Bali Tourism Watch: Dampak Sosial-Budaya Pengembangan Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi-Kabupaten Lombok Barat

Penulis: LIHAT DI SINI

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi telah memberikan dampak positif dan negatif terhadap sosial budaya masyarakat lokal. Dampak-dampak positif yang timbul antara lain; pelestarian budaya, adat istiadat, cara hidup, kesenian, penyediaan lapangan pekerjaan, dan membangkitkan kegiatan perekonomian masyarakat lokal. Sedangkan dampak-dampak negatif yang timbul antara lain; terjadinya praktek prostitusi, kebiasaan mmeminum minuman beralkohol, dan tindak kejahatan.

Dampak Positif Sosial–Budaya Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi

Sehubungan dengan pengembagan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, secara umum kebudayaan-kebudayaan masyarakat lokal seperti cara hidup, adat istiadat, agama, dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyangnya masih terjaga kelestariannya. Artinya, walaupun sudah berbaur dan dipengaruhi oleh budaya-budaya asing namun kebudayaan masyarakat tersebut masih dapat ditemukan dengan mudah dan dilakukan secara rutin oleh masyarakat setempat, seperti upacara pernikahan, perayaan hari besar nasional.

Dengan adanya pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga ditemukan adanya revitalisasi pada beberapa jenis budaya dan kesenian masyarakat lokal. Organisasi keagamaan “Remaja Masjid” merupakan salah satu contoh budaya masyarakat lokal yang masih ditemukan di era pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi. Organisasi generasi muda muslim ini melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan budaya dan agama seperti; pengajian, dakwah, belajar membaca dan menulis Bahasa Arab, diskusi tentang isi dan makna yang tertera dalam kitab suci Al-qur’an. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sudah ditekuni oleh masyarakat lokal sebagai upaya melindungi diri dari pengaruh budaya dari luar (industri pariwisata) dan telah dilakukan sejak dahulu kala sampai sekarang. Organisasi kemasyarakatan ini juga menjadi media pemersatu antar umat muslim di Nusa Tenggara Barat khususnya di Senggigi.

Organisasi kemasyarakatan lain yang melakukan kegiatan sebagaimana tersebut di atas adalah pondok pesantren. Di pondok pesantren, para santri (orang yang secara khusus menuntut ilmu keagamaan di pondok pesantren) diberikan pelajaran lebih terfokus pada keagamaan dan etika dalam kehidupan. Pesertanya juga tinggal di dalam pondok pesantren sehingga tertanam rasa bakti kepada agama secara lebih mendalam dan diberikan situasi yang nyata tentang bagaimana kehidupan muslim dan muslimah yang sebenarnya yang diharapkan setelah keluar dari pondok pesantren bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Model pendidikan yang diberikan di organisasi pemuda Remaja Masjid dan Pondok Pesantren merupakan cara pembelajaran budaya dan agama yang sangat efektif karena sesuai dengan karakteristik budaya masyarakat lokal. Sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, beberapa industri pariwisata seperti hotel dan restoran mendukung kegiatan-kegiatan Remaja Masjid dan Pondok Pesantren tersebut karena dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Dukungan terhadap kegiatan pelestarian budaya dan agama di kedua organisasi kemasyarakatan tersebut diwujudkan dalam pemberian sumbangan secara material dalam bentuk uang secara berkala untuk menunjang kegiatan yang dilaksanakan. Bentuk lain sumbangan dari industri pariwisata terhadap upaya pelestarian budaya dan agama masyarakat lokal berupa pembangunan fisik bangunan, seperti Masjid dan Mushola atau gedung dan pengadaan sarana dan alat yang diperlukan untuk memperlancar jalannya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga turut serta dalam melestarikan budaya-budaya masyarakat yang lainnya seperti kesenian dan adat istiadat. Kesenian tradisional masyarakat lokal yang masih terjaga kelestarianya adalah Tari Rudat dan Gendang Beleq.

