Bali Tourism Watch: Siklus Daerah Tujuan Wisata

Oleh: I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : http://www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________

Ada enam tingkatan (phase) yang dilalui oleh suatu daerah tujuan wisata yaitu tahap: penjelajahan (exploration), pelibatan (involvement), pembangunan / pengembangan (development), konsolidasi (consolidation), stagnasi (stagnation) dan penolakan (decline). Keenam tingkatan tersebut akan dijabarkan secara rinci yang dihubungkan dengan bauran pemasaran (product, price, place dan promotion). Sehingga dengan menghubungkan variabel-variabel ini, kita dapat mengetahui strategi bauran pemasaran (marketing mix) pada masing-masing tahapan tersebut.

1.Tahap Penjelajahan (exploration)
Pada tahapan ini produk pariwisata atau daerah tujuan wisata masih sangat alami (natural) dan sama sekali belum tersentuh dengan teknologi modern. Aksesibilatas untuk menjangkau daerah tujuan wisata sangat terbatas hanya mampu dilalui oleh jenis-jenis kendaraan tertentu saja sehingga jumlah kunjungan wisatawan masih sangat sedikit. Begitu pula dengan jumlah fasilitas atau sarana penunjang pariwisata (supporting tourism facilities) seperti akomodasi dan restoran masih kurang dan belum memadai. Pada tahapan ini, daerah tujuan wisata hanya akan dikunjungi oleh wisatawan tertentu seperti; wisatawan petualang (adventurer), penjelajah (explorer) dan peneliti (researcher).

Dari segi harga, wisatawan dapat menikmati produk-produk wisata dengan biaya yang sangat murah karena mereka hanya menghabiskan uangnya untuk akomodasi dan makan saja. Walaupun mereka harus tinggal di hotel mereka hanya membayar dengan harga yang sangat murah karena sesuai dengan fasilitas yang tersedia pada hotel tersebut. Dan sering kali pada tahapan ini wisatawan hanya menginap di rumah-rumah penduduk lokal untuk akomodasinya. Mereka juga menikmati apa adanya tanpa harus mendapatkan fasilitas sama dengan yang ada di daerah asal wisatawan tersebut. Semua produk-produk kerajinan yang dijual kepada wisatawan harganya sangat murah.

Biro perjalanan wisata belum begitu tampak pada tahapan ini karena umumnya wisatawan datang dan menjelajah sendiri tanpa menggunakan agen-agen perjalanan. Dalam kegiatan berwisatanya wisatawan biasanya berkomunikasi langsung dengan masyarakat lokal dengan bahasa seadanya. Dan masyarakat lokalpun berusaha untuk mempelajari bahasa para wisatawan sesuai dengan proses pemerolehan bahasa (language acquisition) yaitu hal yang bersifat incidental yang selalu dipraktekkan kemudian terbiasa untuk menggunakannya. Sehingga tidak mengherankan apabila pada tahapan ini juga masyarakat lokal sudah mulai bisa berbicara bahasa asing walaupun hanya bahasa pasaran (pidgin language).

Pada tahapan ini tidak ada proses promosi (promotion) yang diorganisir secara khusus. Sistem promosi yang ada adalah promosi dari mulut ke mulut (word of mouth). Bagi wisatawan yang mendapatkan pengalaman langsung dan menarik di suatu daerah tujuan wisata akan menceritakan kepada saudara dan kerabatnya sehingga mereka tertarik dan antosias untuk mengunjungi objek wisata tersebut. Seperti apa yang terjadi pada Bali dulu. Bali hanya dipromosikan oleh orang-orang yang telah pernah menginjakkan kakinya di pulau Bali. Selanjutnya mereka mengajak saudara dan teman-temannya untuk beramai-ramai mengunjungi Bali yang kaya akan keindahan alam, keunikan budaya dan masyarakatnya yang ramah yang menyapa setiap wisatawan dengan senyum yang manis.

