Bali Tourism Watch: Perubahan-Perubahan dalam Industri Pariwisata: Tinjauan Perspektif Postmodernisme
Oleh I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Postmodernisme merupakan reaksi dan bentuk perlawanan terhadap manisnya konsep budaya modernisme yang sudah tidak relevan lagi. Budaya modernisme cendrung memiliki berbagai kelemahan dan bahkan apabila manusia tidak mampu menyikapinya dengan baik maka mereka bisa menjadi korban dari budaya modernisme, namun budaya ini sangat dijunjung dan diagung-agungkan oleh kebanyakan orang pada saat ini. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan manusia dalam memahami konsep-konsep medernisme secara keseluruhan dan kurangnnya pengetahuan manusia tentang dampak-dampak dari budaya modernisme. Menurut Prama, ciri-ciri modernisme adalah seperti: diferensiasi, dikotomi, progres, rasionalitas, dan penggunaan teknologi. Ciri-ciri tersebut merupakan penyebab utama dari persoalan-persoalan yang dihadapi manusia sekarang ini. Dengan semakin banyaknya persoalan yang mucul sebagai akibat dari budaya modernisme, maka munculah konsep pemikiran postmodernisme.
Secara epistimologi postmodernisme berarti pencairan ketidakstabilan yang ditantadi dengan; runtuhnya kebenaran, rasionalitas, obyektivitas. Ciri-ciri postmodernisme: (1) De-diferensiasi (menyamarkan perbedaan); (2) Keanekaragaman argumentasi; (3) Menghargai perbedaan; (4) Membiarkan semua teori terbuka; (5) Tanpa kesimpulan; (6) Sintesis (berjalan secara bersama-sama). Prinsip dasar post modernisme adalah tidak adanya benar dan salah, membiarkan segala sesuatu terbuka kemudian sensitif terhadap perbedaan, menyadari keterbatasan dan kemampuan masing-masing dan kebenaran selalu bergerak seiring dengan dimensi ruang dan waktu. Kelemahan dari postmodernisme adalah solipsisme (kondisi yang sangat relatif) sehingga semuanya menjadi tanpa aturan.
Pariwisata merupakan industri non migas dan padat karya terbesar di dunia yang mempekerjakan jutaan manusia sehingga memiliki kontribusi yang sangat banyak terhadap peningkatan kualitas dan taraf hidup manusia di kebanyakan negara khususnya yang dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Pariwisata juga merupakan fenomena sosial yang berperan sebagai pembawa misi perjalanan damai (peaceful travel) ke luar daerah. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai naluri untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain atau mencari sesuatu yang baru. Perjalanan dari suatu tempat ke tempat yang lain merupakan salah satu gejala sosial manusia. Pada jaman modern yang dibarengai dengan perkembangan sarana informasi, teknologi, telekomonikasi, ilmu pengetahuan dan seni mendorong manusia untuk melakukan perjalanan atau wisata. Pola hidup masyarakat yang telah berubah dan taraf kehidupan masyarakat yang terus meningkat seiring dengan perkembangan jaman juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan manusia berwisata.
Paradigma baru ini merubah pandangan manusia terhadap pariwisata yang mana dulunya pariwisata merupakan kegiatan yang mahal dan hanya dilakukan oleh kalangan orang kaya (bourgeois) yang memiliki kemampuan atau kemapanan dalam pendidikan, pengetahuan, budaya dan ekonomi tetapi sekarang pariwisata dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah yang hanya memiliki kemapanan dalam bidang pendidikan dan budaya namun lemah dalam ekonomi. Kedua kalangan ini (miskin dan kaya) pada dasarnya memiliki alasan yang sama untuk melakukan perjalanan wisata yaitu untuk keluar dari aktivitas dan kebiasaannya sehari-hari baik dalam ruang lingkup kerja maupun kehidupan di rumah dan lingkungannya.
Prilaku hidup dan cara pandang manusia terhadap pariwisata pada saat ini sangat tepat dengan apa yang ditawarkan dalam dunia pariwisata. Sebagai perdagangan jasa (trade of services), pariwisata menawarkan berbagai bentuk imajinasi, ilusi dan fantasi yang umumnya ada di benak setiap manusia yang mana produk-produknya bersifat perishable artinya bahwa hanya dapat dikonsumsi pada saat wisatawan menikmati produk tersebut. Sehingga untuk menikmati produk-produk wisata, wisatawan harus mengunjungi secara langsung (experience) ke daerah tujuan wisata yang menawarkan atau menyediakan produk yang diinginkan (Greason). Produk, daya tarik dan atraksi wisata yang tersedia di suatu daerah tujuan wisata selanjutnya dijadikan sebagai image dari daerah tujuan wisata tersebut. Sebagaimana Bali misalnya mendapatkan berbagai julukan seperti; the morning of the world, the island of paradise dan the island of thousand temples. Predikat-predikat tersebut tidak terlepas dari realitas yang ada yang dapat dilihat dan dinikmati secara langsung oleh para wisatawan.
Jumlah perpindahan manusia yang besar ke daerah tujuan wisata sangat membantu percepatan proses pertumbuhan ekonomi dari suatu daerah tujuan wisata. Sehingga hasil finansial dari kegiatan perdagangan jasa pariwisata dapat meningkatan pendapatan negara (state revenue) di daerah tujuan wisata.
Semakin banyaknya waktu luang (leisure time) dan tabungan (saving) yang dimiliki oleh manusia di dunia mengakibatkan jumlah kedatangan wisatawan terus meningkat dari tahun ke tahun. Kedatangan wisatawan dalam jumlah yang banyak apalagi melebihi daya tampung (carrying capacity) dari suatu daerah tujuan wisata akan mengakibatkan terjadinya berbagai perubahan terutama paradigma berfikir dan berprilaku dalam kehidupan sosial, budaya dan politik daerah tujuan wisata tersebut. Besarnya permintaan (demand) ini, umumnya ditanggapi secara positif oleh pemerintah, organisasi non pemerintah (Non Governmental Organization), para pelaku pariwisata dan masyarakat lokal sehingga mereka bergandengan tangan untuk memenuhi permintaan ini dengan menyediakan dan membangun berbagai bentuk perdagangan jasa pariwisata seperti hotel, villa, restoran, biro perjalanan wisata, toko kerajinan dan lain-lain.
Ketersediaan berbagai fasilitas pariwisata ini semakin memicu kedatangan wisatawan dalam jumlah yang banyak pada waktu yang bersamaan. Sehingga mengarahkan pembangunan pariwisata ke pembangunan pariwisata masal (mass tourism) yang tentunya memiliki dampak positif dan negatif. Salah satu dampak positif dari pariwisata masal ini adalah semakin banyak tersedianya lapangan pekerjaan dalam sektor perdagangan jasa pariwisata yang selanjutnya berperan untuk meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat.
Sedangakan salah satu dampak negatif dari pembangunan pariwisata masal adalah terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan atau alam yang dijadikan sebagai daya tarik wisata. Hal ini terjadi karena ketidakmampuan lingkungan menampung kedatangan wisatawan dalam jumlah yang banyak dan kurang sadarnya wisatawan terhadap penting lingkungan yang lestari. Besarnya dampak positif dan negatif dari pengembangan pariwisata masal ini merupakan masalah yang sangat delimatis hingga saat ini sehingga perlu disikapi secara arif dan bijaksana.
