Bali Tourism Watch: Agro Wisata di Bagus Agro Pelaga
Oleh: I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, STP Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Pengembangan Bagus Agro Pelaga sebagai obyek wisata agro menggunakan konsep agrowisata dengan memanfaatkan seoptimal mungkin potensi-potensi yang ada di daerah Pelaga, antara lain potensi alam dengan luas kurang lebih 18 hektar, budaya masyarakat setempat sebagai petani dan lokasi yang berada di antara dua daerah wisata terkenal yaitu Kintamani dan Bedugul.
Bagus Agro Pelaga juga memperhatikan aspek ekonomi masyarakat setempat, karena di jaman reformasi seperti sekarang ini, diperlukan pemberdayaan masyarakat yang diwujudkan bukan dari perintah atau instruksi dari atas, tetapi datang dari kemauan rakyat sendiri, datang dari bawah untuk dibina oleh kalangan atas (bottom – up). Ini pendekatan yang diperlukan dengan pengembangan desa wisata dengan agrowisatanya. Melalui pendekatan itu, diharapkan pembangunan pariwisata tidak lagi hanya menjadi milik berduit saja seperti yang terjadi selama ini. Rakyat di sekitar proyek hanya jadi penonton dan asing di desanya sendiri.
Dalam perencanaan desa wisata dengan konsep agrowisata di desa Pelaga, Kecamatan Petang, diharapkan masyarakat setempat ikut berpartisipasi dalam fungsi manajemen. Untuk efektifnya pengelolaan agrowisata di Pelaga sebaiknya menggunakan pola PIR karena dengan pola ini semua aspek terkait dalam pelaksanaan proyek agrowisata akan saling bekerjasama, untuk mendapatkan keuntungan bagi semua pihak. Sebagai plasma dalam PIR adalah masyarakat setempat, baik sebagai petani, peternak, pengrajin, pedagang maupun kelompok kesenian tradisional masyarakat. Dengan memperhatikan latar belakang diatas, maka dirasakan sangat perlu untuk dikaji lebih lanjut pola pengembangan Desa Pelaga sebagai salah satu obyek wisata agro.
Sebagai salah satu objek dan daya tarik wisata baru, Bagus Agro Pelaga dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk kenyamanan pengunjung, antara lain: restoran, bar, saung, wantilan, supermarket, toko grosir, tempat bermain anak-anak, jalan melingkar di dalam kawasan agro dan jalan setapak menuju ke masing-masing kompleks tanaman buah, sayur maupun bunga. Untuk menunjang organic farming, di dalam kawasan juga akan dikembangkan peternakan sapi, babi dan ayam kampung serta kolam ikan air tawar. Di dalam kawasan Bagus Agro Pelaga akan ditanam berbagai jenis tanaman (polyculture) bernilai ekonomis tinggi yang dikelompokkan menjadi tiga yaitu komoditas sayur-sayuran (vegetables), bunga potong (cutting flowers) dan buah-buahan (fruits).
Untuk menghemat air, agro ini dikelola dengan sistem tetes di mana air dialirkan terbatas sesuai kebutuhan masing-masing tanaman. Pertanian yang dikelola dengan sistem tetes (drip irrigation system) dan berorientasi pasar ini selalu mempertimbangkan kontinyunitas: supplay, quality dan price. Dalam pengerjaan sarana dan prasarana Bagus Agro Pelaga mempertimbangkan berbagai aspek seperti: aspek estetika, asas teknologi, aspek lingkungan, tidak melawan alam, praktis, logis dan aspek keamanan.
Kegiatan Agrowisata
Bagus Agro Pelaga memiliki divisi leisure yang menangani kegiatan wisata. Divisi ini mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan wisatawan, seperti:
1.mengatur kedatangan tamu di pintu masuk (entrance),
2.memandu mereka melihat-lihat kebun sayur, bunga dan buah,
3.menjelaskan fasilitas yang tersedia bagi tamu,
4.menawarkan produk food & beverage,
5.menawarkan produk camping,
6.menawarkan produk yang tersedia di supermarket,
7.menangani wisatawan yang ingin memanfaatkan fasilitas villa
Kawasan Bagus Agro Pelaga terdiri atas beberapa kompleks tanaman dimana setiap kompleks ditanami satu jenis tanaman tertentu sehingga pengunjung dapat menyaksikan teknik bercocok tanam dan varietas tanaman tersebut. Selain menyajikan keindahan kebun bunga, sayur dan buah, proses pembuatan Tabulapot di tempat, juga bisa menarik perhatian tamu sehingga mereka mungkin tergugah untuk memesan dan membeli tanaman tertentu. Jenis tanaman yang akan dijadikan objek kunjungan akan dibuatkan deskripsi yang lengkap (dalam bahasa Indonesia dan Inggris) untuk bahan informasi tamu.
