Anakku ‘Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara’

January 19, 2009 at 7:40 pm (Pemilik Bali Tourism Watch)

Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara
(Putri pasangan I Nengah Subadra dan Ni Putu Indah Indrayanti)

Hello Papa....

Lahir di Denpasar pada tanggal 19 Januari 2008 (Saniscara Umanis Sungsang, Penaggal Ping 12 Paniron) menurut sistem penaggalan Bali, di Rumah Sakit Umum Puri Raharja-Bali.

Arti:
Anak perempuan tertua yang memiliki pengetahuan luas

Kosa Kata:
1. Widya : Ilmu / pengetahuan
2. Maha : Tertinggi / tertua
3. Dhita : Puteri
4. Anisvara : Tertinggi / Luas

Asal-usul nama anakku
Nama Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara ditentukan berdasarkan pada api suci yang dinyalakan dihadapan sesajen (banten) dan diyakini bahwa api suci tersebut disaksikan oleh Dewa Brahma-dewa api yang merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa yang bertugas sebagai pencipta alam semesta dan isinya. Nama tersebut merupakan hasil kontribusi dari Ayahnda I Nengah Subadra (Widya Anisvara), Ibunda Ni Putu Indah Indrayanti (Dhita), dan Kakeknda Jro Mangku Wayan Natia (Maha). Nama panggilanya adalah Dhita.

17012009029

Apalah artinya sebuah nama?
Nama merupakan harapan utama orang tua dan diharapkan anak tersebut mencapai apa yang dicita-citakan orang tuanya. Namun, kebenaran terhadap makna nama sangat tergantung dari karma pada kehidupan sebelumnya dan prilaku dalam hidupnya sehingga tidak ada jaminan bagi yang memiliki nama bagus dan penuh arti akan mencapai tujuan yang diharapkan.

Ni Putu Widya Mahadhita Anisvara

Prosesi Acara Manusia Yadanya:
1. Magedong-gedongan
Diadakan pada bulan September 2008 di Perumahan Nuansa Pengungsih, Jalan Trenggana XIVA No.14 Penatih

2. Kelahiran
Lahir pada tanggal 19 Januari 2008 di Rumah Sakit Puri Raharja. Ari-arinya dikubur di rumah Made. Saat tiba di rumah dibuatkan acara penyambutan dengan banten. Operasi sesar di lakukan oleh Dokter Haya. Masuk rumah sakit jam enaman, sekitar jam 8 pagi sudah lahir.

3. Kepus Puser
Dibuatkan banten oleh Dadong Sekar, di Beleleng. Potongan tali pusarnya dikeringkan kemudian disimpan di pelangkiran (tempat sembahyang kecil).

4. Roras Dina
Dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2008 atau dua belas hari setelah kelahiran, bantennya dibuatkan banten oleh Dadong Suplag, We Ranis dan Dadong Sekar. Dilanjutkan dengan acara pebyakalaan/pembersihan Papanya.

Nyante dulu ah..

5. Tutug Kambuhan
Hanya dibuatkan banten petanggeh karena ada pecaruan atau tawur agung di Pesangkan-Duda Timur. Dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2008. Banten dibuatkan oleh Dadong Sekar.

6.Telu Bulanan
Dilaksanakan pada tangga 3 Mei 2008 (Saniscara Umanis Bala) di Perumahan Nuansa Penatih, Blok A No 5, Denpasara. Banten dibuatkan oleh Mbok Ranis dan Dadong Suplag. Banten dilengkapi dengan guling yang disumbangkan oleh Made. Dipuput oleh Jro Mangku dari Banjar Plagan. Upacara dirangkaikan dengan Tutug Kambuhan dan ngenjek tanah pertama kalinya. Mengundang semua sepupu yang ada di Denpasar, teman-teman di kampus dan tetangga. Acara berjalan dengan baik dan lancar.

7.Otonan
Dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2008 (Saniscara Umanis Sungsang). Diadakan di Dusun Pesangkan, Kampung Bali Sadhar, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Banten dibuatkan oleh Wayahnya ‘Jro Mangku Wayan Natia’. Pada hari yang sama, cucu dan cicitnya yang lain juga dibuatkan acara Manusia Yadnya (upacara persembahan untuk manusia) yaitu; mekutang bok, (potong rambut), tiga bulanan, otonan dan potong gigi. Mengundang lebih dari dua ratus orang yang besasal dari beberapa desa di Kecamatan Banjit. Acaranya berjalan dan sukses, berkat kerja sama yang baik antara keluarga dan warga setempat. Papa dan mamanya Dhita mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam acara tersebut.

