunan dan mengembangkan kegiatan usahanya ke masa yang akan datang. Selain terlibat dalam penanaman modal, tidak tertutup kemungkinan para shareholders juga terlibat dalam proses manajemen pengembangan usaha perdagangan jasa pariwisata. Bagi yang terlibat dalam manajemen pengembangan, mereka umumnya menduduki posisi-posisi manajer (managerial positions) dan bahkan posisi-posisi direktur (directorial positions) karena mereka memang benar-benar berkompetensi dalam bidangnya dan memiliki pengetahuan (knowledge) yang luas, keahlian (skill) yang profesional, dan sikap (attitude) yang ramah-tamah dan penampilan (appearance) yang bagus dan menarik.

7.Media dan pendapat pemimpin (media and leader’s opinion). Media baik media cetak maupun media elektronik merupakan sarana promosi yang sangat efektif dalam upaya pengenalan suatu produk pariwisata. Tujuan promosi mencakup:

(a) Pengidentifikasian target audensi yang akan dicapai;

(b) Pengidentifikasian tujuan komunikasi yang akan dicapai;

(c) Formulasi bentuk pesan untuk mencapai tujuan;

(d) Pilihan media untuk menyampaikan pesan secara efektif kepada audiesi yang dituju;

(e) Alokasi anggaran untuk mencapai produksi dan penyampaian pesan. Sekarang ini banyak sekali studi-studi yang membahas mengenai promosi sehingga menghasilkan konsep terbaru yaitu “bauran promosi dan komunikasi pemasaran”. Kosep ini mencakup semua komunikasi yang dilakukan untuk mencapai tingkat permintaan pariwisata yng diinginkan melalui penyampaian pesan yang benar melalui sarana yang benar untuk mempengaruhi audiensi yang mempengaruhi atau meningkatkan permintaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Bauran ini mencakup empat hal utama yaitu: pengiklanan (advertising), humas (public relation), penjualan langsung (direct selling) dan promosi penjualan (sales promotion). Iklan memiliki banyak fungsi dalam pariwisata antara lain:
•Membuat keperdualian (awareness) terhadap suatu produk;

•Menginformasikan tentang suatu produk yang baru atau spesial;

•Menanamkan citra yang memiliki legalitas.

•Mempengaruhi citra daerah tujuan

•Menyediakan informasi mengenai pelayan special dan penawaran khusus.

•Penjualan langsung untuk mendatangkan respon langsung.

•Pengenalan terhadap penamaan (branding) suatu produk.

•Mencapai target audensi yang baru.

•Menyediakan informasi tentang penggunaan alat yang baru.

•Mengumumkan peluncuran atau peluncuran kembali suatu produk.

•Iklan yang bersifat mengingatkan bertujuan untuk menjaga atau mempertahankan hubungan dalam benak konsumen.

8.Pemasok (suppliers). Para pemasok barang sangat berperan dalam kegiatan usaha perdagangan jasa pariwisata khususnya hotel dan restoran. Semua kebutuhan hotel dan kebutuhan wisatawan yang berada di hotel tersebut dipasok oleh banyak supplier. Sebagai contoh pasokan kebutuhan makanan untuk wisatawan di hotel dan restoran, tidaklah mungkin hotel dan restoran tersebut menyediakan bahan-bahan keperluanya sendiri atau menanamnya sendiri di suatu daerah tertentu. Mereka akan mengeluarkan biaya tambahan (extra cost) untuk mengurusi kebun tersebut. Jadi untuk untuk lebih praktisnya, mereka cendrung menggunakan banyak supplier untuk memasok segala macam barang yang diperlukan. Dengan pelibatan banyak supplier ini, perlu adanya kerjasama yang baik antara pihak supplier dan hotel atau restoran. Kerjasama yang tersebut biasanya menyangkut mengenai terms and conditions dalam proses pemasokan barang yang biasanya berisi tentang kesepakatan-kesepakatan tertentu, sistem pemasokan, sistem pembayaran (cash atau credit), dan sistem pemberian komisi. Melihat pentingnya peran para supplier ini, maka perlu diadakan pendekatan-pendekatan khusus yang harus dilakukan oleh pihak hotel atau restoran dalam hal ini yang bertangung jawab adalah departemen pengadaan barang (purchasing department) dengan semua supplier agar semua kegiatan usahanya dapat berjalan dengan baik.

9.Badan resmi dan setengah resmi (legal and quasi-legal bodies). Selain pemerintah, badan-badan resmi dan badan setengah resmi juga memiliki peran dalam kegiatan perdagangan jasa pariwisata. Di Bali, badan resmi seperti Banjar dan Desa Adat memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata. Peran yang bisa dimainkan oleh Banjar atau Desa Adat adalah menjaga keamanan di lingkungan masing-masing. Karena keamanan merupakan salah satu penentu dari mau atau tidak maunya wisatawan mengunjungi suatu daerah tujuan wisata. Telah terbukti secara nyata di Bali. Masyarakat Bali dengan koordinasi Banjar dan Desa Adat mampu menjaga keamanan Bali sehingga mampu mendatangkan wisatawan. Selain menjaga keamanan, Desa Adat juga mampu menyediakan atraksi wisata (tourist attraction) khususnya kegiatan yang berhubungan dengan agama seperti piodalan di pura desa, pura puseh dan pura dalem. Kegiatan keagamaan tersebut sebenarnya merupakan perpaduan antara kegiatan adat Bali dan agama Hindu yang sangat unik dan mampu mendatangkan wisatawan dalam jumlah yang banyak. Selain Banjar dan Desa Adat, Lembaga Swadaya Masyarakat atau Non Governmental Organizations (NGOs) juga berperan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata. Peran yang bisa dimainkan oleh NGOs adalah pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan pariwisata, pencarian donatur (donator) untuk kegiatan-kegiatan amal (charity program) yang dipergunakan untuk mendanani berbagai kegiatan. Misalnya pada saat terjadinya peledakan bom di Kuta, NGOs sangat berperan dalam proses pemulihan (recovery) pariwisata Bali.

10.Produk yang competitif/bersaing (competitive products). Produk pariwisata sangat berbeda dengan produk-produk perdagangan konvensional. Produk pariwisata merupakan produk yang tidak bisa dipindahkan (immoveable product) dan hanya bisa dinikmati atau dirasakan pada saat itu saja. Sebagai contoh; apabila seseorang memesan kamar dan menginap di suatu hotel, mereka akan membeli produk pariwisata tersebut dengan harga tertentu dan mereka akan menikmatinya (baik kamar maupun pelayanan) pada periode tertentu tergantung berapa lama mereka tinggalnya. Setelah masa tinggalnya habis, mereka tidak mempunyai hak untuk menggunakan produk wisata tersebut. melihat karakteristik dari produk pariwisata tersebut, maka sangat diperlukan penyediaan produk-produk yang kompetitif dan terjangkau oleh pasar. Penyediaan produk pariwisata yang kompetitif dapat dilihat dari kualitas (quality) dari produk pariwisata dan pelayanan jasanya (services).

11.Perubahan demografi (demographic changes). Perubahan demografi juga berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata terutama dalam proses segmentasi dari suatu populasi. Segmentasi demografi merupakan pembagian pasar berdasarkan variabel-variabel demografi seperti; umur, jenis kelamin, siklus kehidupan keluarga, pendapatan pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kewarganegaraan. Dengan perubahan demografi ini, maka perlu diadakan segmentasi ulang yang berdasarkan atas situasi demografi terkini agar dapat mencapai target pasar yang optimal. Kesalahan dalam menentukan segmen pasar akan akan berakibat pada gagalnya proses selanjutnya yaitu targeting.

