Bali Tourism Watch: Keberadaan Pekerja Seks Komersial sebagai Dampak Negatif Pariwisata di Bali

June 23, 2007 at 4:43 am (Artikel Pariwisata)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Pengembangan pariwisata di Bali memiliki dua dampak yaitu dampak positif dan dan dampak negatif. Dampak positif yang muncul antara lain; peningkatan pendapatan daerah, peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Sedangkan dampak negatif yang dapat dilihat antara lain; kerusakan dan pencemaran lingkungan yang dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata, peningkatan jumlah tindak kejahatan seperti pencurian dan perampokan, serta praktek prostitusi.

Ditinjau dari perspektif agama, prostitusi dilarang dan ditentang keras keberadaannya oleh semua agama di Indonesia. Namun, keberadaanya sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Ini tidak terlepas dari banyaknya permintaan (demand) terhadap prostitusi dan harus disikapi dengan peningkatan persediaan (supply) prostitusi. Praktek prostitusi dapat dilihat di berbagai tempat pariwisata di Bali seperti; Kuta dan Sanur.

Keputusan untuk berprofesi sebagai pekerja seks komersial yang lazim disebut sebagai PSK (commercial sex worker) dilatarbelakangi oleh beberapa hal seperti; impitan ekonomi, broken-home, ketidakharmonisan dalam hubungan seks dengan pasangannya. Di antara penyebab tersebut, faktor ekonomi merupakan faktor yang paling dominan, terlebih lagi krisis ekonomi dan politik yang menimpa Indonesia khususnya Bali dalam dasa warsa terakhir yang telah memaksa beberapa orang untuk bergelut dalam profesi itu.

Pekerja seks komersial adalah seseorang yang menjual dirinya dengan melakukan hubungan seks untuk tujuan ekonomi. Secara umum ada dua pelaku pekerja seks komersial yaitu; laki-laki yang sering disebut sebagai gigolo dan perempuan yang sering disebut wanita tuna susila (WTS). Konsumen pekerja seks komersial dibagi menjadi dua yaitu; konsumen lokal dan konsumen asing. Konsumen lokal yaitu konsumen yang berasal dari kalangan pekerja industri pariwisata, sopir, dan wisatawan lokal. Konsumen asing adalah konsumen yang berasal dari kalangan wisatawan asing dan orang asing yang berbisnis dan tinggal di Bali.

Berdasarkan modus operasinya, Pekerja seks komersial dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu; pekerja seks jalanan dan pekerja seks terselubung. Pekerja seks komersial jalanan biasanya beroperasi secara terbuka di jalan-jalan yang dilewati wisatawan, di dalam bar, restoran, dan karaoke. Mereka umumnya berasal dari keluarga miskin atau tidak mampu dari berbagai daerah di Indonesia. Biasanya, mereka memiliki dan mengadakan perjanjian-perjanjian khusus seperti penentuan tariff, lokasi, dan pelayanan. Walaupun hanya memiliki kemampuan berbahasa asing yang sangat terbatas, mereka bisa dengan leluasa beoperasi dan berkomonikasi dengan calon pelanggan dan pelanggannya karena didukung oleh bahasa tubuh (body language).

Pekerja seks terselubung biasanya beroperasi secara tersembunyi yang sering kali menyamar sebagai pemandu wisata illegal dan freelance, pedagang asong, pegawai salon kecantikan, menyewakan papan selancar, dan menjual makanan dan minuman di sekitar Pantai Kuta. Profesi aslinya sangat berpeluang untuk mencari kerja sampingan. Mereka biasanya memanfaatkan waktu kerjanya untuk menggoda dan merayu calon pelanggannya dengan berbagai cara untuk mengadakan pendekatan. Upaya pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan pelanggan antara lain; dengan menawarkan diri sebagai teman, teman kencan, dan pemandu wisata. Kedekatan hubungan ini biasanya terus berlanjut walaupun pelanggannya sudah tidak di Bali lagi. Setidaknya mereka masih terus berkomunikasi dengan berbagai sarana seperti; telepon, surat, dan email.

Kedekatan hubungan antara Pekerja seks komersial dengan pelanggannya sering kali berlanjut sehingga tidak jarang digunakan sebagai sumber dana untuk biaya hidup di tengah hangar-bingarnya pariwisata seperti; tempat tinggal, makan dan minum, serta kebutuhan sehari-hari. Sebagian hubungannya terus berlanjut hingga ke pelaminan atau perkawinan.

2 Comments

  1. RINA said,

    Saya adalah mahasiswa Pariwisata Udayana. Saya sedang melakukan research dalam hal penanggulangan pelacuran. Saya ingin bertanya tentang artikel yang Bapak tulis tersebut. Apakah Bapak pernah melakukan penelitian secara langsung tentang keberadaan para PSK. Bagaimana tanggapan Bapak tentang PSK2 yang marak di tempat2 seperti: nightclub, restoran dan lain2. Bagaimana seharusnya sebuah restoran/ night club menanggulangi/ mengantisipasi kedatangan para PSK yang mencoba mencari pelanggan di tempat restoran/ night club tersebut?
    Terima kasih sebelumnya. Tolong di reply yah Pak Dosen yang baik hati……….

  2. vinutama said,

    bgus bnget loh,,,
    tlong ya ksh informasi lebih mengenai psk d bali..
    vinutama.wordpress.com

    aku tunggu y….

Post a Comment