Bali Tourism Watch: Perubahan-Perubahan dalam Industri Pariwisata: Tinjauan Perspektif Postmodernisme

Oleh I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________

Postmodernisme merupakan reaksi dan bentuk perlawanan terhadap manisnya konsep budaya modernisme yang sudah tidak relevan lagi. Budaya modernisme cendrung memiliki berbagai kelemahan dan bahkan apabila manusia tidak mampu menyikapinya dengan baik maka mereka bisa menjadi korban dari budaya modernisme, namun budaya ini sangat dijunjung dan diagung-agungkan oleh kebanyakan orang pada saat ini. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan manusia dalam memahami konsep-konsep medernisme secara keseluruhan dan kurangnnya pengetahuan manusia tentang dampak-dampak dari budaya modernisme. Menurut Prama, ciri-ciri modernisme adalah seperti: diferensiasi, dikotomi, progres, rasionalitas, dan penggunaan teknologi. Ciri-ciri tersebut merupakan penyebab utama dari persoalan-persoalan yang dihadapi manusia sekarang ini. Dengan semakin banyaknya persoalan yang mucul sebagai akibat dari budaya modernisme, maka munculah konsep pemikiran postmodernisme.

Secara epistimologi postmodernisme berarti pencairan ketidakstabilan yang ditantadi dengan; runtuhnya kebenaran, rasionalitas, obyektivitas. Ciri-ciri postmodernisme: (1) De-diferensiasi (menyamarkan perbedaan); (2) Keanekaragaman argumentasi; (3) Menghargai perbedaan; (4) Membiarkan semua teori terbuka; (5) Tanpa kesimpulan; (6) Sintesis (berjalan secara bersama-sama). Prinsip dasar post modernisme adalah tidak adanya benar dan salah, membiarkan segala sesuatu terbuka kemudian sensitif terhadap perbedaan, menyadari keterbatasan dan kemampuan masing-masing dan kebenaran selalu bergerak seiring dengan dimensi ruang dan waktu. Kelemahan dari postmodernisme adalah solipsisme (kondisi yang sangat relatif) sehingga semuanya menjadi tanpa aturan.

Pariwisata merupakan industri non migas dan padat karya terbesar di dunia yang mempekerjakan jutaan manusia sehingga memiliki kontribusi yang sangat banyak terhadap peningkatan kualitas dan taraf hidup manusia di kebanyakan negara khususnya yang dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Pariwisata juga merupakan fenomena sosial yang berperan sebagai pembawa misi perjalanan damai (peaceful travel) ke luar daerah. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai naluri untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain atau mencari sesuatu yang baru. Perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang lain merupakan salah satu gejala sosial manusia. Pada jaman modern yang dibarengai dengan perkembangan sarana informasi, teknologi, telekomonikasi, ilmu pengetahuan dan seni mendorong manusia untuk melakukan perjalanan atau wisata. Pola hidup masyarakat yang telah berubah dan taraf kehidupan masyarakat yang terus meningkat seiring dengan perkembangan jaman juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan manusia berwisata.

Paradigma baru ini merubah pandangan manusia terhadap pariwisata yang mana dulunya pariwisata merupakan kegiatan yang mahal dan hanya dilakukan oleh kalangan orang kaya (bourgeois) yang memiliki kemampuan atau kemapanan dalam pendidikan, pengetahuan, budaya dan ekonomi tetapi sekarang pariwisata dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah yang hanya memiliki kemapanan dalam bidang pendidikan dan budaya namun lemah dalam ekonomi. Kedua kalangan ini (miskin dan kaya) pada dasarnya memiliki alasan yang sama untuk melakukan perjalanan wisata yaitu untuk keluar dari aktivitas dan kebiasaannya sehari-hari baik dalam ruang lingkup kerja maupun kehidupan di rumah dan lingkungannya.