2.Tahap Pelibatan (involvement)
Pada tahap ini masyarakat sudah mulai terlibat dalam kegiatan pariwisata. masyarakat khususnya masyarakat lokal terlibat aktif dalam upaya perbaikan infrastuktur dan sarana-sarana pariwisata yang lainnya. Selain itu masyarakat mulai melihat bahwa kedatangan wisatawan dalam jumlah tertentu dapat menciptakan peluang usaha bagi mereka. Masyarakat lokal bisa membuat beraneka ragam kerajinan untuk dijual kepada wisatawan dan membangun usaha-usaha kecil yang berkaitan dengan pariwisata seperti; kedai kopi (coffee shop), toko kerajinan seni (art shop) dan lain-lain.
Kunjungan wisatawan juga sudah semakin meningkat karena selain dilibatkan dalam kegiatan pariwisata, masyarakat dan kebudayaannya dijadikan sebagai objek dan daya tarik wisata yang bisa mendatangkan wisatawan terutama bagi wisatawan-wisatawan yang cinta budaya (cultural tourists). Pemerintah juga melakukan langkah-langkah antisipatif untuk mengindari adanya konflik antara masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pariwisata.

Pemerintah membuat dan mengeluarkan peraturan-peraturan dalam bentuk peratutan pemerintah, peraturan daerah dan undang-undang yang mengatur segala kegiatan dan legalitas kepariwisataan. Kerjasama yang erat antara masyarakat dan pemerintah yang diwujudkan dengan penciptaan situasi yang harmonis dan kondusif juga memotovasi wisatawan untuk mengunjungi suatu daerah tujuan wisata karena wisatawan memiliki rasa yang tenang, aman dan nyaman ketika mereka berada di daerah tujuan wisata tersebut. Hal ini sangat berimplikasi pada pencapaian kepuasan wisatawan (guest satisfaction).

3.Tahap Pembangunan atau Pengembangan (development)
Seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, maka dibangun dan dikembangkan berbagai jenis usaha perdagangan jasa pariwisata seperti; hotel, villa, restoran, biro perjalanan wisata dan lain-lain. Begitu juga dengan objek-objek wisatanya. Mereka ditata sedemikian rupa sehingga semakin menarik wisatawan untuk mengunjungi objek-objek tersebut. di objek-objek wisata juga dibangun berbagai sarana penunjang seperti; toilet, tempat peristirahatan, dan warung makanan atau minuman untuk para wisatawan, pramu wisata dan sopir.

Jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat dan pembangunan berbagai sarana perdagangan jasa pariwisata yang berlebihan yang tidak disesuaikan dengan daya tampung (carrying capacity) dan daya dukung (supporting capacity) sering kali mengakibatkan dampak-dampak negatif seperti; degradasi lingkungan, terjadinya pembuatan produk-produk massal (mass products), menurunnya kualitas pelayanan dan lain-lain.

Untuk menghindari munculnya persaingan yang tidak sehat antar pengelola perdagangan jasa pariwisata dan memberikan pelayanan yang standar kepada para wisatawan, maka diperlukan adanya perencanaan dan pengembangan yang menyatu (integrated). Ini diwujudkan dengan dibentuknya berbagai perserikatan (association) seperti; SPSI, ASITA, HPI, PHRI dan lain-lain.

Jumlah hotel yang telah banyak dan terus meningkat tidak mampu lagi untuk mencari wisatawan untuk menginap di hotelnya apalagi menghandalkan wisatawan langsung (walk-in guest). Oleh karena itu peran biro perjalanan wisata (travel agent) sangat diperlukan pada tahapan ini. Biro perjalanan wisata mampu membuat paket-paket wisata dan rencanan perjalanan wisata (tour itenerary) yang menarik yang dikombinasikan dengan berbagai kegiatan wisata seperti; tour, kegiatan petualangan, kegiatan budaya dan lain-lain. Seperti yang terjadi sekarang ini khususnya di Bali, hampir semua hotel baik hotel berbintang (star hotel) maupun tidak berbintang (non-star hotel) umumnya wisatawannya dipasok oleh biro perjalanan wisata lokal domestik maupun internasional. Melihat peran tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa biro perjalanan wisata mendapatkan posisi yang sangat penting dalam usaha perdagangan jasa pariwisata.

4.Tahap Konsolidasi (consolidation)
Pada tahapan ini, secara keseluruhan jumlah kunjungan wisatawan masih mengalami peningkatan. Sehingga proses positioning masih dapat berjalan dengan baik dan bahkan citranya sangat mudah diingat dan tersebar luas dimana-mana. Keterkenalan suatu daerah tujuan wisata sangat dipengaruhi oleh positioning. Misalnya Bali, Bali sebenarnya telah memiliki positioning yang bagus di mata internasional baik di Asia maupun Eropa. Oleh karena itu, dengan modal ini Bali sebenarnya dapat dijual dengan mudah dan sangat mudah menarik wisatawan untuk mengunjungi apabila didukung oleh semua kalangan yang bergelut dalam bidang pariwisata, pemerintah dan masyarakat.

