Belajar Bahasa Asing di Language Assistance
_________________________
Apa itu Language Assistance?
_________________________
Language Asistance merupakan lembaga penyedia jasa pelatihan Bahasa Inggris dan bahasa indonesia yang secara khusus memberikan pelatihan bahasa secara privat dan in-house training dan penerjemahan bahasa asing resmi (authorized) dan tersumpah (sworn).
Language Assitance didirikan oleh I Nengah Subadra, S.S., M.Par. (dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata Triatma Jaya-Dalung) pada tanggal 22 Nopember 2000 di Perumahan Nuansa Penatih Blok A No.5 Denpasar Timur, handphone: 081-239-26773, E-mail: insubadra@yahoo.com.
________________________________
PROGRAM PELATIHAN DAN PELAYANAN
________________________________
__________________________________
I PELATIHAN BIMBINGAN BAHASA ASING:
__________________________________
• General English
• English for Business
• English for Hotel
• English for Restaurant
• English for Travel Agency
• English for Secretary
• English for Academics (training report, essay, mini-thesis, and thesis)
• IELTS, TOELF, TOEIC Preparations
• Bahasa Jerman
• Bahasa Jepang
• Bahasa Prancis
• Indonesian for Foreigner
____________________________
II PENERJEMAHAN BAHASA ASING
____________________________
Di Bali, Language Assistance merupakan satu-satunya penyedia jasa penerjemahan bahasa asing yang resmi dan tersumpah untuk dokumen-dokumen resmi seperti; ijazah, sertifikat, surat keterangan, akta jual-beli, perjanjian dan lain-lain yang mana semua penerjemahnya memiliki ijin dan sertifikasi dari pihak berwenang.
Penerjemahan bahasa asing yang resmi dan tersumpah yang tersedia adalah bahasa Arab, Belanda, Indonesia, Inggris, Jepang, Jerman, Mandarin dan Prancis. Sedangkan penerjemahan bahasa asing yang tidak tersumpah adalah bahasa Arab, Belanda, Indonesia, Inggris, Italia, Prancis, Jepang, Jerman, Korea, Mandarin, Prancis dan Spanyol.
HARGA TERJEMAHAN TIDAK TERSUMPAH:
1. Bahasa Indonesia Rp. 250,- per kata
2. Bahasa Inggris Rp. 250,- per kata
3. Bahasa Jerman Rp. 120.000 per halaman jadi
4. Bahasa Belanda Rp. 120.000 per halaman jadi
5. Bahasa Prancis Rp. 120.000 per halaman jadi
6. Bahasa Mandarin Rp. 130.000 per halaman jadi
7. Bahasa Jepang Rp. 150.000 per halaman jadi
8. Bahasa Korea Rp. 400.000 per halaman jadi
Perlu Terjemahan Cepat..?
Khusus untuk terjemahan biasa atau tidak tersumpah untuk bahasa-bahasa tersebut di atas, tersedia jasa terjemahan SDS (same day service) atau kilat yang harganya DUA KALI LIPAT dari harga terjemahan biasanya.
Informasi lengkap dan cepat bisa langsung menghubungi:
HP nomor: 447790447586
Yahoo Messenger Chatting dengan ID: insubadra.
Skype Voice Chatting dengan ID: inengahsubadra
Dokumen bisa langsung dikirim melalui email: insubadra@yahoo.com.
HARGA TERJEMAHAN RESMI DAN TERSUMPAH
(Authorized and Sworn Translation):
1. Bahasa Indonesia Rp. 100.000 per halaman jadi
2. Bahasa Inggris Rp. 100.000 per halaman jadi
3. Bahasa Jerman Rp. 175.000 per halaman jadi
4. Bahasa Belanda Rp. 175.000 per halaman jadi
5. Bahasa Prancis Rp. 175.000 per halaman jadi
6. Bahasa Mandarin Rp. 180.000 per halaman jadi
7. Bahasa Jepang Rp. 200.000 per halaman jadi
________________
CATATAN PENTING
________________
1. Format hasil terjemahan tersumpah adalah; kertas ukuran A4, dua spasi,
huruf currier new, font 12.
2. Dokumen yang dikirim melalui email harus dibayar uang mukanya terlebih dahulu
melalui rekening bank yang ditunjuk oleh Language Assitance.