12.Agen dan penyalur (agents and distributors). Tour operator memerlukan beberapa agen perjalanan wisata (travel agency) untuk dapat melaksanakan aktivitasnya dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada para wisatawan terutama pada saat wisatawan berada di suatu daerah tujuan wisata. Sebuah tour operator akan memiliki banyak agen yang tersebar di seluruh daerah tujuan wisata yang dijualnya. Banyaknya agen yang dimiliki oleh sebuah tour operator sangat tergantung pada besar kecilnya tour operator tesebut. Untuk menjaga hubungan baik antara tour operator dengan agen-agennya di daerah tujuan wisata, biasanya dilakukan sales call yang tujuannya adalah mengunjungi agen-agennya agar berhubungan lebih dekat dan akrab, memperkenalkan dan menjual suatu produk wisata baru secara langsung. Selain itu sales call juga bertujuan untuk menegosiasi harga suatu produk atau paket wisata.

Daftar Pustaka

Madiun, I Nyoman. 2005. Bahan Ajar Mata Kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar:

Suradnya, Made. 2005. Bahan Ajar Mata Kuliah Pemasaran Pariwisata. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar:

PESAN DARI PENULIS:
Para pembaca yang terhormat, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kunjungan anda ke website saya. Apabila ada hal-hal yang kurang jelas dan perlu ditanyakan tentang tulisan saya, silahkan KLIK DI SINI untuk menghubungi saya.

Jika anda membutuhkan atrikel lain tentang pariwisata, silahkan KLIK DI SINI untuk mengunduh (download) beberapa artikel yang berkaitan dengan pariwisata dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Sekali lagi, terima kasih atas kunjungan anda. Selamat belajar!

Bali Tourism Watch: Warisan Budaya dan Alam dan Pariwisata di Era Postmodernisme

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Warisan merupakan sesuatu yang ditransformasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perannya adalah sebagai pembawa nilai-nilai budaya di masa lampau ke generasi sekarang. Warisan dipandang sebagai salah satu bagian dari tradisi masyarakat di suatu daerah. Di sisi lain, dalam konsep pariwisata warisan dipandang sebagai bentuk kesadaran (awareness) yang modern. Sifat utama pariwisata adalah dinamis atau berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi.

Studi terkini tentang warisan budaya dan pariwisata cendrung terfokus pada kekuatan tradisi yang identik dengan kestabilan dan kesinambungan, sedangkan dalam pariwisata terjadi perubahan. Sehingga warisan budaya dan pariwisata adalah dua hal yang bertentangan (contradictive). Sejumlah pendekatan teoritis telah dipergunakan untuk menganalisa hubungan antara warisan budaya dan pariwisata. Hubungan antara warisan budaya dan pariwisata dapat dilihat melalui produksi budaya dan konsumsi pariwisata.

Menurut pandangan masyarakat modern, pariwisata dianggap sebagai kegiatan yang berhubungan dengan produksi yang sangat kompleks karena berkaitan erat dengan waktu, daerah regional, nasional dan internasional. Keinginan orang untuk bepergian ke luar daerahnya bukan hanya sebagai mimpi saja tetapi telah manjadi kenyataan. Abad ke-19 yang ditandai dengan revolusi industri merupakan penghancur dari masa lampau dan diganti dengan hal-hal yang baru. Abad ke-20 ditandai dengan kembalinya kesadaran baru untuk mengingat kembali dan berkomunikasi dengan hal-hal yang terjadi di masa lampau. Ini berimplikasi terhadap perkembangan pariwisata sekarang ini yang mana wisatwannya cendrung mencari dan mengunjungi objek-objek wisata yang memiliki nilai-nilai budaya untuk mendapatkan keaslian dan identitas dari suatu pola tradisi.

Bentuk baru dari produksi lampau atau warisan berasosiasi dengan pola konsumsi mempengaruhi wisatawan dalam pemilihan destinasi pariwisata. Keinginan untuk mengunjungi daerah yang asli dan meningkatnya kesadaran dan rasa hormat wisatawan terhadap warisan dan tradisi merupakan penanda adanya hubungan antara lokal (tradisi yang ada di destinasi pariwisata) dan global (budaya dan wisatawan yang berasal dari berbagai negara yang berbeda). Trend inilah yang dipandang sebagai manifestasi posmodernisme.

Heritage tourism menawarkan kesempatan untuk menikmati tradisi-tradisi di masa lampau. Wisatawan posmodernisme menggunakan intelektualitas dan imajinasinya untuk menerima dan mengkomunikasikan pesan yang ada pada warisan tersebut dan mengkonstruksi pandangannya terhadap tempat-tempat bersejarah. Negara-negara berkembang sangat potensial dijadikan sebagai destinasi pariwisata postmodernisme karena merupakan pusat dari tradisi, budaya, agama dan tahayul yang belum tersentuh modernisasi.

MEMAHAMI WARISAN BUDAYA DAN ALAM BUATAN

Arti istilah warian buatan sangat kompleks. Ini digunakan sehubungan dengan pelestarian monumen dan bangunan-bangunan bersejarah selama bertahun-tahun. Dalam konteks pariwisata, warisan mencakup wariasan alam dan budaya. Dalam konteks budaya, warisan digunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk material seperti monumen, peninggalan sejarah dan arsitektur dan artefak yang ditayangkan di museum atau bentuk-bentuk bukan material seperti filosofi, tradisi, kesenian, perayaan besar atau sejarah kepribadian seseorang, cara hidup yang berbeda, dan pendidikan.
Dalam konteks alam, warisan digunakan untuk mendeskripsikan kebun, ladang, taman nasional, hutan belantara, gunung, sungai, flora dan fauna.
Warisan buatan berhubungan dengan struktur dan bangunan bersejarah. Warisan-warisan tersebut dilindungi oleh undang-undang monumen kuno, undang-undang kawasan arkeologi, atau undang-undang warisan nasional karena memiliki jasa yang sangat besar. Selain itu juga bertujuan untuk melestarikan, membangun kembali dan memperkenalkan properti warisan budaya dan alam yang ada di suatu daerah.

Warisan buatan sering kali dikenal sebagai salah satu bentuk warisan budaya. Menurut United Nations World Heritage Convention Concerning Protection of the World Cultural and Natural Heritage, ada tiga komponen warisan buatan yaitu:

(1) monumen, mencakup karya-karya arsitektur, karya patung dan lukisan yang besifat monumental, elemen atau struktur sifat arkeologi, prasasti, gua dan penghuninya, dan kombinasi bentuk dari nilai-nilai sejarah, seni dan ilmu.

(2) kelompok bangunan, mencakup sekelompok bagunan yang arsitekturnya, keanekaragamannya atau tempatnya memiliki nilai sejarah, seni dan ilmu.
(3) tempat atau kawasan, mencakup karya manusia atau merupakan perpaduan antara buatan manusia dengan alam dan kawasan arkeologi yang memiliki nilai sejarah, estetik, etnologi, dan antropologi.

Menurut Prentice (1993) dalam Nuryanti (1996), warisan buatan juga dideskripsikan sebagai warisan sejarah dan seni sebagai kebalikan dari warisan ilmu dan budaya. Yang termasuk di dalamnya adalah elemen fisik sebagai peninggalan dari sumber-sumber air suci hingga bangunan-bangunan keagamaan, benteng dan kota modern. Warisan yang memiliki nilai pendidikan meliputi tumbuh-tumbuhan, burung, binatang, karang, dan habitat alam. Warisan budaya mencakup kesenian rakyat dan fine art, budaya dan bahasa.

Warisan buatan terdiri dari elemen-elemen material. Elemen-elemen tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu: elemen fixed, elemen semi-fixed dan elemen non fixed. Elemen fixed adalah elemen yang jarang dirubah dan berstruktur tetap seperti bangunan, kota dan reruntuhan bangunan. Elemen semi-fixed adalah elemen yang dapat dirubah secara agak cepat seperti furnitur dan tanaman. Elemen non-fixed adalah elemen yang berhubungan dengan manusia yang ada di dalamnya.

