Catatan Kecil Tentang Lokasabha di Lampung

Oleh:I Wayan Wisanta

Sesuai AD/ART Parisada, lokasabha diselenggarakan setiap 5 tahun sekali, dan tidak terasa sudah perjalanan Parisada Lampung hasil Lokasabha V tahun 2003 dimana saya ada didalamnya berakhir pada tanggal 10 Maret 2007, tentu banyak kenangan dan pengalaman yang didapatkan selama dalam perjalanan, namun apapun yang kami perbuat hanya itulah yang dapat kami persembahkan kepada umat hindu Lampung, penilaian kami serahkan sepenuhnya kepada umat, walaupun kami sadar bahwa apa yang telah kami perbuat sangat jauh dari harapan kita semua meskipun dalam laporan pertanggung jawaban diterima hampir tanpa catatan oleh seluruh Parisada Kabupaten/Kota.

Lokasabha VI dibuka oleh asisten Gubernur Lampung bertempat di balai kratun komplek kantor gubernur pada tanggal 09 Maret 2007 jam 14:00 wib serentak dengan pembukaan lokasabha Pradah dan IWHDI.

Pada kesempatan itu Gubernur Lampung disamping memberikan bantuan dana untuk lokasabha juga menyerahkan bantuan kepada Parisada berupa 2 (dua) unit Tractor tangan merk: Kubota.

Pada malam harinya langsung dimulai dengan siding-sidang untuk membahas tata tertib (tatib) bertempat di balai Diklat Pertanian Prop.Lampung di Rajabasa namun saya tidak bisa mengikutinya.

Tanggal 10 Maret 2007 ditempat yang sama dilakukan sidang-sidang antara lain mendengarkan laporan pertanggung jawaban ketua Parisada hasil lokasabha V yang disampampaikan oleh Bp. Nengah Pageh Arsana, dilanjutkan dengan tanggapan/pemandang an umum dari masing-masing ketua Parisada Kabupaten/Kota.

Saya merasa bahagia karena dalam persidangan suasana tenang, kondusip tidak seperti lokasabha-lokasabha di daerah lain.

Saya duduk mendampingi utusan dari Parisada Pusat Bp. Agus Mantik, sambil mendengarkan laporan pertanggung jawaban, saya menulis point-point yang akan saya usulkan menjadi ketetapan hasil Lokasabha VI khususnya dalam bidang tata keagamaan antara lain:

1. Aktifitas mengulang-ulang suci nama Tuhan dalam setiap kegiatan Yadnya (Panca Yadnya) agar mulai dimasukkan dan diterapkan.

2. Berikan perhatian yang lebih besar lagi dari yang selama ini dilakukan umat dalam menghadapi hari-hari suci keagamaan seperti Maha Shiva Ratri dan Saraswati.

3. Khusus untuk Maha Shiva Ratri agar dilaksanakan tahapan-tahapan seperti yang kita lakukan dalam menyambut hari suci Nyepi, dan untuk Maha Shivaratri saya mengusulkan seperti yang pernah saya tulis dalam renungan saya al: pada hari H-1 lakukan aktifitas social dan dana punia baik kepada orang-orang yang kurang mampu tanpa membedakan suku, agama, golongan dll, juga dana punia kepada para suci (pinandita, pandita, para guru) dll, kegiatannya bisa donor darah, sumbangan berupa dana, sembako dll. Pada hari H lakukan aktifitas upawasa penuh, shiva namasmaranam, meditasi, perenungan2, dharma tula , dharma wacana dll. Pada hari H+1 lakukan sembahyang bersama bertepatan dengan persembahyangan tilem.

