Bali Tourism Watch: Lingkungan Bisnis Tour Operator

May 29, 2007 at 2:53 am (Artikel Pariwisata)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Lingkungan bisnis tour operator mencakup: prilaku konsumen (consumer behavior), pemerintah (government), bank dan institusi-institusi keuangan (bank and financial institutions), pesaing (competitors), iklim (climate), pihak yang berkontribusi (shareholders), media dan pendapat pemimpin (media and leader’s opinion), pemasok (suppliers), badan resmi dan setengah resmi (legal and quasi-legal bodies), produk yang competitif/bersaing (competitive products), perubahan demografi (demographic changes), dan agen dan penyalur (agents and distributors). Masing-masing peran dari lingkungan bisnis tour operator tersebut akan dijabarkan secara jelas di bawah ini.

1.Prilaku konsumen (consumer behavior). Dalam kegiatannya, tour operator harus selalu memperhatikan prilaku konsumen (calon wisatawan) dengan menggunakan metode STP (segmenting, targeting dan positioning). Dengan menggunakan metode ini, tour operator harus mengetahui prilaku wisatawan yang menyangkut pendapatan (income) dan ketertarikan (interest). Sebagai contoh; wisatawan yang berasal dari Jerman akan lebih cendrung menyukai aktivitas tour yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan historis (historical), wisatawan yang berasal dari Jepang sangat menyukai kegiatan berbelanja (shopping). Melihat contoh prilaku wisatawan dari kedua negara ini, oleh karena itu sangat diperlukan penyediaan sarana dan prasarana pariwisata yang berkualitas dan berstandar internasional agar mampu memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para wisatawan tersebut sehingga mampu memberikan nilai (value) dan sesuai dengan target komunikasi yaitu dampak (effect).

2.Pemerintah (government). Peran pemerintah dalam dunia pariwisata khususnya dalam kegiatan tour operator sangat mutlak diperlukan. Beberapa peran yang dimainkan oleh pemerintah adalah :

(a) Penerbitan atau pengeluaran ijin (license) usaha jasa perdagangan pariwisata. Setiap pembangunan baik sarana dan prasarana utama maupun penunjang yang berhubungan dengan kegiatan pariwisata harus mendapatkan ijin dari pemerintah yang dikoordinasikan dengan beberapa departemen atau dinas yang terkait. Sebagai contoh, untuk pembuatan sebuah usaha perdagangan jasa pariwisata “Tourist Information Center” (TIC), dalam pengurusan ijinnya melibatkan beberapa dinas seperti; Dinas Pariwisata, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Dinas Pajak dan Pendapatan. Dengan melibatkan beberapa dinas tersebut diharapkan agar usaha jasa perdagangan pariwisata tersebut benar-benar terkoordinasi dengan baik dan bisa memberikan masukan (contribution) kepada pemerintah yang berupa peningkatan pendapatan daerah (regional revenue);

(b) Pemungutan dan pengelolaan pajak (tax) jasa perdagangan pariwisata. Pemerintah juga bertanggung jawab dalam menangani dan mengelola pajak pendapatan yang diperoleh dari pajak perdagangan jasa pariwisata. Dalam kegiatan pariwisata, jumlah pendapatan pajak terbesar diperoleh dari pajak hotel dan restoran (PHR), namun tak tertutup kemungkinan dari pajak-pajak kegiatan pariwisata yang lainnya. Namun jumlahnya tidak begitu signifikan. Penanganan pajak hotel dan restoran belum dikelola dengan baik dan secara profesional oleh pemerintah kita. Ini dapat dilihat dengan jelas bahwa masih banyak hotel dan restoran yang membayar pajak tidak sesuai dengan jumlah pembayaran yang sebenarnya karena masih banyak hotel dan restoran menggunakan laporan pembayaran pajak yang datanya dimanipulasi sehingga mereka membayar pajak jauh lebih sedikit daripada yang seharusnya dibayar kepada pemerintah. Apabila penangan pembayaran pajak ini dapat dikelola dengan baik, maka secara otomatis dapat menekan kebocoran keuangan dan meningkatkan pendapatan daerah;

(c) Penetapan peraturan (regulation) tentang perdagangan jasa pariwisata. Pemerintah berhak untuk mengeluarkan peraturan-peraturan tentang perdagangan jasa pariwisata. Ini bertujuan untuk mengarahkan pembangunan pariwisata ke depan agar keberadaan pariwisata dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bukan sebaliknya yaitu keberadaan pariwisata merusak tatanan kehidupan masyarakat, budaya dan lingkungan. Dengan adanya otonomi daerah (regional autonomy), masing-masing pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengelola daerahnya sendiri. Sehingga peraturan yang dibuat dan dikeluarkan di suatu daerah provinsi, kota madya atau kabupaten berupa Peraturan Daerah (PERDA) yang memiliki kekuatan hukum (power of law) di wilayah atau daerah tersebut;

(d) Dan penentuan dan pengawasan produk-produk (allowed products) jasa perdagangan pariwisata. Dengan penetapan dan pengawasan terhadap produk-produk pariwisata diharapkan dapat mengindari dan menekan terjadinya praktek-praktek penjualan produk pariwisata yang tidak sesuai dengan kaedah perdagangan jasa pariwisata.

3.Bank dan institusi-institusi keuangan (bank and financial institutions) sangat berperan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata. Dalam hal pembuatan usaha atau investasi baru, pernyataan bank (bank statement) yang menyangkut mengenai laporan jumlah tabungan atau kekayaan yang dimiliki oleh seorang pemilik usaha atau penanam modal sangat diperlukan dalam proses pengurusan perijinan di dinas-dinas terkait. Ini digunakan untuk memastikan bahwa pemilik usaha memang mampu secara keuangan (financial) dalam membangun suatu usaha perdagangan jasa pariwisata. Bank dan lembaga keuangan lainnya juga berperan dalam pemberian pinjaman (loan) bagi para pengusaha yang ingin meningkatkan modal dan memperluas jaringan usahanya. Bagi pengusaha yang telah berhasil, bank juga berperan dalam pemberian jasa pengamanan uang mereka. Uang mereka akan ditabung di bank demi keselamatan.

4.Pesaing (competitors) juga berperan dalam kegiatan kepariwisataan. Pesaing berperan dalam peningkatan kualitas produk (product) dan pelayanan (service), penetapan harga (price), sistem promosi (promotion) dan distribusi (place / distribution) yang telah dimiliki. Dengan melihat dan mengamati produk dan pelayanan, harga, promosi dan distribusi yang dimiliki pesaing, kita dapat mengetahui kelemahan dan kekurangan pesaing tersebut. dengan mengetahui kelemahan dan kekurangan tersebut, kita bisa mengambil posisi dan menentukan strategi baru untuk memberikan produk dan pelayanan yang lebih berkualitas, memberikan harga yang lebih competitif / bersaing, membuat strategi promosi dan distribusi yang lebih bagus sehingga mampu mengalahkan pesaing tersebut.

5.Iklim (climate). Peran iklim dalam kegiatan pariwisata juga cukup penting terutama dalam perkiraan cuaca (weather forecast). Ini sangat erat kaitannya dengan pelayanan jasa transportasi khususnya transportasi udara dan laut. Dengan mengetahui informasi mengenai cuaca tersebut, para pengemudi pesawat (pilot) dan pengemudi kapal laut (nahkoda) mengetahui secara pasti waktu yang tepat untuk menjalankan pesawat atau kapalnya. Informasi cuaca ini juga dapat mengurangi resiko kecelakaan yang terjadi. Melihat berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan gunung meletus yang terjadi belakangan ini, perlu juga diadakan dan dibangun berbagai perangkat sistem peringatan dini (early warning system) untuk mengurangi jumlah korban dari bencana (disaster). Dengan informasi perkiraan cuaca dan pemasangan perangkat sistem peringatan dini, wisatawan akan mengetahui secra pasti tentang tempat-tempat yang layak dikunjungi dan tidak membahayakan dan mengancam nyawanya.

6.Pihak yang berkontribusi (shareholders). Pihak-pihak ini sangat berperan dalam kegiatan perdagangan jasa pariwisata. Umumnya, para shareholders berkontribusi banyak pada saat dimualianya suatu usaha perdagangan jasa pariwisata yang berupa penanaman modal (investment) sebagai modal awal dalam proses pembangunan dan mengembangkan kegiatan usahanya ke masa yang akan datang. Selain terlibat dalam penanaman modal, tidak tertutup kemungkinan para shareholders juga terlibat dalam proses manajemen pengembangan usaha perdagangan jasa pariwisata. Bagi yang terlibat dalam manajemen pengembangan, mereka umumnya menduduki posisi-posisi manajer (managerial positions) dan bahkan posisi-posisi direktur (directorial positions) karena mereka memang benar-benar berkompetensi dalam bidangnya dan memiliki pengetahuan (knowledge) yang luas, keahlian (skill) yang profesional, dan sikap (attitude) yang ramah-tamah dan penampilan (appearance) yang bagus dan menarik.

7.Media dan pendapat pemimpin (media and leader’s opinion). Media baik media cetak maupun media elektronik merupakan sarana promosi yang sangat efektif dalam upaya pengenalan suatu produk pariwisata. Tujuan promosi mencakup:

(a) Pengidentifikasian target audensi yang akan dicapai;

(b) Pengidentifikasian tujuan komunikasi yang akan dicapai;

(c) Formulasi bentuk pesan untuk mencapai tujuan;

(d) Pilihan media untuk menyampaikan pesan secara efektif kepada audiesi yang dituju;

(e) Alokasi anggaran untuk mencapai produksi dan penyampaian pesan. Sekarang ini banyak sekali studi-studi yang membahas mengenai promosi sehingga menghasilkan konsep terbaru yaitu “bauran promosi dan komunikasi pemasaran”. Kosep ini mencakup semua komunikasi yang dilakukan untuk mencapai tingkat permintaan pariwisata yng diinginkan melalui penyampaian pesan yang benar melalui sarana yang benar untuk mempengaruhi audiensi yang mempengaruhi atau meningkatkan permintaan dalam jangka pendek dan jangka panjang. Bauran ini mencakup empat hal utama yaitu: pengiklanan (advertising), humas (public relation), penjualan langsung (direct selling) dan promosi penjualan (sales promotion). Iklan memiliki banyak fungsi dalam pariwisata antara lain:
•Membuat keperdualian (awareness) terhadap suatu produk;

•Menginformasikan tentang suatu produk yang baru atau spesial;

•Menanamkan citra yang memiliki legalitas.

•Mempengaruhi citra daerah tujuan

•Menyediakan informasi mengenai pelayan special dan penawaran khusus.

•Penjualan langsung untuk mendatangkan respon langsung.

•Pengenalan terhadap penamaan (branding) suatu produk.

•Mencapai target audensi yang baru.

•Menyediakan informasi tentang penggunaan alat yang baru.

•Mengumumkan peluncuran atau peluncuran kembali suatu produk.

•Iklan yang bersifat mengingatkan bertujuan untuk menjaga atau mempertahankan hubungan dalam benak konsumen.

8.Pemasok (suppliers). Para pemasok barang sangat berperan dalam kegiatan usaha perdagangan jasa pariwisata khususnya hotel dan restoran. Semua kebutuhan hotel dan kebutuhan wisatawan yang berada di hotel tersebut dipasok oleh banyak supplier. Sebagai contoh pasokan kebutuhan makanan untuk wisatawan di hotel dan restoran, tidaklah mungkin hotel dan restoran tersebut menyediakan bahan-bahan keperluanya sendiri atau menanamnya sendiri di suatu daerah tertentu. Mereka akan mengeluarkan biaya tambahan (extra cost) untuk mengurusi kebun tersebut. Jadi untuk untuk lebih praktisnya, mereka cendrung menggunakan banyak supplier untuk memasok segala macam barang yang diperlukan. Dengan pelibatan banyak supplier ini, perlu adanya kerjasama yang baik antara pihak supplier dan hotel atau restoran. Kerjasama yang tersebut biasanya menyangkut mengenai terms and conditions dalam proses pemasokan barang yang biasanya berisi tentang kesepakatan-kesepakatan tertentu, sistem pemasokan, sistem pembayaran (cash atau credit), dan sistem pemberian komisi. Melihat pentingnya peran para supplier ini, maka perlu diadakan pendekatan-pendekatan khusus yang harus dilakukan oleh pihak hotel atau restoran dalam hal ini yang bertangung jawab adalah departemen pengadaan barang (purchasing department) dengan semua supplier agar semua kegiatan usahanya dapat berjalan dengan baik.