Upacara Potong Rambut

8. Ulang Tahun Pertama
Selamat Ulang Tahun ya Dhita sayang….. Kasian deah… ulang tahun pertamanya nga ditemani Papanya. Maklum, sedang menuntut ilmu di negeri sebrang, tepatnya di Lincoln, United Kingdom. Katanya sih untuk bekal di hari tua katanya.

Tumpeng Nasi Kuning

Perayaan ulang tahunnya yang pertama sangat meriah karena banyak mengundang, kira 50 oranglah….. Yang diundang adalah tetangga dan anak-anaknya, keluarga papa dan mama, dan juga temen-temen mama di kampus. Katanya sih bikin tumpeng nasi kuning, biar sekalian undangannya makan nasi kuning. Hadiah juga banyak tuh dapet, boneka, baju, jaket, mainan dan masih buanyak…. lagi.

17012009009

Papa dari kejauhan hanya bisa berdoa buat Dhita, semoga cepat besar, jalannya semakin lancar (sekarang baru bisa tiga sampai lima langkah), dan panjang umur.

dsc01814

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Tourisme, Teledorisme dan Terorisme di Bali

January 16, 2009 at 11:20 pm (Uncategorized)

Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________

Sebagai daerah tujuan wisata yang bertaraf internasional yang memiliki keunikan budaya, keindahan alam dan masyarakat yang ramah , Bali telah dikunjungi oleh banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia Eropa, Asia, Afrika dan Australia. Pesatnya pertumbuhan pembangunan pariwisata dan jumlah kunjungan wisatawan ke Bali disikapi dengan positif oleh masyarakat lokal dan menganggap fenomena yang terjadi sebagai peluang emas yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejastraannya.

Masyarakat lokal memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata mulai dari perencanaan (planning), pengembangan (development), pengawasan (supervision) dan pengevaluasian (evaluation) program pengembangan pariwisata. Keterlibatan masyarakat lokal yang paling menonjol adalah dalam pengembangan pariwisata, baik pengembangan sarana utama pariwisata seperti akomodasi dan restoran sarana penunjang pariwisata seperti art shop, tempat penukaran uang, toko dan lain-lain; sedangkan peran yang lainnya masih sangat kecil. Adanya beberapa jenis usaha yang digeluti oleh masyarakat lokal tersebut menggambarkan bahwa peran serta masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata dapat ditemukan pada sektor formal dan tidak formal.

Namun, ada beberapa hal penting yang dilupakan oleh masyarakat lokal sehubungan dengan pesatnya pertumbuhan pariwisata di Bali sehingga dapat mengakibatkan gangguan dan bahkan ancaman terhadap keberlanjutan pariwisata Bali. Kesempatan untuk membuka usaha-usaha kecil seperti pedagang kaki lima misalnya, selain memberikan dampak positif berupa sumber penghasilan bagi pedagangnya, tetapi juga memunculkan dampak negatif seperti kemacetan lalu lintas dan lingkungan nampak kumuh. Ini merupakan salah satu bentuk keteledoran pemerintah dan masyarakat lokal yang menganggap remeh permasalahan ini. Jika ini terus dibiarkan, maka lama-kelamaan akan semakin banyak objek-objek wisata yang akan ditinggalkan karena para wisatawan sudah tidak nyaman lagi melihat pemandangan ini.

Contoh keteledoran lain yang dapat dilihat dengan nyata adalah dalam sistem keamanan. Tidak adanya sistem pengamanan yang menyeluruh (holistic) yang melibatkan aparat pemerintah dan masyarakat merupakan salah satu penyebab dari adanya gangguan keamanan dan serangan terorisme. Mobilitas penduduk juga tidak didata dengan baik sehingga tidak diketahui secara pasti indentitas dan tempat tinggalnya. Yang terjadi sekarang ini, aparat Desa Dinas dan Desa Adat yang diwakili Pecalang hanya memungut uang yang jumlahnya cukup besar setiap bulannya kepada penduduk pendatang tanpa mendata lebih jauh identitas penduduk yang bersangkutan. Sehingga sering kali penduduk pendatang menghindar dari pungutan rutin ini. Semestinya, yang lebih penting adalah pendataan indentitasnya untuk mengetahui secara pasti maksud dan tujuannya menetap dalam jangka waktu tertentu di suatu daerah, bukan jumlah uang yang diperoleh dengan dalih untuk kepentingan keamanan.