4. Dalam melakukan pembinaan kepada umat secara berkesinambungan hendaknya Parisada menyertakan tim pembina yang terdiri dari praktisi-pratisi veda seperti: ahli meditasi, ahli membaca kitab, ahli kirtanam/japa dll, ahli dalam upakara/bebanten termasuk ahli dalam menjelaskan makna philosofis dari banten itu. Usulan itu lalu saya sodorkan kepada Bp. Ketut Pasek untuk menanggapinya dan beliau menambahkan satu point lagi yaitu setiap upacara/upakara hendaknya mengacu ke veda agar tidak lagi memberatkan umat.

Point-point diatas lalu saya sodorkan kepada Bp. Agus Mantik untuk dikoreksi, ternyata beliau menanyakan ke saya apa you seorang penganut sampradaya?, saya tahu beliau adalah seorang pengikut salah satu sampradaya, lalu saya jawab ya saya walau secara implisit saya tidak pernah mengatakan seorang penganut sampradaya kesadaran Khrisna tetapi saya seorang bhakta Khrisna dan Bhagavad Gita sebagai tuntunan hidup saya, beliau mengatakan tidak lama lagi saya selesai menerjemahkan kitab Bhagavad Gita lalu saya bilang bagus nanti saya pesan, saya juga bilang bahwa saya sering diminta untuk bergabung dalam kelompok bhakta Sai bahkan rutin setiap senin malam dalam kegiatan bhajan diskusi dll, dan saya juga seorang sampradaya Mpu Kuturan, setelah panjang lebar kami diskusi lalu dia mengoreksi usulan saya, saya sangat setuju dengan usulan ini katanya tetapi khusus untuk point 4, beliau mengatakan kita belum punya SDM untuk itu katanya, lalu saya sanggah bukankah kita sudah banyak punya sekolah tinggi agama? ada STAH lampung, jakarta, jawa, kalimanta, lombok, bali dll dan beliau mengatakan itu tidak bisa masih jauh dari harapan kita lihat dosen-dosen STAH itu siapa katanya, dalam hati saya pikir wah pupus deh harapan saya.

Nah begitu masing-masing komisi mulai bersidang usulan saya itu lalu saya berikan kepada rekan saya Nengah Aryata yang duduk di komisi yang membahas tata agama untuk dimasukkan dan saya bilang untuk point 4 jangan dulu dimasukan karena sdm kita belum siap, lalu Nengah bilang ini kan untuk jangka panjang biarlah dimasukan saja, ok terserah saya bilang kepada rekan saya.

Saya tidak mengikuti sidang komisi karena mengikuti lobi-lobi dengan beberapa teman al: Bp. Ketut Pasek , Bp. Nengah Pageh, Bp. Nengah Maharta, Bp. Ketut Seregig dll karena menurut data yang sudah masuk bahwa dukungan calon ketua umum lebih besar kepada Bp. Nengah Maharta, namun teman kita Pak Made Swetja juga berminat kuat untuk menjadi ketua umum, untunglah Bp. Ketut Pasek bisa memainkan perannya, kita lakukan lobi-lobi yang akhirnya pak Nengah Maharta dengan jiwa besarnya bersedia mundur tetapi beliau tetap bersedia bergabung dalam kepengurusan Parisada kedepan, akhirnya legalah semua.

Saya juga dicalonkan teman-teman dari Lampung Timur untuk memegang jabatan sekretaris namun saya buru-buru tulis surat pengunduran diri demi lancarnya persidangan karena sejak lama saya memang tidak ingin lagi duduk dalam kepengurusan.

Maka terpilihlah kepengurusan Parisada Prop. Lampung hasil lokasabha VI dengan

Ketua : Ir. I Made Swetja

Sekretaris : I Ketut Seregig, SH

Dan pengurus lainya, saya sendiri dimasukan kedalam anggota sabha walaka, saya pikir tidak apa-apa toh tidak sibuk.

Demikian catatan kecil saya dari lokasabha VI Parisada Hindu Dharma Indonesia Porp. Lampung tanggal 10 Maret 2007 sebagai informasi saja.

Terima kasih……. …….i wayan wisanta

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s