9.Badan resmi dan setengah resmi (legal and quasi-legal bodies). Selain pemerintah, badan-badan resmi dan badan setengah resmi juga memiliki peran dalam kegiatan perdagangan jasa pariwisata. Di Bali, badan resmi seperti Banjar dan Desa Adat memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan pariwisata. Peran yang bisa dimainkan oleh Banjar atau Desa Adat adalah menjaga keamanan di lingkungan masing-masing. Karena keamanan merupakan salah satu penentu dari mau atau tidak maunya wisatawan mengunjungi suatu daerah tujuan wisata. Telah terbukti secara nyata di Bali. Masyarakat Bali dengan koordinasi Banjar dan Desa Adat mampu menjaga keamanan Bali sehingga mampu mendatangkan wisatawan. Selain menjaga keamanan, Desa Adat juga mampu menyediakan atraksi wisata (tourist attraction) khususnya kegiatan yang berhubungan dengan agama seperti piodalan di pura desa, pura puseh dan pura dalem. Kegiatan keagamaan tersebut sebenarnya merupakan perpaduan antara kegiatan adat Bali dan agama Hindu yang sangat unik dan mampu mendatangkan wisatawan dalam jumlah yang banyak. Selain Banjar dan Desa Adat, Lembaga Swadaya Masyarakat atau Non Governmental Organizations (NGOs) juga berperan dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata. Peran yang bisa dimainkan oleh NGOs adalah pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan pariwisata, pencarian donatur (donator) untuk kegiatan-kegiatan amal (charity program) yang dipergunakan untuk mendanani berbagai kegiatan. Misalnya pada saat terjadinya peledakan bom di Kuta, NGOs sangat berperan dalam proses pemulihan (recovery) pariwisata Bali.

10.Produk yang competitif/bersaing (competitive products). Produk pariwisata sangat berbeda dengan produk-produk perdagangan konvensional. Produk pariwisata merupakan produk yang tidak bisa dipindahkan (immoveable product) dan hanya bisa dinikmati atau dirasakan pada saat itu saja. Sebagai contoh; apabila seseorang memesan kamar dan menginap di suatu hotel, mereka akan membeli produk pariwisata tersebut dengan harga tertentu dan mereka akan menikmatinya (baik kamar maupun pelayanan) pada periode tertentu tergantung berapa lama mereka tinggalnya. Setelah masa tinggalnya habis, mereka tidak mempunyai hak untuk menggunakan produk wisata tersebut. melihat karakteristik dari produk pariwisata tersebut, maka sangat diperlukan penyediaan produk-produk yang kompetitif dan terjangkau oleh pasar. Penyediaan produk pariwisata yang kompetitif dapat dilihat dari kualitas (quality) dari produk pariwisata dan pelayanan jasanya (services).

11.Perubahan demografi (demographic changes). Perubahan demografi juga berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata terutama dalam proses segmentasi dari suatu populasi. Segmentasi demografi merupakan pembagian pasar berdasarkan variabel-variabel demografi seperti; umur, jenis kelamin, siklus kehidupan keluarga, pendapatan pekerjaan, pendidikan, agama, ras, dan kewarganegaraan. Dengan perubahan demografi ini, maka perlu diadakan segmentasi ulang yang berdasarkan atas situasi demografi terkini agar dapat mencapai target pasar yang optimal. Kesalahan dalam menentukan segmen pasar akan akan berakibat pada gagalnya proses selanjutnya yaitu targeting.

12.Agen dan penyalur (agents and distributors). Tour operator memerlukan beberapa agen perjalanan wisata (travel agency) untuk dapat melaksanakan aktivitasnya dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada para wisatawan terutama pada saat wisatawan berada di suatu daerah tujuan wisata. Sebuah tour operator akan memiliki banyak agen yang tersebar di seluruh daerah tujuan wisata yang dijualnya. Banyaknya agen yang dimiliki oleh sebuah tour operator sangat tergantung pada besar kecilnya tour operator tesebut. Untuk menjaga hubungan baik antara tour operator dengan agen-agennya di daerah tujuan wisata, biasanya dilakukan sales call yang tujuannya adalah mengunjungi agen-agennya agar berhubungan lebih dekat dan akrab, memperkenalkan dan menjual suatu produk wisata baru secara langsung. Selain itu sales call juga bertujuan untuk menegosiasi harga suatu produk atau paket wisata.

Daftar Pustaka

Madiun, I Nyoman. 2005. Bahan Ajar Mata Kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar:

Suradnya, Made. 2005. Bahan Ajar Mata Kuliah Pemasaran Pariwisata. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar:

Permalink 1 Comment

Bali Tourism Watch: Warisan Budaya dan Alam dan Pariwisata di Era Postmodernisme

May 29, 2007 at 2:51 am (Artikel Pariwisata)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Warisan merupakan sesuatu yang ditransformasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perannya adalah sebagai pembawa nilai-nilai budaya di masa lampau ke generasi sekarang. Warisan dipandang sebagai salah satu bagian dari tradisi masyarakat di suatu daerah. Di sisi lain, dalam konsep pariwisata warisan dipandang sebagai bentuk kesadaran (awareness) yang modern. Sifat utama pariwisata adalah dinamis atau berkembang sesuai dengan perubahan yang terjadi.

Studi terkini tentang warisan budaya dan pariwisata cendrung terfokus pada kekuatan tradisi yang identik dengan kestabilan dan kesinambungan, sedangkan dalam pariwisata terjadi perubahan. Sehingga warisan budaya dan pariwisata adalah dua hal yang bertentangan (contradictive). Sejumlah pendekatan teoritis telah dipergunakan untuk menganalisa hubungan antara warisan budaya dan pariwisata. Hubungan antara warisan budaya dan pariwisata dapat dilihat melalui produksi budaya dan konsumsi pariwisata.

Menurut pandangan masyarakat modern, pariwisata dianggap sebagai kegiatan yang berhubungan dengan produksi yang sangat kompleks karena berkaitan erat dengan waktu, daerah regional, nasional dan internasional. Keinginan orang untuk bepergian ke luar daerahnya bukan hanya sebagai mimpi saja tetapi telah manjadi kenyataan. Abad ke-19 yang ditandai dengan revolusi industri merupakan penghancur dari masa lampau dan diganti dengan hal-hal yang baru. Abad ke-20 ditandai dengan kembalinya kesadaran baru untuk mengingat kembali dan berkomunikasi dengan hal-hal yang terjadi di masa lampau. Ini berimplikasi terhadap perkembangan pariwisata sekarang ini yang mana wisatwannya cendrung mencari dan mengunjungi objek-objek wisata yang memiliki nilai-nilai budaya untuk mendapatkan keaslian dan identitas dari suatu pola tradisi.

Bentuk baru dari produksi lampau atau warisan berasosiasi dengan pola konsumsi mempengaruhi wisatawan dalam pemilihan destinasi pariwisata. Keinginan untuk mengunjungi daerah yang asli dan meningkatnya kesadaran dan rasa hormat wisatawan terhadap warisan dan tradisi merupakan penanda adanya hubungan antara lokal (tradisi yang ada di destinasi pariwisata) dan global (budaya dan wisatawan yang berasal dari berbagai negara yang berbeda). Trend inilah yang dipandang sebagai manifestasi posmodernisme.

Heritage tourism menawarkan kesempatan untuk menikmati tradisi-tradisi di masa lampau. Wisatawan posmodernisme menggunakan intelektualitas dan imajinasinya untuk menerima dan mengkomunikasikan pesan yang ada pada warisan tersebut dan mengkonstruksi pandangannya terhadap tempat-tempat bersejarah. Negara-negara berkembang sangat potensial dijadikan sebagai destinasi pariwisata postmodernisme karena merupakan pusat dari tradisi, budaya, agama dan tahayul yang belum tersentuh modernisasi.

MEMAHAMI WARISAN BUDAYA DAN ALAM BUATAN

Arti istilah warian buatan sangat kompleks. Ini digunakan sehubungan dengan pelestarian monumen dan bangunan-bangunan bersejarah selama bertahun-tahun. Dalam konteks pariwisata, warisan mencakup wariasan alam dan budaya. Dalam konteks budaya, warisan digunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk material seperti monumen, peninggalan sejarah dan arsitektur dan artefak yang ditayangkan di museum atau bentuk-bentuk bukan material seperti filosofi, tradisi, kesenian, perayaan besar atau sejarah kepribadian seseorang, cara hidup yang berbeda, dan pendidikan.
Dalam konteks alam, warisan digunakan untuk mendeskripsikan kebun, ladang, taman nasional, hutan belantara, gunung, sungai, flora dan fauna.
Warisan buatan berhubungan dengan struktur dan bangunan bersejarah. Warisan-warisan tersebut dilindungi oleh undang-undang monumen kuno, undang-undang kawasan arkeologi, atau undang-undang warisan nasional karena memiliki jasa yang sangat besar. Selain itu juga bertujuan untuk melestarikan, membangun kembali dan memperkenalkan properti warisan budaya dan alam yang ada di suatu daerah.

Warisan buatan sering kali dikenal sebagai salah satu bentuk warisan budaya. Menurut United Nations World Heritage Convention Concerning Protection of the World Cultural and Natural Heritage, ada tiga komponen warisan buatan yaitu:

(1) monumen, mencakup karya-karya arsitektur, karya patung dan lukisan yang besifat monumental, elemen atau struktur sifat arkeologi, prasasti, gua dan penghuninya, dan kombinasi bentuk dari nilai-nilai sejarah, seni dan ilmu.

(2) kelompok bangunan, mencakup sekelompok bagunan yang arsitekturnya, keanekaragamannya atau tempatnya memiliki nilai sejarah, seni dan ilmu.
(3) tempat atau kawasan, mencakup karya manusia atau merupakan perpaduan antara buatan manusia dengan alam dan kawasan arkeologi yang memiliki nilai sejarah, estetik, etnologi, dan antropologi.

Menurut Prentice (1993) dalam Nuryanti (1996), warisan buatan juga dideskripsikan sebagai warisan sejarah dan seni sebagai kebalikan dari warisan ilmu dan budaya. Yang termasuk di dalamnya adalah elemen fisik sebagai peninggalan dari sumber-sumber air suci hingga bangunan-bangunan keagamaan, benteng dan kota modern. Warisan yang memiliki nilai pendidikan meliputi tumbuh-tumbuhan, burung, binatang, karang, dan habitat alam. Warisan budaya mencakup kesenian rakyat dan fine art, budaya dan bahasa.

Warisan buatan terdiri dari elemen-elemen material. Elemen-elemen tersebut dapat dibagi menjadi tiga yaitu: elemen fixed, elemen semi-fixed dan elemen non fixed. Elemen fixed adalah elemen yang jarang dirubah dan berstruktur tetap seperti bangunan, kota dan reruntuhan bangunan. Elemen semi-fixed adalah elemen yang dapat dirubah secara agak cepat seperti furnitur dan tanaman. Elemen non-fixed adalah elemen yang berhubungan dengan manusia yang ada di dalamnya.

Keanekaragaman dimensi warisan yang disuguhkan dapat digunakan untuk memahami lebih mendalam tentang makna dari suatu warisan buatan. Warisan budaya lebih berhubungan dengan budaya dari pada dengan alam. Warisan buatan merupakan gabungan dari warisan bawaan manusia (human-made) dan fixed element yang memiliki nilai dan makna.