Selain mengakibatkan munculnya pengembangan pariwisata masal, ketersediaan berbagai fasilitas pariwisata ini juga merubah pola pikir wisatawan. Kesadaran wisatawan terhadap pentingnya pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) juga turut merubah pola perjalanan wisatanya. Dulunya mereka bepergian dan berlibur secara bersama-sama dengan kerabat kerjanya atau teman-teman sekolah. Namun sekarang ini mereka lebih cendrung berlibur dalam kelompok-kelompok kecil dan bahkan perorangan (Free Independent Traveler). Model perjalanan wisata ini dilakukan oleh para wisatawan sebagi reaksi terhadap banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan sehubungan dengan pengembangan pariwisata masal. Kesadaran (awareness) wisatawan terhadap perlunya pelestarian lingkungan dan budaya-budaya masyarakat lokal di daerah tujuan wisata semakin meningkat. Perubahan prilaku wisatawan dalam menikmati atau mengkonsumsi produk-produk pariwisata baik yang tangible seperti; akomodasi, obyek wisata dan daya tarik wisata maupun yang intangible seperti; pelayanan ditanggapi dengan baik oleh para pelaku pariwisata khususnya biro perjalanan wisata dengan menyediakan dan menjual paket-paket wisata dalam skala kecil dan berbasiskan kearifan budaya-budaya lokal dan lingkungan atau alam serta berorientasi kepada permintaan dan pemberian kepuasan kepada wisatawan. Model pengembangan pariwisata ini dikenal dengan istilah pariwisata alternatif. Ini merupakan trend terbaru dalam dunia pariwisata. Menurut Sharply, perubahan penyediaan produk-produk wisata dan pola konsumsi produk-produk tersebut merupakan reaksi terhadap pariwisata konvensional yang identik dengan modernisme sehingga diharapkan menjadi post-tourism yang mampu mendatangkan post-tourist yang lebih peduli terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat lokal dan lingkungan agar menunjang perwujudan pembangunan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).
Dengan dikembangkannya pariwisata alternatif, para wisatawan dapat memilih produk-produk pariwisata dengan bebas yang sesuai dengan keinginannya. Mereka tidak lagi dibatasi dengan paket-paket wisata yang dijual oleh biro perjalanan wisata yang cendrung mengikat atau membatasi ruang gerak para wisatawan karena mereka harus mematuhi terms dan conditions yang diberikan oleh biro perjalanan wisata (travel agency). Namun mereka bisa dengan bebas menentukan pilihan atraksi wisata dan lamanya mereka tinggal (length of stay) di suatu daerah tujuan wisata. Selain menawarkan produk-produk wisata yang menarik dan bervariasi, para penyedia jasa pariwisata juga lebih meningkatan kualitas pelayanan dan menjamin kepuasan wisatawan yang membeli produk-produk wisata yang ditawarkan dengan harapan bahwa para wisatawan tersebut akan kembali lagi menggunakan jasanya ketika datang kembali ke daerah tujuan wisata sebagai repeating guests.
Pemberian jaminan kepuasan juga merupakan salah satu metode pemasaran yang ampuh. Metode pemasaran yang dimaksud adalah metode pemasaran word of mouth. Ketika seorang wisatawan memperoleh kepuasan dalam menikmati suatu produk wisata, maka wisatawan tersebut akan menceritakan pengalaman menariknya kepada keluarga, teman dekat dan teman kerjanya yang kemudian memotivasi mereka untuk membeli atau menikmati produk wisata tersebut.
Hal seperti ini dapat dilihat dengan jelas sebagaimana yang dilakukan sebuah biro perjalanan wisata bertaraf internasional “Bali.com Limited” yang berkantor pusat di Hongkong yang membuka kantor cabang di Jimbaran-Bali. Biro perjalanan wisata ini merupakan salah satu biro perjalanan wisata yang sangat berorientasi kepada permintaan dan kepuasan wisatawan. Produk wisata utama yang dijual adalah berupa jasa penginapan villa dan hotel yang exclusive. Selain itu, biro perjalanan wisata ini juga menjual paket-paket wisata seperti; kursus singkat memasak makanan Bali, honeymoon package dan beyond Bali tours. Villa-villa yang dijual adalah villa yang memiliki desain khas Bali dan unik namun memiliki fasilitas dan staf berstandar internasional, sedangkan hotel-hotel yang dijual adalah hotel-hotel berbintang (hotel berbintang tiga sampai berbintang lima) dengan harga yang jauh lebih murah dari publish rate. Potongan harga yang diberikan berkisar antara 20% hingga 70%. Selain memberikan potongan harga, biro perjalanan wisata ini juga memberikan welcoming package berupa hatten wine dan Bali Guide Book dan mobil Toyota Kijang dan sopir yang berbahasa inggris secara gratis selama tinggal di Bali kepada setiap wisatawan yang menggunakan jasanya. Dengan pelayanan ini, maka wisatawan dapat dengan bebas menentukan kegiatan wisata yang diinginkan tanpa harus dibatasi dengan waktu, tour itinerary dan paket wisata yang umumnya ditawarkan oleh biro perjalanan wisata yang lainnya.
Selain menawarkan produk-produk wisata yang berbeda, Bali.com Limited juga memberikan pelayanan pemesanan dan pembelian produk wisata dengan cara sederhana, cepat dan on line. Wisatawan yang ingin membeli produk wisata hanya mengisi reservation form yang sudah tersedia di website, kemudian dalam waktu yang singkat wisatawan tersebut akan memperoleh konfirmasi atau kepastian tentang tersedia atau tidaknya produk wisata yang diminta. Apabila produk wisata yang diminta tersedia, maka wisatawan tersebut diminta untuk mengirimkan nomor Kartu Kredit dan expire date. Semua pembayaran terhadap produk wisata yang dibeli akan langsung ditagih melalui kartu kredit yang diberikan wisatawan yang bersangkutan melalui internet banking. Setelah semua pembayaran dibayar, wisatawan tersebut akan segera mendapatkan confirmation number yang nantinya digunakan pada saat mereka datang ke Bali.
Penjualan produk-produk wisata yang berorientasi kepada permintaan dan kepuasan memang sangat menjanjikan dan sesuai dengan marketing trend pada saat ini, namun apabila tidak dimonitor dan diawasi dengan baik tidak tertutup kemungkinan akan mengakibatkan dampak-dampak negatif terhadap perkembangan pariwisata di Bali.
Untuk memberikan jaminan pelayanan yang memuasakan kepada wisatawan diperlukan penyediaan sumber daya manusia (human resource) yang berkualitas, profesional dan berstandar internasional. Tuntutan wisatawan tersebut sangatlah mutlak untuk diberikan.
Tetapi pada kenyataannya bahwa sumber daya manusia Bali khususnya orang-orang Bali belum memiliki kualifikasi yang sesuai dengan permintaan wisatawan. Ini dapat dilihat dengan jelas di kebanyakan industri pariwisata yang mana orang-orang Bali hanya menduduki posisi-posisi sebagai front liner yang memiliki pekerjaan yang cukup berat namun mendapatkan penghasilan yang jauh lebih sedikit daripada posisi-posisi di tingkat manajer (managerial position) yang umumnya dipegang oleh orang-orang dari luar Bali dan bahkan luar negeri. Ada dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya realitas ini yaitu:
Pertama, pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah pariwisata dari tingkat SMK sampai Diploma adalah pendidikan yang cendrung mendidik sumber daya manusia untuk menjadi pekerja kelas bawah seperti waiter, waitress, cook, bellboy, room attendant, mechanic, engineer, security dan lain-lain. Pendirian sekolah-sekolah seperti ini harus ditinjau kembali karena berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia dan kehidupannya di masa yang akan datang.
Faktor kedua adalah budaya. Keanekaragaman budaya yang dimiliki Bali bukan hanya sebagai peluang (opportunity) tetapi juga sebagai ancaman (threat). Kegiatan keagamaan dan adat yang merupakan bagian dari budaya Bali merupakan faktor penghambat majunya sumber daya manusia Bali di industri pariwisata. Kewajiban untuk mengikuti kegiatan keagamaan dan adat merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh setiap orang Bali karena mereka sebagai masyarakat sosial yang terikat dengan adat istiadat di desa asalnya.
Melihat kondisi ini maka sangat tidak mungkin bagi orang Bali untuk bisa bekerja secara profesional sesuai dengan tuntutan industri pariwisata. Sedangkan sumber daya manusia luar Bali yang bekerja di industri pariwisata sangat siap untuk bekerja secara profesional karena mereka tidak dituntut dan melaksanakan kewajiban sebagaimana layaknya sumber daya manusia Bali. Lalu, apakah orang-orang Bali menjadi korban budaya sehingga mereka tidak mampu berkompetisi dalam persaingan global?