Tari Rudat merupakan kesenian tradisional dalam bentuk seni tari (gerakan tubuh) diiringi dengan musik tradisional gambelan yang dimainkan oleh tujuh sampai sebelas orang. Fungsi kesenian ini adalah sebagai penyambutan terhadap wisatawan dan sering kali dipersembahkan untuk penghargaan terhadap tamu kenegaraan. Secara singkat, Tari Rudat mengisahkan sepasang muda-mudi yang saling jatuh cinta yang berlanjut hingga ke pernikahan. Pesan-pesan yang disampaikan berupa nasihat-nasihat hidup yang membangkitkan rasa saling mencintai dan menyayangi sesama dan lingkungan, sehingga dengan pertunjukan kesenian ini diharapkan dapat meningkatan persaudaraan dan persahabatan antar manusia dan lingkungan hidup.
Tokoh kesenian Tari Rudat yang masih menekuni dan mengembangkan secara aktif adalah Haji Rusdi, seorang tokoh masyarakat lokal dari Desa Senggigi Dusun Kerandangan. Beliau menuturkan bahwa di tengah gencarnya perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, Tari Rudat sama sekali tidak surut keberadaannya. Sebaliknya, tari tersebut semakin lestari dan terjaga keberadaanya karena dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata yang ditampilkan pada acara-acara yang diorganisir oleh hotel-hotel dan event organizer yang berada di Objek Wisata Pantai Senggigi.

Gendang Beleq merupakan kesenian tradisional yang dimainkan dengan alat musik tradisional Gendang Beleq yang berfungsi sebagai musik penyambutan. Makna yang terkandung dalam pertunjukan kesenian ini adalah adanya kebersamaan antara umat yang tinggal di Lombok Barat yaitu antara umat Suku Sasak Lombok yang beragama Islam dengan umat Hindu dari Bali yang tinggal menentap di Lombok.

Sebelum berkembangnya pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, kedua kesenian tradisional ini hanya dipentaskan pada saat-saat tertentu saja khususnya pada upacara adat dan keagamaan sehingga tidak banyak dikenal oleh masyarakat umum di luar daerah Senggigi. Pertumbuhan pariwisata yang semakin pesat dari tahun ke tahun turut serta membangkitkan dan merevitalisasi kesenian tradisional tersebut dan sekarang ini sering kali dipertunjukan di hadapan para wisatawan sebagai atraksi wisata yang bercirikan kedaerahan yang dipentaskan langsung oleh masyarakat asli.

Seni tari tradisional lain yang sering dipentaskan sebagai atraksi wisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah Tari Topeng. Tari ini mengisahkan pengembala beberapa jenis ternak seperti; sapi, kerbau, dan kambing yang dengan bangga dan berbahagia mengembalakan ternaknya di kebun yang juga menunjukan tingkat status sosial dan martabat seseorang di Desa Senggigi. Tari ini dimainkan oleh empat sampai delapan orang dengan menggunakan pakaian khas Adat Sasak, topeng dengan beberapa karakter, dan pecut.

Keberadaan tari ini sebenarnya sudah hampir punah. Tetapi sejak Desa Senggigi ditetapkan sebagai salah satu objek wisata di Nusa Tenggara Barat maka diadakan terobosan-terobosan untuk menambah daya tarik wisata dan atraksi wisata untuk menambah keanekaragaman daya tarik wisata yang salah satunya adalah kesenian tradisional Tari Topeng. Sejak dijadikan sebagai salah satu atraksi wisata, Tari Topeng terus direvitalisasi dan dikembangkan dengan membangun sanggar-sanggar tari yang dilakukan oleh perorangan dan ada juga yang merupakan hasil kerjasama antara para pengelola industri pariwisata di sekitar Objek Wisata Pantai Senggigi dengan masyarakat lokal.

Pementasan kesenian-kesenian tradisional tersebut di atas sudah dilakukan sejak bulan Maret 2005, biasanya diadakan setiap hari Jumat sore (jam 16.00-selesai) yang bertempat di Pasar Seni Senggigi. Pementasan ini terselenggara atas kerjasama antara Qunci Villas, Sundancer Hotel, dan pemerintahan desa. Pertunjukan ini disajikan tanpa dipungut biaya sehingga banyak dikunjungi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun manca negara.

Selain bentuk positif tersebut di atas, terjadi juga akulturasi budaya yaitu perpaduan antara budaya asli masyarakat yang mendapatkan pengaruh dari budaya asing, namun kedua unsur budaya tersebut sama-sama terlihat dan menonjol. Salah satu bentuk akulturasi budaya yang terjadi adalah gaya hidup terutama dalam penampilan dan berpakaian. Sebelum dikembangkan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, jenis pakaian yang dipakai oleh masyarakat lokal sehari-hari berupa sarung dan baju kaos bagi kalangan laki-laki, sedangkan perempuan umumnya memakai sarung, baju lengan panjang, dan kerudung atau jilbab.