Kerjasama antar negara yang berbentuk hubungan bilateral maupun multilateral mutlak diperlukan untuk mendukung kegiatan pariwisata. Ini bertujuan untuk menghindari kebijakan-kebijakan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan pariwisata seperti; travel advisory, travel warning dan travel banned. Kebijakan-kebijakan ini sangat merugikan bagi kalangan pengelola perdagangan jasa pariwisata. Oleh karena itu, konsolidasi nasional maupun internasional mutlak diperlukan.

5.Tahap Stagnasi (stagnation)
Pada tahapan ini merupakan jumlah kunjungan wisatawan tertinggi. Setelah tercapainya jumlah kunjungan tertinggi biasanya akan terjadinya penurunan kembali jumlah kunjungan wisatawan yang diakibatkan oleh semakin buruknya sarana-sarana dan pelayanan perdagangan jasa pariwisata. Ini juga dapat mengakibatkan dampak buruk bagi suatu daerah tujuan wisata karena sudah mulai terceminnya citra (image) buruk terhadap daerah tujuan wisata tersebut. Dengan citra buruk ini, daerah tujuan wisata tidak mampu lagi untuk menarik wisatawan-wisatawan baru dan hanya menghandalkan wisatawan-wisatawan lama yang melakukan kunjungan ulang (repeated visit).
Untuk mengatisipasi masalah ini, biasanya dilakukan berbagai upaya untuk pemulihan (recovery). Peran biro perjalanan wisata sangat diperlukan untuk pemulihan ini. Bagi biro perjalanan wisata yang ternama akan berusaha untuk mendatangkan wisatawan dengan cara mengaktifkan dan mempererat hubungannya dengan biro-biro perjalanan wisata di luar negeri. Begitu pula para penyedia jasa akomodasi, mereka berusaha keras untuk memperbaiki dan menambah fasilitas serta memberikan pelatihan (training) seperti kursus bahasa asing dan kursus kepribadian bagi para karyawannya agar bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan yang menggunakan jasa akomodasinya.

Selain masalah tersebut di atas, masalah lingkungan juga mulai bermunculan seperti; sampah, polusi, degradasi dan lain-lain. Masalah ini sering kali mengakibatkan batalnya kunjungan wisatawan. Karena pada dasarnya wisatawan menginginkan tempat yang bersih dan nyaman agar dapat menikmati liburannya dengan baik tanpa harus memiliki rasa khawatir terhadap gangguan berbagai penyakit yang diakibatkan oleh tidak bersihnya lingkungan.

6.Tahap Penolakan (decline)
Pada tahapan ini, wisatawan sudah meninggalkan suatu daerah tujuan wisata dan tidak mau lagi mengunjungi daerah tujuan wisata tersebut yang diakibatkan karena banyak faktor seperti; tidak nyamannya tempat tersebut, terganggunya wisatawan pada saat berlibur, terjadinya kerusakan lingkungan dan lain-lain. Tidak adanya kunjungan wisatawan sering kali mengakibatkan perubahan fungsi dari fasilitas perdagangan jasa pariwisata. untuk menghidari hal tersebut sangat diperlukan adanya diversifikasi dan komodifikasi produk-produk pariwisata.

Tahapan ini merupakan tahapan yang paling kritis. Walaupun produk wisata dijual dengan harga yang sangat murah, namun tidak mampu lagi memulihkan jumlah kunjungan wisatawan karena sudah mendapatkan citra buruk dari para wisatawan. Ketidakmampuan dalam menangani tahapan ini sering kali berakibat fatal dan matinya suatu daerah tujuan wisata.

Daftar Referensi

Madiun, I Nyoman. 2005. Marketing Management. Bahan Ajar Mata Kuliah Pemasaran Pariwisata. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar:

Suradnya, Made. 2005. Bahan Ajar Mata Kuliah Pemasaran Pariwisata. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar:

Sukaatmaja, Putu Gede. 2005. Bahan Ajar Mata Kuliah Pemasaran Pariwisata. Program Studi Kajian Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar:

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s