Bali Tourism Watch: Impor Beras jangan Dijadikan Kebiasaan
Oleh: I Nengah Subadra
_________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO,STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
_________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
_________________________________________________________
INDONESIA merupakan negara agraris yang kaya berbagai rempah-rempah dan berbagai hasil pertanian. Letak negara yang berada di daerah tropis dan banyaknya potensi alam yang bisa dijadikan sebagai lahan pertanian seperti sawah dan ladang telah memberikan anugerah dan peluang kerja bagi sebagian besar penduduk Indonesia untuk bergelut dalam bidang pertanian. Sehingga tidak mengherankan lagi pada era orde baru sektor pertanian dijadikan sebagai sektor utama (leading sector) dan roda penggerak perekonomian Indonesia yang dibuktikan dengan tercapainya surplus beras pada masa itu.
Banyaknya penduduk Indonesia yang menekuni profesi sebagai petani sama sekali tidak memberikan dampak positif dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Bahkan, berbading terbalik dengan cita-cita negara Indonesia yakni mencapai masyarakat adil dan makmur. Faktanya, secara turun-temurun mereka hanya mampu memenuhi keperluan hidup sehari-hari dan hampir tidak memiliki sisa penghasilan untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Jika keadaannya demikian terus, kapan mereka bisa hidup makmur dan sejahtera?
Dalam hal ini empat stakeholder utama dalam pertanian (petani, masyarakat, pemerintah dan akademisi) yang memegang peranan penting dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Mereka harus bekerja dalam satu sistem yang memiliki ikatan kerja saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya. Petani bertugas untuk mengolah lahan pertanian, mempersiapkan pembibitan dan penanaman padi, pemeliharaan tanaman, pemanenan.
Masyarakat umum sebagai konsumen semestinya membantu para petani dengan cara membeli dan mengonsumsi beras produksi dalam negeri. Sedangkan bagi wakil rakyat (anggota DPD, DPR dan DPRD) seharusnya secara berkala berinteraksi dengan petani untuk menyerap aspirasi dan mengetahui permasalahan yang dihadapi, dan selanjutnya membuat kebijakan yang lebih memihak pada petani.
Kebijakan yang sangat mendesak untuk diperjuangkan dan direalisasikan adalah tentang distribusi hasil pertanian (gabah dan beras) pascapanen. Mengingat, saat ini tidak ada aturan yang jelas, sehingga para tengkulak dengan leluasa mempermainkan harga gabah yang dibeli dari petani. Sehingga bukannya petani yang mendapatkan keuntungan atas jerih payahnya, melainkan para tengkulaklah yang mendapatkannya.
Pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan penggerak roda pemerintahan semestinya membuat perencanaan pengembangan pertanian. Penetapan harga beli gabah petani perlu direvisi dan disesuaikan dengan perkembangannya. Ini harus dilakukan melalui survai dan penelitian ilmiah untuk mengetahui secara pasti pengeluaran dan penghasilan para petani sehingga lebih representatif, serta mewakili aspirasi rakyat. Pemerintah khususnya Dinas Pertanian harus mengintensifkan program penyuluhan pada para petani agar petani memiliki informasi dan pengetahuan tentang pertanian seperti bibit unggul dan penanganan hama tanaman yang up-to-date.
Kalangan akademisi seharusnya terus melakukan kajian-kajian ilmiah agar bisa mengembangkan dan mengadakan inovasi, serta penemuan-penemuan baru dalam bidang pertanian seperti bibit unggul dan pemberantasan hama tanaman khususnya padi. Temuan dari para peneliti akan sangat membantu para petani padi dalam pemilihan bibit dan pemeliharaan tanaman padi.
Namun, tak harmonisnya hubungan stakeholder tersebut telah mengantar negara Indoneisa ke krisis baru yaitu krisis pangan khususnya beras. Terpuruknya ketahanan pangan di Indonesia memaksa pemerintah merngimpor beras. Meski hal itu merupakan langkah yang sangat tepat, namun upaya tersebut hendaknya jangan dijadikan sebagai kebiasaan tahunan dan ajang untuk mencari komisi dan insentif. Apalagi tindakan melanggar hukum lainnya, sebagaimana kasus Bulog yang mencuat belakangan ini.
Jadi impor beras yang dilakukan pemerintah secara berkelanjutan merupakan hal yang memalukan dan merendahkan harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai negara agraris. Hal ini bisa terjadi karena tidak berjalannya peran masing-masing stakeholder pertanian. Upaya yang bisa dilakukan adalah mengaktifkan dan menggerakkan sistem pertanian dengan cara memberikan kesempatan kepada para stakeholder untuk memainkan perannya sesuai dengan fungsinya masing-masing dalam satu sistem.
Penulis, dosen di AKPAR Triatmajaya-Dalung.
Diterbitkan di Rubrik Debat Publik Harian Bali Post, Tanggal 2 Juli 2007
Bali Tourism Watch: Apa Kata Para Pembaca?
Pemilik website ini mengucapkan banyak terima kasih atas kunjungannya. Semoga artikel-artikel yang ditayangkan bisa menambah pengetahuan dan informasi tentang pariwisata. Komentar dan kritik serta saran anda akan sangat bermanfaat bagi saya dan penyempurnaan website ini. Berikut ini adalah komentar-komentar para pembaca.