Jadi, untuk menyikapi perubahan-perubahan dalam dunia pariwisata yang terjadi saat ini dan meminimalisasi dampak-dampak negatif yang ditimbulkan serta memaksimalkan pemberian dampak positif terhadap budaya lokal, alam dan masyarakat maka perlu adanya etika bisnis pariwisata terutama antara tour operators dan daerah tujuan wisata (Greason). Etika bisnis ini sangat mutlak diperlukan agar bisa tercapainya visi dan misi pembangunan pariwisata berkelanjutan yang terfokus pada pariwisata budaya (cultural tourism) di Bali.
Bali Tourism Watch: Pura Besakih sebagai Objek Wisata Budaya di Bali
Oleh I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Secara empiris adanya kecenderungan semakin menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke obyek wisata budaya Pura Besakih dan banyaknya statement para pengusaha di bidang pariwisata yang mengkritisi masalah obyek wisata budaya Pura Besakih di media masa baik media cetak maupun media elektronik sejak lima tahun terakhir. Sorotan yang paling tajam adalah mengenai masalah prilaku pemandu wisata lokal yang bertindak sewenang-wenang dalam mengantarkan tamu menuju kawasan Pura Besakih. Kesewenang-wenangan tersebut misalnya dengan cara memaksa para wisatawan agar membayar guide fee yang jumlahnya uang jasanya jauh lebih besar dari yang semestinya. Masalah lainnya adalah prilaku para pedagang tradisional yang sering melakukan perbuatan tidak terpuji yaitu menipu pada saat wisatawan berbelanja juga menjadi masalah yang cukup serius.

Di samping kedua masalah yang paling menonjol tersebut juga banyaknya kendala yang dihadapi obyek wisata budaya Pura Besakih seperti jarak tempuh yang sangat jauh dari tourist spot terutama bagi wisatawan yang tinggal di wilayah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, dan kurang efesienya syarat join and linkage (setiap suatu perjalanan bisa sekaligus melewati beberapa obyek yang berdekatan).
Munculnya masalah-masalah tersebut di atas dan konfik kepentingan di antara para pihak yang terkait disebabkan karena kurang efesienya peran masing-masing stakeholder khusunya pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan masyarakat lokal yang dipercayakan dalam mengelola obyek wisata budaya Pura Besakih tersebut.
Dengan memperhatikan apa yang telah dipaparkan di atas, maka nampaknya perlu dilakukan suatu terobosan yang jitu agar ke depan obyek wisata budaya Pura Besakih tidak akan terus ditinggal secara halus oleh pihak pengelola jasa pariwisata dan wisatawan. Beberapa pembenahan atau penataan yang mendasar seharusnya dilakukan, yaitu: (1) Pembuatan kebijakan dan penerapan peraturan yang jelas dan tegas tentang pengelolaan obyek wisata budaya Pura Besakih sebagai obyek wisata budaya oleh pemerintah, (2)
Pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengembangan obyek wisata budaya Pura Besakih dengan mensosialisasikan kebijakan dan peraturan yang telah dibuat dan hukumannya apabila terjadi pelanggaran, memberikan akses yang lebih banyak untuk terlibat dalam kegiatan pariwisata, memberikan pendidikan dan pelatihan agar sumber daya masyarakat lokal berkualitas .
Peran Pemerintah dalam Pengembangan Obyek Wisata Budaya di Pura Besakih
Pura Besakih, di samping berperan utama sebagai pusat dari tempat persembahyangan umat Hindu di Bali bahkan di Indonesia juga merupakan warisan budaya Bali yang memiliki nilai historis yang tinggi. Karena berbagai keunikan dan penuh nilai tersebut, maka keberadaan Pura Besakih harus tetap dilestarikan.
Pemerintah yang berperan sebagai pemegang kebijakan, perencana dan yang paling bertanggung jawab dalam mengembangkan obyek wisata budaya tersebut, termasuk sebagai penegak aturan-aturan yang berlaku bagi stakeholder atau komponen lainnya selain pemerintah itu sendiri. Dalam upaya menerapkan peraturan yang telah ada baik berupa Peraturan Daerah maupun keputusan atau kebijakan lain yang diambil oleh pihak yang berwenang dalam hal ini pemerintah daerah harus benar-benar diterapkan sesuai aturan. Sebagai contoh: Siapa yang sesungguhnya yang boleh berjualan di sekitar kawasan obyek wisata budaya Pura Besakih, siapa yang berwenang memandu wisata yang berkunjung ke obyek tersebut, berapakah jarak antara Pura Besakih (attraction spot) dan tempat berjualan para pedagang acung dan pedagang kaki lima boleh membuka usahanya. Jika aturan-aturan tersebut dijalankan dengan tegas, maka akan dapat menghindari gesekan sosial bahkan bisa mengangkat image positif sehingga secara bertahap kenyamanan wisatawan yang berkunjung bisa pulih dan terjaga dengan baik. Masih banyak contoh riil yang bisa diangkat dan dibenahi disini, termasuk prilaku para pedagang yang sering menipu (cheating) wisatawan ketika bertransaksi (berbelanja) buah-buahan. Dengan ditegakkannya aturan-aturan dengan tegas, maka hal-hal negatif tersebut di atas niscaya akan bisa teratasi.
Kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah tersebut di atas harus segera dibuat dan diterapkan agar masalah tersebut tidak berkepanjangan yang dapat mengakibatkan masalah yang lebih kompleks. Salah satu kebijakan yang telah dikeluarkan adalah mengenai pengaturan pramu wisata lokal. Dengan dikeluarkannya ijin bagi para guide lokal yang khusus memandu wisatawan ketika berada di kawasan obyek wisata budaya
Pura Besakih maka setidaknya memberikan manfaat yang positif bagi para masyarakat lokal yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata terutama yang berprofesi sebagi pemandu wisata lokal. Namun pengeluaran license bagi guide lokal ini memunculkan berbagai masalah baru, misalnya; pihak industri pariwisata khususnya travel agent yang telah memiliki guide yang profesional yang memiliki kompetensi dan license dari Himpunan Pramu wisata Indonesia (HPI) tidak diberikan otoritas untuk memandu wisatawannya ketika berada di obyek wisata budaya Pura Besakih. Masalah lain yang masih muncul adalah masih banyaknya wisatawan yang mengeluhkan mengenai pelayanan yang didapatkan karena lemahnya kompetensi pramu wisata lokal tersebut.
Sayangnya, peran pemerintah dalam mengakomodasi para pemandu wisata lokal tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Ternyata para pramu wisata lokal yang sudah mengantongi license tidak memiliki kompetensi (skill, knowledge dan attitude) yang memadai. Hal inilah yang mengakibatkan masih banyaknya muncul complaint dari para wisatawan. Semestinya pemerintah atau departemen yang mengeluarkan license tersebut menyeleksi masyarakat lokal yang ingin menjadi pramu wisata lokal secara ketat sebelum mengeluarkan license. Begitu juga setelah mereka dinyatakan lulus, mereka harus diwajibkan mengikuti pelatihan secara berkala untuk meningkatkan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada para wisatawan.
Pengeluaran license untuk pemandu wisata lokal ini juga mengakibatkan konflik di antara lembaga yang berwenang dalam mengeluarkan license dalam hal ini HPI dengan pemerintah daerah Karang Asem. Sehingga terjadilah tumpang tindih fungsi institusi dalam pengeluaran kebijakan tersebut.
Oleh karena itu dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan, pemerintah semestinya tidak membuatnya sendiri, tetapi harus didiskusikan bersama dengan pihak para pihak yang memiliki kepentingan seperti; biro perjalanan wisata, HPI, masyarakat lokal dan lembaga penegak hukum lainnya. Walaupun menurut teori fungsionalisme struktural bahwa pemerintah berwenang dalam pengeluaran kebijakan-kebijakan.