Dalam kaitannya dengan kegiatan wisata (leisure), di dalam kawasan dibangun beberapa fasilitas, antara lain: jalan melingkar, 4 buah villa, fasilitas rekreasi dan camping site serta children play ground. Jalan melingkar dapat dilalui kendaraaan kecil dan dibuat seasri mungkin dilengkapi jalan setapak dan padang rumput di kanan maupun kiri jalan sehingga pengunjung merasakan kenyamanan saat berjalan kaki. Menyaksikan keindahan pemandangan kebun sayur, buah dan bunga sambil mendengarkan penjelasan petugas mengenai tanaman yang tumbuh di Bagus Agro Pelaga. Jenis kendaraan yang nantinya diperbolehkan melintasi jalan melingkar ini adalah silent buggy yang tidak menimbulkan kebisingan sama sekali. Jalan melingkar sepanjang ± 1600 meter ini dibuat dengan mempergunakan sistem drainase yang baik untuk menghindari genangan air pada musim hujan. Di sepanjang jalan melingkar disediakan berbagai fasilitas untuk kenyamanan tamu, antara lain:
1.Rumah petani (dengan atap bambu) di mana diselenggarakan demo membuat gula aren.
2.Rumah petani di mana diselenggarakan demo membuat arak dengan berbagai rasa seperti rasa leci, lengkeng, dll
3.Tempat coffee roasting di mana tamu bisa mencoba kopi dan serbat
4.Stand tempat penjualan minuman
5.Stand tempat penjualan penganan (camilan) khas Bali
6.Tempat pembuatan berbagai jenis keripik (ubi, keladi, nangka)
7.Tempat tape singkong
8.Rest room / toilet
9.Bak sampah (terdiri atas 2 jenis: bahan organik dan plastik)
10.Berbagai jenis tanaman yang ditanam berkelompok
11.Beberapa kandang binatang peliharaan yang digemari anak-anak seperti jenis burung dan binatang lain
12.Kolam ikan (dengan memakai alat pembersih air modern)
13.Children playground (dibangun di depan Main Restaurant)
14.Beberapa Saung (bale bengong) untuk tempat beristirahat maupun Lunch
15.Papan petunjuk (signages)
Villa/ Farm House:
Villa atau “farm house” dibangun di perbatasan kawasan areal konservasi dan areal kebun berjumlah 4 buah dengan satu buah kolam renang yang dapat digunakan bersama dan diperuntukkan bagi para tamu yang ingin bermalam di kawasan Bagus Agro Pelaga. Villa ini dibangun dengan konsep minimalis sehingga menimbulkan kesan rileks. Dari villa yang dindingnya memakai kaca bening dapat dilihat pemandangan yang menakjubkan ke segala arah, sedangkan di sekeliling villa ditanami pepohonan untuk menjaga privasi penghuni villa. Jarak dari satu villa dengan villa yang lainnya sekitar 10 m. Pintu masuk (gapura) ke kompleks villa dibuat sedemikian rupa sehinggga mengesankan bahwa di tempat ini pernah ada bangunan tua.
Fasilitas Rekreasi/ Leisure:
Rekreasi dapat dilakukan baik di dalam kawasan Bagus Agro Pelaga maupun di luar kawasan. Rekreasi yang ditawarkan meliputi:
a.Hiking,Pengunjung dapat berjalan kaki (hiking) di dalam kawasan agro sambil menikmati pemandangan berbagai macam sayuran, buah, bunga, ternak dan kolam ikan. Setelah itu pengunjung dapat beristirahat di saung-saung yang disediakan sambil menikmati makanan atau minuman yang dipesan sebelumnya.
b.Tour mengelilingi properti dengan buggy, tour ini menggunakan buggy yang tidak berisik. Selama perjalanan, petugas agro menjelaskan mengenai tanaman yang dibudidayakan di sekitar areal agro.
c.Cycling, dapat dilakukan luar kawasan agro, yakni di sekitar Desa Tihingan di sebelah barat kawasan Bagus Agro Pelaga, dimana terdapat jalan aspal berliku-liku, perkampungan, pertanian yang menyajikan pemandangan indah.
d.Bird watching, berbagai burung juga hidup di sana, jadi selain menikmati pemandangan alam sekitar tamu juga dapat menonton burung – burung bernyanyi. Kegiatan ini terutama dapat dilakukan pada waktu subuh.
e.Children playground, disediakan bagi pengunjung yang datang dengan putra-putrinya. Tempat bermain anak-anak dibuat sedemikian rupa sehingga anak-anak bisa lebih dekat dengan alam,misalnya bermain petak umpet di sela-sela pepohonan.