Nama Bank : Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Cabang Denpasar
Nomor Rekening : 004 903 9419
Atas Nama : I Nengah Subadra
_______________________
Sasaran Program Pelatihan:
_______________________
Meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris untuk tujuan umum bagi pemula, meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris untuk tujuan khusus bagi pebisnis, karyawan hotel, restoran dan biro perjalanan serta bagi mereka yang ingin melanjutkan studi di luar negeri, mengajarkan metode belajar bahasa Inggris yang benar secara mandiri, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris dan pemahaman budaya asing.
______________
Desain Kurikulum
______________
Kurikulum pengajaran program pelatihan bahasa Inggris berdasarkan pada:
Competency Based, Peserta pelatihan bahasa Inggris akan diajarkan sesuai dengan kompetensi (keahlian, pengetahuan, dan sikap) yang dimiliki oleh masing-masing peserta pelatihan.
Communicative Aproach, peserta pelatihan akan dilibatkan dalam kegiatan belajar mengajar yang mencerminkan kehidupan dan prilaku berbahasa Inggris yang sebenarnya. Kegiatan ini didesain secara khusus untuk meningkatkan kemampuan peserta pelatihan dalam berkomonikasi dalam bahasa Inggris.
Skill Based, peserta pelatihan akan diajarkan secara terfokus terhadap empat keahlian utama bahasa Inggris yaitu; berbicara (speaking), menulis (writing), membaca (reading) dan mendengarkan (listening).
Assigment Based, peserta pelatihan akan diberikan tugas-tugas lanjutan sesuai dengan materi yang diajarkan sebelumnya yang bertujuan untuk memotivasi para peserta untuk mempelajari kembali pelajaran yang telah diberikan di rumah agar mempercepat kemampuan menguasai bahasa Inggris.
Practice Based, peserta pelatihan akan diberikan kesempatan untuk mempraktekan secara langsung tentang teori-teori dan strategi-strategi yang diajarkan sampai peserta pelatihan benar-benar bisa mempraktekan dan mengaktualisasikan dalam realitas kehidupannya sehari-hari.
_________________________
FASILITATOR & PENERJEMAH
_________________________
Semua fasilitator dan penerjemah adalah sarjana profesional strata dua (S2) yang berpengalaman dalam mengajar bahasa Inggris.
1. Prof. Dr. I Nengah Sudipa, MA (Dosen Universitas Udayana)
2. Drs. I Nyoman Muliayana, M. Hum.(Dosen Universitas Warmadewa)
3. Made Sudiarta, S.S., M. Par. (Dosen Politeknik Negeri Bali)
4. I Nengah Subadra, S.S., M. Par. (Dosen Tetap AKPAR Triatma Jaya)
5. I Wayan Sudana, S.S., M. Hum. (IALF Bali)
6. Sastriadi, S.Pd., M.Hum. (STAHN)
7. Elasmendri, S.S., M.Si. (ILC Anugerah)
8. Drs. I Made Ardana Putra, M.Si. (Dosen Politeknik Negeri Bali)
9. Ni Ketut Dewi yuliyanti, S.S., M.Hum.
_______________
TEMPAT BELAJAR
_______________
Belajar dilaksanakan di rumah atau kantor siswa sehingga memberikan situasi dan suasana yang sesuai dengan kehendak siswa.
________
JAMINAN
________
Language Assistance menjamin siswa bisa menguasai bahasa yang diajarkan. Apabila tidak berhasil, biaya akan dikembalikan 100%.