Keanekaragaman dimensi warisan yang disuguhkan dapat digunakan untuk memahami lebih mendalam tentang makna dari suatu warisan buatan. Warisan budaya lebih berhubungan dengan budaya dari pada dengan alam. Warisan buatan merupakan gabungan dari warisan bawaan manusia (human-made) dan fixed element yang memiliki nilai dan makna.

Interpretasi Warisan Budaya dan Alam

Tantangan utama dalam menghubungkan antara warisan dan pariwisata terletak pada rekonstruksi masa lampau dengan masa sekarang melalui interpretasi. Pariwisata warisan merupakan produksi atau reproduksi dari masa lampau sangat bermasalah khususnya berkaitan dengan warisan buatan. Interpretasi warisan buatan bukan hanya melibatkan isu-isu seperti penapsiran arti dari suatu peristiwa di masa lampau, sensitivitas lintas budaya, profesionalisme, pendidikan dan pelatihan tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai kegiatan yang berkaitan termasuk perencanaan konservasi, desain arsitektur dan teknik rekonstruksi.

Menurut Tilden (1997) dalam Nuryanti (1996), interpretasi harus dilakukan lebih jauh dari pada sekedar pertukaran informasi dan harus diinspirasi dan bahkan harus dihasut. Ada enam prinsip dasar interpretasi yaitu: (1) interpretasi yang tidak berhubungan dengan apa yang ditampilkan atau dijelaskan ke sesuatu di antara kepribadian dan pengalaman pengunjung; (2) informasi; (3) interpretasi merupakan seni yang mengkombinasikan berbagai jenis seni, apakah materi yang ditampilkan bersifat ilmiah, sejarah atau arsitektur; (4) tujuan dari interpretasi bukanlah instruksi tetapi provokasi; (5) interpretasi harus menampilkan keseluruhan daripada bagian-bagian tertentu saja; (6) interpretasi ditujukan kepada berbagai segmen pengunjung dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Kompleksnya penginterpretasian warisan budaya buatan ini mengakibatkan sulitnya pemaknaan dari suatu objek. Sehingga pemaknaanya terletak pada pengamat atau pengunjung.

Menurut Herbert (1989) dalam Nuryanti (1996) interpretasi dapat menghasilkan keluaran bagi penginterpretasi dan pengunjung. Pengunjung akan memberikan apresiasi terhadap objek warisan, kesadaran dan pemahamannya meningkat, puas dan menikmati objek-objek tersebut. Keuntungan bagi para penginterpretasi adalah akan meningkatnya kunjungan wisatawan apabila wisatawan tersebut memperoleh informasi dan pelayanan yang memuaskan. Oleh karena itu, interpretasi harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh dalam pemasaran, manajemen dan perencanaan pariwisata warisan budaya dan alam.

Memasarkan Warisan Budaya dan Alam Buatan

Sekarang ini, kawasan-kawasan warisan budaya dan alam dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara. Tetapi umumnya dikunjungi oleh wisatawan domestik karena berasosiasi dengan sejarah dan budayanya. Ini memiliki implikasi yang sangat penting dalam musim kunjungan, pemasaran dan pola prilaku wisatawan dan manajemen kawasan.

Segmentasi merupakan konsep penting dalam pemasaran pariwisata khususnya untuk pemasaran pariwisata minat khusus. Pangsa pasar pariwisata warisan budaya dan alam sangat heterogen. Menurut Prentice (1993), segmen pasar pariwisata warisan budaya dan alam dapat dibedakan menjadi lima kelompok utama yaitu: (1) wisatawan berpendidikan, (2) profesional, (3) keluarga atau kelompok, (4) murid sekolah, dan (5) pencari tempat-tempat nostalgia. Pemasaran yang sukses sangat pandai dalam membidik calon wisatawan untuk membeli atau mengkonsumsi produk pariwisata yang dijual.

Pariwisata warisan budaya dan alam dipandang sebagai salah satu pariwisata minat khusus. Tetapi diperlukan penentuan skala warisan yang bisa dipasarkan karena hanya beberapa kawasan warisan budaya dan alam yang menjadi daya tarik wisata internasional. Penentuan skala apakah sebagai daya tarik internasional, nasional, daerah atau lokal memiliki implikasi yang sangat penting misalnya; mempengaruhi lama tinggal dan wisatawan dan pemilihan produk wisata.

Pariwisata warisan merupakan bagian dari pariwisata budaya dalam skala yang lebih luas. Bagi kebanyakan wisatawan, budaya merupakan hal kedua dalam pemilihan tempat berlibur dan terkadang sama sekali tidak menjadi tujuan. Oleh karena itu, pariwisata warisan tidak dapat dipisahkan dari atraksi wisata di suatu kawasan, tetapi harus dipandang sebagai satu komponen pariwisata secara keseluruhan.

Di negara-negara maju, konsep perencanaan pemasaran pariwisata warisan biasanya dilakukan oleh sektor publik atau merupakan kerja sama antara sektor publik dan swasta. Sektor publik memegang peranan yang sangat penting terutama dalam penyelesaian masalah atau konflik. Sedangkan di negara-negara berkembang yang kekurangan akan sektor swasta dan pengalaman dalam industri pariwisata, peran sektor publik lebih kompleks. Sektor publik bukan hanya bertanggung jawab terhadap pendidikan pariwisata dan pengaturan industri pariwisata tetapi juga harus mengambil peran pengusaha.

Merencanakan Warisan Budaya dan Alam
Metode-metode yang dilakukan untuk mencapai tujuan melibatkan penilaian dan keputusan dari berbagai perspektif: sosial-budaya, konservasi, ekonomi dan arsitektur. Perspektif tersebut mempengaruhi keputusan mengenai apa yang harus dipreservasi, apa yang harus dibangun, apakah struktur lama memiliki fungsi yang baru, penggunaan kembali atau tidak digunakan sama sekali.

Pendekatan dan metode perencanaan warisan buatan umumnya mengunakan beberapa tingkat revitalisasi untuk mencapai preservasi dan pembangunan yang seimbang. Pendekatan yang dimaksud bisa merupakan gabungan dari bagian atau keseluruahan konsep berikut ini:

(1) konservasi merupakan usaha untuk mempreservasi bentuk fisik dan kegiatan sehingga nilai dan makna dari bentuk dan kegiatan tersebut dapat berkelanjutan. Nilai dan maknanya termasuk aspek budaya, sejarah, tradisi, artistik,sosial, ekonomi, fungsi, lingkungan dan pengalaman. Perspektif nilai dan maknanya harus mencakup masa lampau, sekarang dan yang akan datang.

(2) gentrifikasi merupakan usaha untuk meningkatkan vitalitas dari bentuk fisik dan kegiatan dengan cara meningkatkan kualitas tempat dengan merubah strukturnya.

(3) rehabilitasi merupakan usaha untuk membawa kembali bentuk fisik dan kegiatan di wilayah yang telah mengalami degredasi. (4) renovasi merupakan usaha untuk merubah bentuk fisik dan kegiatan agar bisa mengadopsi fungsi-fungsi baru.

(5) restorasi merupakan usaha untuk memperbaiki kondisi bentuk fisik dan kegiatan dengan mengurangi elemen baru atau tambahan dan menggantikan elemen-elemen yang hilang agar sesuai dengan bentuk semula.

(6) rekonstruksi merupakan usaha untuk membawa kembali kondisi bentuk fisik dan kegiatan semirip mungkin ke suatu keadaan pada suatu masa sebelumnya.

Ketergantungan antara Warisan dengan Masyarakat
Di negara-negara berkembang, kebanyakan dari struktur-struktur warisan seperti bangunan, peninggalan arkeologi, kota kuno, museum dan lain-lain ditemukan di tengah masyarakat seperti; kota besar, kota atau desa. Masyarakat lokal berinteraksi langsung dengan struktur tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Pariwisata bisa mempromosikan rehabilitasi kawasan bersejarah sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal. Bagi masyarakat lokal, keuntungan terpenting yang diinginkan dari pariwisata adalah keuntungan ekonomi dalam hal ini meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja. Dampak ekonomi ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: dampak langsung, dampak tidak langsung dan motivasi (induce).