Restoran:
Restoran hanya beroperasi pada siang hari saja, buka untuk lunch. Tamu yang diharapkan lunch terdiri atas tamu dalam perjalanan tour yang di-handle Biro Perjalanan Wisata maupun walk in guest. Untuk group besar, lunch bisa disajikan di Terrace Restaurant yang berada di depan Supermarket dengan jenis makanan buffet. Kapasitas restoran keseluruhan berjumlah 200 seats dengan rincian: 80 seat di 2 buah Restoran Fine Dining Restaurant, 50 seat di Terrace Restaurant dan 40 di beberapa Saung dan sisanya di Wantilan. Menu utama yang disajikan di Main Restaurant dan Saung berupa: Grill, Steamboat dan Salad. Selain itu juga akan diupayakan menyuguhkan menu makanan tradisional spt: bubur tuak, kolak, tape, ancruk, gatuk lendri, jagung manis.
Restoran Utama terdiri atas 2 wing masing-masing dengan kapasitas 40 seat. Wing sebelah kiri (sebelah utara) diperuntukan bagi tamu yang memesan menu steamboat. Sedangkan wing kanan untuk tamu yang memesan menu lainnya. Restoran dibangun pada areal yang paling tinggi di kawasan Bagus Agro Pelaga sehingga para tamu dapat menyaksikan pemandangan areal kebun bunga, buah dan sayur yang menarik serta pemandangan tiga gunung yang mempesona yakni Gunung Agung, Abang dan Batur. Di dalam restoran tersedia bahan makan yang dijual dalam plastik dan pengunjung dapat memasaknya sendiri di salah satu Saung atau dimasakkan oleh cook Bagus Agro Pelaga. Bahan makanan yang dapat dipilih pengunjung untuk dimasak antara lain: Grill dan Steamboat. Sedangkan untuk tamu rombongan bisa disajikan buffet. Minuman yang disediakan di sini 99% merupakan minuman sehat dari bahan alami dicampur dengan rempah-rempah berkhasiat.
Fasilitas Tambahan:
Fasilitas lain yang tersedia adalah kantor, tempat parkir, tempat peristirahatan sopir dan guide dan staff house. Kantor dibuat untuk direksi dan karyawan Bagus Agro Pelaga. Kantor ini juga dilengkapi dengan perpustakaan yang berisi buku – buku mengenai tanaman dan cara bercocok tanam yang baik. Tempat parkir yang cukup luas dilengkapi perindang mampu menampung jenis kendaraan bus dan kendaraan kecil. Di kawasan ini juga terdapat Pura Puseh milik masyarakat setempat. Di sekeliling pura ditanam kebun bunga potong yang menambah keasrian pura tersebut.
Paket Agrowisata:
Dalam memasarkan produk Leisure dan Restorant, Bagus Agro Pelaga mengemas produk sedemikian rupa sehingga paket wisata yang dijual menjadi lebih beragam. Paket wisata yang ditawarkan kepada calon konsumen, antara lain:
Full day tour:
1.Kombinasi Agro Pelaga dan Rafting di Petang.
2.Kombinasi Agro Pelaga dan Sangeh serta Air Terjun Nungnung.
3.Kombinasi Agro Pelaga dan Kintamani.
4.Kombinasi Agro Pelaga dan Bedugul.
Tempat pertemuan:
Bagus Agro Pelaga juga bisa dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan outing seperti: Meeting, Outing, Arisan, Camping, Pengenalan Tanaman kepada anak-anak, flower expo, kursus tabulapot, kontes burung dan kontes anjing.
Mitrakerja:
Produk agro (buah, sayur, bunga) akan disalurkan ke hotel, retoran, supermarket dan pasar umum. Sedangkan produk Leisure (tour), Restoran dan Villa diperuntukkan bagi:
1.Biro perjalanan wisata
2.Wisatawan domestik
3.Instansi-instansi yang terkait dengan pertanian
4.Sekolah-sekolah, Akademi dan Perguruan Tinggi
Biaya Berkunjung:
Paket : Berkunjung ke Kebun Organik Rp. 120.000 net/ orang
Harga tersebut sudah termasuk:
- Tiket Masuk ke agro
- Welcome drink fresh strowberry juice
- Keliling kebun stroberry dan ke kebun sayur.