Melihat fakta ini, dapat dikatakan bahwa sistem keamanan di Bali masih sangat lemah. Buktinya, banyaknya wisatawan asing yang berkunjung untuk menikmati potensi pariwisata Bali tersebut di atas dan berbagai jenis hiburan tradisional serta dunia gemerlap (dugem) dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan cara melakukan tindakan kriminal dan yang memakan korban dalam jumlah yang sangat banyak serta gangguan keamanan yang mendapat kecaman dan kutukan dari hampir semua negara di dunia. Serangan bom yang dilakukan oleh para terorist pada bulan Oktober 2002 contohnya, telah mengakibatkan kerugian material, trauma berkepanjangan, cacat tepat, dan korban nyawa manusia.

Peledakan bom tersebut bukan hanya mendapatkan respon dari pemerintah daerah dan pusat saja, tetapi juga dari negara-negara di dunia khususnya negara yang warga negaranya menjadi korban peledakan. Negara-negara internasional mengutuk keras tindakan anarkis yang dilakukan para teroris tersebut dan beberapa di antaranya mengirimkan bantuan dan pertolongan medis sebagai bentuk simpati terhadap tragedy yang terjadi. Negara Australia misalnya, dengan terbuka negara ini mengulurkan bantuan untuk membantu penanganan para korban yang tidak bisa lagi diobati di rumah sakit yang ada di Bali. Keprihatinan negara asing terhadap peledakan bom tersebut juga dibuktikan dengan adanya negara-negara asing yang mengirimkan bantuan inteligen dan tim forensik yang ahli dalam bidang penginvestigasian dan pengungkapan kasus kejahatan.

Tragisnya peledakan bom tersebut secara langsung berdampak terhadap pariwisata khususnya di Bali. Jumlah keberangkatan (depature) wisatawan di Bandar Undara Internasional Ngurah Rai meningkat dengan pesat. Banyak wisatawan asing segera meninggalkan Bali untuk menghindari serangan bom susulan dan karena rasa takut yang berlebihan. Sebaliknya kedatangan (arrival) wisatawan asing menurun secara drastis karena para calon wisatawan yang akan datang ke Bali membatalkan rencana perjalanan liburannya ke Bali setelah mendengar berita di media massa dan internet bahwa Bali dalam keadaan tidak aman yang dipertegas lagi dengan dikeluarkannya surat-surat seperti saran untuk tidak berkunjung (travel advisory), peringatan berkunjung (travel warning) dan larangan berkujung (travel banned) oleh beberapa negara asing yang warga negaranya menjadi korban dalam tragedi bom tersebut.

Usaha keras pemerintah, industri pariwisata, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, wisatawan dan masyarakat lokal dalam memulihkan kondisi pariwisata di Bali pasca bom Bali I cukup membuahkan hasil. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada saat diterapkanya program Bali Recovery. Tetapi kemampuan para stakeholders pariwisata tersebut diuji kembali dengan adanya peledakan bom yang kedua kali di Raja’s Cafe, Kuta dan Banega Cafe, Jimbaran yang juga memakan korban harta, benda dan nyawa manusia. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada peledakan bom kembali di Bali jika tidak dilakukan perbaikan dalam sistem keamanan dengan segera.

Jadi, untuk menjaga citra dan keberlanjutan pariwisata Bali yang sudah dikenal dengan keunikan budaya, keindahan alam dan keamanan daerahnya maka perlu adanya keterlibatan seluruh stakeholder pariwisata (pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, industry pariwisata, masyarakat dan wisatawan) untuk menjaga kebersihan dan keamanan di Pulau Bali.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Antara London dan Lincoln

January 10, 2009 at 11:20 pm (Pengalamanku Jalan-Jalan)

London, 11 September 2008

Waktu sudah menunjukan pukul 05.30 waktu London (7 jam lebih lambat dari jam di Bali) akhirnya aku tiba di Bandara Heathrow di Terminal 4. Begitu turun dari pesawat aku harus ke bagian imigrasi untuk stempel passport dan Visa. Disana aku harus menunjukan surat tanda sudah diterima (Letter of Acceptance) dari universitas untuk menjamin bahwa aku benar2 mau sekolah di Inggris.

65f379bd2d75d3c2

Selain itu, aku harus menjalani pemeriksaan kesehatan di ruang isolasi karena dalam Visaku aku akan berada di Inggris selama 4 tahunan. Pemeriksaan ini hanya dilakukan bagi orang asing yang mau menetap lebih dari 6 bulan di Inggris. Aku harus buka baju dan dirongsen. Setelah dinyatakan sehat, selanjutya aku datang lagi ke bagian imigrasi untuk lapor.