Peran Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Obyek Wisata Budaya di Pura Besakih
Apabila melihat kembali lagi ke belakang, melihat cikal bakal budaya dijadikan sebagai bagian dari pariwisata sebagaimana yang berlaku di Bali termasuk untuk obyek wisata budaya Pura Besakih, maka selaras dengan apa yang diamanatkan oleh UNESCO melalui Dewan Ekonomi dan Sosial dalam konfrensinya yang bertajuk The Cultural Factor in Tourism, dimana menekankan pentingnya pariwisata untuk mempromosikan perdamaian, persahabatan antar negara, melestarikan dan mempromosikan warisan budaya dalam pembangunan ekonominya. Untuk mewujudkan cita-cita mulia dari pengembangan pariwisata maka partisipasi masyarakat lokal dan pihak swasta lainnya adalah mutlak dilakukan apabila menginginkan Besakih kembali menjadi obyek yang populer di masa yang akan datang terutama sebai obyek pariwisata Budaya.
Pemberdayaan masyarakat lokal yang berada disekitar obyek wisata mutlak harus dilakukan. Hal ini sejalan dengan Pasal 8 Kepmen Parpostel No.KM 105/PW.304/MPPT-91 tentang ijin jasa pramuwisata. (Putra, 2001). Pemberdayaan ini tidak terbatas pada sumber daya manusia yang berprofesi sebagai pemandu wisata di obyek wisata tersebut, tetapi juga bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pendukung kegiatan kepariwisataan lainnya dan masyarakat yang bergerak dalam hal ritual keagamaan.
Hal ini perlu sekali, karena dengan meningkatnya kualitas sumber daya masyarakat setempat maka secara otomatis akan semakin mengerti apa sebenarnya yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata budaya Pura Besakih. Pentingnya peningkatan pendidikan bagi masyarakat yang berada pada lingkungan pariwisata budaya juga ditegaskan oleh Richard (1997) ‘education is the strongest single influence on cultural participation’. Lebih tegas lagi Richard (1997) menjelaskan pentingnya pengetahuan tentang budaya dalam pariwisata bahwa ‘people need to accommulate the knowledge about art and culture in order to be able to participate effectively. Lack of cultural capital therefore becomes a barrier to participation. Jadi betapa pentingnya pendidikan bagi masyarakat sehingga masyarakat hendaknya tahu persis tentang apa yang harus dijelaskan kepada wisatawan agar tidak terjadi kesalah mengertian atau kesalah pahaman dalam memberikan informasi kepada wisatawan.
Di samping hal tersebut di atas, perlunya peningkatan sumber daya manusia juga mengacu pada peningkatan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat di Besakih sehingga masyarakat setempat memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja sesuai dengan UU No 9 Tahun 1990 tentang peranan pariwisata dalam memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja (Putra, 2001). Sebenarnya masyarakat sangat menentukan dalam upaya pelestarian, terutama masyarakat dalam hal ini penduduk lokal (local community) yang berada langsung di obyek tersebut.
Yang terakhir adalah masalah pelestarian obyek wisata Besakih. Berbicara tentang pelestarian yang berkelanjutan dan berkesinambungan, tentu melibatkan banyak aspek di dalam implikasi riilnya. Pelestarian tidak hanya mencakup bangunan fisik dari obyek tersebut tetapi juga termasuk lingkungan yang ikut mendukung pelestarian obyek tersebut. Dalam pariwisata berkelanjutan dinyatakan Recognation of symbiotic relationship between tourism, the environment and development should stimulate conservation of tourism attraction (France, 1997). Ini berarti pentingnya semua pihak untuk berfikir jernih, positif dan holistik dalam pelestarian suatu obyek termasuk dari sisi lingkungannya.
Agar membuat obyek wisata budaya Pura Besakih ajeg sebagai obyek wisata budaya, maka perlu digali upaya untuk memberi penyadaran kepada para stakeholder baik wisatawan, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pelaku pariwisata, para umat yang berkunjung untuk bersembahyang maupun masyarakat pada umumnya. Penyadaran yang dimaksud adalah perlunya penekanan-penekanan pada betapa pentingnya obyek wisata budaya Pura Besakih tidak hanya sebatas sebagai obyek wisata, tetapi hendaknya menjadi suatu yang monumental untuk dilestarikan, dipelihara, dan dihargai keberadaannya sehingga akan tetap lestari. Hal ini sudah ditegaskan dalam Bali Sustainable Development Project sejak tahun 1991 yang sangat memberi perhatian dalam pelestarian nilai budaya Bali. Pada proyek tersebut diantaranya menegaskan “the continuity of culture and the balance within culture” (Nelson : 1992 :54).
Dalam upaya melestarikan obyek wisata Besakih secara integral dan berkelanjutan masyarakat harus terlibat secara langsung. Dengan keterlibatan masyarakat ini maka dampak yang ditimbulkan akan lebih jelas yaitu menuju pelestarian nilai budaya pada obyek tersebut. Keterlibatan masyarakat sebagaimana yang disebutkan Picard (1997) Once it had become a tourist asset, The Balinese resolve to preserve and promote their culture, while taking the advantage of its prestige abroad and its economic importance at home in order obtain full re-cognation of their ethnic identity from the state…
Dengan demikian, kemampuan masyarakat Bali dalam ikut serta melestarikan obyek wisata Besakih adalah merupakan upaya untuk mempertahankan jati diri sebagai masyarakat yang berbudaya dan memiliki religiusitas yang tinggi.
Kesadaran masyarakat secara keseluruhan termasuk wisatawan untuk ikut serta melestarikan obyek wisata budaya Pura Besakih akan merupakan kunci utama menuju keberhasilan memulihkan Pura Besakih sebagai obyek wisata budaya unggulan atau populer seperti yang terjadi pada tahun delapan puluhan. Jika ini berhasil diterapkan maka kesan Bali sebagai The Island Of Gods, The Last Paradise, dan terutama image Besakih sebagai The Mother Temple akan kembali jaya di masa yang akan datang.
Bali Tourism Watch: Mangrove Forest Ecotourism
ABSTRACT
MANGROVE FOREST ECOTOURISM IN SUSTAINABLE TOURISM DEVELOPMENT:
Case study at the Mangrove Information Center (MIC) Site,
Pemogan Village, South Denpasar District, Denpasar City
Oleh I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata
Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Conservation committed by the Mangrove Information Center (MIC) plays an important role in conserving and recovering mangrove forest ecology which is potential to be managed as a mangrove forest ecotourism object. Mangrove forest ecotourism object is located in Pemogan Village, South Denpasar District, Denpasar City. Mangrove forest ecotourism products have different interests. The mangrove ecotourism object is managed by Ecotourism Section of MIC management. Its development has resulted economic, environmental, and social-cultural impacts toward the local societies. This research is aimed at examining the ecotourism products which interested by visitors; roles of government, tourism industry and local societies; and impacts on economy, environment, and social-culture which occur in relation to the development of mangrove forest tourism object in MIC site.
This research uses two kinds of data such as primary and secondary data. The data of this research collected through observation, interview, questioner, and documentation which furthermore analyzed by using qualitative space with some interpretations through some processes such as; verification, reduction, presentation, and conclusion taking.
The result shows that the four ecotourism products offered at the mangrove ecotourism object in MIC site are interested by visitors. The four ecotourism products are; mangrove educational tour and trekking (61,7%), fishing (19,1%), mangrove tree plantation or adoption (14,9%), and bird watching (4,3). Management of mangrove ecotourism object in MIC site is autonomously managed by Ecotourism Section of MIC and has not involved other government institutions. Travel agencies play roles in promotion and providing visitors particularly foreign visitors. Local societies play role in planning and development. The development of mangrove forest ecotourism has applied the sustainable tourism development concept such as; generating economic value, conserving environment, and sustaining the social and culture.