______
BIAYA
______
General English Rp. 1.200.000,00- Per orang /8X pertemuan
General English Rp. 2.500.000,00- Per grup (2-5 orang) /8X pertemuan
General English Rp. 3.000.000,00- Per grup (6-15 orang) /8X pertemuan
General English Rp. 3.500.000,00- Per grup (16-20 orang) /8X pertemuan
English for Business Rp. 125.000,00- Per orang/60 menit
English for Hotel Rp. 125.000,00 Per orang/60 menit
English for Restaurant Rp. 125.000,00 Per orang/60 menit
English for Travel Agency Rp. 125.000,00 Per orang/60 menit
English for Secretary Rp. 125.000,00 Per orang/60 menit
English for Academics Rp. 150.000,00- Per orang/60 menit
IELTS Preparation Rp. 150.000,00- Per orang/60 menit
TOEFL Preparation Rp. 150.000,00- Per orang/60 menit
TOEIC Preparation Rp. 150.000,00- Per orang/60 menit
Indonesian for Foreigner Rp. 250.000,00 Per orang /60 menit
Bahasa Jerman Rp. 100.000,00- per jam
Bahasa Jepang Rp. 100.000,00- per jam
Bahasa Prancis Rp. 100.000,00- per jam
__________
CATATAN:
__________
1. Kursus bisa dimulai HANYA JIKA pembayaran sudah dilakukan. Jumlah pembayaran pertama minimal untuk sepuluh (10) jam.
2. Pembayaran berikutnya (untuk sepuluh jam berikutnya) dilakukan setelah masa studi untuk sepuluh jam selesai.
3. Pembayaran bisa dalam bentuk CASH atau TRANSFER. Jika menggunakan transfer, Bank yang dipakai adalah sebagai berikut:
Nama Bank : Bank Negara Indonesia (BNI) Kantor Cabang Denpasar
Nomor Rekening : 004 903 9419
Atas Nama : I Nengah Subadra
________________
CONTACT PERSON:
________________
I Nengah Subadra, S.S., M.Par.
Language Assistance
International Language Courses and Translations Center
Perumahan Nuansa Penatih, Blok A/5
Denpasar, Bali-Indonesia
Telephone: +62 081 239 26773
Email: insubadra@yahoo.com
Homepage: www.subadra.wordpress.com
Bali Tourism Watch: Promosi Bukan Penentu Keberhasilan Pemasaran Pariwisata Bali
Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
_________________________________________________________
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
______________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
______________________________
Hasil studi banding yang tidak berujung pangkal “saru geremeng” yang dilakukan oleh beberapa anggota dewan ke luar negeri (Inggris) beberapa minggu yang lalu memang sangat perlu dipertanyakan karena apa yang dicari pada lawatan tersebut tidaklah menjawab persoalan-persoalan pariwisata Bali yang sebenarnya. Lemahnya kemampuan dan pengetahuan dalam bidang pariwisata orang yang melakukan promosi tersebut telah dengan mudah menjastifikasi bahwa promosilah yang dianggap paling penting dalam mengenalan dan penarikan minat para calon wisatawan untuk datang dan mengunjungi Pulau Bali. Sebenarnya opini itu sama sekali tidak benar dan tidak masuk akal karena masih ada banyak faktor penentu keberhasilan pariwisata Bali. Sudah adakah pengidentifikasian awal tentang apa yang harus dipromosikan dan bagaimana cara serta strategi yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil promosi pariwisata yang maksimal?
Promosi merupakan salah satu bagian dari bauran pemasaran pariwisata sehingga dalam kegiatan pariwisata promosi tidak bisa berjalan sendiri dan terpisah dari indikator-indikator bauran pemasaran pariwisata yang lainnya. Secara keseluruhan bauran promosi pariwisata mencakup produk (product), harga (price), promosi (promotion), sistem distibusi (place), kerjasama (partnership), pengemasan paket wisata (packaging), program kegiatan wisata (programming), penampilan objek subjek pariwisata (performance), dan sumber daya manusia (people). Seluruh indikator bauran pemasaran pariwisata tersebut harus bersinergi dalam kegiatan pariwisata agar memperoleh hasil pemasaran pariwisata yang optimal.
Tindakan promosi harus berdasarkan pada analisis terhadap situasi dan permintaan pasar terkini. Ini berarti bahwa promosi yang dilakukan harus berdasarkan hasil analisis data penelitian tentang segmentasi pasar pariwisata, bukan merupakan pendapat dan perasaan penguasa atau pemegang yang memandang perlu atau tidaknya diadakan promosi. Apa dasar pengadaan promosi anggota dewan tersebut? Mengingat promosi sangat penting dalam pemasaran pariwisata, maka penelitian tentang promosi pariwisata harus dilakukan secara berkelanjutan sebelum, selama dan setelah promosi sehingga dapat dilihat efektivitas promosi yang telah dilakukan. Hasil penelitian ini dipergunakan untuk menentukan target audensi atau calon wisatawa, mengetahui informasi-informasi pariwisata yang dibutuhkan oleh para wisatawan, dan mengevaluasi keberhasilan promosi yang sedang dilakukan dan setelah selesai dilakukan. Punyakah Bali tenaga-tenaga ahli yang handal untuk melakukan penelitian ini? Sudahkah para ahli tersebut dilibatkan dalam pembangunan pariwisata Bali?