Interpretasi Warisan Budaya dan Alam

Tantangan utama dalam menghubungkan antara warisan dan pariwisata terletak pada rekonstruksi masa lampau dengan masa sekarang melalui interpretasi. Pariwisata warisan merupakan produksi atau reproduksi dari masa lampau sangat bermasalah khususnya berkaitan dengan warisan buatan. Interpretasi warisan buatan bukan hanya melibatkan isu-isu seperti penapsiran arti dari suatu peristiwa di masa lampau, sensitivitas lintas budaya, profesionalisme, pendidikan dan pelatihan tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai kegiatan yang berkaitan termasuk perencanaan konservasi, desain arsitektur dan teknik rekonstruksi.

Menurut Tilden (1997) dalam Nuryanti (1996), interpretasi harus dilakukan lebih jauh dari pada sekedar pertukaran informasi dan harus diinspirasi dan bahkan harus dihasut. Ada enam prinsip dasar interpretasi yaitu: (1) interpretasi yang tidak berhubungan dengan apa yang ditampilkan atau dijelaskan ke sesuatu di antara kepribadian dan pengalaman pengunjung; (2) informasi; (3) interpretasi merupakan seni yang mengkombinasikan berbagai jenis seni, apakah materi yang ditampilkan bersifat ilmiah, sejarah atau arsitektur; (4) tujuan dari interpretasi bukanlah instruksi tetapi provokasi; (5) interpretasi harus menampilkan keseluruhan daripada bagian-bagian tertentu saja; (6) interpretasi ditujukan kepada berbagai segmen pengunjung dengan menggunakan pendekatan yang berbeda. Kompleksnya penginterpretasian warisan budaya buatan ini mengakibatkan sulitnya pemaknaan dari suatu objek. Sehingga pemaknaanya terletak pada pengamat atau pengunjung.

Menurut Herbert (1989) dalam Nuryanti (1996) interpretasi dapat menghasilkan keluaran bagi penginterpretasi dan pengunjung. Pengunjung akan memberikan apresiasi terhadap objek warisan, kesadaran dan pemahamannya meningkat, puas dan menikmati objek-objek tersebut. Keuntungan bagi para penginterpretasi adalah akan meningkatnya kunjungan wisatawan apabila wisatawan tersebut memperoleh informasi dan pelayanan yang memuaskan. Oleh karena itu, interpretasi harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh dalam pemasaran, manajemen dan perencanaan pariwisata warisan budaya dan alam.

Memasarkan Warisan Budaya dan Alam Buatan

Sekarang ini, kawasan-kawasan warisan budaya dan alam dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara. Tetapi umumnya dikunjungi oleh wisatawan domestik karena berasosiasi dengan sejarah dan budayanya. Ini memiliki implikasi yang sangat penting dalam musim kunjungan, pemasaran dan pola prilaku wisatawan dan manajemen kawasan.

Segmentasi merupakan konsep penting dalam pemasaran pariwisata khususnya untuk pemasaran pariwisata minat khusus. Pangsa pasar pariwisata warisan budaya dan alam sangat heterogen. Menurut Prentice (1993), segmen pasar pariwisata warisan budaya dan alam dapat dibedakan menjadi lima kelompok utama yaitu: (1) wisatawan berpendidikan, (2) profesional, (3) keluarga atau kelompok, (4) murid sekolah, dan (5) pencari tempat-tempat nostalgia. Pemasaran yang sukses sangat pandai dalam membidik calon wisatawan untuk membeli atau mengkonsumsi produk pariwisata yang dijual.

Pariwisata warisan budaya dan alam dipandang sebagai salah satu pariwisata minat khusus. Tetapi diperlukan penentuan skala warisan yang bisa dipasarkan karena hanya beberapa kawasan warisan budaya dan alam yang menjadi daya tarik wisata internasional. Penentuan skala apakah sebagai daya tarik internasional, nasional, daerah atau lokal memiliki implikasi yang sangat penting misalnya; mempengaruhi lama tinggal dan wisatawan dan pemilihan produk wisata.

Pariwisata warisan merupakan bagian dari pariwisata budaya dalam skala yang lebih luas. Bagi kebanyakan wisatawan, budaya merupakan hal kedua dalam pemilihan tempat berlibur dan terkadang sama sekali tidak menjadi tujuan. Oleh karena itu, pariwisata warisan tidak dapat dipisahkan dari atraksi wisata di suatu kawasan, tetapi harus dipandang sebagai satu komponen pariwisata secara keseluruhan.

Di negara-negara maju, konsep perencanaan pemasaran pariwisata warisan biasanya dilakukan oleh sektor publik atau merupakan kerja sama antara sektor publik dan swasta. Sektor publik memegang peranan yang sangat penting terutama dalam penyelesaian masalah atau konflik. Sedangkan di negara-negara berkembang yang kekurangan akan sektor swasta dan pengalaman dalam industri pariwisata, peran sektor publik lebih kompleks. Sektor publik bukan hanya bertanggung jawab terhadap pendidikan pariwisata dan pengaturan industri pariwisata tetapi juga harus mengambil peran pengusaha.

Merencanakan Warisan Budaya dan Alam
Metode-metode yang dilakukan untuk mencapai tujuan melibatkan penilaian dan keputusan dari berbagai perspektif: sosial-budaya, konservasi, ekonomi dan arsitektur. Perspektif tersebut mempengaruhi keputusan mengenai apa yang harus dipreservasi, apa yang harus dibangun, apakah struktur lama memiliki fungsi yang baru, penggunaan kembali atau tidak digunakan sama sekali.

Pendekatan dan metode perencanaan warisan buatan umumnya mengunakan beberapa tingkat revitalisasi untuk mencapai preservasi dan pembangunan yang seimbang. Pendekatan yang dimaksud bisa merupakan gabungan dari bagian atau keseluruahan konsep berikut ini:

(1) konservasi merupakan usaha untuk mempreservasi bentuk fisik dan kegiatan sehingga nilai dan makna dari bentuk dan kegiatan tersebut dapat berkelanjutan. Nilai dan maknanya termasuk aspek budaya, sejarah, tradisi, artistik,sosial, ekonomi, fungsi, lingkungan dan pengalaman. Perspektif nilai dan maknanya harus mencakup masa lampau, sekarang dan yang akan datang.

(2) gentrifikasi merupakan usaha untuk meningkatkan vitalitas dari bentuk fisik dan kegiatan dengan cara meningkatkan kualitas tempat dengan merubah strukturnya.

(3) rehabilitasi merupakan usaha untuk membawa kembali bentuk fisik dan kegiatan di wilayah yang telah mengalami degredasi. (4) renovasi merupakan usaha untuk merubah bentuk fisik dan kegiatan agar bisa mengadopsi fungsi-fungsi baru.

(5) restorasi merupakan usaha untuk memperbaiki kondisi bentuk fisik dan kegiatan dengan mengurangi elemen baru atau tambahan dan menggantikan elemen-elemen yang hilang agar sesuai dengan bentuk semula.

(6) rekonstruksi merupakan usaha untuk membawa kembali kondisi bentuk fisik dan kegiatan semirip mungkin ke suatu keadaan pada suatu masa sebelumnya.

Ketergantungan antara Warisan dengan Masyarakat
Di negara-negara berkembang, kebanyakan dari struktur-struktur warisan seperti bangunan, peninggalan arkeologi, kota kuno, museum dan lain-lain ditemukan di tengah masyarakat seperti; kota besar, kota atau desa. Masyarakat lokal berinteraksi langsung dengan struktur tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Pariwisata bisa mempromosikan rehabilitasi kawasan bersejarah sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal. Bagi masyarakat lokal, keuntungan terpenting yang diinginkan dari pariwisata adalah keuntungan ekonomi dalam hal ini meningkatkan pendapatan dan kesempatan kerja. Dampak ekonomi ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: dampak langsung, dampak tidak langsung dan motivasi (induce).

Dampak langsung dapat dilihat pada keterlibatan masyarakat dalam industri pariwisata dalam bentuk penerimaan upah, gaji dan keuntungan dan juga temasuk pendapatan pemerintah melalui pajak dan biaya. Dampak tidak langsung disebabkan karena adanya kebutuhan industri pariwisata untuk membeli sesuatu untuk mempertahankan kegiatan bisnisnya seperti buruh, makanan, minuman dan hal-hal yang dikonsumsi oleh industri pariwisata. Dampak induce dapat dilihat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat sehingga ada pertukaran ekonomi di antara masyarakat.

Beberapa kasus yang terjadi di negara-negara berkembang, perkembangan pariwisata warisan budaya dan alam bukan hanya mengkontruksi kembali hal-hal yang terjadi di masa lampau tetapi juga mengkonstruksi ekonomi. Tetapi hubungan antara pariwisata warisan alam dan budaya dengan masyarakat lokal lebih dari hanya dalam pekerjaan dan pendapatan. Termasuk di dalamnya adalah mengenai kepemilikan tanah, kompetisi antara yang baru dengan yang lama, perubahan gaya hidup.

Di kebanyakan negara-negara maju masalah yang berhubungan dengan pariwisata warisan budaya dan alam lebih biasa terjadi pada permasalahan perencanaan dan pembangunan seperti pemusnahan bangunan-bangunan, keramaian, pengaturan lalu lintas dan parkir.

Di negara-negara berkembang menghadapi sumber dana yang terbatas dan kemampuan istitusioanal yang tidak memadai. Sehingga tidak hanya mengalami kendala dalam perencanaan dan manajemen tetapi juga masalah pendanaan pembangunan.

KESIMPULAN
Heritage tourism merupakan pariwisata minat khusus yang berbasiskan budaya dan alam. Agar dapat berkembang dengan baik, maka diperlukan perencanaan, pembangunan, pengembangan, manajemen dan pemasaran yang baik oleh para stakeholder pariwisata, antara lain; pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, industri pariwisata, dan wisatawan.

Sumber Bacaan:

Nuryanti, Wiendu. 1996. Heritage and Postmodern Tourism. Gadjah Mada University, Indonesia.

Permalink 1 Comment

Bali Tourism Watch: Roles of Education in Increasing People’s Cultural Awareness

May 23, 2007 at 5:21 am (Budaya)

By: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Education plays an important role in determining the quality of the culture of a country in the world. The educations which mainly affect people’s cultural awareness are; environmental education, social and cultural educations, and technological education.

Environmental education should be given to everyone in the world as everyone lives surrounded by nature and culture. It is evidence that every single second of the time, we may not be separated from the influence of environment since getting up in the morning, doing daily activities such as; studying, earning a living until sleeping. The environment contributes lots of things to our lives. It provides sources of food to eat, water to drink, air to breath and fire to burn or for energy. As an important part of our lives, environment should be well kept in balanced or harmony in order to be able to provide all people’s needs during their lives. Naturally, it is also in accordance with the Hindu Philosophy called “Tri Hita Karana” the harmony relationship among human and God, human and being, and human and nature.

Moreover, Mahatma Gandhi an Indian human activist states strictly that the God creates the earth and all its contents for such purposes. He believes that the earth is enough to produce everyone’s needs as long as they can manage and sustain all creatures well, they are always on a good term, respect each other and live peacefully. On contrary, the earth will not be enough for such a greedy man who never feels satisfied. This last type of man tends to exploit the earth as hard as possible only for his/her own needs, never cares of others, and sometimes he/she thinks that he/she is the only man who lives in the earth.

Knowledge as a part of education also determines someone’s cultural awareness. There are basically two kinds of knowledge namely; internal knowledge and external knowledge. Internal knowledge is knowledge which is used to understand ourselves deeply and has long-life and permanent impacts to our lives. In process of understanding ourselves, there are some useful questions to help such as; what and who am I actually?, what can give me quietness in my life?, how can I get a long-life happiness? etc. Should we are able to understand and answer the questions above well, it really helps us to get what we expect in our lives.

There are a number of methods to have the internal knowledge and know the real life such as; yoga, meditation, fasting, etc. Yoga is a process of unifying our thoughts to a focus “the Almighty God” and releasing our negative spirits and bad minds. Yoga simply teaches us how to respect and care of all God’s creatures without any exceptions. Meditation is a process of relaxing our body by focusing our thoughts to the Almighty God. There are actually a number of purposes of meditation, for instance; relaxation, health, refreshing mind, getting quietness, etc. Fasting is process of controlling our emotions and desires.

These methods guide us to master internal knowledge which is exactly the only way to get peaceful life and the real heaven. Meanwhile, the external knowledge affects our lives temporary and tends to be changeable, it just shows the way to fulfill our fundamental needs such as; foods, housing, and clothes.