- Makan siang (buffetlunch)
- Teh/ kopi ditemani kue kampung
- Harga sudah termasuk 21% tax and service.
Paket Berkunjung ke Kebun Organik Rp. 45.000 net/ orang
- Tiket Masuk ke agro
- Welcome drink fresh strowberry juice
- Keliling kebun stroberry dan ke kebun sayur.
- Harga sudah termasuk 21% tax and service.
Tertarik untuk berkunjung?
Silahkan kirim email ke: insubadra@yahoo.com
Telephone: 447790445786
Bali Tourism Watch: Cultural Tourism & Alternative
By : I Made Ardana Putra,
Business Administration Study Program Bali State Polytechnic
Abstract
Bali has developed cultural tourism. It does not mean that tourism which has not related in cultural, could not be developed as long as it does not break the Balinese Hindu Tradition. One of the alternatives tourism is called eco-tourism. It could be as complementary attraction, the distribution and quality of the tourist, and global trend.
Actually, in Bali eco-tourism has already as an integral part of the cultural tourism. Eco-tourism included on everyday life of Balinese. There are (a) mentifact means human being as an integral part of the natural, (b) socifact means always keeping the balance of the natural and the diversity of biological resources, (c) artifact includes the natural resources such as Jati Luwih Terrace, National Park in Negara, White Cows in Taro. And there are many other things.
The industries have already managed tour programs such as ECO Cycling Tour and Cooking Lesson & Rural Charm Tour in Gulingan Mengwi Vilagge, Coral Nursery in Singaraja, etc. One of the potentials eco-tourism is marine tourism that is lack of attention from the government. Up to now there is no rule for marine tourism. On socializing it must be done such as academic studies, stakeholder orientation, and succeed stories from somebody who has worked professionally on it.
Key words: cultural tourism, alternative eco-tourism and region of vacation destination.
I. Preface
Now, Bali has called for and developed cultural tourism, the concept has been formulated since 1971 on the entitled Bali Cultural Tourism Seminar. The model is a tourism paradigm that is wanted to develop. The measure is absolutely bright, as the culture is the greatest appeal that is possessed by this region. It’s understandable that how importance the role of culture is for tourism. The culture is not only for being lived for but it functions as a tool to understand each other and respect among nations. Numerous products and society behaviors that originate to Bali values succeed in making the well-known territory in the world.
Even if, finally the tourism umbrella is called for as ‘Cultural Tourism’, therefore it does not mean that others beyond “Cultural” cannot be developed, as long as the development is not upside down with the available Hindu Cultural Concepts and existing in Bali. One of the alternatives in developing the tourism is called eco-tourism. According to Pitana (2002:4) eco-tourism can be as complementary, distribution to whole Bali and increasing tourist quality, and has become a global trend that has gained respond as eco-tourism.
The eco-tourism has become national issues, firstly since Pact-Indonesia and Walhi performed the National Seminar and Workshop in 1995 in Bogor, Western Java. On that program, the function formulas have been resulted, which the local community must be on maximal involved proportionally in the planning and management. The Bogor spirit inspires the attention of many blocks from NGO (Non-Government Organization), Tourism Industries, University Research Institutes, community and government quarters. Bali contributes as a center of Indonesian Eco-tourism Development, as in 1996 The National Workshop II was ever presented in this territory that resulted in an Indonesian Eco-tourism Community Forum (IES). The membership of IES is increasing from year to year; even the forum of national level is continuously undertaken from one region to another.
Plenty of scientific analyses have been performed such as seminar and discussion forum, resulting many policies. For example, Udayana University as the oldest university in Bali through Tourism and Cultural Research Center did not pass up the chance to undertake the regional seminar entitled “Eco-tourism” several months ago. Politeknik Negri Bali (PNB) is actively involved in scientific discussion and activities that have been undertaken by IES over the last several years. Due to his high mobility, Ida Bagus Sanjaya, S.E., MM (now Director of PNB) is trusted as IES DPP Manager, the result of national forum last year in Ujung Pandang. The same goes for some tourism education institutes are involved in these reviews, included the news sources frequently releasing the strategic issues in relating to eco-tourism. The products of eco-tourism review in Indonesia are generally still countable since it has been exposed in 1990s up to the end of this year; its development is quite slow. Whereas, the number of products are supposed to be on the increase, if it is seen from its potential aspect.