Promosi pariwisata yang efektif mencakup pengidentifikasian target calon wisatawan yang akan dicapai, pengidentifikasian tujuan komunikasi yang akan dicapai, formulasi bentuk pesan dan informasi pariwisata untuk mencapai tujuan, pilihan media untuk menyampaikan pesan dan informasi secara efektif kepada calon wisatawan yang dituju, alokasi anggaran untuk mencapai produksi dan penyampaian pesan, dan evaluasi mekanisme penjualan jasa dan produk-produk pariwisata.
Lebih parahnya lagi, Dinas Pariwisata Provinsi Bali dan Badan Pariwisata Bali (Bali Tourism Board) yang diharapkan mampu bekerja secara holistik untuk menangani masalah dan mencari solusi permasalahan pariwisata di Bali yang semata-mata untuk keberlanjutan pariwisata Bali ternyata hanya mampu bekerja secara parsial. Usaha-usaha yang dilakukan selama ini hanya terfokus untuk mendatangkan wisatawan dengan cara mengadakan promosi wisata dan pemberian penghargaan kepada hotel yang menerapkan konsep Tri Hita Karana, dan mempertahankan citra Bali sebagai destinasi wisata terbaik. Sedangkan usaha-usaha pelestarian potensi pariwisata utama (keunikan budaya, keindahan alam dan keramah tamahan masyarakat) yang dimiliki Bali nyaris tak tersentuh dan terkesan dibiarkan begitu saja. Pada kenyataannya, belum ada usaha yang signifikan yang dilakukan pada indikator bauran pemaasaran lainya yang merupakan idikator terpenting untuk keberlanjutan pariwisata Bali seperti; memperbaiki dan melestarikan objek dan daya tarik wisata, penataan kawasan wisata, pendataan secara berkala fasilitas pariwisata (hotel, vila, bungalow, dan restoran) dan pembinaan terhadap sumber daya manusia dan pengelola objek wisata nyaris terlupakan.
Seharusnya pemerintah dan badan pariwisata ini bekerja dari tingkat bawah mulai dari penataan objek-objek wisata secara fisik agar keindahan dan kebersihannya terjamin sehingga nyaman untuk dikunjungi, memberikan pelatihan pengelolaan objek wisata agar siap dalam menerima kunjungan wisatawan, dan yang tak kalah pentingnya adalah promosi pariwisata.
Kesimpulannya, sehebat apapun tim promosi pariwisata tidak akan mampu mendatangkan wisatawan ke Bali tanpa dibarengi dengan perubahan-perubahan bdan penyelamatan serta penataan sumber daya alam dan budaya yang dijadikan daya tarik wisata, objek wisata dan kawasan wisata agar terlihat lebih menarik dan pengeloalaanya lebih profesional sehingga mampu bersaing dengan destinasi-destinasi pariwisata lainnya di dunia.
Bali Tourism Watch: Sinergikan Pertanian dengan Pariwisata
Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
____________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
____________________________________________________
Pesatnya pembangunan pariwisata di Bali tidak hanya menimbulkan dampak positif seperti peningkatan pendapatan daerah, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejasteraan tetapi juga menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran, kemacetan lalu lintas, kerusakan lingkungan dan pengalihan fungsi lahan terutama lahan pertanian yang dijadikan sebagai tempat pengembangan fasilitas dan sarana pariwisata seperti hotel, restoran, objek wisata dan lain-lain.