Culture is everything made by man which is generated from generation to generation. Therefore, a culture can be a big and small work or creation. Culture has multi-capacities from the forms and reality of human being which can be seen from micro interpersonal communication of the man until processes and values of a norm in a group of community.

As a part of the human life, culture should be highly concerned and sustained in order the next generation can benefit from cultures generated from the previous generation. If we can not sustain the cultures well, sooner or later they will be disappeared and defeated by the epoch. More particular the small cultures will be easily disappeared by the rapid growth of globalization. Due to this importance, culture should be taught in all places such; at home, at schools (from kindergarten until university), at work, etc. By giving cultural educations, it is expected to increase the cultural awareness of the human being, so they can give equity to all people without discriminating their backgrounds at all.

There are at least four unsolvable cultural discriminations in the world such as; race, religion, language and descent. Some examples of those discriminations can be clearly seen in our life. The race discrimination which currently occurred in French, it discriminated the white and black men in certain sectors of works. The white men tend to have more roles and better positions than the black men. It surely rose up the black men’s emotions which finally caused riots, destructions, fired. This case happened due to the black men did not get equal treatment from the government and laws regulated in French.

Religion discrimination occurs in Indonesia. There are five religions which are acknowledged by the government namely; Hindu, Buddhist, Moslem, Catholic and Christian. Religion which is actually a holy teaching to guide the human being to be closer to the Almighty God also raises discrimination. It happens because each religion claims to be the best religion to reach the heaven. Basically all religions have the same purpose. However, they have different ways to reach the purpose and different names for the God. Different religion will call the God with different names, for instance; Hindu calls its God as Sang Hyang Widhi, Moslem calls its God as Allah, etc.

Language as a communication media and identity of a country discriminates people in over the world. The people who master foreign languages will tend to be proud of themselves and they think that they are the only men who tag along the globalization. Meanwhile, the people who do not master foreign languages will be supposed to be old-fashioned men. This idea is not absolutely true because most of the local people defend their language as an identity of their origin. The most important statement which helps protecting their local language is “I have what you have, but you do not have what I have. It means that other languages particularly foreign language can be learnt more easily, meanwhile the local language is hard to learn as it consists of not only language but also culture inside.

Descent discrimination can be easily seen in Bali, the caste system which was formerly formatted by the Dutch during its colonialism in Indonesia particularly Bali is actually no longer appropriate anymore now really discriminates Balinese people particularly for customary life practices in the villages. The four castes are: (1) Brahmana, it is the priest groups; (2) Ksatria, it is the warrior and security groups; (3) Wesyia, it is the seller and businessmen groups; and (4) Sudra, it is the farmer and labor groups.

As believed by the Hindu worshipers that all people were created by Dewa Brahma, preserved by Dewa Wisnu and destroyed by Dewa Siwa in which Dewa Brahma, Dewa Wisnu and Dewa Siwa are the manifestations of the Almighty God. Therefore, people shall have the same right and obligation in front of the God and not to be discriminated by such caste.

Those four discriminations make the people have narrow mind which raises sentiments such as; region sentiment, economy sentiment, hero sentiment, religion sentiment, language sentiment, etc. which finally end with conflicts. These sentiments threaten the social life and stumble the development of the culture, education and nation in all countries in the world. One solution which helps to solve the problem of discrimination is to go back to the concept of “Ibu Pertiwi” which means one for all and all creatures live in the earth is only a big family which should respect and trust each other.

In a social life, there are a number of norms and values which relate to cultural practices such as; ritual, religion and spirituality. Ritual and religion mostly educate the people about the ways to worship the Almighty God based on their beliefs and religions, for instance in Bali, the Hindu worshipers who worship the God by offering certain materials such as flower, water and fire which formed as a “Canang Sari” or “Banten” and their hands are unified in front of their foreheads while worshiping the God. Meanwhile, spirituality emphasizes and focuses in increasing people’s etiquette, attitude, behavior, discipline and morality as God’s creatures without any discrimination. The main concept of spirituality is that “God is only one power and a single identity, and there is not single conclusion of God’s deity”. Due to its universality, spirituality is learnt and practiced by most of the people in the world nowadays and they sometimes do not want to talk about religion which mainly teaches about differentiation of two different things (in Bali called “Rwa Bineda”) namely; good spirit which guides the people to go to the heaven and bad spirit which guides the people to go to the hell.

Technology is the application of science and knowledge which is purposed to generate benefit and usage to the human being. The application is in the form of a tool and its way or method to use it. As the technology development really depends on the development of education, therefore the students who study in all educational institutions formally or informally should be taught both the way of developing the technology to be more sophisticated and the capability of the human being to understand the meaning of the technology as it has both positive and negative impacts. Misunderstanding in meaning the technology will bring many negative impacts such as; suffering, individualism, dissatisfaction, discrimination, etc. To avoid the negative impacts of technology and to be not dependent on technology, there are two ways of understanding the meanings of technology, namely; functional and symbolic meanings. Functional meaning views the technology as a need. Meanwhile symbolic meaning views the technology as a wish or desire which sometimes used to rise up the prestige. For example a mobile phone, it can be seen from two points of views. A mobile phone will have a functional meaning when it is seen as a basic need which shall be fulfilled and used as a communication media without considering the brands, series, facilities, etc. A mobile phone will have a symbolic meaning when it is seen not only as a communication media but also as sense of prestige. For those who mean the mobile phone as a symbolic meaning will tend to change their mobile phone at any times and always look for the newest series and the most complete facility in order to be supposed to have the highest prestige. Symbolic meaning guides us to be another man. Be aware!

Technology with its two characters such as; constructive and destructive is simply like fire, it can help people to cook something to eat or drink but it can also burn the people up. Therefore, people should be able to use the technology wisely in order to get more advantages than disadvantages of technology.

In conclusion, education really plays an important role to increase the people’s cultural awareness which guides further to be universal men who care and respect all human being and God’s creatures in the earth without any discrimination at all. As known that living in this world is very complicated. Therefore, to face the problems during our live, just live simply and think highly!

Permalink 1 Comment

Bali Tourism Watch: Cock Fighting

May 23, 2007 at 5:12 am (Budaya)

By: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

A basic concept of Balinese life is the maintenance of a harmonious balance between the world of men and the world of the spirits. Apart from satisfying their everyday needs, the Balinese feel that they are obliged to perform certain religious rites. One of these rites is to appease the evil spirits who inhabit the ground. This can be done by the sacrifice of an animal so that its blood sheds on the ground. This is the original idea of the cock fighting we are seeing today. Besides its religious significance until recently cock fights were often held for gambling.

Many prominent Balinese were involved in this. However since 1981 this gambling has been banned and cock fight are only allowed for religious reasons. A license for holding a cock fight tournament is still quite easy to contain from the nearest Police Head Quarter if there is a ceremony.

Cock fight has been known in Bali since before the Hindu period. It is not known if it was an original Balinese practice or not. The fact is that cock fights are practiced all over the world.

Raising a good rooster for cock fighting needs serious care and attention. In Bali this is man’s job. No women is ever seen taking and active part in the care of the roosters. It is absolutely the men’s world.

Extensive care and attention must be given to the favourite rooster. As you see in that village hall, the men are caressing, fondling and massaging their future champion. They believe that more that a healthy diet and regular exercise the rooster needs affection from its owner.

Still in the line of physical, the cocks are kept caged. They are never set free to mingle with hens. As we see here, two roosters in their cages are put comfortably under the shady trees to cool them.

In regular alternation with this, the birds are put but in the heat of the sun over a dusty hole so that they can have sun and dust baths. It is bathed regular, early in the morning or late in the afternoon. Occasionally warm water is used. After several months or a year the creature is fit to challenge an opponent in the arena.

Before they are brought to a tournament they must be trained to fight with extensive exercises. Sparring partners are usually picked from the neighbors favorite birds. These rooster in cages and baskets are waiting to be matched and confronted with their opponents inside the ring.
There are two squares, the outer square and the inner one. At each corner a lineman is stationed. As well there are 2 empires and time keeper sitting an a plat form. The time keeper is quipped with a clay pot full of water and half a coconut shell as the “water clock”. As well, there is a round counter and small metal gong (kemong) which serves as the bell, the signal the start, the end of each round and to stop the fight if needed.

One fight consists of maximum of five rounds. Two rounds are helping the outer lines, two in the inner lines and one inside a cage if necessary. Normally 2 and 3 rounds are sufficient to and the deadly fight.

Two expert rooster handlers ( juru kembar ) are matching a pair of roosthers to try to match roosters of equal size, height and temperament. They inspect the roosters in the turn. By doing this each handler can make a personal judgment before they decide to match a pair. As for the bettors, their judgment is based on the physical appearance of the rooster including, shape, colour and temperament.

After both parties agree to challenge each other, the fight is announced by the umpires. This is followed by the discussion about the amount of the central bet ( roh dalem ). The rooster handlers the tie on the murderous blade on to the left leg of each rooster supervised by an assistant umpire (saya taji ).

After each creature is armed with the best blade, the cocks are confronted with each other in the ring. And the people other than umpires, linemen and the rooster handlers must leave the ring immediately. Before the first round begins, a chance is given
To the betters to make up their mind which cock to bet on. This short period of time is usually very noisy because each better has to call out his side, and the amount of the bet till he finds the opponent.

The amount of the bet is sometimes unbelievable compared with the standard of living in Bali and the per-capita income. The odds of the bet varies. It can be even odds such as Rp. 1.000,- against Rp. 1.000,- if the cocks are equally popular. If one cock is more popular than the other the odds can be one of the following :
3 against 2 (neludo)
5 against 4 (ngasal)
4 against 3 (ngecok)
10 against 9 (ngedapang)

The umpires are discussing the central bet, with the expert handlers. The central bet is usually placed by the expert handler concerned, the owner of the bird the blade owner and some additional supports. Apart from the entrance tickets, sellers of food and others, the tax is collected only from the central bet.

After the bets, the procedure is fixed and the first round begins. According to the cock fight code, for the first and the second rounds the roosters are released from the outer square line, following the cardinal directions. The third and the fourth rounds use the inner square line so that the birds must fight each other at a closer distance.

The fifth round done inside a cage prepared for this purpose. Generally a fight needs 2 or three rounds. The fight does not necessarily follow the standard order of rounds. If one of the birds can hardly stand up, or is not strong enough to fight, or if it doesn’t want to continue the fight, they are put in the cage so that they have fight. If one of the rooster strikes the other in the cage and the opponent does not strike back, especially if it kneels down, or is knocked out, it is considered to have lost.

The owner of the winning cock receives an amount of money equal to his bet plus the carcass of the loosing cock, minus one leg. This is because the owner of the winning blade receives one of the legs of the loosing bird. The cruelest part of the fight is when one of the legs of the loosing bird is cut off while it is still alive.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Yang Senantiasa Bersamaku

May 23, 2007 at 5:07 am (Budaya)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan berinteraksi sosial dengan sesama, manusia tidak terlepas dan tidak akan pernah terlepas dari kenangan (memory), hubungan sosial (social relation), dan hubungan alam (nature relation).

Selama masih hidup, manusia tidak akan pernah terlepas dari ingatan atau kenangan, baik kenangan yang bersifat baik dan buruk maupun kenangan yang baru saja dialami dan kenangan yang sudah lama. Kenangan-kenangan tersebut sifatnya melekat dan tidak bisa dilupakan dengan mudah atau dibuang di suatu tempat. Kegiatan berlibur, berkebun, dan menikmati berbagai jenis hiburan lainnya hanya mampu melupakan kenangan untuk beberapa saat. Setelah kegiatan tersebut selesai dilaksanakan, maka kenangan akan muncul kembali. Yang bisa dilakukan untuk mengurani kenangan adalah dengan menerapkan konsep dasar yoga yang sangat erat kaitannya dengan sistem pernafasan (prana).