There are some indicators why the eco-tourism is revealed unable yet to develop as the expectation of tourists. According to the IES chairman Sudarto (1999:11) says there is no basically the government guidelines that eco-tourism can motivate or as a subject of nature preservation. Secondly, the understanding of stakeholder (government) is still low as motivator as well as implementation. Thirdly, the doubt still exists over this concept, which can be made out of sustainable economy activities and developing community.
II. Understanding and Concept
2.1. Eco-Tourism Etymology
Many terms have come up and related to change endeavor in the field of tourism industries, likewise, alternative tourism, nature tourism, responsible tourism and special interest. The terms of eco-tourism on Sudarto (1999:13) is a terminology that is considered the appropriate one, because the meaning and commitment are supposedly very obvious over the nature preservation and developing community. The eco-tourism derives from eco-logical, economical and evaluating community opinion. If translated into Indonesian it turns out to be;
a. Ecology is as resources and the appeal of eco-tourism, and it positively contributes toward natural preservation effort.
b. Economy is eco-tourism that becomes sustainable economy activity.
c.And Interest evaluation and community opinion. Eco-tourism is possessing consideration toward raising community involvement, and community development giving contributions toward natural preservation effort.
So far there has not been a suitable term in translating the eco-tourism terminology into Indonesian. Some translate it into ecological tourism and others translate it into eco-tourism, as the briefest and the best terminology to hear. The eco-tourism terminology is actually not fulfilling the norm of appropriate Indonesian language; the right standard should be tourism-eco.
The definition of eco-tourism that is used for international standard like being used by NEAP, and EAA, that is: “ ecological sustainable tourism with a primary focus on experiencing natural areas that foster environmental and cultural understanding, appreciation and conservation”. (Crabtree et all, 2002; 4).
There at least 3 lines in viewing the eco-tourism. The 3 lines are correlated to the point of view that is still different with the meaning of eco-tourism. Based on the result of world eco-tourism summit 2002 in Quebec is divided into 3 lines:
a. First line, they fight for eco-tourism to avoid environmental degradation, for the environment itself at all costs the environment must be preserved.
b.Secondly, they fight for eco-tourism and environmental preservation, not for the environment, but it’s all for the survival of economic growth and cultivating capital. The climax of this group is saving environmental preservation for eco-tourism. Just with the guaranteed of environmental quality could be also as an accommodation for natural resources.
c.The third line is emphasizing the cooperation on society interest and development. This line comes from critical thought over who is actually eligible for these natural resources. From then on who sets down, plans, organizes and shares the role and the further process.
2.2. Natural Tourism in the Eco-tourism
If eco-tourism is made out of tourism industry to preserve habitats and species, therefore, it’s necessarily paid attention to what the tourists have done, is not what the motivation is. Whatever is done in the tourism territory will have effect upon the environment and ecosystem. The management, therefore, is much easier to decide whether the process fulfills the criteria or not. The eco-tourism must be set apart from natural tourism. According to Goodwin (1997:123) an expert from Kent University in England said the natural tourism related to the comfort of enjoying the nature, while eco-tourism pursued more conditions on natural preservation.
A similar opinion comes from Boo (1992:19) that is the natural tourism journey that prompts preservation and sustainable development, the mixture between preservation and economy development, providing environmental education. Based on the definition, the eco-tourism protects and manages the natural habitat at the same time. Another aspect that cannot be ignored is economy.
These tourism activities are definitely profitable especially in the protected territory. Through the arrival of eco-tourism it can bring in the fund management, preserving natural habitats and species. From the incoming contribution it can hire guides, accommodations and information. Other benefits, the community is able to live for the economic benefits either trickle down effect or multi flier effect toward the community. So the community will be more optimal to maintain it. It’s imaginable, if community is against this territory, it will not last any longer. In case the future of community can be guaranteed from eco-tourism, so without being ordered they will do protection and avoid the vandalism. The same goes for if it is seen possessing good prospect, so the community is not in doubt to invest their capital.
For preservers and territory managers, before being managed by tourism industries, they have to call for the activities that fulfill the eco-tourism criteria. These activities must have a little effect upon the environmental damages. The industries have to intently and accurately guarantee the tourist management. Whatever it is, the most important thing is the motivation of arrival. Their activities must be strongly controlled and capitalized on.
