Bali Tourism Watch: Keberadaban dan Kebiadaban Manusia

Keberadaban dan Kebiadaban Manusia:
Tinjauan dari Perspektif Budaya dan Agama Hindu

Oleh : I Nengah Subadra

Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan tuhan tertinggi yang memiliki kesempurnaan berupa tenaga (bayu), suara (sabda), dan pikiran (idep) dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya seperti; tumbuh-tumbuhan yang hanya memiliki tenaga, dan binatang yang hanya memiliki tenaga dan suara. Kemampuan manusia untuk berpikir mencirikan manusia makhluk yang beradab, menghomati sesama manusia dan makhluk ciptaan tuhan lainya seperti tumbuhan dan hewan.

Keberadaban manusia dapat dilihat dari budaya manusia itu sendiri secara individu. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang memiliki cinta dan kasih terhadap semua ciptaan tuhan dengan tanpa perkecualian dan mampu menempatkan dirinya sebagai mahkluk tertinggi dan menggunakan kesempurnaannya berupa tenaga, suara, dan pikiran dengan baik. Pada saat manusia tidak lagi bisa menempatkan dirinya sebagai mahluk ciptaan tuhan tertinggi dan tidak bisa lagi menggunakan kesempurnaan tersebut, maka pada saat itulah keberadaban manusia berubah menjadi kebiadaban.

Secara prinsip, kemampuan dalam berpikirlah yang membedakan manusia dengan binatang dan tumbuhan. Manusia akan masih disebut sebagai manusia apabila manusia tersebut masih memiliki pikiran yang seharusnya dipikirkan oleh manusia. Pikiran-pikiran manusia di luar dari pikiran yang semestinya dipikirkan oleh manusia merupakan tanda dari ingkarnya manusia sebagai manusia dan penurunan derajat dan keberadaban manusia. Penurunan derajat tersebut sangat tergantung dari perubahannya. Apabila manusia tidak mampu lagi berpikir, maka secara otomatis manusia hanya bisa bersuara dan bergerak. Pada posisi atau keadaan seperti ini, dapat dikatakan bahwa manusia sama saja dengan binatang yang hanya bisa bergerak ke sana-ke mari dan meraung-raung tidak berarti. Apabila dicermati lebih jauh, manusia-manusia seperti ini hanya memiliki perwujudan manusia (raga) saja dan tidak memiliki sifat-sifat kemanusiaan (jiwa) lagi.

Tidak terbatasnya pikiran manusia sering kali menjadi penghalang manusia untuk mencapai keberadaban manusia yang sejati. Setidaknya harus diikuti dengan keseimbangan dalam perkataan dan perbuatan. Dalam konsep Tri Kaya Parisudha dijabarkan secara jelas bahwa keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan mutlak diperlukan manusia dalam hidupnya. Penilaian manusia terhadap manusia umumnya dilihat dari pola berpikir, kesantuanan dalam perkataan, dan kesopanan dalam berprilaku. Adanya ketidakseimbangan di antara ketiga unsur tersebut sering kali digunakan untuk menjastifikasi beradab atau tidaknya manusia dalam hidupnya.

Dalam faslafah agama hindu yang lazim dikenal sebagai Tri Hita Karana disebutkan secara jelas bahwa sebagai manusia hendaknya menghormati dan selalu menjaga hubungan baik antara manusia dengan tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. Terciptanya keseimbangan atau keharmonisan hubungan-hubungan tersebut dalam kehidupan manusia akan semakin mengindikasikan bahwa manusia beradab.
Gambaran beberapa fenomena yang sangat mencolok yang terjadi dalam kehidupan manusia dewasa ini yang mengilustrasikan kebiadaban manusia antara lain:

(1) Hubungan majikan dengan pembantu rumah tangga, dimana pembantu dipekerjakan sedemikian rupa dan bahkan sering kali diperbudak karena harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan bayaran yang sangat kecil. Pembantu seharusnya hanya membantu majikannya dalam mengerjakan suatu pekerjaan rumah tangga, bukan mengerjakan seluruhnya. Jika harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, semestinya nama profesi tersebut dirubah menjadi Pekerja Rumah Tangga;

(2) Hubungan pengusaha dengan karyawan, sering kali para pengusaha tidak begitu peduli terhadap karyawannya terutama mengenai kesejastraannya tetapi mereka harus bekerja dengan keras dan berdedikasi tinggi kepada perusahaan dimana mereka bekerja. Ini dapat dilihat dengan mudah di kehidupan masyarakat terutama dalam dunia bisnis. Kesenjangan sosial dan ekonomi antara pengusaha dengan karyawan sangat mencolok. Pengusaha yang telah memiliki modal usaha yang besar terus dan terus mengeruk keuntungan dari usahanya sedangkan karyawannya terus dan terus memeras keringatnya dan membanting tulang hanya atau demi sesuap nasi untuk diri dan keluarganya;

(3)Perselingkuhan, kasus perselingkuhan sangat marak terjadi di perkotaan dewasa ini baik pasangan suami-istri maupun yang masih dalam proses pacaran. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan adalah kerakusan dan ketidakpuasan manusia dalam seks. Prilaku bejat ini selalu ditutupi dengan berbagai alasan seperti broken home, ingin mencari teman bicara, latar belakang ekonomi dan lain-lain yang itu semua sebenarnya hanya semata-mata untuk memuaskan napsu birahi manusia yang sudah hampir seperti prilaku binatang yang sama sekali tidak peduli lagi dengan sesama manusia. Parahnya lagi, hubungan perselingkuhan juga terjadi di dalam keluarga dekatnya dan teman sekantor.

(4) Korupsi, gencarnya pemerintah memerangi korupsi ternyata tidak membuat jera para koruptor untuk terus menguras uang rakyat sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa pejabat negara yang dibuktikan dengan adanya beberapa pejabat pemerintah sudah dipenjarakan dan masih dalam proses persidangan. Korupsi yang dilakukan sama sekali tidak mempedulikan rakyat yang masih dalam kemiskinan dan kelaparan. Terlalu kejam dan biadab mereka yang melakukan, mereka lupa dengan sesamanya yang terus merintih kelaparan, menggelandang di ruas-ruas jalan demi sesuap nasi untuk menghentikan jeritan cacing-cacing dalam perutnya.

Contoh-contoh di atas semestinya dapat dijadikan sebagai cermin seberapa biadab manusia-manusia sekarang ini. oleh karena itu, sebagai manusia yang beragama dan berbudaya kita harus mulai menunjukan sifat-sifat manusia yang beradab dan berbudaya sehingga bisa menghargai sesama. Jika tidak, kita tinggal menunggu untuk disebut manusia beradab atau biadab?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s