Dampak langsung dapat dilihat pada keterlibatan masyarakat dalam industri pariwisata dalam bentuk penerimaan upah, gaji dan keuntungan dan juga temasuk pendapatan pemerintah melalui pajak dan biaya. Dampak tidak langsung disebabkan karena adanya kebutuhan industri pariwisata untuk membeli sesuatu untuk mempertahankan kegiatan bisnisnya seperti buruh, makanan, minuman dan hal-hal yang dikonsumsi oleh industri pariwisata. Dampak induce dapat dilihat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat sehingga ada pertukaran ekonomi di antara masyarakat.

Beberapa kasus yang terjadi di negara-negara berkembang, perkembangan pariwisata warisan budaya dan alam bukan hanya mengkontruksi kembali hal-hal yang terjadi di masa lampau tetapi juga mengkonstruksi ekonomi. Tetapi hubungan antara pariwisata warisan alam dan budaya dengan masyarakat lokal lebih dari hanya dalam pekerjaan dan pendapatan. Termasuk di dalamnya adalah mengenai kepemilikan tanah, kompetisi antara yang baru dengan yang lama, perubahan gaya hidup.

Di kebanyakan negara-negara maju masalah yang berhubungan dengan pariwisata warisan budaya dan alam lebih biasa terjadi pada permasalahan perencanaan dan pembangunan seperti pemusnahan bangunan-bangunan, keramaian, pengaturan lalu lintas dan parkir.

Di negara-negara berkembang menghadapi sumber dana yang terbatas dan kemampuan istitusioanal yang tidak memadai. Sehingga tidak hanya mengalami kendala dalam perencanaan dan manajemen tetapi juga masalah pendanaan pembangunan.

KESIMPULAN
Heritage tourism merupakan pariwisata minat khusus yang berbasiskan budaya dan alam. Agar dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan perencanaan, pembangunan, pengembangan, manajemen dan pemasaran yang baik oleh para stakeholder pariwisata, antara lain; pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, industri pariwisata, dan wisatawan.

Sumber Bacaan:

Nuryanti, Wiendu. 1996. Heritage and Postmodern Tourism. Gadjah Mada University, Indonesia.

Bali Tourism Watch: Dampak Sosial-Budaya Pengembangan Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi-Kabupaten Lombok Barat

Penulis: LIHAT DI SINI

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi telah memberikan dampak positif dan negatif terhadap sosial budaya masyarakat lokal. Dampak-dampak positif yang timbul antara lain; pelestarian budaya, adat istiadat, cara hidup, kesenian, penyediaan lapangan pekerjaan, dan membangkitkan kegiatan perekonomian masyarakat lokal. Sedangkan dampak-dampak negatif yang timbul antara lain; terjadinya praktek prostitusi, kebiasaan mmeminum minuman beralkohol, dan tindak kejahatan.

Dampak Positif Sosial–Budaya Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi

Sehubungan dengan pengembagan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, secara umum kebudayaan-kebudayaan masyarakat lokal seperti cara hidup, adat istiadat, agama, dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyangnya masih terjaga kelestariannya. Artinya, walaupun sudah berbaur dan dipengaruhi oleh budaya-budaya asing namun kebudayaan masyarakat tersebut masih dapat ditemukan dengan mudah dan dilakukan secara rutin oleh masyarakat setempat, seperti upacara pernikahan, perayaan hari besar nasional.

Dengan adanya pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga ditemukan adanya revitalisasi pada beberapa jenis budaya dan kesenian masyarakat lokal. Organisasi keagamaan “Remaja Masjid” merupakan salah satu contoh budaya masyarakat lokal yang masih ditemukan di era pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi. Organisasi generasi muda muslim ini melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan budaya dan agama seperti; pengajian, dakwah, belajar membaca dan menulis Bahasa Arab, diskusi tentang isi dan makna yang tertera dalam kitab suci Al-qur’an. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sudah ditekuni oleh masyarakat lokal sebagai upaya melindungi diri dari pengaruh budaya dari luar (industri pariwisata) dan telah dilakukan sejak dahulu kala sampai sekarang. Organisasi kemasyarakatan ini juga menjadi media pemersatu antar umat muslim di Nusa Tenggara Barat khususnya di Senggigi.

Organisasi kemasyarakatan lain yang melakukan kegiatan sebagaimana tersebut di atas adalah pondok pesantren. Di pondok pesantren, para santri (orang yang secara khusus menuntut ilmu keagamaan di pondok pesantren) diberikan pelajaran lebih terfokus pada keagamaan dan etika dalam kehidupan. Pesertanya juga tinggal di dalam pondok pesantren sehingga tertanam rasa bakti kepada agama secara lebih mendalam dan diberikan situasi yang nyata tentang bagaimana kehidupan muslim dan muslimah yang sebenarnya yang diharapkan setelah keluar dari pondok pesantren bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Model pendidikan yang diberikan di organisasi pemuda Remaja Masjid dan Pondok Pesantren merupakan cara pembelajaran budaya dan agama yang sangat efektif karena sesuai dengan karakteristik budaya masyarakat lokal. Sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, beberapa industri pariwisata seperti hotel dan restoran mendukung kegiatan-kegiatan Remaja Masjid dan Pondok Pesantren tersebut karena dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Dukungan terhadap kegiatan pelestarian budaya dan agama di kedua organisasi kemasyarakatan tersebut diwujudkan dalam pemberian sumbangan secara material dalam bentuk uang secara berkala untuk menunjang kegiatan yang dilaksanakan. Bentuk lain sumbangan dari industri pariwisata terhadap upaya pelestarian budaya dan agama masyarakat lokal berupa pembangunan fisik bangunan, seperti Masjid dan Mushola atau gedung dan pengadaan sarana dan alat yang diperlukan untuk memperlancar jalannya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga turut serta dalam melestarikan budaya-budaya masyarakat yang lainnya seperti kesenian dan adat istiadat. Kesenian tradisional masyarakat lokal yang masih terjaga kelestarianya adalah Tari Rudat dan Gendang Beleq.

Tari Rudat merupakan kesenian tradisional dalam bentuk seni tari (gerakan tubuh) diiringi dengan musik tradisional gambelan yang dimainkan oleh tujuh sampai sebelas orang. Fungsi kesenian ini adalah sebagai penyambutan terhadap wisatawan dan sering kali dipersembahkan untuk penghargaan terhadap tamu kenegaraan. Secara singkat, Tari Rudat mengisahkan sepasang muda-mudi yang saling jatuh cinta yang berlanjut hingga ke pernikahan. Pesan-pesan yang disampaikan berupa nasihat-nasihat hidup yang membangkitkan rasa saling mencintai dan menyayangi sesama dan lingkungan, sehingga dengan pertunjukan kesenian ini diharapkan dapat meningkatan persaudaraan dan persahabatan antar manusia dan lingkungan hidup.
Tokoh kesenian Tari Rudat yang masih menekuni dan mengembangkan secara aktif adalah Haji Rusdi, seorang tokoh masyarakat lokal dari Desa Senggigi Dusun Kerandangan. Beliau menuturkan bahwa di tengah gencarnya perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, Tari Rudat sama sekali tidak surut keberadaannya. Sebaliknya, tari tersebut semakin lestari dan terjaga keberadaanya karena dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata yang ditampilkan pada acara-acara yang diorganisir oleh hotel-hotel dan event organizer yang berada di Objek Wisata Pantai Senggigi.

Gendang Beleq merupakan kesenian tradisional yang dimainkan dengan alat musik tradisional Gendang Beleq yang berfungsi sebagai musik penyambutan. Makna yang terkandung dalam pertunjukan kesenian ini adalah adanya kebersamaan antara umat yang tinggal di Lombok Barat yaitu antara umat Suku Sasak Lombok yang beragama Islam dengan umat Hindu dari Bali yang tinggal menentap di Lombok.