Based on the result of this research, it is recommended to the management of mangrove forest ecotourism object in MIC site to maximize promotion and sales of the available ecotourism products; government particularly Department of Tourism to issue a policy ruling MIC site as an ecotourism object. Travel agencies to be more active in promoting the ecotourism object in order to be world-widely known; and local societies shall increase the quality of human resource in order to be able to work at mangrove forest ecotourism object in MIC site.
Keyword: mangrove forest, ecotourism, sustainable tourism d
Bali Tourism Watch: Hindu hanya Mengenal Warna, Bukan Kasta
Oleh I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata
Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Polemik tentang silsilah keturunan dan derajat telah berdampak terhadap ketidaksetaraan status sosial dalam masyarakat khususnya masyarakat Hindu di Bali. Permasalahan ini terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap ajaran-ajaran agama dan kitab suci weda yang merupakan panduan yang paling jitu untuk menjadi manusia yang beradab yaitu memiliki kemampuan bergerak (bayu), bersuara (sabda) dan berpikir (idep) dan berbudaya yaitu menghormati sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa tanpa membedakan asal usul keturunan, status sosial, dan ekonomi.
Di masyarakat Bali, telah terjadi kesalahan dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna dan kasta yang berkepanjangan. Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan pencerahan kepada umat Hindu tercinta dan dijadikan acuan serta pedoman untuk menyetarakan diri dengan semua umat manusia khususnya Hindu sehingga tidak ada lagi kesenjangan sosial yang disebabkan karena pengklasifikasian status sosial berdasarkan “kasta” yang merupakan kesalahan penapsiran terhadap “warna”.
Wiana (2000) menjelaskan perbedaan antara warna dan kasta. Warna merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan fungsi dan profesi. Dalam ajaran Agama Hindu dikenal empat warna yaitu brahmana-orang-orang yang bertugas untuk memberikan pembinaan mental dan rohani serta spiritual, ksatria-orang orang yang bertugas untuk mengatur negara dan pemerintahan serta rakyatnya, waisya-orang yang bertugas untuk mengatur perekonomian, dan sudra-orang yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjadi pelayan atau pembantu orang lain.
Warna dan gelar serta namanya sama sekali tidak diturunkan atau diwariskan ke generasi berikutnya. Warna tidak bersifat statis, tetapi dinamis. Artinya, warna bisa berubah setiap saat sesuai dengan fungsi dan profesinya, sebagai contoh; seorang yang berasal dari golongan sudra karena ketekunannya dalam belajar dan bekerja berhasil menjadi seorang polisi atau tentara maka secara otomatis golongannya meningkat menjadi seorang ksatria yang bertugas untuk membela dan mempertahankan kedaulatan negara. Bisa saja seorang brahmana yang melakukan tindak kejahatan seperti; pencurian, pemerkosaan, perjinahan dan tinakan melawan hukum lainnya turun derajatnya menjadi golongan yang lebih dan bahkan paling rendah karena perbuatannya sehingga harus menjalani hukuman penjara dan setelah selesai menjalani hukuman akan kembali bergabung dengan masyarakat dan tidak tahu lagi akan menjadi bergelut dalam bidang apa.
Hubungan di antara golongan pada warna hanya dibatasi oleh “dharma”-kewajiban yang berbeda-beda tetapi menuju satu tujuan yakni kesempurnaan hidup. Jadi, catur warna sama sekali tidak membeda-bedakan harkat dan martabat manusia dan memberikan manusia untuk mencari jalan hidup dan bekerja sesuai dengan sifat, bakat, dan pembawaannya sejak lahir hingga akhir hayatnya.
Sedangkan kasta merupakan penggolongan status sosial masyarakat dengan mengadopsi konsep catur warna (brahmana, ksatria, wesyia, dan sudra) yang gelar dan atribut namanya diturunkan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Artinya, walaupun keturunannya tidak lagi berprofesi sebagai pendeta atau pedanda tetapi masih menggunakan gelar dan nama yang dimiliki leluhurnya yang dulunya menjadi pendeta atau pedanda. Ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang belum tentu atau tidak memiliki sifat-sifat brahmana harus disebut sebagai brahmana, dan juga terjadi pada kasta yang lainnya.
Terlebih lagi nama dan gelar warisan masing-masing leluhurnya sekarang ini semakin diagung-agungkan dan digunakan untuk mempertajam kesenjangan di antara golongan kasta yang ada. Tetapi, jika nama dan gelarnya yang dipakai keturunannya hanya dijadikan sebagai tanda penghormatan kepada leluhurnya, maka tindakan ini merupakan tindakan yang sangat mulia dan terhormat.
Konsep kasta sangat bertentangan dengan konsep warna dalam ajaran agama hindu. Namun, kesalahan pemahaman tentang kasta dan warna masih saja terjadi dan terus berlangsung hingga sekarang ini. Jika terjadi kesalahpahaman yang berkelanjutan maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi konflik, perpecahan, dan kekacauan di masa yang akan datang.
Konflik antar masyarakat yang terjadi pada Bulan Maret 2007 di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung-Bali merupakan salah satu buntut dari tidak harmonisnya hubungan antara kaum brahmana dan sudra. Puluhan rumah kaum “kasta brahmana” dirusak dan dihanguskan oleh masyarakat sehingga masyarakat yang rumahnya hancur harus dievakuasi dan diamankan serta ditampung di MAPOLRES (Markas Polisi Resor) Klungkung. Perlu dipertanyakan kenapa ini terjadi? Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana benci dan marahnya masyarakat terhadap kaum brahmana sehingga tega melakukan hal-hal yang anarkis ini. Belum ada penjelasan dari aparat berwenang mengenai penyebab kejadian ini. Walaupun demikian, patut diacungi jempol para masyarakat di sana bisa berdamai dan hidup berdampiangan kembali serta membuat pernyataan damai di antara masyarakat yang berkonflik.
Kiranya penjelasan di atas sudah dapat membedakan antara pengertian warna dan kasta. Dan selanjutnya kedua istilah tersebut akan dipakai dalam tulisan ini sehingga tidak ada lagi kesalahan dalam pemahamannya.
Sekarang ini nampaknya ada usaha-usaha untuk semakin mempertajam kesenjangan umat Hindu khususnya di Bali. Sebagai contoh mengenai pembagian wewenang, hak dan kewajiban pendeta. Pedanda (pendeta yang berasal dari kalangan Kasta Brahmana) memiliki wewenang yang jauh lebih tinggi dari pada pemangku (pendeta yang berasal dari Kasta Sudra). Pendanda bisa menyelesaikan kelima upacara keagamaan yang ada dalam agama hindu di Bali yang lazim disebut sebagai Panca Yadnya yaitu:
(1) Dewa yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan kepada Tuhan dan manifestasinya seperti odalan di pura-pura baik pura sad khayangan (pura umum yang bisa dikunjungi dan disembahyangi oleh semua umat hindu tanpa membedakan asal-usul keturunan) pura dang kayangan (pura yang sempat disinggahi oleh Dang Hyang Niratha-penyebar Agama Hindu dari Jawa) maupun pura keluarga atau merajan;
(2) Rsi yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk para rsi atau upacara penyucian manusia seperti upacara dwi jadi (pengukuhan stutus dari masyarakat biasa menjadi pedanda atau pemangku);
(3) Manusia yadnya-upacara keagamaan yang ditujukan untuk manusia seperti upacara bayi tujuh bulan dalam kandungan (magedong-gedongan), upacara satu bulan tujuh hari setelah bayi lahir (tutug kambuhan), upacara tiga bulan setelah bayi lahir (nelu bulanin), enam bulan setelah lahir (otonan), upacara potong gigi, dan upacara pernikahan (mewidhi- wedhana);
(4) Pitra yadnya-upacara yang ditujukan kepada pitara atau orang yang sudah meninggal seperti upacara ngaben, ngeroras, dan nuntun;
(5) Butha yadnya-upacara yang ditujukan kepada bhuta kala yang bertujuan untuk menyeimbangkan dunia dari pengaruh positif dan negatif.