III The Potency of Eco-tourism in Bali
Before touching upon the potency that is owned by Bali, it’d better deal with eco-tourism that has been developed. Based on the classification that is identified by IES that there are 61 regions considered potential as eco-tourism destination region (EDR). Some popular EDR such as: Sumatera (Way Kambas, Bukit Barisan), Sulawesi (Bunaken, Dumoga Bone), Java (Bromo Tengger, Ujung Kulon), NTB (Komodo, Tambora), Maluku (Banda Coral Sea) and Bali hide high potency that is easily developed.
Some activities have been conducted in an effort to develop eco-tourism activities in this island. Wisnu foundation by the fund aid of Kehati foundation and others pioneer eco-tourism at some villages in Bali. Sua Bali improves small accommodation as a developing place of cultural communication by improving the community. Agung Prana and his friends stretch together with Pemuteran society to save the coral reef. Alas Kedaton tries to establish the forest with its monkeys and bats to attract tourists. Dalem (2002:4) describes that there are still many, businessmen, NGO, Government institutions, educational institutes, and individual, stepping forward and implementing the tourism concept alternative that is called eco-tourism.
In Bali, eco-tourism can be viewed from variety of aspects:
a.The first aspect examines the philosophy aspect and socio-cultural that belongs to the culture of Bali.
b.The second aspect concerns to potential eco-tourism that has been or not well and professionally worked on yet.
3.1. Philosophy Review
The eco-tourism in Bali in the substantial way has been actually genuine, original and has been together in the natural tourism resources (2002:4). Cultural tourism, in fact, relates to whole system of community likewise, the beauty of landscape, farming in the broad sense as strengthening. The potency of eco-tourism concerns:
a.Value system as Mentifact is interpreting the nature: The human is an integral part of the universe. The nature is affirmed as Kamadhuk (milk cow), human is obligated to take care of the earth and having a right to collect its milk; torturing cow is same as suicide. The written concept in Tri Hita Karana is creating the harmony. Kertamasa system alternates rice planting period with crop plantation to break off the cycle of rice pest.
b.Social system as Socifact with the existence of Pakraman village and traditional sub-village, irrigation traditional organization (Subak), members and sacred sacrificial rites that is always aimed at maintaining the nature equilibrium and biological divergence resource. With some sacred ceremonies such as Tumpek Bubuh, and Tumpek Kandang indicating the form of sacrifice for the welfare of nature (Buthahita) is also a genuine wisdom.
c.Symbol system, text, nature outline, building that is called as artifact relating to Jati Luwih area, National Park in Western Bali, Bedugul, Bali Aga Village, White Cows in Taro, Irrigation (Subak) Museum, Empelan, Oongan Dam and there are other many things.
3.2. Potential aspect that has been or not worked on yet
To anticipate the tediousness, so that potential aspect must be necessarily prepared earlier. There have been many space conducted by tourism industry in anticipating the tediousness. For example; western Bali in Pemuteran bay conducts the coral nursery development, in Central Bali conducts ECO cycling tour and cooking lesson and rural charm tour at Gulingan Village in Mengwi, Southern Bali through the protection of turtle in Benoa and Eastern Bali conducts reef preservation and fishery protection in Tulamben.
The statement of Pantja (2002:appendix 1) describing how Pemuteran Village in Western Bali increases the coral nursery, this territory belongs to Grokgak district in Singaraja by using technology that is guided by Dr. Tom Goerau and Prof. Wolf Hilbertz. Acting as donators are the businessmen who are classified succeed in Bali traveling world. By setting up Karang Lestari foundation to watch the coral nursery project and new project development namely open sea fishery farm. Foundation arranger arranges technology and fund raising. If, someday, it has begun productive (bringing in a lot of money), therefore, it will fully become the village’s possession to be looked after. As these activities are purely performed by, from and for the village itself. From then on, in related to eco-tourism in Pemuteran, Pantja describes the village condition in the entitled writing “ tourism and Pemuteran” as follow;
Every year the quality of the diving became better and with it the increase in tourism and the resulting services. Once one of the poorest areas in Bali, over the years one could easily see how this income from eco-tourism had positive effects on the life style and health of local villagers. One of the earliest goals of the two business was to set limits on development to avoid the degradation of the environment often seen in other areas of Bali.
One of the alternatives that have not been seriously worked on is marine tourism development. During these times, Pitana (2002:5) says the development of this kind of tourism is still left far behind. The excellent superiority of tourism is very ’eco’ so far it has been never heard that divers and snorkeling will destroy the coral reef. Up to this moment there is no rules yet that a region is in control of the marine tourism. Diparda Bali and its line have tried to achieve the rules that is endeed being waited by industry and community.