Sebelum berkembangnya pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, kedua kesenian tradisional ini hanya dipentaskan pada saat-saat tertentu saja khususnya pada upacara adat dan keagamaan sehingga tidak banyak dikenal oleh masyarakat umum di luar daerah Senggigi. Pertumbuhan pariwisata yang semakin pesat dari tahun ke tahun turut serta membangkitkan dan merevitalisasi kesenian tradisional tersebut dan sekarang ini sering kali dipertunjukan di hadapan para wisatawan sebagai atraksi wisata yang bercirikan kedaerahan yang dipentaskan langsung oleh masyarakat asli.

Seni tari tradisional lain yang sering dipentaskan sebagai atraksi wisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah Tari Topeng. Tari ini mengisahkan pengembala beberapa jenis ternak seperti; sapi, kerbau, dan kambing yang dengan bangga dan berbahagia mengembalakan ternaknya di kebun yang juga menunjukan tingkat status sosial dan martabat seseorang di Desa Senggigi. Tari ini dimainkan oleh empat sampai delapan orang dengan menggunakan pakaian khas Adat Sasak, topeng dengan beberapa karakter, dan pecut.

Keberadaan tari ini sebenarnya sudah hampir punah. Tetapi sejak Desa Senggigi ditetapkan sebagai salah satu objek wisata di Nusa Tenggara Barat maka diadakan terobosan-terobosan untuk menambah daya tarik wisata dan atraksi wisata untuk menambah keanekaragaman daya tarik wisata yang salah satunya adalah kesenian tradisional Tari Topeng. Sejak dijadikan sebagai salah satu atraksi wisata, Tari Topeng terus direvitalisasi dan dikembangkan dengan membangun sanggar-sanggar tari yang dilakukan oleh perorangan dan ada juga yang merupakan hasil kerjasama antara para pengelola industri pariwisata di sekitar Objek Wisata Pantai Senggigi dengan masyarakat lokal.

Pementasan kesenian-kesenian tradisional tersebut di atas sudah dilakukan sejak bulan Maret 2005, biasanya diadakan setiap hari Jumat sore (jam 16.00-selesai) yang bertempat di Pasar Seni Senggigi. Pementasan ini terselenggara atas kerjasama antara Qunci Villas, Sundancer Hotel, dan pemerintahan desa. Pertunjukan ini disajikan tanpa dipungut biaya sehingga banyak dikunjungi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun manca negara.

Selain bentuk positif tersebut di atas, terjadi juga akulturasi budaya yaitu perpaduan antara budaya asli masyarakat yang mendapatkan pengaruh dari budaya asing, namun kedua unsur budaya tersebut sama-sama terlihat dan menonjol. Salah satu bentuk akulturasi budaya yang terjadi adalah gaya hidup terutama dalam penampilan dan berpakaian. Sebelum dikembangkan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, jenis pakaian yang dipakai oleh masyarakat lokal sehari-hari berupa sarung dan baju kaos bagi kalangan laki-laki, sedangkan perempuan umumnya memakai sarung, baju lengan panjang, dan kerudung atau jilbab.

Sekarang ini beberapa masyarakat lokal telah mengadopsi pola penampilan dan cara berpakaian para wisatawan. Sebagai contoh, Pak Edy (seorang sopir yang merangkap sebagai pemandu wisata freelance) telah mengubah penampilannya sejak tahun 1998 dengan begitu juga dengan cara berpakaiannya. Sebelum dipengaruhi oleh model berpakaian para wisatawan, cara berpakaiannya seperti layaknya masyarakat lokal pada umumnya. Motivasinya untuk mengubah cara berpenampilan dan berpakaian adalah agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan wisatawan asing.

Perubahan cara berpenampilan dan berpakaian tersebut hanya dilakukan apabila sedang berhubungan dengan wisatawan saja. Tetapi pada saat mengikuti kegiatan adat dan keagamaan masih menggunakan pakaian khas masyarakat lokal seperti; sarung dan batik (khas muslim), begitu juga dengan cara berpenampilannya. Budaya-budaya yang diserap dari budaya wisatawan memang benar-benar dilepaskan pada saat mengikuti kegiatan keagamaan dan adat. Jadi, kedua budaya tersebut (budaya masyarakat lokal dan budaya wisatawan) dapat berjalan secara harmonis sesuai dengan waktu, situasi, dan kondisi.

Akulturasi budaya juga terjadi pada bangunan-bangunan fasilitas pariwisata seperti hotel, villa dan restoran. Sebagai contoh, Hotel Lombok Intan Laguna dibangun dengan perpaduan model Eropa dan arsitektur tradisional. Dari luar bangunan tersebut tampak megah, tetapi di dalamnya didesain dengan menampilkan bangunan khas Senggigi. Begitu juga dengan makanan yang disuguhkan di hotel ini.

Selain menyuguhkan makanan-makanan Eropa, disajikan juga beberapa menu makanan khas Desa Senggigi. Contoh makanan tradisional yang biasanya disajikan kepada wisatawan adalah ayam bakar taliwang dan pelecing kangkung. Ayam bakar taliwang terbuat dari satu ekor ayam kampung Lombok yang dibakar dengan bumbu tradisional. Pelecing kangkung terbuat dari kangkung lokal khas Lombok yang direbus dan dibumbui dengan bumbu-bumbu tradisional, biasanya disuguhkan dengan beberuk (terong berwarna hijau atau ungu yang mentah dan diiris tipis-tipis).

Contoh lain makanan tradisional yang disajikan kepada wisatawan adalah sate balayag, terbuat dari lima belas sampai dua puluh tusuk daging ayam atau sapi berbumbu kacang. Sate ini biasanya disuguhkan dengan sepuluh biji balayag (beras dibungkus dengan daun kelapa muda yang dibentuk memanjang, kemudian direbus sampai matang menyerupai ketupat). Selain disuguhkan di restoran dan hotel, sate balayag juga dapat ditemukan di sepanjang Pantai Senggigi dengan harga yang relatif murah sehingga banyak warga masyarakat yang menikmati makanan tradisional ini khususnya pada akhir pekan (hari Sabtu dan Minggu) di sore hari pada saat matahari terbenam. Para penjual sate balayag ini merupakan warga masyarakat lokal yang bermukim di wilayah Desa Senggigi sehingga secara tidak langsung penjualan makanan tradisional ini kepada wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara ikut serta membangkitkan perekonomian masyarakat lokal.

Dampak Negatif Sosial – Budaya Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi tidak hanya berdampak secara positif terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat lokal, tetapi juga mengakibatkan dampak negatif. Bentuk-bentuk dampak negatif yang dapat dilihat dengan jelas yang timbul sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah pendatang yang bekerja sebagai penjaja seks komersial (PSK) dan pelaku tindak kriminal.

Mbak Aminah salah seorang penjaja seks komersial yang berasal dari Banyuwangi dan beroperasi di Objek Wisata Pantai Senggigi menuturkan bahwa yang melatarbelakangi dirinya untuk menekuni pekerjaan tersebut adalah tuntutan ekonomi dan pendidikannya yang sangat rendah sehingga tidak memungkinkan untuk mencari pekerjaan pada sektor formal atau bekerja pada industri pariwisata seperti hotel dan restoran. Dirinya menyadari bahwa pekerjaan yang digeluti sekarang ini bertentangan dan dilarang oleh agama dan norma-norma sosial masyarakat lokal serta memiliki resiko yang tinggi terhadap penularan beberapa jenis penyakit seks seperti HIV (human immune deficiency virus) dan AIDS (acquired immune deficiency syndrome), tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan olehnya karena keterbatasan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya.