Prilaku hidup dan cara pandang manusia terhadap pariwisata pada saat ini sangat tepat dengan apa yang ditawarkan dalam dunia pariwisata. Sebagai perdagangan jasa (trade of services), pariwisata menawarkan berbagai bentuk imajinasi, ilusi dan fantasi yang umumnya ada di benak setiap manusia yang mana produk-produknya bersifat perishable artinya bahwa hanya dapat dikonsumsi pada saat wisatawan menikmati produk tersebut. Sehingga untuk menikmati produk-produk wisata, wisatawan harus mengunjungi secara langsung (experience) ke daerah tujuan wisata yang menawarkan atau menyediakan produk yang diinginkan (Greason). Produk, daya tarik dan atraksi wisata yang tersedia di suatu daerah tujuan wisata selanjutnya dijadikan sebagai image dari daerah tujuan wisata tersebut. Sebagaimana Bali misalnya mendapatkan berbagai julukan seperti; the morning of the world, the island of paradise dan the island of thousand temples. Predikat-predikat tersebut tidak terlepas dari realitas yang ada yang dapat dilihat dan dinikmati secara langsung oleh para wisatawan.

Jumlah perpindahan manusia yang besar ke daerah tujuan wisata sangat membantu percepatan proses pertumbuhan ekonomi dari suatu daerah tujuan wisata. Sehingga hasil finansial dari kegiatan perdagangan jasa pariwisata dapat meningkatan pendapatan negara (state revenue) di daerah tujuan wisata.

Semakin banyaknya waktu luang (leisure time) dan tabungan (saving) yang dimiliki oleh manusia di dunia mengakibatkan jumlah kedatangan wisatawan terus meningkat dari tahun ke tahun. Kedatangan wisatawan dalam jumlah yang banyak apalagi melebihi daya tampung (carrying capacity) dari suatu daerah tujuan wisata akan mengakibatkan terjadinya berbagai perubahan terutama paradigma berfikir dan berprilaku dalam kehidupan sosial, budaya dan politik daerah tujuan wisata tersebut. Besarnya permintaan (demand) ini, umumnya ditanggapi secara positif oleh pemerintah, organisasi non pemerintah (Non Governmental Organization), para pelaku pariwisata dan masyarakat lokal sehingga mereka bergandengan tangan untuk memenuhi permintaan ini dengan menyediakan dan membangun berbagai bentuk perdagangan jasa pariwisata seperti hotel, villa, restoran, biro perjalanan wisata, toko kerajinan dan lain-lain.

Ketersediaan berbagai fasilitas pariwisata ini semakin memicu kedatangan wisatawan dalam jumlah yang banyak pada waktu yang bersamaan. Sehingga mengarahkan pembangunan pariwisata ke pembangunan pariwisata masal (mass tourism) yang tentunya memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positif dari pariwisata masal ini adalah semakin banyak tersedianya lapangan pekerjaan dalam sektor perdagangan jasa pariwisata yang selanjutnya berperan untuk meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat.

Sedangakan salah satu dampak negatif dari pembangunan pariwisata masal adalah terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan atau alam yang dijadikan sebagai daya tarik wisata. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan lingkungan menampung kedatangan wisatawan dalam jumlah yang banyak dan kurang sadarnya wisatawan terhadap penting lingkungan yang lestari. Besarnya dampak positif dan negatif dari pengembangan pariwisata masal ini merupakan masalah yang sangat delimatis hingga saat ini sehingga perlu disikapi secara arif dan bijaksana.