Sedangkan pendeta yang berasal dari kalangan kasta lain tidak bisa menyelesaikan kelima upacara agama tersebut di atas. Pembagian wewenang ini tanpa berlandaskan sumber yang jelas dan sering kali berasal dari justifikasi dan penapsiran orang atau kalangan tertentu saja.
Sistem pembagian tugas dan wewenang pendeta ini hanya cocok diberlakukan di Bali saja karena tidak semua umat Hindu di seluruh Indonesia maupun dunia memiliki pendeta yang berasal dari golongan kasta brahmana.
Dalam Bhagawad Gita secara jelas disebutkan bahwa dasar persembahan kepada Tuhan adalah “keiklasan” dan sama sekali tidak berdasarkan besar atau kecilnya persembahan dan siapa yang menyelesaikan upacara karena semua manusia sama di hadapan Ida Sang Hyang Wisdhi Wase. Apa yang dijelaskan di dalam ajaran suci Agama Hindu ini juga mempertegas bahwa tidak ada perbedaan di antara kita semua. Kita semua mahluk Tuhan dan tak perlu lagi ada pengkotak-kotakan yang berakibat pada perpecahan. Cintailah semua ciptaan Tuhan, semoga damai!
Referensi:
Wiana, Ketut dan Raka Santri, 2005. Kasta dalam Hindu Kesalahpahaman Berabad-abad. Denpasar. Percetakan Offset BP:
Bali Tourism Watch: Kualitas SDM Pariwisata Bali Lemah, Keterlibatannyapun Kurang
Oleh I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata
Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Pariwisata merupakan industri peradagangan jasa yang dalam kegiatannya semata-mata menjual jasa karena produknya bersifat perishable (hanya dapat dikonsumsi dan dinikmati pada saat berada di suatu tempat) dan sangat berbeda dengan produk perdagangan komesial lainnya yang barangnya bisa dibawa pulang setelah transaksi jual-beli.
Pelayanan merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam industri pariwisata dan merupakan salah satu tuntutan wisatawan pada saat melakukan kegiatan menghabiskan waktu luang untuk perjalanan wisata. Untuk memberikan jaminan pelayanan yang memuasakan kepada wisatawan diperlukan penyediaan sumber daya manusia (human resource) yang berkompetensi, berkualitas, professional, dan berstandar internasional.
Pada kenyataannya sumber daya manusia pariwisata Bali khususnya orang-orang Bali belum memiliki kualifikasi yang sesuai dengan permintaan wisatawan. Ini dapat dilihat dengan jelas di kebanyakan industri pariwisata yang mana orang-orang Bali hanya menduduki posisi-posisi sebagai front liner yang memiliki pekerjaan yang cukup berat namun mendapatkan penghasilan yang jauh lebih sedikit daripada posisi-posisi di tingkat manajer (managerial position) yang umumnya dipegang oleh orang-orang dari luar Bali dan bahkan luar negeri.
Ada dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya realitas ini yaitu: pertama, pendidikan yang diberikan di sekolah-sekolah pariwisata dari tingkat SMK sampai Diploma atau Program Setara Diploma adalah lembaga pendidikan yang mendidik sumber daya manusia untuk menjadi pekerja pariwisata yang berkompetensi (memiliki pengetahuan, keahlian, dan prilaku), namun sayangnya pendidikan dan pelatihan yang diberikan ditujukan untuk posisi-posisi kelas bawah seperti; waiter, waitress, cook, bellboy, room attendant, engineer, dan lain-lain.
Marak dan menjamurnya sekolah-sekolah menengah kejuruan pariwisata dan lembaga pendidikan yang memberikan pelatihan setingkat Diploma I memang dapat membantu mengurangi jumlah pengangguran karena setelah tamat mereka mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan sejumlah uang. Tetapi jika dilihat dari posisi yang didapat di tempatnya bekerja dan ditelusuri lebih jauh, maka secara tidak langsung telah turut serta berkontribusi terhadap penciptaan kemiskinan yang terstruktur (structural poverty) karena penghasilan yang diperoleh biasanya hanya cukup untuk makan, transportasi, dan menyewa rumah atau kamar. Sehingga uang yang diperoleh tidak bisa lagi dialokasikan untuk meningkatkan kesejastraannya dan menjamin kehidupannya kelak.
Faktor kedua adalah adat dan budaya. Keanekaragaman adat dan budaya yang dimiliki Bali bukan hanya sebagai peluang (opportunity) tetapi juga sebagai ancaman (threat). Kegiatan keagamaan dan adat istiadat yang merupakan bagian dari budaya Bali merupakan faktor penghambat majunya sumber daya manusia Bali di industri pariwisata jika tidak disikapi dengan baik dan diadakan penyesuaian terhadap awig-awig (kesepakatan yang dijadikan oleh anggota desa adat). Kewajiban untuk mengikuti kegiatan keagamaan dan adat merupakan hal yang mutlak dilakukan oleh setiap orang Bali karena mereka sebagai masyarakat sosial yang terikat dengan adat istiadat di desa asalnya. Melihat kondisi ini maka sangat tidak mungkin bagi orang Bali untuk bisa bekerja secara profesional sesuai dengan tuntutan industri pariwisata. Sedangkan sumber daya manusia luar Bali yang bekerja di industri pariwisata sangat siap untuk bekerja secara profesional karena mereka tidak dituntut dan melaksanakan kewajiban sebagaimana layaknya sumber daya manusia Bali.
Banyak peran yang bisa dimainkan masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Masyarakat lokal semestinya dilibatkan dalam proses perencanaan, pembangunan, pengawasan, dan pengevaluasian pariwisata. Namun usaha pelibatan masyarakat dalam pengembangan pariwisata mengalami kendala-kendala dalam penerapannya, karena: (1) sumber daya masyarakat lokal kurang dan bahkan tidak mengetahui visi pembangunan pariwisata secara jelas; (2) rendahnya minat dan kesadaran (awareness) sumber daya masyarakat lokal terhadap pentingnya pariwisata; (3) rendahnya kemampuan sumber daya masyarakat lokal dalam bidang kepariwisataan; (4) kesenjangan budaya (cultural barrier) antara sumber daya masyarakat lokal dan wisatawan; (5) sumber daya masyarakat lokal tidak memiliki kemampuan ekonomi dan investasi. Faktor-faktor inilah yang menjadikan masyarakat lokal hanya menjadi obyek dan penonton saja dan bukan sebagai subyek atau pelaku pariwisata.
Masalah-masalah tersebut hanya dapat diatasi dengan pemberian pendidikan dan pelatihan yang cukup atau memadai kepada masyarakat lokal agar memiliki pengetahuan yang lebih luas dan mengglobal. Ini merupakan “PR” dan tantangan yang sangat berat bagi pemerintah dan para pendidik baik itu pendidik di pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi agar mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkompetensi internasional.
Penulis, dosen di AKPAR Triatma Jaya, Dalung-Bali
Diterbitkan di Bali Post 2 April 2007
Bali Tourism Watch: Factors Affect Tourist’s Satisfaction
By: Made Sudiarta
Lecturer of Bali State Polytechnic
Abstract
Bali tourism development can not be out of travel agency’s rule. Travel agency is one of media that connects tourists to tourism destination. Besides that, travel agencies play as facilitator for tourists in making tour plan, tour conduct, and as media of promotion for a tourism destination.
This research is focused on the factors which influence the tourists’ satisfaction concerning of the service provided by travel agencies in Bali. The researched factors are those which closely related to services, in particular to tourism service. It is especially for tourism service that was developed by Parasuraman such as tangible observed by 11 variables , reliability observed by 3 variables, responsiveness observed by 9 variables, assurance observed by 6 variables, and empathy observed by 5 variables.
The analysis used in this research is confirmatory factor analysis. In confirmatory factor analysis process, it is conducted validity and reliability test, Keiser Meyer Olkin (KMO) and Bartlett’s Test. The result of research indicates that all variables in this research have significant validity and reliability level by alpha cronbach value of more than 0.600. Keiser Meyer Olkin and Barltlett’s Test indicate that all variables used in this research is appropriate to the model by the value of more than 0,05.