Usaha yang dilakukan pemerintah (Dinas Ketentraman dan Ketertiban) dan masyarakat (lembaga swadaya masyarakat Lang-lang Senggigi) untuk menekan jumlah penjaja seks komersial adalah dengan mengadakan razia secara rutin di tempat-tempat hiburan malam yang ada di Objek Wisata Senggigi. Bagi penjaja seks komersial yang terjaring dalam razia selanjutnya diberikan pembinaan agar tidak beroperasi kembali.

Bentuk lain dampak negatif yang muncul sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah adanya peraktik perjudian yang dilakukan dalam skala kecil berupa permainan kartu domino yang dilakukan oleh para pedagang asong, pedagang kaki lima, dan sopir freelance sambil menunggu wisatawan yang menggunakan jasanya. Uang yang dipertaruhkan berkisar antara Rp.500 sampai Rp.1.000. Kecilnya uang yang dipertaruhkan sering kali dianggap bukan kegiatan perjudian bagi para pemainnya. Mereka hanya menganggap sebagai kegiatan hiburan semata sambil menghabiskan waktu luangnya untuk menunggu para wisatawan. Kegiatan perjudian ini diadakan di bawah pohon-pohon yang digunakan sebagai post tunggu di beberapa ruas Jalan Raya Pantai Senggigi.

Pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga memberikan dampak negatif terhadap prilaku anak-anak muda khususnya budaya meminum minuman beralkohol. Berkembangnya pariwisata yang dibarengi dengan meningkatnya jumlah tempat-tempat hiburan malam yang menyuguhkan minuman beralkohol seperti diskotik, café, dan pub menyebabkan beberapa pemuda terbiasa untuk meminum minuman beralkohol. Sebelum berkembangnya pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi (tahun 1989), masyarakat lokal Desa Senggigi tidak terbiasa menikmati minuman-minuman beralkohol karena merupakan minuman yang diharamkan dan dilarang oleh agama.

Dari dampak negatif tersebut, masyarakat dan tokoh masyarakat yang ada di Objek Wisata Pantai Senggigi lebih mengaktifkan organisasi keagamaan yang mana para pemuda tersebut selalu diikutsertakan dalam berbagai kegiatan keagamaan, hasilnya jumlah para pemuda yang telah terbiasa minum minuman beralkohol tersebut mulai sadar dan mengurangi minum minuman yang mengandung alkohol, begitu juga dengan terserapnya para penduduk lokal lebih banyak ke usaha pariwisata secara formal juga dapat mengurangi kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif.

Berdasarkan temuan dampak-dampak yang timbul sebagaimana dijelaskan di atas dan melihat fakta yang ada, maka pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi lebih banyak memberikan dampak positif daripada dampak negatif terhadap sosial budaya masyarakat lokal Desa Senggigi. Oleh karena itu, keberadaan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi masih mendapat sambutan yang positif dari masyarakat lokal, ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dan pengusaha yang bergerak dalam bidang industri pariwisata untuk melibatkan masyarakat lokal dalam setiap perencanaan, pengembangan, dan pengevaluasian kegiatan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi.

Dilihat dari sambutan masyarakat yang positif ini, maka dapat dikatakan bahwa pada saat ini Objek Wisata Pantai Senggigi berada pada fase involvement / local control yaitu adanya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata, keikutsertaan masyarakat lokal dalam menyediakan berbagai keperluan yang dibutuhkan oleh wisatawan, dan adanya komunikasi yang baik antara masyarakat lokal dengan wisatawan.

Hubungan yang baik dan harmonis antara masyarakat lokal dengan wisatawan yang diimplementasikan pada keakraban dan keramah-tamahan turut serta dalam upaya untuk mempromosikan Objek Wisata Pantai Senggigi oleh wisatawan dari mulut ke mulut (word of mouth) kepada wisatawan lain di negaranya agar tertarik untuk berkunjung ke Objek Wisata Pantai Senggigi. Sejauh ini belum ditemukan adanya kebencian dan penolakan terhadap pengembangan Objek Wisata Pantai Senggigi.

Bali Tourism Watch: Membandingkan Pola Kegiatan Wisatawan gang Datang Pertama Kali dengan yang Sudah Pernah Datang

___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Gitelson dan Crompton ( 1984) merupakan orang-orang yang pertama kali menemukan pentingnya pemasaran terhadap wisatawan yang datang kembali dan implikasi pemasarannya. Penelitian-penelitian lain menyatakan bahwa terdapat beberapa perbedaan yang signifikan berkaitan dengan komposisi dan perjalanan wisatawan baik yang pertama kali datang maupun yang berulang. Secara khusus wisatawan yang datang pertama kali biasanya lebih banyak mengunjungi pertunjukan-pertunjukan dalam tujuan kunjungannya dibandingkan dengan wisatawan yang datang berulang. Dengan demikian, wisatawan yang datang pertama kali tampaknya lebih aktif.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pola kegiatan di antara wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang dalam tema lingkungan kebun raya untuk mendapatkan wawasan terhadap persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan pada masing-masing pola kunjungan. Hipotesis kami yang pertama dapat dirumuskan sebagai berikut:

Hipostesa 1: wisatawan yang datang pertama kali berbeda dengan wisatawan yang datang berulang dalam hal pola aktivitasnya dalam tema kebun raya, secara logika bahwa wisatawan yang datang pertama kali lebih banyak menghabiskan waktu di kebun raya, lebih banyak memilih berbagai aktivitas dari pada wisatawan yang datang berulang, dan umumnya mereka lebih cenderung mengikuti rute yang disediakan di taman.

Hipotesa ini dilakukan berdasarkan dugaan bahwa wisatawan yang datang pertama kali memiliki informasi lebih sedikit mengenai tema kebun, dan karena itu mereka lebih cenderung untuk mengeksplorasi lebih banyak dari pada lebih selektif dalam menentukan pilihan ( Misalnya, Um & Crompton, 1990 ).

Namun wisatawan yang datang pertama kali dapat menggunakan sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai tujuan wisata, mengimplikasikan bahwa mereka sadar terhadap alternatif-alternatif yang ada ketika mereka menentukan untuk melakukan kegiatan. Apabila wisatawan yang datang pertama kali mau menggunakan informasi ini dengan baik, pola kegiatan wisatanya akan menjadi hampir sama dengan kegiatan wisatawan yang sudah datang berulang. Hal ini yang membawakan kita kepada hipotesis yang kedua:

Hipotesa 2: Perbedaannya pada pola kegiatan wisata antara wisatawan yang datang pertama kali dengan yang sudah datang berulang dimudahkan dengan penggunaan informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di kebun raya.

Wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang merupakan dua jenis wisatawan yang mungkin mengunjungi sebuah tujuan wisata. Kedua kelompok ini memegang peran yang mendasar dari suatu tujuan wisata yang rata-rata baik dan berhasil. Karena alasan inilah, secara kolektif, para pimpinan tujuan wisata berusaha keras untuk mendapatkan keseimbangan di antara kunjungan wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang ( Opperman 1997 ). Wisatawan yang datang pertama kali menunjukkan konsumen baru yang berpetualang menjelajahi sebuah tujuan wisata yang pertama kalinya. sedikitnya pengunjung baru biasanya menjadi sebuah petunjuk / tanda bahwa sebuah tujuan wisata sedang mengalami penurunan. Namun, hal tersebut tidaklah tetap, mudah berubah, dan membutuhkan biaya pemasaran yang mahal untuk mengejar, tanpa jaminan akan berhasil. Pandangan wisatawan yang datang pertama kali bisa memilih untuk mengunjungi atau menolak tujuan wisata dengan berbagai alasan yang sedikit berhubungan dengan kualitas yang sebenarnya dari pengalaman yang ada.