Selain mengakibatkan munculnya pengembangan pariwisata masal, ketersediaan berbagai fasilitas pariwisata ini juga merubah pola pikir wisatawan. Kesadaran wisatawan terhadap pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) juga turut merubah pola perjalanan wisatanya. Dulunya mereka bepergian dan berlibur secara bersama-sama dengan kerabat kerjanya atau teman-teman sekolah. Namun sekarang ini mereka lebih cendrung berlibur dalam kelompok-kelompok kecil dan bahkan perorangan (Free Independent Traveler). Model perjalanan wisata ini dilakukan oleh para wisatawan sebagi reaksi terhadap banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan sehubungan dengan pengembangan pariwisata masal. Kesadaran (awareness) wisatawan terhadap perlunya pelestarian lingkungan dan budaya-budaya masyarakat lokal di daerah tujuan wisata semakin meningkat. Perubahan prilaku wisatawan dalam menikmati atau mengkonsumsi produk-produk pariwisata baik yang tangible seperti; akomodasi, obyek wisata dan daya tarik wisata maupun yang intangible seperti; pelayanan ditanggapi dengan baik oleh para pelaku pariwisata khususnya biro perjalanan wisata dengan menyediakan dan menjual paket-paket wisata dalam skala kecil dan berbasiskan kearifan budaya-budaya lokal dan lingkungan atau alam serta berorientasi kepada permintaan dan pemberian kepuasan kepada wisatawan. Model pengembangan pariwisata ini dikenal dengan istilah pariwisata alternatif. Ini merupakan trend terbaru dalam dunia pariwisata. Menurut Sharply, perubahan penyediaan produk-produk wisata dan pola konsumsi produk-produk tersebut merupakan reaksi terhadap pariwisata konvensional yang identik dengan modernisme sehingga diharapkan menjadi post-tourism yang mampu mendatangkan post-tourist yang lebih peduli terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat lokal dan lingkungan agar menunjang perwujudan pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Dengan dikembangkannya pariwisata alternatif, para wisatawan dapat memilih produk-produk pariwisata dengan bebas yang sesuai dengan keinginannya. Mereka tidak lagi dibatasi dengan paket-paket wisata yang dijual oleh biro perjalanan wisata yang cendrung mengikat atau membatasi ruang gerak para wisatawan karena mereka harus mematuhi terms dan conditions yang diberikan oleh biro perjalanan wisata (travel agency). Namun mereka bisa dengan bebas menentukan pilihan atraksi wisata dan lamanya mereka tinggal (length of stay) di suatu daerah tujuan wisata. Selain menawarkan produk-produk wisata yang menarik dan bervariasi, para penyedia jasa pariwisata juga lebih meningkatan kualitas pelayanan dan menjamin kepuasan wisatawan yang membeli produk-produk wisata yang ditawarkan dengan harapan bahwa para wisatawan tersebut akan kembali lagi menggunakan jasanya ketika datang kembali ke daerah tujuan wisata sebagai repeating guests.

Pemberian jaminan kepuasan juga merupakan salah satu metode pemasaran yang ampuh. Metode pemasaran yang dimaksud adalah metode pemasaran word of mouth. Ketika seorang wisatawan memperoleh kepuasan dalam menikmati suatu produk wisata, maka wisatawan tersebut akan menceritakan pengalaman menariknya kepada keluarga, teman dekat dan teman kerjanya yang kemudian memotivasi mereka untuk membeli atau menikmati produk wisata tersebut.

Hal seperti ini dapat dilihat dengan jelas sebagaimana yang dilakukan sebuah biro perjalanan wisata bertaraf internasional “Bali.com Limited” yang berkantor pusat di Hongkong yang membuka kantor cabang di Jimbaran-Bali. Biro perjalanan wisata ini merupakan salah satu biro perjalanan wisata yang sangat berorientasi kepada permintaan dan kepuasan wisatawan. Produk wisata utama yang dijual adalah berupa jasa penginapan villa dan hotel yang exclusive. Selain itu, biro perjalanan wisata ini juga menjual paket-paket wisata seperti; kursus singkat memasak makanan Bali, honeymoon package dan beyond Bali tours. Villa-villa yang dijual adalah villa yang memiliki desain khas Bali dan unik namun memiliki fasilitas dan staf berstandar internasional, sedangkan hotel-hotel yang dijual adalah hotel-hotel berbintang (hotel berbintang tiga sampai berbintang lima) dengan harga yang jauh lebih murah dari publish rate. Potongan harga yang diberikan berkisar antara 20% hingga 70%. Selain memberikan potongan harga, biro perjalanan wisata ini juga memberikan welcoming package berupa hatten wine dan Bali Guide Book dan mobil Toyota Kijang dan sopir yang berbahasa inggris secara gratis selama tinggal di Bali kepada setiap wisatawan yang menggunakan jasanya. Dengan pelayanan ini, maka wisatawan dapat dengan bebas menentukan kegiatan wisata yang diinginkan tanpa harus dibatasi dengan waktu, tour itinerary dan paket wisata yang umumnya ditawarkan oleh biro perjalanan wisata yang lainnya.