Besides, marine tourism the Western Bali National Park Territory (WBPT can be directed to this direction. If it is utilized for tourism activities, therefore the surrounding community will get the economy benefit. So they directly gain the motivation to maintain the preservation dynamically, if the community doesn’t get any benefit from those objects, then it’s absolutely difficult to expect them to maintain it. It’s very often the woods stealing happening in this region and can be said as no good indicator that the community is not yet actively participating and (probably) don’t get anything from that protected area.
IV The Reflection of Eco-tourism Development
If it is seen from Bali development based on culture that is popularized by Bagus (1992), then the third line that characterizes to stand by the ideal community to develop. Involving the community means they will get the meaning of eco-tourism. Without respecting their meaning, then the facilities and tourism industry that is built with big investment will be in vain at all. Moreover, nowadays is the reformation era based on democratization, people are given freedom to think and convey the opinions, which is now exactly different then the formerly times.
To accelerate its development, so it needs to do deeper studies and academics as it’s realized that the approach method in every region will be different. It’s necessary to carry out socialization process to stake holder to equate the perception and comprehensive understanding. Other step that is certainly taken is spreading the success stories of institutes/management either in or outside the country. The success covers how the eco-tourism directly affects the nature preservation and increasing the welfare of surrounding community.
V Conclusion
Bali has called for the tourism umbrella namely ‘cultural tourism’ and it does not mean that beyond “cultural” cannot be developed. As long as the development is not upside down with Hindu Cultural Concept that existing in the community. One of the alternatives in increasing the tourism called Eco-tourism. The eco-tourism can be complementary, fairly distributing to whole Bali, increasing the tourist quality, and has become a global trend that has gained respond as eco-tourism.
The eco-tourism in this region in the substantial way has been genuine, original and has been together in the natural tourism resources relating to whole life system of community likewise the beauty of landscape, and agricultural in the brad sense as strengthening. The possessed potency relates to the value system as:
a.Mentifact interpreting the nature, human being as an integral part of the universe.
b.Socifact by the existence of traditional village and sub-village, traditional irrigation (Subak) organization, members and sacrifice rites aim at maintaining the nature equilibrium and the resources of biological divergence.
c.Artifact covers the nature such as Jati Luwih, Bali West National Park, Bali Aga Village, White Cows at Taro, Subak Museum, Empelan, Oongan Dam and there are many other things.
There have been many spaces done by tourism industry to anticipate this tediousness. For instance: West Bali at Pemuteran Bay is done coral nursery development, Central Bali is held ECO cycling tour and cooking lesson and rural charm tour at Gulingan Village Mengwi, South Bali through turtle protection at Benoa and fishery at Tulamben. One of the alternatives that are not seriously carried out yet is the development of marine tourism. Up to now, there has not been any local regulation yet that manages the marine tourism.
The most suitable eco-tourism that is applied is one-sided to community. By involving the community means giving the meaning. Without respecting the meaning of community, so the facilities and industries that have been built with big investment will be useless at all. In socializing it, therefore it needs to do more academic studies, given to stake holder to equate the perception and the step of spreading the success stories of management that is either in or outside the country.
Bibliographies
Anonimous, 2002. Quebec Declaration on Eco-tourism in Canada May 2002.
Boo, Elizabeth. 1990. Eco-tourism: The Potential and Pitfalls, Volume I and II.
Washington DC: WWF.
Crabtree, A.P.et all.2002. Setting a Worldwide Standard for Eco-tourism
Standard for Certification:Draft for Consultation.36 pp.EAA,NEAP, and CRC for
Sustainable Tourism of Australia in Partnership with Green Globe 21.
Dalem, AAG Raka 2002. “Eco-tourism: The concept and its implementation in
Bali” in Eco-tourism Seminar paper entitled “Eco-tourism, through sustainable
Tourism development” at Unud Auditorium, Saturday, June 29th 2002 Denpasar:
Centre of Tourism and cultural research of Udayana University.
Goodwin, Harold. 1997. Terrestrial Eco-tourism on Planning Sustainable
Tourism (Minnery,et all.Editor) (Proceeding on the Training and Workshop).
Bandung:Center for Research on Tourism Institute of Technology Bandung and
Queensland University of Technology.