Ada dua konsep dasar dalam yoga yaitu menerima (receiving)-yang dalam latihan dan praktek yoga dilakukan dengan cara menarik nafas dan mengeluarkan (releasing)-yang dalam latihan dan praktek yoga dilakukan dengan menghembuskan nafas. Apabila dipahami lebih mendalam, penarikan nafas berarti menerima hal-hal yang diperlukan oleh tubuh atau sifat dan energi serta pemikiran positif agar berguna bagi tubuh. Sedangkan penghembusan nafas berarti pembuangan hal-hal yang negatif yang bertujuan untuk mengurangi beban tubuh dan pikiran manusia menampung kedua sifat (baik dan buruk). Singkatnya, Manusia hanya bisa tenang jika hanya mengambil hal-hal positif dari suatu peristiwa untuk dijadikan dan dikembangkan untuk mengembangkan diri dan tidak mengambil apalagi menyimpan hal-hal yang negatif yang sering kali membangkitkan emosi dan berujung pada perselisihan.

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang terlemah dan tidak mampu bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia tidak akan pernah terlepas dari hubugan sosial. Siapapun dia, pejabat, penjahat, pengusaha, penguasa, pemborong, pembohong, peluncur, pelacur, dan yang lainya akan selalu berinteraksi dengan keluarga, teman, atau rekan kerjanya dalam menjalani kehidupannya. Terlebih lagi bagi masyarakat kaya raya (borguiese), mereka sama sekali tidak berdaya. Untuk makan saja harus dibantu oleh beberapa pekerja rumah tangga (PRT) mulai dari persiapan memasak, pada saat makan, dan setelah selesai makan. Contoh lain, pengusaha yang memiliki modal finansial yang sangat kuatpun tidak mampu melakukan usahanya sendiri tanpa bantuan orang lain (karyawan) sebagai pengelola usahanya. Mengingat hubungan antar manusia sangat penting dan mutlak diperlukan, maka semua manusia harus secara bersama-sama menjalin hubungan yang harmoni antar sesama agar terbentuk kehidupan yang tenang dan damai.

Selain kenangan dan hubungan sosial, manusia juga tidak terlepas dari hubungan alam. Kontribusi alam terhadap kehidupan sangat besar dan dalam setiap detikpun manusia selalu berhubungan dengan alam. Setidaknya ada lima unsur alam yang selalu berjalan seirama dengan kehidupan manusia, antara lain; tanah (earth), air (water), api (fire), udara (air) dan ruang atau eter (ether). Kelima unsur tersebut disediakan dan diberikan secara gratis oleh Tuhan untuk dinikmati bersama dengan makhluk ciptaanNya.

Manusia selalu berhubungan dengan tanah. Tempat manusia berpijak, berjalan, dan tinggal didasari oleh tanah walaupun faktanya sudah disemen atau diaspal namun tetap harus membutuhkan tanah sebagai penyangganya. Manusia perlu lahan untuk menanam berbagai jenis tanaman untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti; beras, sayur, bumbu, dan buah-buahan. Memang kita tidak makan tanah, tetapi hal-hal yang dibutuhkan manusia tersebut harus ditanam di tanah sehingga bisa hidup, berkembang, berbuah, dan akhirnya dipanen untuk dikonsumsi. Mengingat besarnya peran tanah dalam kehidupan manusia, maka setiap manusia diharapkan untuk memanfaatkan tanah sebaik-baiknya dan tidak untuk diperebutkan (terutama tanah warisan) dan dirusak.

Sebagian besar bagian bumi ini adalah air yang berupa lautan. Air memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam setiap tubuh manusia mengandung unsur air. Setidaknya manusia harus minum delapan gelas setiap hari untuk memenuhi kebutuhan air bagi tubuh manusia. Selain untuk keperluan tubuh, air juga digunakan untuk berbagai kepentingan seperti mencuci, memasak, menyiram, mandi dan lain-lain. Seandainya setiap manusia sadar akan pentingnya air, maka tidak akan pernah ditemukan adanya pembuangan sampah, limbah padat ke sumber-sumber mata air, sungai, danau dan laut yang dapat mengakibatkan pencemaran air. Mencemari air berarti mencemari kehidupan manusia, merusak air berarti merusak kehidupan manusia. Menghancurkan sumber-sumber mata air berarti menghancurkan sumber kehidupan manusia.

Tubuh manusia memerlukan api dalam bentuk energi untuk menggerakkan tubuh, untuk memperoses makanan menjadi zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Sebelum suatu makanan dinikmati, semuanya harus dimasak terlebih dahulu. Untuk memasak bahan mentah menjadi matang dalam berbagai jenis makanan memerlukan api. Manusia memang agak jarang menggunakan api secara langsung kecuali bagi para perokok, tukang masak, tukang las dan sebagainya. Tapi pernahkan manusia sadar bahwa segala sesuatu yang ada ini memerlukan api. Untuk mengoperasikan komputer yang merupakan hasil karya dari perkembangan teknologi juga memerlukan api dalam bentuk energi listrik.

Ciri-ciri manusia yang masih hidup adalah bernafas. Udara merupakan unsur yang sangat penting dalam sistem pernafasan. Organ-organ manusia hanyalah sebagai alat untuk bernafas. Diperlukan udara yang sehat (tanpa polusi) untuk menjaga tubuh tetap dalam keadaan sehat, segar, dan bugar. Udara yang kotor yang dihirup mansuai dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti; flu, filek, dan radang paru-paru. Faktanya, di beberapa tempat khsusunya di kota-kota besar sudah sulit dan hampir tidak bisa menemukan dan menghirup udara segar lagi. Hai ini terjadi tidak terlepas dari ulah manusia yang terus membangun industri dan menambah berbagai jenis kendaraan bermotor (motor, mobil, kapal laut, dan kapal udara) yang asapnya mengakibatkan terjadinya pencemaran udara.

Setiap benda yang ada di bumi ini memiliki dan memerlukan ruang yang sangat relatif sesuai dengan besar atau kecilnya ukuran benda tersebut. Manusia memerlukan ruang untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya.
Kelima unsur alam; tanah, air, api, udara, dan eter akan senantiasa menemani manusia sampai akhir hayatnya. Dan ketika sudah matipun beberapa unsur alam tersebut masih tetap setia menemani. Bagi rekan yang beragama Islam, Kristen dan Katolik akan ditemani oleh tanah. Sedangkan bagi rekan-rekan yang beragama hindu akan menyatu dan kembali ke lima unsur alam tersebut.

Referensi:
Krisnanda, Swami. 2007. The Thing We Carry with Us. Philosopy Study Center. India.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Dampak Sosial-Budaya Pengembangan Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi-Kabupaten Lombok Barat

May 23, 2007 at 5:05 am (Artikel Pariwisata)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi telah memberikan dampak positif dan negatif terhadap sosial budaya masyarakat lokal. Dampak-dampak positif yang timbul antara lain; pelestarian budaya, adat istiadat, cara hidup, kesenian, penyediaan lapangan pekerjaan, dan membangkitkan kegiatan perekonomian masyarakat lokal. Sedangkan dampak-dampak negatif yang timbul antara lain; terjadinya praktek prostitusi, kebiasaan mmeminum minuman beralkohol, dan tindak kejahatan.

Dampak Positif Sosial–Budaya Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi

Sehubungan dengan pengembagan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, secara umum kebudayaan-kebudayaan masyarakat lokal seperti cara hidup, adat istiadat, agama, dan kesenian yang diwariskan oleh nenek moyangnya masih terjaga kelestariannya. Artinya, walaupun sudah berbaur dan dipengaruhi oleh budaya-budaya asing namun kebudayaan masyarakat tersebut masih dapat ditemukan dengan mudah dan dilakukan secara rutin oleh masyarakat setempat, seperti upacara pernikahan, perayaan hari besar nasional.

Dengan adanya pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga ditemukan adanya revitalisasi pada beberapa jenis budaya dan kesenian masyarakat lokal. Organisasi keagamaan “Remaja Masjid” merupakan salah satu contoh budaya masyarakat lokal yang masih ditemukan di era pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi. Organisasi generasi muda muslim ini melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan budaya dan agama seperti; pengajian, dakwah, belajar membaca dan menulis Bahasa Arab, diskusi tentang isi dan makna yang tertera dalam kitab suci Al-qur’an. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sudah ditekuni oleh masyarakat lokal sebagai upaya melindungi diri dari pengaruh budaya dari luar (industri pariwisata) dan telah dilakukan sejak dahulu kala sampai sekarang. Organisasi kemasyarakatan ini juga menjadi media pemersatu antar umat muslim di Nusa Tenggara Barat khususnya di Senggigi.

Organisasi kemasyarakatan lain yang melakukan kegiatan sebagaimana tersebut di atas adalah pondok pesantren. Di pondok pesantren, para santri (orang yang secara khusus menuntut ilmu keagamaan di pondok pesantren) diberikan pelajaran lebih terfokus pada keagamaan dan etika dalam kehidupan. Pesertanya juga tinggal di dalam pondok pesantren sehingga tertanam rasa bakti kepada agama secara lebih mendalam dan diberikan situasi yang nyata tentang bagaimana kehidupan muslim dan muslimah yang sebenarnya yang diharapkan setelah keluar dari pondok pesantren bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Model pendidikan yang diberikan di organisasi pemuda Remaja Masjid dan Pondok Pesantren merupakan cara pembelajaran budaya dan agama yang sangat efektif karena sesuai dengan karakteristik budaya masyarakat lokal. Sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, beberapa industri pariwisata seperti hotel dan restoran mendukung kegiatan-kegiatan Remaja Masjid dan Pondok Pesantren tersebut karena dapat dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata. Dukungan terhadap kegiatan pelestarian budaya dan agama di kedua organisasi kemasyarakatan tersebut diwujudkan dalam pemberian sumbangan secara material dalam bentuk uang secara berkala untuk menunjang kegiatan yang dilaksanakan. Bentuk lain sumbangan dari industri pariwisata terhadap upaya pelestarian budaya dan agama masyarakat lokal berupa pembangunan fisik bangunan, seperti Masjid dan Mushola atau gedung dan pengadaan sarana dan alat yang diperlukan untuk memperlancar jalannya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga turut serta dalam melestarikan budaya-budaya masyarakat yang lainnya seperti kesenian dan adat istiadat. Kesenian tradisional masyarakat lokal yang masih terjaga kelestarianya adalah Tari Rudat dan Gendang Beleq.

Tari Rudat merupakan kesenian tradisional dalam bentuk seni tari (gerakan tubuh) diiringi dengan musik tradisional gambelan yang dimainkan oleh tujuh sampai sebelas orang. Fungsi kesenian ini adalah sebagai penyambutan terhadap wisatawan dan sering kali dipersembahkan untuk penghargaan terhadap tamu kenegaraan. Secara singkat, Tari Rudat mengisahkan sepasang muda-mudi yang saling jatuh cinta yang berlanjut hingga ke pernikahan. Pesan-pesan yang disampaikan berupa nasihat-nasihat hidup yang membangkitkan rasa saling mencintai dan menyayangi sesama dan lingkungan, sehingga dengan pertunjukan kesenian ini diharapkan dapat meningkatan persaudaraan dan persahabatan antar manusia dan lingkungan hidup.
Tokoh kesenian Tari Rudat yang masih menekuni dan mengembangkan secara aktif adalah Haji Rusdi, seorang tokoh masyarakat lokal dari Desa Senggigi Dusun Kerandangan. Beliau menuturkan bahwa di tengah gencarnya perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, Tari Rudat sama sekali tidak surut keberadaannya. Sebaliknya, tari tersebut semakin lestari dan terjaga keberadaanya karena dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata yang ditampilkan pada acara-acara yang diorganisir oleh hotel-hotel dan event organizer yang berada di Objek Wisata Pantai Senggigi.

Gendang Beleq merupakan kesenian tradisional yang dimainkan dengan alat musik tradisional Gendang Beleq yang berfungsi sebagai musik penyambutan. Makna yang terkandung dalam pertunjukan kesenian ini adalah adanya kebersamaan antara umat yang tinggal di Lombok Barat yaitu antara umat Suku Sasak Lombok yang beragama Islam dengan umat Hindu dari Bali yang tinggal menentap di Lombok.