Pengunjung yang datang berulang, dipihak lain, menunjukkan pengaruh penyetabilan bagi kebanyakan tujuan wisata ( Oppermann, 2000). Wisatawan seperti ini telah mengenali tempat-tempat wisata dan merasa puas dengan pengalaman yang ditawarkan. Terlebih lagi, itu dapat memberikan sumber pemasukan yang stabil yang menjadikan bisnis dan tujuan wisata sebagai penanaman modal dalam pertumbuhan pasar baru. Yang sangat penting, biaya untuk mendatangkan lagi bisnis secara berulang pada prinsipnya lebih sedikit daripada mereka yang mendekati para pelanggan baru ( Pasific Asia Travel Association 1997 ).

Secara umum bahwa wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang menunjukkan prilaku kunjungan yang berbeda dalam kunjungannya. Wistawan yang datang berulang dalah wisatawan yang sadar dengan tujuan wisatanya yang mengerti terhadap kegiatan-kegiatan wisata yang ada. Lebih jauh lagi, sebagai pelanggan lama, mereka telah memiliki kesempatan untuk bergabung dalam berbagai kegiatan wisata dan karena itu mungkin menjadi menarik dalam bergabung pada kegiatan lain wisatawan. Wisatawan yang datang pertama kali , di pihak lain, merupakan pengunjung yang sengaja berwisata yang mungkin tidak sadar dengan apa yang tersedia dan siapa, bahkan ketika sadar, akan menginginkan memperoleh pengalaman yang pertama kalinya.

Hal itulah yang menjadi ironis, namun, yang secara relatif sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk menguji perbedaan dalam hal pola di antara kedua jenis segmen pasar ini, dengan diberikannya prilaku wisata dipengaruhi oleh serangkaian faktor-faktor, termasuk pengalaman masa lampau ( Buhalis, 1999). Suatu asumsi yang nyata yang ada di antara pelaku industri pariwisata di mana kedua kelompok ini berbagi motivasi yang serupa, walaupun tidak ada anggapan yang mendasar akan hal itu.

Pentingnya Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang menunjukan adanya segmen pasar yang atraktif dan efektif bagi sebagian besar tujuan wisata. Gitelson dan Crompton ( 1984) misalnya, melaporkan bahwa banyak area tujuan wisata harus terjadi secara alamiah, dengan mempercayakan sepenuhnya pada kunjungan ulang.

Oppermann ( 1998 ) yang menyatakan bahwa satu mitos yang sering berulang dalam literatur pemasaran yaitu biayanya lima atau enam kali lipat lebih, uang dan usaha untuk mendekati pengunjung baru dari pada mempercayakan pelanggan yang ada untuk datang kembali ke suatu tujuan wisata.

Dalam membangun kunjungan ulang merupakan sebuah sarana di mana para penyalur wisata dapat meningkatkan hasil pendapatan dan menekan biaya dengan cara mengurangi kepercayaan pada tugas yang jauh lebih sulit untuk mendekati wisatawan baru ( Gyte dan Phelps 1989; Gitelson dan Crompton 1984).

Pengunjung wisata ulang tidak hanya menunjukan kesetabilan sumber dari pendapatan dari wisatawan, hal itu juga bertindak sebagai saluran informasi yang secara informal menghubungkan jaringa kepada teman, keluarga, dan para pelancong yang potensial lainnya terhadap sebuah tujuan wisata.. apabila terpuaskan oleh persamaan nilai pelayanan yang mereka terima, wisatawan yang datang berulang biasanya secara efektif menggunakan komunikasi dari mulut ke mulut, untuk mempromosikan kesadaran tujuan wisata dan dan merangsang pandangan pelancong untuk menjadi pengunjung ( Reid dan Reid 1993).

Dengan kata lain, hal ini lebih mudah dapat diakses dari pada para pengunjung pertama kali, sejauh catatan organisasi-organisasi yang bertahan, membuat target pemasaran langsung menjadi lebih memungkinkan untuk dikerjakan dengan mudah. Pengetahuan ini memberikan para penyalur wisata atau para pelaku wisata kelas atas untuk dapat mentargetkan dengan tepat segmen wisatawan yang datang berulang dan mengumpulkan respon langsung terhadap promosi ( Reid dan Reid 1993).

Secara relatip, sedikit jumlah penelitian yang telah dipublikasikan untuk menguji fenomena dan motivasi bagi kunjungan ulang. Gitelson dan Crompton ( 1984) mengemukakan lima alasan kenapa orang-orang memegang kunjungan ulang: resiko penurunan / ketenangan dengan sebuah tujuan wisata yang khusus, resiko penurunan / menemukan jenis orang yang sama, keinginan emosional terhadap suatu tempat, mengeksplorasi lebih jauh sebuah tujuan wisata, dan memberitahukan tujuan wisata tersebut kepada orang lain.

Mereka menemukan perbedaan-perbedaan yang signifikan terhadap motivasi-motivasi kedua kelompok wisatawan ini, di mana wisatawan yang datang berulang cenderung menunjukan keinginan untuk bersantai dibandingkan dengan wisatawan yang baru datang pertama kali, sementara wisatawan yang datang pertama kali lebih suka mencari pengalaman-pengalaman dibidangkan budaya dan pengalaman-pengalaman lain yang bermacam-macam.

Fakeye dan Crompton ( 1991) meneliti perbedaan-perbedaan dalam persepsi calon wisatawan baik yang datang pertama kali maupun yang datang berulang, di Lower Rio Grande Valley. Penelitian ini menghasilkan bahwa orang yang belum pernah mengunjungi sebuah tujuan wisata sebelum merasa terbawa dalam faktor hayalan sangatlah berbeda dengan mereka yang sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Mereka juga menemukan bahwa semakin sering seorang wistawan mengunjungi suatu tempat, semakin lebih besar kesempatan sosial dan pertunjukan-pertunjukan telah dikenalnya dan menghargainya. Hampir sama dengan mereka yang telah pernah ke Valley merasakan unsur-unsur yang berkaitan dengan konsumsi pengalaman, misalnya seperti sarana dan prasarana, makanan, masyarakat yang ramah, dan kedai minuman dan hiburan malam menjadi lebih penting dari pada yang bukan wisatawan lakukan.
Sebaliknya, calon wisatawan ayng pertama kali datang mengidentifikasi alam dan budaya ramah tamah, penginapan, dan transportasi yang menjadi hal yang lebih penting.

Motivasi yang Mempengaruhi Prilaku
Uysal dan Hagan (1993) meringkas literatur mengenai faktor-faktor pendorong, dan mendeskripsikannya sebagai faktor-faktor internal yang membangunkan, mengarahkan dan mengintegrasikan prilaku seseorang dari satu sudut pandang pariwisata sebagai suatu rangkaian kebutuhan dan prilaku yang mempengaruhi seseorang untuk bertindak pada kepariwisataan yang mengkhusus dengan menggunakan cara yang diarahkan. Karena itu dianggap sangat penting dalam memahami prilaku pariwisata ( iso-Ahola 1982, sebagaimana dikutip dari Uysal dan Hagan 1993 ).

Para peneliti tertarik untuk mengukur motivasi-motivasi wisatawan untuk dapat mengidentifikasikan perbedaan jenis-jenis wisatawan secara lebih mudah ( Fodness 1994 ) dan juga untuk mendapatkan wawasan terhadap prilaku perjalanan wisata. Sejumlah penelitian telah menunjukan suatu hubungan antara motivasi dan aktivitas.

Pola-polanya terdiri dari faktor-faktor luar dan dalam ( Crompton, 1997 ). Motivasi-motivasi wisatawan telah dijadikan tauladan sebagaimana menggunakan tipologi psikologis / fisyologis ( Iso-Aloha 1982, seperti yang dikutip dari Uysal dan Hagan 1993 ) atau seperti dalam gabungan dari faktor-faktor penarik dan pendorong ( Mill dan Morrison 1985; Pizam, Neumann, dan Reichel 1997 ). Memperhatikan pendekatan-pendekatan yang diadopsi, secara umum dikenal bahwa motivasi itu termasuk elemen-elemen dalam sebagaimana prilaku individu masing-masing, keinginan, pendapat, pengetahuan, dan kebutuhan untuk berlibur, berpasangan dengan pelengkapan tujuan wisata termasuk mainan anak-anak, fasilitas, keuntungan yang diharapkan, dan kesan-kesan ayng dipromosikan pada tujuan wisata tersebut. Faktor-faktor ini dimodifikasi dengan faktor-faktor demograpi sosial dan ekonomi termasuk usia, jenis kelamin, pendapatan, cara hidup keluarga, golongan kecil dan latar belakang budaya ( uysal dan Hagan 1993 ).