Pengembangan pariwisata di Bali telah berkontribusi banyak terhadap kerusakan dan keseimbangan lingkungan khususnya pembangunan pariwisata yang memanfaatkan lahan pertanian baik lahan basah maupun kering. Di Kawasan Seminyak-Kabupaten Badung, banyak lahan pertanian sawah telah dialihkan fungsinya untuk pembangunan fasilitas pariwisata seperti hotel, villa, bungalow, café, art shop dan lain-lain. Dengan pembangunan sarana-sarana tersebut maka secara otomatis sistem penyaluran atau distribusi air terhalangi oleh beton-beton yang melintang dengan kokoh di wilayah tersebut yang mengakibatkan air tidak bisa mengalir dengan baik ke seluruh areal persawahan. Terhambatnya saluran air di daerah tersebut juga telah mengakibatkan masalah baru “banjir” khususnya pada musim hujan. Air meluap ke permukaan saluran-saluran air yang kecil dan tidak lancar dan tumpah ke jalan. Sistem distribusi air yang dikenal sebagai “subak” dan sawah yang dulunya merupakan sumber penghasilan utama masyarakat setempat akan punah ditelan jaman dan derasnya laju pembangunan pariwisata. Melihat fakta ini, mungkinkah lingkungan, sawah dan subak bisa lestari? Dengan kerusakan ini pula, mungkinkah budaya luhur masyarakat Bali khususnya pertanian bisa Ajeg?
Pemanfaatan lahan pertanian untuk kepentingan pariwisata juga telah mengakibatkan kesenjangan antara industri pariwisata dengan pertanian. Permasalahan ini dilatarbelakangi oleh tidak seimbangnya pembagian hasil pemanfaatan pertanian untuk kepentingan pariwisata. Kasus pemasangan seng agar nampak berkilau di areal persawahan warga yang terjadi di Ceking-Kabupaten Gianyar merupakan bukti nyata yang menggambarkan ketidakharmonisan hubungan antara petani dan industri pariwisata. Sawah warga yang elok dan indah dijadikan pemandangan bagi sejumlah restoran, café dan hotel, tetapi petani yang memiliki sawah yang indah tersebut tidak mendapatkan keuntungan sehubungan dengan pemanfaatan sawah dan aktivitas pertaniannya sebagai atraksi wisata. Kekesalan petani pemilik sawah tersebut berujung pada pemasangan seng di sawahnya yang mengakibatkan wisatawan mengeluh karena tidak bisa melihat pemandangan yang indah sebagaimana yang dijanjikan.
Contoh lain yang memiliki permasalahan yang hampir sama adalah di objek Desa Wisata Jatiluwih-Kabupaten Tabanan. Keindahan bentang alam persawahan di tempat ini bukan hanya diminati oleh wisatawan domestik dan manca negara, tetapi juga bagi para anggota tim panitia pemilihan warisan alam dan budaya international. Karena keindahannya, Desa Wisata Jatiluwih dinominasikan sebagai salah satu warisan alam dunia (world natural heritage) dan merupakan satu-satunya objek wisata alam yang dinominasikan di Bali. Fakta yang terjadi di lapangan, warga desa setempat dan pemilik sawah tersebut belum mendapatkan hasil dan keuntungan dari kegiatan wisata yang dilakukan di daerahnya. Operator-operator tour yang menjual paket wisata seperti sightseeing, cycling dan trekking di Desa Wisata Jatiluwih secara langsung membawa pemandu wisata (tour guide), keperluan makanan dan minuman dan peralatan kegiatan wisata tersebut dari kantornya masing-masing sehingga masyarakat lokal sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dan sebaliknya masyarakat lokal hanya menerima sisa-sisa sampah dan jejak kaki para wisatawan saja.
Mungkin saja para operator tour yang menjual paket wisata ke objek Desa Wisata Jatiluwih tidak mengetahui bahwa kegiatan pertanian padi sawah yang mencakup pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan memerlukan biaya tinggi. Biaya yang dikeluarkan oleh petani tersebut sama sekali tidak ditanggung oleh para operator tour. Semestinya, para operator tour yang menjual objek Desa Wisata Jatiluwih memberikan insentif kepada para petani agar tetap melakukan aktifitas pertanian dan membantu mengurangi beban biaya yang dikeluarkan petani. Untuk menutupi kekurangan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pertanian, beberapa petani sudah mulai mengembangkan sayapnya ke sektor peternakan ayam. Di sekitar kawasan Desa Wisata Jatiluwih telah tampak dibangun beberapa kandang ayam yang mengurangi keindahan di objek wisata tersebut dan tidak menutup kemungkinan bahwa di seluruh areal persawahan tersebut akan dibagun usaha peternakan ayam juga di masa yang akan datang yang dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran udara yang disebabkan oleh bau kotoran ayam tersebut.