Setelah selesai urusan imigrasi, baru aku mengambil barang. Tinggal tasku yang muter2 di sana karena aku lama bener menjalani pemeriksaan. Setelah semua barang terkumpul, aku keluar melalui terminal 4. Belum ada seorangpun perwakilan dari universitas yang jemput aku. Ternyata mereka menjemput di terminal 3. Aku harus kembali naik kereta api (gratis) kira-kira 15 menitan untuk menuju terminal 3. Aku ditunjuin dan diantar langsung oleh seorang staf bandara ke meeting point di terminal 3. Baik sekali ibu itu lho…… Aku telepon nomor orang yang jemput. Ternyata deringannya ada di belakangku. Akhirnya dia nyuruh aku putar badan dan dia langsung tersenyum. Setelah itu aku memperkenalkan diri dan mengecek namaku di daftar kedatangan mahasiswa internasional.

Setelah itu aku duduk2 di ruang tunggu sambil nunggu jam 11.30 pagi. Lumayan juga sih nunggunya (3 jaman lah..). Aku sempat tidur2an di kursi panjang dan makan kue2 yang aku dapet di pesawat BA 12 sambil nunggu berangkat ke Lincoln. Jam dua belas siang aku meninggalkan Heathrow menuju Lincoln, Brayford. Naik bus kira2 empat jam baru sampai di tujuan. Setelah sampai aku langsung dicarikan taksi oleh staf kampus menuju tempat tinggalku.

Begitu sampai di 157 Monks Road, tuan rumahku sudah menyambut dan membantu mengangkat tasku yang beratnya 29.5 kg itu ke lantai dua. Kurus-kurus ternyata ibu kost kuat bener ngangkatnya. He… he.. Setelah itu aku langsung diperkenalkan dengan teman2 yang tinggal serumah dan tempat kamar mandi, dapur serta cara menggunakan fasilitas2 di dapur. Maklum,… udah lama nga pernah masak. Kan ada istriku, he.. he… Aku Cuma dikasi satu seprai dan bantal. Jadi aku mesti beli lagi entar. Dia bilang murah sih kalo beli di toko bekas. Ini gambar rumah yang aku tempati.

100_2977

Perjalanan dari Bali sampai Lincoln, Brayford-United Kingdom (totalnya 21 jam naik pesawat) memang bener2 melelahkan. Makanya begitu tuan rumah pulang, aku langsung makan roti dulu, dah itu tidur….!

Cape deh….

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Antara Singapura dan Heathrow

January 10, 2009 at 11:04 pm (Pengalamanku Jalan-Jalan)

Singapura, 10 September 2008

Begitu tiba di Bandara, aku segera rubah jam. Harus dimajukan satu jam atau sama dengan jam di Bali, biar nga terlambat. Aku lihat jadwal penerbangan pesawat BA 12 di papan ternyata belum muncul. Aku lama menunggu (30 menitan), belum juga muncul karena aku belum tau dari terminal berapa berangkatnya. Akhirnya aku tanya ke bagian informasi dan akhirnya aku tau terminal keberangkatannya. Nunggunya lumayan lama sih…. 4 jam kali ye… Nih fotoku waktu nungguin penerbangan berikutnya.

International Singapore Airport

Pas masuk ke ruang check in, udah mulai deg-degan karena semua laptop digeledah dan diperiksa oleh staf keamanan bandara. Aku hanya takut laptopku disita karena ada beberapa programnya yang nga asli kayaknya. Syukurlah semuanya berjalan dengan baik. Setelah jam 11 malem, semua penumpang naik ke pesawat British Airways dengan nomor penerbangan BA 12. Aku terus dan tetap berdoa agar dalam perjalanan selamat walaupun pesawatnya juga gede sama dengan SQ, tapi BA sedikit lebih bagus tempat duduknya dan pelayanannya.

ef6d1cb11e9f622a

Di pesawat mulai mendapatkan beberapa snack dan minuman ringan. Lumayan,… ngilangin nervous klo naik pesawat. Penerbangannya memang bener2 lama. Udah dapat tidur lama juga belum sampe2. Dalam perjalanan juga banyak sekali goncangan2, cukup dasyat lagi…. Jadi ngeri deah… goncangannya bisa sampai 15-30 menit lho….. Klo aku pas nga tidur, aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berdoa….. Tapi klo udah tidur, ya pasrah aja deah… dan hanya percaya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase sebagai juru penyelamatku. Pesawatnya kayaknya otomatis, sepuluh menit sebelum bergoncang, lampu tanda mengenakan sabuk pengaman pasti menyala dan berbunyi “tink…”. Jadi hapal dah kalo mau ada goncangan.