Sebelum berkembangnya pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, kedua kesenian tradisional ini hanya dipentaskan pada saat-saat tertentu saja khususnya pada upacara adat dan keagamaan sehingga tidak banyak dikenal oleh masyarakat umum di luar daerah Senggigi. Pertumbuhan pariwisata yang semakin pesat dari tahun ke tahun turut serta membangkitkan dan merevitalisasi kesenian tradisional tersebut dan sekarang ini sering kali dipertunjukan di hadapan para wisatawan sebagai atraksi wisata yang bercirikan kedaerahan yang dipentaskan langsung oleh masyarakat asli.

Seni tari tradisional lain yang sering dipentaskan sebagai atraksi wisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah Tari Topeng. Tari ini mengisahkan pengembala beberapa jenis ternak seperti; sapi, kerbau, dan kambing yang dengan bangga dan berbahagia mengembalakan ternaknya di kebun yang juga menunjukan tingkat status sosial dan martabat seseorang di Desa Senggigi. Tari ini dimainkan oleh empat sampai delapan orang dengan menggunakan pakaian khas Adat Sasak, topeng dengan beberapa karakter, dan pecut.

Keberadaan tari ini sebenarnya sudah hampir punah. Tetapi sejak Desa Senggigi ditetapkan sebagai salah satu objek wisata di Nusa Tenggara Barat maka diadakan terobosan-terobosan untuk menambah daya tarik wisata dan atraksi wisata untuk menambah keanekaragaman daya tarik wisata yang salah satunya adalah kesenian tradisional Tari Topeng. Sejak dijadikan sebagai salah satu atraksi wisata, Tari Topeng terus direvitalisasi dan dikembangkan dengan membangun sanggar-sanggar tari yang dilakukan oleh perorangan dan ada juga yang merupakan hasil kerjasama antara para pengelola industri pariwisata di sekitar Objek Wisata Pantai Senggigi dengan masyarakat lokal.

Pementasan kesenian-kesenian tradisional tersebut di atas sudah dilakukan sejak bulan Maret 2005, biasanya diadakan setiap hari Jumat sore (jam 16.00-selesai) yang bertempat di Pasar Seni Senggigi. Pementasan ini terselenggara atas kerjasama antara Qunci Villas, Sundancer Hotel, dan pemerintahan desa. Pertunjukan ini disajikan tanpa dipungut biaya sehingga banyak dikunjungi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun manca negara.

Selain bentuk positif tersebut di atas, terjadi juga akulturasi budaya yaitu perpaduan antara budaya asli masyarakat yang mendapatkan pengaruh dari budaya asing, namun kedua unsur budaya tersebut sama-sama terlihat dan menonjol. Salah satu bentuk akulturasi budaya yang terjadi adalah gaya hidup terutama dalam penampilan dan berpakaian. Sebelum dikembangkan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi, jenis pakaian yang dipakai oleh masyarakat lokal sehari-hari berupa sarung dan baju kaos bagi kalangan laki-laki, sedangkan perempuan umumnya memakai sarung, baju lengan panjang, dan kerudung atau jilbab.

Sekarang ini beberapa masyarakat lokal telah mengadopsi pola penampilan dan cara berpakaian para wisatawan. Sebagai contoh, Pak Edy (seorang sopir yang merangkap sebagai pemandu wisata freelance) telah mengubah penampilannya sejak tahun 1998 dengan begitu juga dengan cara berpakaiannya. Sebelum dipengaruhi oleh model berpakaian para wisatawan, cara berpakaiannya seperti layaknya masyarakat lokal pada umumnya. Motivasinya untuk mengubah cara berpenampilan dan berpakaian adalah agar lebih percaya diri dalam berkomunikasi dengan wisatawan asing.

Perubahan cara berpenampilan dan berpakaian tersebut hanya dilakukan apabila sedang berhubungan dengan wisatawan saja. Tetapi pada saat mengikuti kegiatan adat dan keagamaan masih menggunakan pakaian khas masyarakat lokal seperti; sarung dan batik (khas muslim), begitu juga dengan cara berpenampilannya. Budaya-budaya yang diserap dari budaya wisatawan memang benar-benar dilepaskan pada saat mengikuti kegiatan keagamaan dan adat. Jadi, kedua budaya tersebut (budaya masyarakat lokal dan budaya wisatawan) dapat berjalan secara harmonis sesuai dengan waktu, situasi, dan kondisi.

Akulturasi budaya juga terjadi pada bangunan-bangunan fasilitas pariwisata seperti hotel, villa dan restoran. Sebagai contoh, Hotel Lombok Intan Laguna dibangun dengan perpaduan model Eropa dan arsitektur tradisional. Dari luar bangunan tersebut tampak megah, tetapi di dalamnya didesain dengan menampilkan bangunan khas Senggigi. Begitu juga dengan makanan yang disuguhkan di hotel ini.

Selain menyuguhkan makanan-makanan Eropa, disajikan juga beberapa menu makanan khas Desa Senggigi. Contoh makanan tradisional yang biasanya disajikan kepada wisatawan adalah ayam bakar taliwang dan pelecing kangkung. Ayam bakar taliwang terbuat dari satu ekor ayam kampung Lombok yang dibakar dengan bumbu tradisional. Pelecing kangkung terbuat dari kangkung lokal khas Lombok yang direbus dan dibumbui dengan bumbu-bumbu tradisional, biasanya disuguhkan dengan beberuk (terong berwarna hijau atau ungu yang mentah dan diiris tipis-tipis).

Contoh lain makanan tradisional yang disajikan kepada wisatawan adalah sate balayag, terbuat dari lima belas sampai dua puluh tusuk daging ayam atau sapi berbumbu kacang. Sate ini biasanya disuguhkan dengan sepuluh biji balayag (beras dibungkus dengan daun kelapa muda yang dibentuk memanjang, kemudian direbus sampai matang menyerupai ketupat). Selain disuguhkan di restoran dan hotel, sate balayag juga dapat ditemukan di sepanjang Pantai Senggigi dengan harga yang relatif murah sehingga banyak warga masyarakat yang menikmati makanan tradisional ini khususnya pada akhir pekan (hari Sabtu dan Minggu) di sore hari pada saat matahari terbenam. Para penjual sate balayag ini merupakan warga masyarakat lokal yang bermukim di wilayah Desa Senggigi sehingga secara tidak langsung penjualan makanan tradisional ini kepada wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara ikut serta membangkitkan perekonomian masyarakat lokal.

Dampak Negatif Sosial – Budaya Pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi

Perkembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi tidak hanya berdampak secara positif terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat lokal, tetapi juga mengakibatkan dampak negatif. Bentuk-bentuk dampak negatif yang dapat dilihat dengan jelas yang timbul sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah pendatang yang bekerja sebagai penjaja seks komersial (PSK) dan pelaku tindak kriminal.

Mbak Aminah salah seorang penjaja seks komersial yang berasal dari Banyuwangi dan beroperasi di Objek Wisata Pantai Senggigi menuturkan bahwa yang melatarbelakangi dirinya untuk menekuni pekerjaan tersebut adalah tuntutan ekonomi dan pendidikannya yang sangat rendah sehingga tidak memungkinkan untuk mencari pekerjaan pada sektor formal atau bekerja pada industri pariwisata seperti hotel dan restoran. Dirinya menyadari bahwa pekerjaan yang digeluti sekarang ini bertentangan dan dilarang oleh agama dan norma-norma sosial masyarakat lokal serta memiliki resiko yang tinggi terhadap penularan beberapa jenis penyakit seks seperti HIV (human immune deficiency virus) dan AIDS (acquired immune deficiency syndrome), tetapi tidak banyak yang bisa dilakukan olehnya karena keterbatasan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya.

Usaha yang dilakukan pemerintah (Dinas Ketentraman dan Ketertiban) dan masyarakat (lembaga swadaya masyarakat Lang-lang Senggigi) untuk menekan jumlah penjaja seks komersial adalah dengan mengadakan razia secara rutin di tempat-tempat hiburan malam yang ada di Objek Wisata Senggigi. Bagi penjaja seks komersial yang terjaring dalam razia selanjutnya diberikan pembinaan agar tidak beroperasi kembali.

Bentuk lain dampak negatif yang muncul sehubungan dengan pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi adalah adanya peraktik perjudian yang dilakukan dalam skala kecil berupa permainan kartu domino yang dilakukan oleh para pedagang asong, pedagang kaki lima, dan sopir freelance sambil menunggu wisatawan yang menggunakan jasanya. Uang yang dipertaruhkan berkisar antara Rp.500 sampai Rp.1.000. Kecilnya uang yang dipertaruhkan sering kali dianggap bukan kegiatan perjudian bagi para pemainnya. Mereka hanya menganggap sebagai kegiatan hiburan semata sambil menghabiskan waktu luangnya untuk menunggu para wisatawan. Kegiatan perjudian ini diadakan di bawah pohon-pohon yang digunakan sebagai post tunggu di beberapa ruas Jalan Raya Pantai Senggigi.

Pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi juga memberikan dampak negatif terhadap prilaku anak-anak muda khususnya budaya meminum minuman beralkohol. Berkembangnya pariwisata yang dibarengi dengan meningkatnya jumlah tempat-tempat hiburan malam yang menyuguhkan minuman beralkohol seperti diskotik, café, dan pub menyebabkan beberapa pemuda terbiasa untuk meminum minuman beralkohol. Sebelum berkembangnya pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi (tahun 1989), masyarakat lokal Desa Senggigi tidak terbiasa menikmati minuman-minuman beralkohol karena merupakan minuman yang diharamkan dan dilarang oleh agama.

Dari dampak negatif tersebut, masyarakat dan tokoh masyarakat yang ada di Objek Wisata Pantai Senggigi lebih mengaktifkan organisasi keagamaan yang mana para pemuda tersebut selalu diikutsertakan dalam berbagai kegiatan keagamaan, hasilnya jumlah para pemuda yang telah terbiasa minum minuman beralkohol tersebut mulai sadar dan mengurangi minum minuman yang mengandung alkohol, begitu juga dengan terserapnya para penduduk lokal lebih banyak ke usaha pariwisata secara formal juga dapat mengurangi kegiatan-kegiatan yang berdampak negatif.

Berdasarkan temuan dampak-dampak yang timbul sebagaimana dijelaskan di atas dan melihat fakta yang ada, maka pengembangan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi lebih banyak memberikan dampak positif daripada dampak negatif terhadap sosial budaya masyarakat lokal Desa Senggigi. Oleh karena itu, keberadaan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi masih mendapat sambutan yang positif dari masyarakat lokal, ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dan pengusaha yang bergerak dalam bidang industri pariwisata untuk melibatkan masyarakat lokal dalam setiap perencanaan, pengembangan, dan pengevaluasian kegiatan pariwisata di Objek Wisata Pantai Senggigi.

Dilihat dari sambutan masyarakat yang positif ini, maka dapat dikatakan bahwa pada saat ini Objek Wisata Pantai Senggigi berada pada fase involvement / local control yaitu adanya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan pariwisata, keikutsertaan masyarakat lokal dalam menyediakan berbagai keperluan yang dibutuhkan oleh wisatawan, dan adanya komunikasi yang baik antara masyarakat lokal dengan wisatawan.