Sekarang ini beberapa masyarakat lokal telah mengadopsi pola penampilan dan cara berpakaian para wisatawan. Sebagai contoh, Pak Edy (seorang sopir yang merangkap sebagai pemandu wisata freelance) telah mengubah penampilannya sejak tahun 1998 dengan begitu juga dengan cara berpakaiannya. Sebelum dipengaruhi oleh model berpakaian para wisatawan, cara berpakaiannya seperti layaknya masyarakat lokal pada umumnya. Motivasinya untuk mengubah cara berpenampilan dan berpakaian adalah agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan wisatawan asing.

Perubahan cara berpenampilan dan berpakaian tersebut hanya dilakukan apabila sedang berhubungan dengan wisatawan saja. Tetapi pada saat mengikuti kegiatan adat dan keagamaan masih menggunakan pakaian khas masyarakat lokal seperti; sarung dan batik (khas muslim), begitu juga dengan cara berpenampilannya. Budaya-budaya yang diserap dari budaya wisatawan memang benar-benar dilepaskan pada saat mengikuti kegiatan keagamaan dan adat. Jadi, kedua budaya tersebut (budaya masyarakat lokal dan budaya wisatawan) dapat berjalan secara harmonis sesuai dengan waktu, situasi, dan kondisi.

Akulturasi budaya juga terjadi pada bangunan-bangunan fasilitas pariwisata seperti hotel, villa dan restoran. Sebagai contoh, Hotel Lombok Intan Laguna dibangun dengan perpaduan model Eropa dan arsitektur tradisional. Dari luar bangunan tersebut tampak megah, tetapi di dalamnya didesain dengan menampilkan bangunan khas Senggigi. Begitu juga dengan makanan yang disuguhkan di hotel ini.

Selain menyuguhkan makanan-makanan Eropa, disajikan juga beberapa menu makanan khas Desa Senggigi. Contoh makanan tradisional yang biasanya disajikan kepada wisatawan adalah ayam bakar taliwang dan pelecing kangkung. Ayam bakar taliwang terbuat dari satu ekor ayam kampung Lombok yang dibakar dengan bumbu tradisional. Pelecing kangkung terbuat dari kangkung lokal khas Lombok yang direbus dan dibumbui dengan bumbu-bumbu tradisional, biasanya disuguhkan dengan beberuk (terong berwarna hijau atau ungu yang mentah dan diiris tipis-tipis).

Contoh lain makanan tradisional yang disajikan kepada wisatawan adalah sate balayag, terbuat dari lima belas sampai dua puluh tusuk daging ayam atau sapi berbumbu kacang. Sate ini biasanya disuguhkan dengan sepuluh biji balayag (beras dibungkus dengan daun kelapa muda yang dibentuk memanjang, kemudian direbus sampai matang menyerupai ketupat). Selain disuguhkan di restoran dan hotel, sate balayag juga dapat ditemukan di sepanjang Pantai Senggigi dengan harga yang relatif murah sehingga banyak warga masyarakat yang menikmati makanan tradisional ini khususnya pada akhir pekan (hari Sabtu dan Minggu) di sore hari pada saat matahari terbenam. Para penjual sate balayag ini merupakan warga masyarakat lokal yang bermukim di wilayah Desa Senggigi sehingga secara tidak langsung penjualan makanan tradisional ini kepada wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara ikut serta membangkitkan perekonomian masyarakat lokal.

Dampak Negatif Sosial – Budaya Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi tidak hanya berdampak secara positif terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat lokal, tetapi juga mengakibatkan dampak negatif. Bentuk-bentuk dampak negatif yang dapat dilihat dengan jelas yang timbul sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah pendatang yang bekerja sebagai penjaja seks komersial (PSK) dan pelaku tindak kriminal.

Mbak Aminah salah seorang penjaja seks komersial yang berasal dari Banyuwangi dan beroperasi di Objek Wisata Pantai Senggigi menuturkan bahwa yang melatarbelakangi dirinya untuk menekuni pekerjaan tersebut adalah tuntutan ekonomi dan pendidikannya yang sangat rendah sehingga tidak memungkinkan untuk mencari pekerjaan pada sektor formal atau bekerja pada industri pariwisata seperti hotel dan restoran. Dirinya menyadari bahwa pekerjaan yang digeluti sekarang ini bertentangan dan dilarang oleh agama dan norma-norma sosial masyarakat lokal serta memiliki resiko yang tinggi terhadap penularan beberapa jenis penyakit seks seperti HIV (human immune deficiency virus) dan AIDS (acquired immune deficiency syndrome), tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan olehnya karena keterbatasan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya.