Selain menawarkan produk-produk wisata yang berbeda, Bali.com Limited juga memberikan pelayanan pemesanan dan pembelian produk wisata dengan cara sederhana, cepat dan on line. Wisatawan yang ingin membeli produk wisata hanya mengisi reservation form yang sudah tersedia di website, kemudian dalam waktu yang singkat wisatawan tersebut akan memperoleh konfirmasi atau kepastian tentang tersedia atau tidaknya produk wisata yang diminta. Apabila produk wisata yang diminta tersedia, maka wisatawan tersebut diminta untuk mengirimkan nomor Kartu Kredit dan expire date. Semua pembayaran terhadap produk wisata yang dibeli akan langsung ditagih melalui kartu kredit yang diberikan wisatawan yang bersangkutan melalui internet banking. Setelah semua pembayaran dibayar, wisatawan tersebut akan segera mendapatkan confirmation number yang nantinya digunakan pada saat mereka datang ke Bali.

Penjualan produk-produk wisata yang berorientasi kepada permintaan dan kepuasan memang sangat menjanjikan dan sesuai dengan marketing trend pada saat ini, namun apabila tidak dimonitor dan diawasi dengan baik tidak tertutup kemungkinan akan mengakibatkan dampak-dampak negatif terhadap perkembangan pariwisata di Bali.
Untuk memberikan jaminan pelayanan yang memuasakan kepada wisatawan diperlukan penyediaan sumber daya manusia (human resource) yang berkualitas, profesional dan berstandar internasional. Tuntutan wisatawan tersebut sangatlah mutlak untuk diberikan.

Tetapi pada kenyataannya bahwa sumber daya manusia Bali khususnya orang-orang Bali belum memiliki kualifikasi yang sesuai dengan permintaan wisatawan. Ini dapat dilihat dengan jelas di kebanyakan industri pariwisata yang mana orang-orang Bali hanya menduduki posisi-posisi sebagai front liner yang memiliki pekerjaan yang cukup berat namun mendapatkan penghasilan yang jauh lebih sedikit daripada posisi-posisi di tingkat manajer (managerial position) yang umumnya dipegang oleh orang-orang dari luar Bali dan bahkan luar negeri. Ada dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya realitas ini yaitu:

Pertama, pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah pariwisata dari tingkat SMK sampai Diploma adalah pendidikan yang cendrung mendidik sumber daya manusia untuk menjadi pekerja kelas bawah seperti waiter, waitress, cook, bellboy, room attendant, mechanic, engineer, security dan lain-lain. Pendirian sekolah-sekolah seperti ini harus ditinjau kembali karena berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan kehidupannya di masa yang akan datang.

Faktor kedua adalah budaya. Keanekaragaman budaya yang dimiliki Bali bukan hanya sebagai peluang (opportunity) tetapi juga sebagai ancaman (threat). Kegiatan keagamaan dan adat yang merupakan bagian dari budaya Bali merupakan faktor penghambat majunya sumber daya manusia Bali di industri pariwisata. Kewajiban untuk mengikuti kegiatan keagamaan dan adat merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh setiap orang Bali karena mereka sebagai masyarakat sosial yang terikat dengan adat istiadat di desa asalnya.

Melihat kondisi ini maka sangat tidak mungkin bagi orang Bali untuk bisa bekerja secara profesional sesuai dengan tuntutan industri pariwisata. Sedangkan sumber daya manusia luar Bali yang bekerja di industri pariwisata sangat siap untuk bekerja secara profesional karena mereka tidak dituntut dan melaksanakan kewajiban sebagaimana layaknya sumber daya manusia Bali. Lalu, apakah orang-orang Bali menjadi korban budaya sehingga mereka tidak mampu berkompetisi dalam persaingan global?

Jadi, untuk menyikapi perubahan-perubahan dalam dunia pariwisata yang terjadi saat ini dan meminimalisasi dampak-dampak negatif yang ditimbulkan serta memaksimalkan pemberian dampak positif terhadap budaya lokal, alam dan masyarakat maka perlu adanya etika bisnis pariwisata terutama antara tour operators dan daerah tujuan wisata (Greason). Etika bisnis ini sangat mutlak diperlukan agar bisa tercapainya visi dan misi pembangunan pariwisata berkelanjutan yang terfokus pada pariwisata budaya (cultural tourism) di Bali.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s