Beberapa kali mendapatkan suguhan makanan, tapi aku tetap saja ngerasa makanan itu aneh dan serasa Uyah Sere lebih enak, he…. he…. Terus terang, aku makannya tak selahap penumbang yang duduk di samping dan depanku. Mereka lahap semua makannya. Hanya beberapa roti dan minumannya kusimpan dalam kantong kecil yang biasanya dipakai tempat muntahan sehingga aku bisa membawanya ke rumah atau makan nantinya.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Antara Bali dan Singapura

January 10, 2009 at 10:45 pm (Pengalamanku Jalan-Jalan)

Bali, 10 September 2008

Hari ini saat yang paling berat bagiku untuk meninggalkan semua keluargaku di Indonesia karena aku harus pergi jauh menuntut ilmu. Walau itu menyedihkan tapi aku harus tetap pergi dan menjalaninya. Harapanku hanya satu, yaitu aku berhasil dan sukses menuntut ilmu sehingga berguna bagi diriku, keluargaku, bangsa dan tanah airku. Satu lagu yang selalu mengingatkanku untuk kepergianku ini adalah “Teluk Bayur Permai”. Namun terpaksa harus aku ganti beberapa lirik lagunya agar pas dengan kepergianku. Ini lagunya;

Selamat tinggal Pulau Bali tercinta
Daku pergi jauh ke negeri seberang

Ku kan mencari ilmu di negeri orang
Bekal hidup kelak di hari tua
Selamat tinggal istri dan anakku yang tercinta
Doakan agar ku cepat kembali
Kuharapkan emailmu setiap minggu
Kan kujadikan pembuluh rindu

Reff:
Lambaian tanganmu kurasakan pilu di dada
Kasih sayangku bertambah padamu
Airmata berlinang tak terasakan olehku
Nantikanlah aku di Pulau Bali……

Perlu diketahui bahwa ini merupakan kepergianku ke luar negeri untuk pertama kalinya. Aku tak tau ke arah mana aku harus pergi. Aku hanya terus berdoa sambil menelusuri jalan yang semestinya aku tempuh yang ditunjukan oleh Yang Maha Kuasa.

Di Bandara Ngurah Rai, Bali. Beberapa saat sebelum berangkat ke Inggris

Sejak kepergianku dilepas oleh istri (Indah) dan anakku (Dhita) beserta keluarga di Bandara. Aku memang harus berjalan sendiri. Aku menunggu beberapa saat sebelum terbang ke Jakarta. Setiba di Jakarta, tiket untuk ke Singapura dan Inggrispun belum aku pegang. Aku harus menunggu orang yang tak kukenal rupanya yang mau bawain tiketku. Lama menunggu sampai jam 3 sore belum juga datang. Padahal, check-in untuk penerbangan internasional paling lambat dua jam sebelum keberangkatan. Setelah melakukan kontak melalui telepon dan sms, akhirnya jam 4 sore aku ketemu dengan orangnya dan tiketnya dibawa langsung. Dia membantuku check-in di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Dua puluh menitan aku menunggu, waktu menunjukan pukul 5 sore waktu Jakarta. Setelah itu aku berangkat menuju Singapura dengan menggunakan pesawat SQ Airlines. Pesawat besar berbadan lebar, satu baris berisi sebelas orang penumpang. Aku nga tau berapa jumlah semua penumpangnya (yang jelas 64 x 11=?). Aku dapat tempat duduk paling belakang pojok sebelah kanan, tepatnya 64 K. Karena check-in terakhir kale ye….? Makanya,…. lain kali lebih awal donk Check-innya…..! biar dapet tempat duduk agak di Depan. He… he…

Sejak dalam pesawat inilah aku harus mulai memakan makanan yang tidak pernah aku makan sebelumnya. Makan malam di pesawat dengan satu tampal besar ikan tuna dan kentang goreng serta keju. Tapi lumayan bikin perut kenyang walaupun tanpa nasi. Aku hanya sempat ngobrol2 sebentar dengan penumpang yang duduk di sebelahku. Dia kerja di Kedutaan Besar Singapura untuk Indonesia. Dia cukup baik dan ramah sehingga dia ngasi tau beberapa informasi tentang bandara yang akan segera kudarati. Setelah terbang kira-kira 2 jam, aku sampai di Bandara Sang Hai, Singapura.

Permalink Leave a Comment