World Tourism Organization (WTO) sebenarnya telah menggariskan kebijakan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menitikberatkan pada tiga hal yaitu keberlanjutan alam, sosial dan budaya, dan ekonomi. Konsep ini secara jelas menjabarkan bahwa pengembangan pariwisata tidak boleh merusak alam, lingkungan, dan lahan terutama lahan pertanian. Agrotourism merupakan model pengembangan pariwisata memiliki keterkaitan yang erat antara pertanian dan pariwisata.

Bagaimana mensinergikan pertanian dengan pariwisata? Pengembangan agrotourism merupakan model pengembangan yang tepat dan melengkapi model pengembagan pariwisata budaya yang dikembangkan sekarang ini di Bali. Agrowisata merupakan pengembangan pariwisata yang berbasis pertanian, baik pemanfaatan aktivitas pertanian seperti membajak, menanam padi dan memanen sebagai objek wisata, daya tarik wisata dan atraksi wisata maupun pemanfaatan hasil-hasil pertanian seperti beras, sayur dan buah untuk keperluan industri pariwisata seperti hotel dan restoran di suatu daerah tujuan wisata. Bagus Agrowisata di Plaga-Kabupaten Badung, merupakan salah satu contoh objek agrowisata yang memanfaatkan kegiatan pertanian organik sebagai daya tarik wisatanya. Wisatawan secara langsung bisa melihat beraneka ragam tanaman (sayuran dan buah) dan aktivitas pertanian yang dilakukan oleh masyarakat lokal di tempat tersebut. Selain itu, wisatawan juga bisa memetik buah-buahan secara langsung di sekitar areal Bagus Agrowisata sambil melihat pemandangan perbukitan yang indah dan menakjubkan. Sedangkan hasil pertaniannya digunakan untuk kepentingan hotel dan restoran yang secara khusus menjual makanan organik yang merupakan makanan sehat dan menjadi trend bagi kalangan wisatawan baik wisatawan domestik maupun manca negara.
Tidak semua pengembangan agrowisata bisa berjalan dengan baik. Agrotourism di Sibetan-Kabupaten Karangasem yang memanfaatkan kegiatan dan hasil pertanian salak-yang merupakan icon buah Bali sebagai objek dan daya tarik wisatanya tidak beroperasi sebagaimana yang direncanakan. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap kegagalan pengelolaan agrowisata di tempat ini. Ketidakjelasan manajemen pengelolaan merupakan faktor utama. Objek agrowisata ini tidak dikelola dengan baik mulai dari penataan areal yang dijadikan objek, operasional kegiatan tour, dan sumber daya manusia. Faktor lain adalah pemasaran. Objek Agrowisata Sibeten belum dipasarkan secara maksimal oleh manajeman pengelolanya sehingga belum banyak dikenal oleh para operator tour yang menjual paket-paket wisata di Bali. Pemerintah khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem semestinya mempetakan kembali objek-objek wisata yang ada di wilayahnya dan selanjutnya mempromosikan melalui media masa, televisi, internet dan media publikasi lainnya. Selain manajemen dan pemasaran, kerjasama antar stakeholder pariwisata (pemerintah, LSM, masyarakat lokal, industri pariwisata, dan akademisi) belum berjalan dengan baik karena hanya travel agent yang menjual paket wisata ke daerah Timur Bali saja yang berjalan sendiri-sendiri tanpa ada dukungan dari stakeholder pariwisata yang lainnya.

Kesimpulannya, pertanian sangat memungkinkan untuk disenergikan dengan pariwisata yang diwujudkan dalam pengembangan agrowisata. Perlu adanya komitmen dari seluruh stakeholder pariwisata untuk bersama-sama menerapkan kosep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) atau di Bali sering disebut sebagai Ajeg Bali yaitu keberlanjutan sumber daya alam, sosial-budaya, dan pemberian manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal.