McIntosh, Goeldner dan Ritchie ( 1994 ) secara implisit menghubungkan motivasi itu dengan prilaku. Mereka mengklasifikasikan motivasi tersebut menjadi empat kategori dasar: fisik, budaya, hubungan antar perorangan, dan status dan martabat.. individu yang termotivasi dengan alasan fisik atau dengan suatu kebutuhan untuk ikut serta dalam kegiatan rekreasi dan olahraga.

Mereka yang berwisata dengan motif budaya akan mencari kegiatan-kegiatan yang dapat memuaskan rasa penasarannya mengenai lingkungna, budaya, dan masyarakat. Wisatawan semacam ini ingin mengetahui perbedaan-perbedan diantara agama, seni, musik, makanan, dan gaya hidup msyarkat ayng tinggal di negara yang dikunjungi.

Keinginan untuk memuaskan kebutuhan pribadi mengajak orang untuk berwisata baik untuk mendapatkan teman baru atau untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman dan keluarga. Pada akhirnya individu masing-masing termotivasi untuk berwisata untuk mendapatkan status dan harga diri akan mencari pengalaman-pengalaman yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini.

Prilaku
Pendekatan terkini terhadap perhitungan loyalitas berdasarkan pada perilaku konsumen, sering kali berdasarkan pada prilaku pembelian yang aktual, atau pada kasus-kasus yang lain pada perilaku pembelian yang tercatat. Jacoby dan Chestnut (1987) menyarankan bahwa pendekatan perilaku selanjutnya dapat dibagi lagi menjadi lima tipe yaitu; skuensi pembelian merk, proporsi pembelian merk, kemungkinan pembelian merk, perhitungan sintetis dan berbagai perhitungan yang lain

Kunjungan Ulang
Salah satu kebutuhan terkini terhadap fenomena kunjungan ulang adalah kajian Gitelson dan Crompton (1984) tentang pemasaran liburan berulang dan implikasi pemasarannya. Mereka melaporkan, banyak atraksi dan daerah tujuan wisata seperti pantai atau resor memotivasi untuk melakukan kunjungan ulang.

Selain itu mereka juga menyebutkan lima alasan orang melakukan kunjungan ulang: Pengurangan resiko/isi destinasi tertentu; pengurangan resiko/mencari orang yang sama; perasaan emosional terhadap suatu tempat; eksplorasi lanjutan terhadap suatu destinasi; menunjukan destinasi kepada orang lain. Menginvestigasi peran novel dalam perjalanan yang menyenangkan, Bello dan Etzel (1985) menyatakan bahwa orang dengan penghasilan yang rendah dalam kehidupan sehari-harinya akan mencari liburan yang berkelas dalam liburannya (perjalanan novel), yang mana orang-orang yang hidupnya pasang-surut dengan berbagai masalah dan tantangan akan mencari liburan yang menyediakan stimulasi yang minimum atau sesuai dengan keberadaannya.

Penelitian Fakeye dan Crompton terhadap bukan pengunjung, dan pengunjung pertama dan pengunjung berulang menyarankan bahwa citra yang berbeda dan lebih kompleks dari daerah destinasi berkembang ketika pengunjung tersebut telah menghabiskan waktunya beberapa kali di daerah tersebut. Tetapi, kajiannya juga menyatakan bahwa kebanyakan dari perbedaan dan perubahan citra dapat ditemukan pada kunjungan awal; kunjungan ulang selanjutnya cendrung untuk memastikan citra-citra yang dibuat.

Ryan (1995) melaporkan munculnya kunjungan ulang yang tinggi di antara pengunjung dewasa di pulau Mediterrancan Majorca. Hanya sepertiganya yang belum pernah berkunjung ke sana, sepertiganya lagi pernah berkunjung ke sana satu atau dua kali dan sepertiganya lagi sudah sering berkunjung ke sana. Pada kenyataannya, dilaporkan bahwa 10% dari pengunjung telah berkunjung ke pulau tersebut paling tidak satu kali dalam lima tahun sebelumnya, ini menyatakan segmen loyalitas konsumen.

Ryan menyatakan bahwa loyalitas yang tinggi sesuai dengan teori-teori resiko kebencian dan pentingnya pengalaman liburan yang memuaskan dalam menentukan pilihan destinasi. Selanjutnya, Ryan menyatakan bahwa beberapa responden melaporkan identifikasi yang kuat dengan pulau tersebut dan apa yang disajikan di pulau tersebut.

Bali Tourism Watch: Promosi Penjualan Hotel di dalam Kota Bersejarah

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Secara umum ada banyak teknik promosi penjualan produk pariwisata seperti : (1) Pengurangan harga; (2) pemberian voucer dan kupon; (3) Kompetisi; (4) Beli satu dapat dua atau penawaran gratis untuk anak; (5) Undian dan hadiah; (6) Hadiah/souvenir; (7) Menambah volume diskon; (8) Penambahan masa menginap (extra night) dengan harga yang lebih rendah; (9) Hubungan yang kooperatif antara organisasi; (10) Tampilan point penjualan, tampilan slide, peta dan lain-lain; (11) Kegiatan merchandizing / perdagangan.

Dalam hal promosi penjualan hotel yang terletak di dalam kota bersejarah, model promosi penjualan yang dapat dilakukan adalah dengan cara:

(1) Pengurangan atau penurunan harga, dengan cara ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kedatangan wisawtan dan tingkat hunian di suatu hotel. Wisatawan akan merasa sangat senang apabila mendapatkan potongan harga, tetapi pemotongan harga tersebut sama sekali tidak mengurangi kualitas pelayanan;

(2) mengadakan pameran (exhibition) di museum atau tempat-tempat yang bersejarah, dengan kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi calon wisatawan untuk mengunjungi objek wisata di kota bersejarah.
Target wisatawan untuk promosi ini biasanya adalah wisatawan minat budaya (cultural interest), namun tidak tertutup kemungkinan akan menarik wisatawan muda khususnya bagi mereka yang yang masih belajar di sekolah umum atau universitas, ini dapat berupa kegiatan studi banding atau study tour.

Dan (3) Kegiatan merchandizing / perdagangan, dengan mengadakan berbagai kegiatan perdagangan (trade) khusussnya pedagangan barang-barang antik dan langka di pusat-pusat kota bersejarah akan dapat menarik wisawatan yang ikut dalam perdagangan tersebut maupun wisatwan yang ingin membeli barang-barang yang dikehendakinya.

Wisatawan berminat untuk mengunjungi pameran atau perdagangan lebih cendrung memilih akomodasi yang letaknya dekat dengan kegiatan yang akan diikutinya sehingga mereka juga dapat menekan biaya perjalanannya khususnya biaya transport. Dengan kegiatan-kegiatan ini secara langsung tingkat hunian hotel akan meningkat sehingga dapat memperoleh keuntungan yang lebih banyak.

Usaha-usaha tersebut sesuai dengan tujuan promosi penjualan yaitu: (1) Memperoleh pencobaan atau keingintahuan; (2) Meningkatkan pemesanan yang lebih awal; (3) Meningkatkan kunjungan dan tinggal yang berulang-ulang; (4) Menyebarkan pengunjung ke wilayah yang luas; (5) Memberantas kompetisi; (6) Mencari/menyaring celah sementara dan musiman; (7) Memotivasi perdagangan.