Terima kasih dan salam damai,
I Nengah Subadra,BALI-the Island of Paradise
___________________
(1) abril | a_bril_s@yahoo.com | abril.susiloadhy.net | IP: 202.249.26.84
nice article…
tapi menurut saya kok bukan hanya Bali yang bisa dipayungi sebagai ‘cultural tourism’, tapi juga pariwisata indonesia secara keseluruhan bisa dikategorikan sebagai cultural tourism, karena memang budaya yang selalu menjadi daya tarik utamanya.
(2)Enny Juliyanti
Umm, paragraf nomer 10 kalimat “BELUM MENIKAH” sampe ditulis 2 kali, om… Salah tulis kali, sebenernya “MAO MENIKAH” ehehehe,
(3) Gary Garcia | garygwg1@gmail.com | IP: 64.28.135.2
I like this article. It highlights the fact that if the Ecotourism products are not responsibly managed they would be destroyed. But as we know the “providers of tourism products” have or make no investment in the environment, they just “mine” the pleasures of the environment, and like miners when they have taken all and there is nothing left to mine they just move on. So in this regard Ecotourism if not well managed can be seen in the same way as a mineral extraction industry.
(4) kagum Gunawan | kagum_gzp@yahoo.com | IP: 219.83.113.139
Apa khabar Mr. I Nengah Subadra.
Saya harap anda baik-baik saja.Mungkin baru kali ini saya membaca website ini dan isinya bagus.Kebetulan saya juga termasuk yang menyukai dunia pariwisata walaupun dunia pariwisata kita sedang terpuruk tetapi saya mempunayi optimisme bahwa kepariwisataan kita akan bangkit.
Mungkin tidak banyak yang akan tulis …tapi saya akan masuk lagi.
Keep in touch.
(5) hendry | hendryhung_85@yahoo.com | IP: 125.160.99.11
ok juga blongnya jadi bisa buat referensi saya skripsian nih mas..oh ya saya hendry 22 di bogor…anak ipb jurusan arsitektur lanskap,sekarang lagi skripsian gitu mas..saya ambil lanskap sejarah dan studi kasusnya di kawasan pecinan glodok…(judulnya…studi potensi lanskap kawasan pecinan glodok sebagai kawasan wisata sejarah di jakarta barat)
mas bisa bantu saya refernsi apa yang mas punya buat memperkaya khasanah perskripsian saya?^^ karena saya agak2 bingung nih..apalagi di bab metodologinya…ok deh segitu aja dulu…terima kasih
(6) moonriver | angelina_cen@yahoo.com | IP: 202.146.241.6
susah bener pertanyaannya pak.. kasi clue dong, kalo gak ampe tue juga gak kejawab neh
(7) Nuarta | shoping@balishoping.com | balishoping.com | IP: 202.152.172.230
selamat sore pak Nengah, saya liat banyak makalah, memang seharusnya begini sebagai kaum akademis, dalam pelaksanakan prinsip-prinsip pariwisata berkesinambungan.
Bahasa dalam trend adalah ekowisata, tetapi saya pingin tau dan kalo bisa buat makalah tentang trend pariwisata yang tidak mengandalkan ekowisata.
menurut informasi yang saya terima dalam seminar-seminar bahwa negara singapore dan malaysia yang mengandalkan life style kenapa pariwisatanya lebih maju padahal ekowisatanya lebih sedikit dari bali.
kalau ada makalah yang sudah jadi tentang itu mohon di upload dan thanks for sharing nya.
(8) pantja | sphandayani@yahoo.com | IP: 202.138.226.5
Bagus, Infonya sangat bermanfaat, tidak saja untuk yang baru menekuni/mempelajari masalah kepariwisataan, tapi juga untuk pengetahuan mereka yang awan.
(9) intaning | intaning_dewi@yahoo.com | IP: 125.162.175.130
Tulisannya menarik sekali. salut pada usaha anda melestarikan kebudayaan bali. semoga lebih banyak lagi penulis yang consern pada permasalahan bali. tulisan anda saya gunakan sebagai salah satu compulsory articles yang harus saya baca sebagai finalis putri bali 2007.
(10) Gita (IP: 202.81.63.181 , earth.quasar.net.id)
E-mail : gita.gitu@yahoo.com
allow…pak, pa kabar???
gila yah artikelnya ok banget dehh. top and salut banget pokokny cZ
artikelnya tuw bs jadi inpirasi saya bwt bikin tugas kampuz. pokonya klop
banget dahH…
tetep up to date aja yah pak artikel tentang pariwisatanya hehehe
keep on a go0d work.
(11) uthor : dewa ayu ekha yustini (IP: 124.81.8.92 , 124.81.8.92)
E-mail : jclu_ekha3887@yahoo.co.id
Comment:
how bout to explain “how to develop the tourism in indonesia,generally”
need ur reply on my email,
thanks b4…
oh yah, i am a student of “tourism economic institute” in manado..
(13)
____________________________
Anda belum ngasi komentar…?
Buruan KASI……..!
Ntarkan diterbitin juga disini