All factors confirmed in this research give strong influence to the service provided by travel agency in Bali. The factor that gives strongest influence to service provided by travel agency is responsiveness. Whereas the variables of those five factors which give strongest influence to service provided by travel agency are itinerary, tour conduct, fast service, friendly service and give an un-divided attention in providing services.
From overall satisfaction point of view, it is obtained that the service provided by travel agency in Bali is factually satisfy the tourists who use services of travel agency during their trip in Bali. As the indicators observed on this research view that travel agencies in Bali are able to conduct good service to tourists. The influence of good service provided by travel agencies are factually able to provide satisfaction for most tourists who travel to Bali.
Key words: service, tourist’ satisfaction, tourist travel agency.
Please email to insubadra@yahoo.com to have the complete thesis.
Bali Tourism Watch: Co-modification of Wooden Statue Craft in Tourism Context
By: Ni Putu Rahayu
ABSTRACT
Tourism plays a significant role for societies’ economic growth. One of the cultural components becoming a tourist attraction is the local craft. Tourists often complain whereas the local arts presented and offered are monotonous or no changes. This case then rises co-modification in all aspects of life including in tourism for the purpose of maximum profit. Co-modification occurs in all aspects of life, one of them is in wooden statue craft industry.
Therefore, the main problems discussed are: how does the process of co-modification of wooden statue craft at Singakerta Village, Ubud District, Gianyar Regency?; what are the factors which affect the co-modification of wooden statue craft at Singakerta Village, Ubud District, Gianyar Regency?; what are the impacts of co-modification of wooden statue craft toward social-economy and social culture at Singakerta Village, Ubud District, Gianyar Regency?. The theories used to analyze the problems are co-modification and postmodern theories. The method of determining the informants uses purposive sampling. Informants are traced by snowball method. The analysis technique used in this research is qualitative descriptive analysis.
Some types of statues which have been co-modified at Singakerta Village are rama shinta statue, ganesha statue, oleg statue, janger statue, garuda statue, lion statue, dolphin statue, and dragon statue. Co-modification of wooden statue craft production occurred at Singakerta Village consists of form, color and material changes. Nowadays, the distribution channel of the wooden statue craft is dominated by indirect distribution channel which aimed for domestic and foreign entrepreneurs. Most of the consumption patterns of the wooden statue craft are massive consumptions. Factors which cause co-modification of wooden statue craft are internal and external factors. Co-modification of wooden statue craft causes impacts on social economy and social culture of the societies.
Keyword: co-modification, wooden statue craft, tourism.
Bali Tourism Watch: Menggapai Bahagia Secara Murah
Disarikan dari pemikiran Gede Prama oleh I Nengah Subadra, S.S., M.Par.
_______________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata
Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Persoalan penghasilan yang tidak mencukupi keperluan sehari-hari atau standar hidup sangat jauh dibawah orang sekeliling. Mengapa kerabat itu memiliki mobil atau rumah yang bagus sedangkan anda untuk makanpun sangat sulit.
Sebagai akibatnya anda menganggap betapa tidak beruntungnya hidup dan betapa sulitnya mencapai kebahagiaan itu. Dan Anda menganggap untuk berbahagia sejumlah kesempurnaan dan berbagai materi harus dimiliki. Padahal, untuk berbahagia itu tidaklah memerlukan hal yang mahal dan dapat diraih dengan cara mudah, sederhana dan murah. Berikut sejumlah tips dari Gde Prama.
1.Kebahagiaan sejati bukan berasal dari luar, melainkan ada didalam diri sendiri. Karena itu belajarlah menerima diri Anda apa adanya, sehingga Anda bisa merasakan kebagiaan yang sesungguhnya.
2.Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain. Setiap manusia dilahirkan dengan keunikan dan kelebihan sendiri, camkan bahwa tidak ada kehidupan yang lebih baik selain bisa menjadi diri sendiri.
3.Belajarlah memberi dengan rasa ikhlas. Jangan bebani hidup dengan imbalan, karena hanya akan menimbulkan kekecewaan sekiranya Anda tak mendapatkannya. Anda bisa memulainya dengan hal yang paling sederhana seperti memberi senyuman atau memperhatikan orang di sekeliling, sehingga orang akan merasa nyaman berada didekat Anda.
4.Pandanglah setiap kesulitan dengan cara yang positif. Hal ini akan mendatangkan keindahan dan kebahagiaan. Semakin kita Anda mampu menanggulangi kesulitan, maka Anda akan tampak tampil semakin “bercahaya” dengan kekuatan yang dimiliki.
5.Jangan mematok hidup terlalu tinggi. Ketahuilah batasan kemampuan sehingga Anda merasa menjadi manusia yang lebih sempurna dan berarti.
6.Nikmati dan cintailah hal-hal kecil disekeliling Anda yang dapat mendatangkan kebahagiaan. Seperti mendengarkan suara burung dipagi hari, menikmati segarnya aroma bunga dan segarnya udara di pagi hari, menyentuh dan merasakan tetesan embun di rerumputan atau bersenandung.
7.Terpenting senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan dan jauhkan diri dari berbagai rasa ketakutan. Sadari semua keberhasilan juga kegagalan yang didapat merupakan hasil usaha dan kerja keras, tanpa meyakini semuanya kekuasaan Tuhan yang sudah diatur oleh-Nya. Dengan tips sederhana ini semoga kebahagiaan senantiasa menghampiri Anda.
Bali Tourism Watch: Prinsip-Prinsip Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan
Oleh I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
“Pembangunan pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat”
(Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1995)
“Pembangunan pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat”
(Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1995)
Pembangunan pariwisata berkelanjutan, seperti disebutkan dalam Piagam Pariwisata Berkelanjutan (1995) adalah pembangunan yang dapat didukung secara ekologis sekaligus layak secara ekonomi, juga adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat. Artinya, pembangunan berkelanjutan adalah upaya terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya secara berkelanjutan.
Hal tersebut hanya dapat terlaksana dengan sistem penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (good governance) yang melibatkan partisipasi aktif dan seimbang antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dengan demikian, pembangunan berkelanjutan tidak saja terkait dengan isu-isu lingkungan, tetapi juga isu demokrasi, hak asasi manusia dan isu lain yang lebih luas. Tak dapat dipungkiri, hingga saat ini konsep pembangunan berkelanjutan tersebut dianggap sebagai ‘resep’ pembangunan terbaik, termasuk pembangunan pariwisata.
Pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikenali melalui prinsip-prinsipnya yang dielaborasi berikut ini. Prinsip-prinsip tersebut antara lain partisipasi, keikutsertaan para pelaku (stakeholder), kepemilikan lokal, penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, mewadahi tujuan-tujuan masyarakat, perhatian terhadap daya dukung, monitor dan evaluasi, akuntabilitas, pelatihan serta promosi.
1. Partisipasi
Masyarakat setempat harus mengawasi atau mengontrol pembangunan pariwisata dengan ikut terlibat dalam menentukan visi pariwisata, mengidentifikasi sumber-sumber daya yang akan dipelihara dan ditingkatkan, serta mengembangkan tujuan-tujuan dan strategi-strategi untuk pengembangan dan pengelolaan daya tarik wisata. Masyarakat juga harus berpartisipasi dalam mengimplementasikan strategi-strategi yang telah disusun sebelumnya.
2. Keikutsertaan Para Pelaku/Stakeholder Involvement
Para pelaku yang ikut serta dalam pembangunan pariwisata meliputi kelompok dan institusi LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), kelompok sukarelawan, pemerintah daerah, asosiasi wisata, asosiasi bisnis dan pihak-pihak lain yang berpengaruh dan berkepentingan serta yang akan menerima dampak dari kegiatan pariwisata.