Hubungan yang baik dan harmonis antara masyarakat lokal dengan wisatawan yang diimplementasikan pada keakraban dan keramah-tamahan turut serta dalam upaya untuk mempromosikan Objek Wisata Pantai Senggigi oleh wisatawan dari mulut ke mulut (word of mouth) kepada wisatawan lain di negaranya agar tertarik untuk berkunjung ke Objek Wisata Pantai Senggigi. Sejauh ini belum ditemukan adanya kebencian dan penolakan terhadap pengembangan Objek Wisata Pantai Senggigi.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Membandingkan Pola Kegiatan Wisatawan gang Datang Pertama Kali dengan yang Sudah Pernah Datang

May 12, 2007 at 12:53 pm (Artikel Pariwisata)

___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Gitelson dan Crompton ( 1984) merupakan orang-orang yang pertama kali menemukan pentingnya pemasaran terhadap wisatawan yang datang kembali dan implikasi pemasarannya. Penelitian-penelitian lain menyatakan bahwa terdapat beberapa perbedaan yang signifikan berkaitan dengan komposisi dan perjalanan wisatawan baik yang pertama kali datang maupun yang berulang. Secara khusus wisatawan yang datang pertama kali biasanya lebih banyak mengunjungi pertunjukan-pertunjukan dalam tujuan kunjungannya dibandingkan dengan wisatawan yang datang berulang. Dengan demikian, wisatawan yang datang pertama kali tampaknya lebih aktif.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pola kegiatan di antara wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang dalam tema lingkungan kebun raya untuk mendapatkan wawasan terhadap persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan pada masing-masing pola kunjungan. Hipotesis kami yang pertama dapat dirumuskan sebagai berikut:

Hipostesa 1: wisatawan yang datang pertama kali berbeda dengan wisatawan yang datang berulang dalam hal pola aktivitasnya dalam tema kebun raya, secara logika bahwa wisatawan yang datang pertama kali lebih banyak menghabiskan waktu di kebun raya, lebih banyak memilih berbagai aktivitas dari pada wisatawan yang datang berulang, dan umumnya mereka lebih cenderung mengikuti rute yang disediakan di taman.

Hipotesa ini dilakukan berdasarkan dugaan bahwa wisatawan yang datang pertama kali memiliki informasi lebih sedikit mengenai tema kebun, dan karena itu mereka lebih cenderung untuk mengeksplorasi lebih banyak dari pada lebih selektif dalam menentukan pilihan ( Misalnya, Um & Crompton, 1990 ).

Namun wisatawan yang datang pertama kali dapat menggunakan sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuannya mengenai tujuan wisata, mengimplikasikan bahwa mereka sadar terhadap alternatif-alternatif yang ada ketika mereka menentukan untuk melakukan kegiatan. Apabila wisatawan yang datang pertama kali mau menggunakan informasi ini dengan baik, pola kegiatan wisatanya akan menjadi hampir sama dengan kegiatan wisatawan yang sudah datang berulang. Hal ini yang membawakan kita kepada hipotesis yang kedua:

Hipotesa 2: Perbedaannya pada pola kegiatan wisata antara wisatawan yang datang pertama kali dengan yang sudah datang berulang dimudahkan dengan penggunaan informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di kebun raya.

Wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang merupakan dua jenis wisatawan yang mungkin mengunjungi sebuah tujuan wisata. Kedua kelompok ini memegang peran yang mendasar dari suatu tujuan wisata yang rata-rata baik dan berhasil. Karena alasan inilah, secara kolektif, para pimpinan tujuan wisata berusaha keras untuk mendapatkan keseimbangan di antara kunjungan wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang ( Opperman 1997 ). Wisatawan yang datang pertama kali menunjukkan konsumen baru yang berpetualang menjelajahi sebuah tujuan wisata yang pertama kalinya. sedikitnya pengunjung baru biasanya menjadi sebuah petunjuk / tanda bahwa sebuah tujuan wisata sedang mengalami penurunan. Namun, hal tersebut tidaklah tetap, mudah berubah, dan membutuhkan biaya pemasaran yang mahal untuk mengejar, tanpa jaminan akan berhasil. Pandangan wisatawan yang datang pertama kali bisa memilih untuk mengunjungi atau menolak tujuan wisata dengan berbagai alasan yang sedikit berhubungan dengan kualitas yang sebenarnya dari pengalaman yang ada.

Pengunjung yang datang berulang, dipihak lain, menunjukkan pengaruh penyetabilan bagi kebanyakan tujuan wisata ( Oppermann, 2000). Wisatawan seperti ini telah mengenali tempat-tempat wisata dan merasa puas dengan pengalaman yang ditawarkan. Terlebih lagi, itu dapat memberikan sumber pemasukan yang stabil yang menjadikan bisnis dan tujuan wisata sebagai penanaman modal dalam pertumbuhan pasar baru. Yang sangat penting, biaya untuk mendatangkan lagi bisnis secara berulang pada prinsipnya lebih sedikit daripada mereka yang mendekati para pelanggan baru ( Pasific Asia Travel Association 1997 ).

Secara umum bahwa wisatawan yang datang pertama kali dan yang datang berulang menunjukkan prilaku kunjungan yang berbeda dalam kunjungannya. Wistawan yang datang berulang dalah wisatawan yang sadar dengan tujuan wisatanya yang mengerti terhadap kegiatan-kegiatan wisata yang ada. Lebih jauh lagi, sebagai pelanggan lama, mereka telah memiliki kesempatan untuk bergabung dalam berbagai kegiatan wisata dan karena itu mungkin menjadi menarik dalam bergabung pada kegiatan lain wisatawan. Wisatawan yang datang pertama kali , di pihak lain, merupakan pengunjung yang sengaja berwisata yang mungkin tidak sadar dengan apa yang tersedia dan siapa, bahkan ketika sadar, akan menginginkan memperoleh pengalaman yang pertama kalinya.

Hal itulah yang menjadi ironis, namun, yang secara relatif sedikit penelitian yang telah dilakukan untuk menguji perbedaan dalam hal pola di antara kedua jenis segmen pasar ini, dengan diberikannya prilaku wisata dipengaruhi oleh serangkaian faktor-faktor, termasuk pengalaman masa lampau ( Buhalis, 1999). Suatu asumsi yang nyata yang ada di antara pelaku industri pariwisata di mana kedua kelompok ini berbagi motivasi yang serupa, walaupun tidak ada anggapan yang mendasar akan hal itu.

Pentingnya Kunjungan Ulang
Kunjungan ulang menunjukan adanya segmen pasar yang atraktif dan efektif bagi sebagian besar tujuan wisata. Gitelson dan Crompton ( 1984) misalnya, melaporkan bahwa banyak area tujuan wisata harus terjadi secara alamiah, dengan mempercayakan sepenuhnya pada kunjungan ulang.

Oppermann ( 1998 ) yang menyatakan bahwa satu mitos yang sering berulang dalam literatur pemasaran yaitu biayanya lima atau enam kali lipat lebih, uang dan usaha untuk mendekati pengunjung baru dari pada mempercayakan pelanggan yang ada untuk datang kembali ke suatu tujuan wisata.

Dalam membangun kunjungan ulang merupakan sebuah sarana di mana para penyalur wisata dapat meningkatkan hasil pendapatan dan menekan biaya dengan cara mengurangi kepercayaan pada tugas yang jauh lebih sulit untuk mendekati wisatawan baru ( Gyte dan Phelps 1989; Gitelson dan Crompton 1984).

Pengunjung wisata ulang tidak hanya menunjukan kesetabilan sumber dari pendapatan dari wisatawan, hal itu juga bertindak sebagai saluran informasi yang secara informal menghubungkan jaringa kepada teman, keluarga, dan para pelancong yang potensial lainnya terhadap sebuah tujuan wisata.. apabila terpuaskan oleh persamaan nilai pelayanan yang mereka terima, wisatawan yang datang berulang biasanya secara efektif menggunakan komunikasi dari mulut ke mulut, untuk mempromosikan kesadaran tujuan wisata dan dan merangsang pandangan pelancong untuk menjadi pengunjung ( Reid dan Reid 1993).

Dengan kata lain, hal ini lebih mudah dapat diakses dari pada para pengunjung pertama kali, sejauh catatan organisasi-organisasi yang bertahan, membuat target pemasaran langsung menjadi lebih memungkinkan untuk dikerjakan dengan mudah. Pengetahuan ini memberikan para penyalur wisata atau para pelaku wisata kelas atas untuk dapat mentargetkan dengan tepat segmen wisatawan yang datang berulang dan mengumpulkan respon langsung terhadap promosi ( Reid dan Reid 1993).

Secara relatip, sedikit jumlah penelitian yang telah dipublikasikan untuk menguji fenomena dan motivasi bagi kunjungan ulang. Gitelson dan Crompton ( 1984) mengemukakan lima alasan kenapa orang-orang memegang kunjungan ulang: resiko penurunan / ketenangan dengan sebuah tujuan wisata yang khusus, resiko penurunan / menemukan jenis orang yang sama, keinginan emosional terhadap suatu tempat, mengeksplorasi lebih jauh sebuah tujuan wisata, dan memberitahukan tujuan wisata tersebut kepada orang lain.

Mereka menemukan perbedaan-perbedaan yang signifikan terhadap motivasi-motivasi kedua kelompok wisatawan ini, di mana wisatawan yang datang berulang cenderung menunjukan keinginan untuk bersantai dibandingkan dengan wisatawan yang baru datang pertama kali, sementara wisatawan yang datang pertama kali lebih suka mencari pengalaman-pengalaman dibidangkan budaya dan pengalaman-pengalaman lain yang bermacam-macam.

Fakeye dan Crompton ( 1991) meneliti perbedaan-perbedaan dalam persepsi calon wisatawan baik yang datang pertama kali maupun yang datang berulang, di Lower Rio Grande Valley. Penelitian ini menghasilkan bahwa orang yang belum pernah mengunjungi sebuah tujuan wisata sebelum merasa terbawa dalam faktor hayalan sangatlah berbeda dengan mereka yang sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Mereka juga menemukan bahwa semakin sering seorang wistawan mengunjungi suatu tempat, semakin lebih besar kesempatan sosial dan pertunjukan-pertunjukan telah dikenalnya dan menghargainya. Hampir sama dengan mereka yang telah pernah ke Valley merasakan unsur-unsur yang berkaitan dengan konsumsi pengalaman, misalnya seperti sarana dan prasarana, makanan, masyarakat yang ramah, dan kedai minuman dan hiburan malam menjadi lebih penting dari pada yang bukan wisatawan lakukan.
Sebaliknya, calon wisatawan ayng pertama kali datang mengidentifikasi alam dan budaya ramah tamah, penginapan, dan transportasi yang menjadi hal yang lebih penting.

Motivasi yang Mempengaruhi Prilaku
Uysal dan Hagan (1993) meringkas literatur mengenai faktor-faktor pendorong, dan mendeskripsikannya sebagai faktor-faktor internal yang membangunkan, mengarahkan dan mengintegrasikan prilaku seseorang dari satu sudut pandang pariwisata sebagai suatu rangkaian kebutuhan dan prilaku yang mempengaruhi seseorang untuk bertindak pada kepariwisataan yang mengkhusus dengan menggunakan cara yang diarahkan. Karena itu dianggap sangat penting dalam memahami prilaku pariwisata ( iso-Ahola 1982, sebagaimana dikutip dari Uysal dan Hagan 1993 ).

Para peneliti tertarik untuk mengukur motivasi-motivasi wisatawan untuk dapat mengidentifikasikan perbedaan jenis-jenis wisatawan secara lebih mudah ( Fodness 1994 ) dan juga untuk mendapatkan wawasan terhadap prilaku perjalanan wisata. Sejumlah penelitian telah menunjukan suatu hubungan antara motivasi dan aktivitas.

Pola-polanya terdiri dari faktor-faktor luar dan dalam ( Crompton, 1997 ). Motivasi-motivasi wisatawan telah dijadikan tauladan sebagaimana menggunakan tipologi psikologis / fisyologis ( Iso-Aloha 1982, seperti yang dikutip dari Uysal dan Hagan 1993 ) atau seperti dalam gabungan dari faktor-faktor penarik dan pendorong ( Mill dan Morrison 1985; Pizam, Neumann, dan Reichel 1997 ). Memperhatikan pendekatan-pendekatan yang diadopsi, secara umum dikenal bahwa motivasi itu termasuk elemen-elemen dalam sebagaimana prilaku individu masing-masing, keinginan, pendapat, pengetahuan, dan kebutuhan untuk berlibur, berpasangan dengan pelengkapan tujuan wisata termasuk mainan anak-anak, fasilitas, keuntungan yang diharapkan, dan kesan-kesan ayng dipromosikan pada tujuan wisata tersebut. Faktor-faktor ini dimodifikasi dengan faktor-faktor demograpi sosial dan ekonomi termasuk usia, jenis kelamin, pendapatan, cara hidup keluarga, golongan kecil dan latar belakang budaya ( uysal dan Hagan 1993 ).