Usaha yang dilakukan pemerintah (Dinas Ketentraman dan Ketertiban) dan masyarakat (lembaga swadaya masyarakat Lang-lang Senggigi) untuk menekan jumlah penjaja seks komersial adalah dengan mengadakan razia secara rutin di tempat-tempat hiburan malam yang ada di Objek Wisata Senggigi. Bagi penjaja seks komersial yang terjaring dalam razia selanjutnya diberikan pembinaan agar tidak beroperasi kembali.

Bentuk lain dampak negatif yang muncul sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah adanya peraktik perjudian yang dilakukan dalam skala kecil berupa permainan kartu domino yang dilakukan oleh para pedagang asong, pedagang kaki lima, dan sopir freelance sambil menunggu wisatawan yang menggunakan jasanya. Uang yang dipertaruhkan berkisar antara Rp.500 sampai Rp.1.000. Kecilnya uang yang dipertaruhkan sering kali dianggap bukan kegiatan perjudian bagi para pemainnya. Mereka hanya menganggap sebagai kegiatan hiburan semata sambil menghabiskan waktu luangnya untuk menunggu para wisatawan. Kegiatan perjudian ini diadakan di bawah pohon-pohon yang digunakan sebagai post tunggu di beberapa ruas Jalan Raya Pantai Senggigi.

Pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga memberikan dampak negatif terhadap prilaku anak-anak muda khususnya budaya meminum minuman beralkohol. Berkembangnya pariwisata yang dibarengi dengan meningkatnya jumlah tempat-tempat hiburan malam yang menyuguhkan minuman beralkohol seperti diskotik, café, dan pub menyebabkan beberapa pemuda terbiasa untuk meminum minuman beralkohol. Sebelum berkembangnya pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi (tahun 1989), masyarakat lokal Desa Senggigi tidak terbiasa menikmati minuman-minuman beralkohol karena merupakan minuman yang diharamkan dan dilarang oleh agama.

Dari dampak negatif tersebut, masyarakat dan tokoh masyarakat yang ada di Objek Wisata Pantai Senggigi lebih mengaktifkan organisasi keagamaan yang mana para pemuda tersebut selalu diikutsertakan dalam berbagai kegiatan keagamaan, hasilnya jumlah para pemuda yang telah terbiasa minum minuman beralkohol tersebut mulai sadar dan mengurangi minum minuman yang mengandung alkohol, begitu juga dengan terserapnya para penduduk lokal lebih banyak ke usaha pariwisata secara formal juga dapat mengurangi kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif.

Berdasarkan temuan dampak-dampak yang timbul sebagaimana dijelaskan di atas dan melihat fakta yang ada, maka pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi lebih banyak memberikan dampak positif daripada dampak negatif terhadap sosial budaya masyarakat lokal Desa Senggigi. Oleh karena itu, keberadaan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi masih mendapat sambutan yang positif dari masyarakat lokal, ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dan pengusaha yang bergerak dalam bidang industri pariwisata untuk melibatkan masyarakat lokal dalam setiap perencanaan, pengembangan, dan pengevaluasian kegiatan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi.

Dilihat dari sambutan masyarakat yang positif ini, maka dapat dikatakan bahwa pada saat ini Objek Wisata Pantai Senggigi berada pada fase involvement / local control yaitu adanya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata, keikutsertaan masyarakat lokal dalam menyediakan berbagai keperluan yang dibutuhkan oleh wisatawan, dan adanya komunikasi yang baik antara masyarakat lokal dengan wisatawan.

Hubungan yang baik dan harmonis antara masyarakat lokal dengan wisatawan yang diimplementasikan pada keakraban dan keramah-tamahan turut serta dalam upaya untuk mempromosikan Objek Wisata Pantai Senggigi oleh wisatawan dari mulut ke mulut (word of mouth) kepada wisatawan lain di negaranya agar tertarik untuk berkunjung ke Objek Wisata Pantai Senggigi. Sejauh ini belum ditemukan adanya kebencian dan penolakan terhadap pengembangan Objek Wisata Pantai Senggigi.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s