3. Kepemilikan Lokal
Pembangunan pariwisata harus menawarkan lapangan pekerjaan yang berkualitas untuk masyarakat setempat. Fasilitas penunjang kepariwisataan seperti hotel, restoran, dsb. seharusnya dapat dikembangkan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa pendidikan dan pelatihan bagi penduduk setempat serta kemudahan akses untuk para pelaku bisnis/wirausahawan setempat benar-benar dibutuhkan dalam mewujudkan kepemilikan lokal. Lebih lanjut, keterkaitan (linkages) antara pelaku-pelaku bisnis dengan masyarakat lokal harus diupayakan dalam menunjang kepemilikan lokal tersebut.
4. Penggunaan Sumber daya yang berkelanjutan
Pembangunan pariwisata harus dapat menggunakan sumber daya dengan berkelanjutan yang artinya kegiatan-kegiatannya harus menghindari penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (irreversible) secara berlebihan. Hal ini juga didukung dengan keterkaitan lokal dalam tahap perencanaan, pembangunan dan pelaksanaan sehingga pembagian keuntungan yang adil dapat diwujudkan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pariwisata harus menjamin bahwa sumber daya alam dan buatan dapat dipelihara dan diperbaiki dengan menggunakan kriteria-kriteria dan standar-standar internasional.
5. Mewadahi Tujuan-Tujuan Masyarakat
Tujuan-tujuan masyarakat hendaknya dapat diwadahi dalam kegiatan pariwisata agar kondisi yang harmonis antara pengunjung/wisatawan, tempat dan masyarakat setempat dapat terwujud. Misalnya, kerja sama dalam wisata budaya atau cultural tourism partnership dapat dilakukan mulai dari tahap perencanaan, manajemen, sampai pada pemasaran.
6. Daya Dukung
Daya dukung atau kapasitas lahan yang harus dipertimbangkan meliputi daya dukung fisik, alami, sosial dan budaya. Pembangunan dan pengembangan harus sesuai dan serasi dengan batas-batas lokal dan lingkungan. Rencana dan pengoperasiannya seharusnya dievaluasi secara reguler sehingga dapat ditentukan penyesuaian/perbaikan yang dibutuhkan. Skala dan tipe fasilitas wisata harus mencerminkan batas penggunaan yang dapat ditoleransi (limits of acceptable use).
7. Monitor dan Evaluasi
Kegiatan monitor dan evaluasi pembangunan pariwisata berkelanjutan mencakup penyusunan pedoman, evaluasi dampak kegiatan wisata serta pengembangan indikator-indikator dan batasan-batasan untuk mengukur dampak pariwisata. Pedoman atau alat-alat bantu yang dikembangkan tersebut harus meliputi skala nasional, regional dan lokal.
8. Akuntabilitas
Perencanaan pariwisata harus memberi perhatian yang besar pada kesempatan mendapatkan pekerjaan, pendapatan dan perbaikan kesehatan masyarakat lokal yang tercermin dalam kebijakan-kebijakan pembangunan. Pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam seperti tanah, air, dan udara harus menjamin akuntabilitas serta memastikan bahwa sumber-sumber yang ada tidak dieksploitasi secara berlebihan.
9. Pelatihan
Pembangunan pariwisata berkelanjutan membutuhkan pelaksanaan program-program pendidikan dan pelatihan untuk membekali pengetahuan masyarakat dan meningkatkan keterampilan bisnis, vocational dan profesional. Pelatihan sebaiknya meliputi topik tentang pariwisata berkelanjutan, manajemen perhotelan, serta topik-topik lain yang relevan.
10. Promosi
Pembangunan pariwisata berkelanjutan juga meliputi promosi penggunaan lahan dan kegiatan yang memperkuat karakter lansekap, sense of place, dan identitas masyarakat setempat. Kegiatan-kegiatan dan penggunaan lahan tersebut seharusnya bertujuan untuk mewujudkan pengalaman wisata yang berkualitas yang memberikan kepuasan bagi pengunjung.
Sumber:
Bater, J. et al. (2001) Planning for Local Level: Sustainable Tourism Development, Canadian Universities Consortium: Urban Environmental Management Project Training & Technology Transfer Program, Canadian International Development Agency (CIDA).
Bali Tourism Watch: Definisi Pariwisata
Disarikan dari beberapa sumber oleh I Nengah Subadra, S.S., M.Par.
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
1.Tourism is the business of providing things for people to do, places for them to stay etc while they are on holiday. Oxford English Dictionary. Pearson Education Limited 2000.
2.Tourism is a composite of activities, services, and industries that deliver a travel experience. ( McIntosh Robert W. 1984. Tourism: Principles, Practices, Philosophies. Grid Publishing, Inc., Columbus, Ohio ).
3.Tourism is the sum of phenomena and relationships arising from the interaction of tourists, business, host governments, and host communities in the process of attracting and hosting these tourists and other visitors. ( McIntosh Robert W. 1984. Tourism: Principles, Practices, Philosophies. Grid Publishing, Inc., Columbus, Ohio ).
4.Pariwisata dalam artian modern adalah merupakan fenomena dari jaman sekarang yang didasarkan atas kebutuhan akan kesehatan dan pergantian hawa, penilaan yang sadar dan menumbuhkan (cinta) terhadap keindahan alam dan khususnya disebabkan oleh bertambahnya pergaulan berbagai bangsa dan kelas masyraakat manusia sebagai hasil daripada perkembangan perniagaan, industri, perdagangan serta penyempurnaan daripada alat-alat pengangkutan (E. Guyer Freuler)
5.Pariwisata adalah sejumlah kegiatan terutama yang ada kaitannya dengan kegiatan perekonomian yang secara langsung berhubungan dengan masuknya,adanya pendiaman dan bergeraknya orang-orang keluar masuk suatu kota atau daerah dan negara. (Herman V.Schularad)
6.Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari satu tempat ketempat lain , dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah ditempat yang dikunjungi tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan hidup guna bertamasya dan rekreasi atau memenuhi keinginan yang beraneka ragam. (Oka Yoeti)
7.Pariwisata adalah Perjalanan yang yang dilakukan secara berkali-kali atau berkeliling. (Drs. E.A.Chalik.H)
8.Tourism is the sum total of operations, mainly of an economic nature, which directly relate to the entry, stay and movement of foreigners inside and outside a certain country, city of religion. (Norval)
9.Tourism is totality of relationships and phenomena arising from the travel and stay of strangers, provided the stay does not imply the establishment of permanent residence and is not connected with remunerated activity. (Prof Hunziker dan Kraft)
10.Tourism is totally of relationship and phenomena arising from the travel and stay of strangers, provided the stay does not imply the establishment of permanent residence and is not connected with a remunerated activity. (Schmoll, G.A. 1997.”Tourism Promotion”, London, Tourism Press. )
Terjemahan:
Pariwisata adalah hubungan dan gejala yang menyeluruh yang muncul dari adanya perjalanan dan tinggal sementara dari orang-orang asing, dengan syarat tidak tinggal permanen dan tidak melakukan kegiatan yang menghasilkan uang.
11.Tourism is the sum of the phenomena and relationships arising from the travel and stay of non residents, in so far as they do not lead to permanent residence and are not connected with any earning activity (Association International Experts Scientific Du Tourisme)
Terjemahan:
Pariwisata adalah gabungan dari gejala dan hubungan-hubungan yang muncul dari adanya perjalanan dan tinggal sementara dari orang-orang yang bukan penduduk setempat, sejauh mereka tidak menunjukkan keinginan untuk menetap dan sejauh mereka tidak berhubungan dengan kegiatan yang menghasilkan uang.
12.Tourism denotes the temporary short-term movement of people to destinations outside the place where they normally live and work and their activities during the stay at these destinations (The Tourism Society Unites Kingdom)
Terjemahan:
Pariwisata ditunjukkan dengan adanya perjalanan yang singkat dan sementara dari orang-orang menuju daerah tujuan wisata di luar tempat kebiasaan mereka hidup dan bekerja dan diluar kegiatan mereka selama tinggal sementara di daerah tujuan wisata.