McIntosh, Goeldner dan Ritchie ( 1994 ) secara implisit menghubungkan motivasi itu dengan prilaku. Mereka mengklasifikasikan motivasi tersebut menjadi empat kategori dasar: fisik, budaya, hubungan antar perorangan, dan status dan martabat.. individu yang termotivasi dengan alasan fisik atau dengan suatu kebutuhan untuk ikut serta dalam kegiatan rekreasi dan olahraga.

Mereka yang berwisata dengan motif budaya akan mencari kegiatan-kegiatan yang dapat memuaskan rasa penasarannya mengenai lingkungna, budaya, dan masyarakat. Wisatawan semacam ini ingin mengetahui perbedaan-perbedan diantara agama, seni, musik, makanan, dan gaya hidup msyarkat ayng tinggal di negara yang dikunjungi.

Keinginan untuk memuaskan kebutuhan pribadi mengajak orang untuk berwisata baik untuk mendapatkan teman baru atau untuk menghabiskan waktu dengan teman-teman dan keluarga. Pada akhirnya individu masing-masing termotivasi untuk berwisata untuk mendapatkan status dan harga diri akan mencari pengalaman-pengalaman yang dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan ini.

Prilaku
Pendekatan terkini terhadap perhitungan loyalitas berdasarkan pada perilaku konsumen, sering kali berdasarkan pada prilaku pembelian yang aktual, atau pada kasus-kasus yang lain pada perilaku pembelian yang tercatat. Jacoby dan Chestnut (1987) menyarankan bahwa pendekatan perilaku selanjutnya dapat dibagi lagi menjadi lima tipe yaitu; skuensi pembelian merk, proporsi pembelian merk, kemungkinan pembelian merk, perhitungan sintetis dan berbagai perhitungan yang lain

Kunjungan Ulang
Salah satu kebutuhan terkini terhadap fenomena kunjungan ulang adalah kajian Gitelson dan Crompton (1984) tentang pemasaran liburan berulang dan implikasi pemasarannya. Mereka melaporkan, banyak atraksi dan daerah tujuan wisata seperti pantai atau resor memotivasi untuk melakukan kunjungan ulang.

Selain itu mereka juga menyebutkan lima alasan orang melakukan kunjungan ulang: Pengurangan resiko/isi destinasi tertentu; pengurangan resiko/mencari orang yang sama; perasaan emosional terhadap suatu tempat; eksplorasi lanjutan terhadap suatu destinasi; menunjukan destinasi kepada orang lain. Menginvestigasi peran novel dalam perjalanan yang menyenangkan, Bello dan Etzel (1985) menyatakan bahwa orang dengan penghasilan yang rendah dalam kehidupan sehari-harinya akan mencari liburan yang berkelas dalam liburannya (perjalanan novel), yang mana orang-orang yang hidupnya pasang-surut dengan berbagai masalah dan tantangan akan mencari liburan yang menyediakan stimulasi yang minimum atau sesuai dengan keberadaannya.

Penelitian Fakeye dan Crompton terhadap bukan pengunjung, dan pengunjung pertama dan pengunjung berulang menyarankan bahwa citra yang berbeda dan lebih kompleks dari daerah destinasi berkembang ketika pengunjung tersebut telah menghabiskan waktunya beberapa kali di daerah tersebut. Tetapi, kajiannya juga menyatakan bahwa kebanyakan dari perbedaan dan perubahan citra dapat ditemukan pada kunjungan awal; kunjungan ulang selanjutnya cendrung untuk memastikan citra-citra yang dibuat.

Ryan (1995) melaporkan munculnya kunjungan ulang yang tinggi di antara pengunjung dewasa di pulau Mediterrancan Majorca. Hanya sepertiganya yang belum pernah berkunjung ke sana, sepertiganya lagi pernah berkunjung ke sana satu atau dua kali dan sepertiganya lagi sudah sering berkunjung ke sana. Pada kenyataannya, dilaporkan bahwa 10% dari pengunjung telah berkunjung ke pulau tersebut paling tidak satu kali dalam lima tahun sebelumnya, ini menyatakan segmen loyalitas konsumen.

Ryan menyatakan bahwa loyalitas yang tinggi sesuai dengan teori-teori resiko kebencian dan pentingnya pengalaman liburan yang memuaskan dalam menentukan pilihan destinasi. Selanjutnya, Ryan menyatakan bahwa beberapa responden melaporkan identifikasi yang kuat dengan pulau tersebut dan apa yang disajikan di pulau tersebut.

Permalink 1 Comment

JOGER’S MARKETING STYLE

May 12, 2007 at 12:48 pm (Uncategorized)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

JOGER’S MARKETING STYLE IS BASED ON THE SPIRIT OF HONEST, FRIENDLY, AND PLEASANT “DECEPTION” & MAKING OURSELVES HAPPY IN THE WIDE MEANING, INCLUDING MAKING “THE STAKEHOLDERS” HAPPY.

You may not agree to my opinion 100%, but according to my observation up to now (since 1980), there are apparently many businessmen tending to be deceived by unpretentious feeling because they do not honestly want to admit that the business world is actually the world of tricks among the stakeholders which is protected by laws and common sense and develops based on the principle of making each other happy.

Then (since 1987), based on the conscious mind and good goal, I dare to admit that marketing is actually “a deception” toward the stakeholders in a good way (honest, friendly, & useful), legally (not criminal), and pleasantly (making everyone happy), so that whoever we trick never feel to be deceived, even on the contrary, they feel happy, satisfied, and glad, and they will be back to us enforcedly to be tricked continuously.

And next, when they come back to their village or city of theirs happily and spiritedly and with the sense of belonging, they will tell their relatives and friends that do not want to believe directly, about their pleasant experience after being tricked by us. However, because they do not want to believe the story directly, then they feel necessary to come and see or experience “the deceptions” that we always do them more creatively and pleasantly.

Welcome to Joger, the factory of words, that has been applying “Happiness oriented” business concept, not “Profit oriented” which is not suitable with our idea. Please come by, see and feel the honesty, friendliness, and how naturally useful we are, and we are always ready to welcome you with the motto “Buying or not, always thank you!” See and compare the quality and price of our stuffs which are very bad and expensive freely, because in our place we display our stuffs openly and we give each stuff fixed price (not in the form of secret code), so that you can compare easily. As in our place, browsing and touching are still free of charge! (Joger 260503, morning)

PS:
In this case, the happiness of a businessman is how to make money honestly, friendly, and usefully in general according to the principles of need, properness, and our ability, so that we can properly be rich, without making or letting the other parts keep being poor or poorer and poorer.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Promosi Penjualan Hotel di dalam Kota Bersejarah

May 12, 2007 at 12:44 pm (Artikel Pariwisata)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Secara umum ada banyak teknik promosi penjualan produk pariwisata seperti : (1) Pengurangan harga; (2) pemberian voucer dan kupon; (3) Kompetisi; (4) Beli satu dapat dua atau penawaran gratis untuk anak; (5) Undian dan hadiah; (6) Hadiah/souvenir; (7) Menambah volume diskon; (8) Penambahan masa menginap (extra night) dengan harga yang lebih rendah; (9) Hubungan yang kooperatif antara organisasi; (10) Tampilan point penjualan, tampilan slide, peta dan lain-lain; (11) Kegiatan merchandizing / perdagangan.

Dalam hal promosi penjualan hotel yang terletak di dalam kota bersejarah, model promosi penjualan yang dapat dilakukan adalah dengan cara:

(1) Pengurangan atau penurunan harga, dengan cara ini diharapkan mampu meningkatkan jumlah kedatangan wisawtan dan tingkat hunian di suatu hotel. Wisatawan akan merasa sangat senang apabila mendapatkan potongan harga, tetapi pemotongan harga tersebut sama sekali tidak mengurangi kualitas pelayanan;

(2) mengadakan pameran (exhibition) di museum atau tempat-tempat yang bersejarah, dengan kegiatan ini diharapkan mampu memotivasi calon wisatawan untuk mengunjungi objek wisata di kota bersejarah.
Target wisatawan untuk promosi ini biasanya adalah wisatawan minat budaya (cultural interest), namun tidak tertutup kemungkinan akan menarik wisatawan muda khususnya bagi mereka yang yang masih belajar di sekolah umum atau universitas, ini dapat berupa kegiatan studi banding atau study tour.

Dan (3) Kegiatan merchandizing / perdagangan, dengan mengadakan berbagai kegiatan perdagangan (trade) khusussnya pedagangan barang-barang antik dan langka di pusat-pusat kota bersejarah akan dapat menarik wisawatan yang ikut dalam perdagangan tersebut maupun wisatwan yang ingin membeli barang-barang yang dikehendakinya.

Wisatawan berminat untuk mengunjungi pameran atau perdagangan lebih cendrung memilih akomodasi yang letaknya dekat dengan kegiatan yang akan diikutinya sehingga mereka juga dapat menekan biaya perjalanannya khususnya biaya transport. Dengan kegiatan-kegiatan ini secara langsung tingkat hunian hotel akan meningkat sehingga dapat memperoleh keuntungan yang lebih banyak.

Usaha-usaha tersebut sesuai dengan tujuan promosi penjualan yaitu: (1) Memperoleh pencobaan atau keingintahuan; (2) Meningkatkan pemesanan yang lebih awal; (3) Meningkatkan kunjungan dan tinggal yang berulang-ulang; (4) Menyebarkan pengunjung ke wilayah yang luas; (5) Memberantas kompetisi; (6) Mencari/menyaring celah sementara dan musiman; (7) Memotivasi perdagangan.

Permalink Leave a Comment

Bali Tourism Watch: Public Relations

May 12, 2007 at 12:40 pm (Artikel Pariwisata)

Oleh: I Nengah Subadra
___________________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com

Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum & in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
• Presentasi seminar dan penelitian pariwisata
• Konsultasi Pengembangan pariwisata
___________________________________________________________________
Motto: Quality is our Prime Concern
___________________________________________________________________

Ada dua definisi tentang Public Relation:

1.Menurut Seaton (1994, 389), Public Relation dalam pariwisata adalah tentang bagaimana pemikiran orang yang terlibat dalam organisasi pariwisata dan bagaimana persepsi, sikap dan tingkah lakunya dijaga dengan baik / secara positif.

2.Menurut Institute Public Relation di UK, Public Relation merupakan usaha-usaha yang terencana dan berkelanjutan untuk mengembangkan dan mempertahankan keinginan baik dan saling pengertian antara satu organisasi dan khalayak ramainya.

Public Relation eksternal mencakup persepsi orang terhadap produk (pesawat, hotel, destinasi dan atrarksi jenis apa yang ditawarkan); karyawan (bagaimana penampilan, pakaian, berkomonikasi dengan publik); program komuniakasi dan daya jangkau media; keseluruhan identitasnya; Gedung yang dijadikan pusat bisnis dan segala sesuatu yang berhubungan dengan citra organisasi.

Public Relation juga memiliki fungsi internal yaitu untuk membangun dan mempertahankan moral di antara organisasi dalam praktek komunikasi yang bagus, keuntungan insentif, olahraga dan kegiatan yang ditentukan. Public relation yang terlibat di dalam semua kegiatan organisasi harus dilakukan selayaknya dengan pemasaran.
Salah satu kunci perbedaan antara Public Relation dengan pemasaran adalah bahwa Public Relation melibatkan /menggunakn pesan ke suatu tingkatan publik.

Sedangkan pemasaran pesannya disampaikan kepada segmen pasar. Target Public Relation mencakup: konsumen, perdagangan pariwisata, media dunia financial, organisasi sektor publik termasuk pemerintah nasional, pemegang kebijakan lokal dan badan pariwisata, komunitas bisnis, karyawan (yang terkini dan potensial) dan pendapat dari generasi sebelumnya.

Jenis komunikasi dan media yang dipakai Public Relation lebih beraneka ragam dari pada iklan. Public relation bisa melibatkan lobi politik, kerjasama keramah-tamahan dengan dukungan VIP, dan semua jenis komunikasi pribadi yang ditujukan pada opini terdahulu yang bisa bertindak sebagai orang ketiga terpenting pemegang kuasa produk pariwisata.

Permalink Leave a Comment

Next page »