Pantja, John Ketut.2002. “The anticipation of Eco-tourism Development
Tourism Businessman in Bali” in Eco-tourism Seminar paper entitled “Eco-tourism,
Through sustainable Tourism Development” at Unud Auditorium, Saturday, June
29th 2002 Denpasar: Centre for research on culture and Tourism of Udayana
University.
Pitana, I Gd.2002.”Eco-tourism development in Bali” in Eco-tourism seminar
Paper entitled “Eco-tourism, through Sustainable Tourism Development” in Unud
Auditorium, Saturday June 29th 2002. Denpasar: Centre for Research on Culture
and Tourism of Udayana University.
Sudarto, Gatot.1999.Eco-tourism: Nature preservation media, Sustainable
Economic Development, and Social Cultivaiton. Jakarta: Kalpataru Bahari
foundation and Indonesia Biological Diversity Foundation.
Way Kambas-Sekolah Pendidikan Gajah di Indonesia
Pertama kali gue ke tempat wisata ini wektu masih SMP. Gue dan temen-temen dan guru tur bareng kesana. tempatnya di Lampung Tengah, lumayan jauh dari kampung gue di Lampung kira-kira empat jam lah… Way Kambas merupakan tempat penangkaran gajah Sumatra dan satu-satunya Sekolah Pelatihan Gajah (SPG) di Indonesia.
Brangkat dari sekolah pagi-pagi buta dan pulangya malem bner. sampe-sampe gue nginep tempat kakak gue di Kotabumi. wektu itu sih pas habis bagi raport makanya gue bisa langsung maen-maen di Kotabumi. Banyak bner atraksi wisata yang ditawarkan di sini, seperti; naek gajah keliling hutan, sepak bola gajah, dilangkahi gajah, dan banyak lagi yang laennya.
Yang jelas ini pengalaman gue pertama kali naek gajah. Wektu naek gajah, emang agak ngeri sih.. karena yang gue tau kan gajah itu liar and ganas… Jangan-jangan ngamuk pas gue naikin. Tapi ternyata nga tuh…. mungkin karena dengan pawanagnya kali ye….
Sehabis jalan-jalan naek gajah, gue kan istirahat di taman dengan temen-temen, tiba-tiba aja ada anak gajah yang deketin. Ih…. ngeri deah…! tapi untung aja pawangnya dateng dan bilang klo anak gajah itu ngga galak.
Gue banyak bener sbenarnya foto-foto ama tmen, tapi entah kmana ya foto itu sekarang? bikin kangen ama temen aja. Apalagi itu pertama kali gue pergi jauh dan bareng ama temen-temen sekolah. pokoknya asik deah….!
Bali Tourism Watch: Keberadaban dan Kebiadaban Manusia
Keberadaban dan Kebiadaban Manusia:
Tinjauan dari Perspektif Budaya dan Agama Hindu
Oleh : I Nengah Subadra
Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan tuhan tertinggi yang memiliki kesempurnaan berupa tenaga (bayu), suara (sabda), dan pikiran (idep) dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya seperti; tumbuh-tumbuhan yang hanya memiliki tenaga, dan binatang yang hanya memiliki tenaga dan suara. Kemampuan manusia untuk berpikir mencirikan manusia makhluk yang beradab, menghomati sesama manusia dan makhluk ciptaan tuhan lainya seperti tumbuhan dan hewan.
Keberadaban manusia dapat dilihat dari budaya manusia itu sendiri secara individu. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang memiliki cinta dan kasih terhadap semua ciptaan tuhan dengan tanpa perkecualian dan mampu menempatkan dirinya sebagai mahkluk tertinggi dan menggunakan kesempurnaannya berupa tenaga, suara, dan pikiran dengan baik. Pada saat manusia tidak lagi bisa menempatkan dirinya sebagai mahluk ciptaan tuhan tertinggi dan tidak bisa lagi menggunakan kesempurnaan tersebut, maka pada saat itulah keberadaban manusia berubah menjadi kebiadaban.
Secara prinsip, kemampuan dalam berpikirlah yang membedakan manusia dengan binatang dan tumbuhan. Manusia akan masih disebut sebagai manusia apabila manusia tersebut masih memiliki pikiran yang seharusnya dipikirkan oleh manusia. Pikiran-pikiran manusia di luar dari pikiran yang semestinya dipikirkan oleh manusia merupakan tanda dari ingkarnya manusia sebagai manusia dan penurunan derajat dan keberadaban manusia. Penurunan derajat tersebut sangat tergantung dari perubahannya. Apabila manusia tidak mampu lagi berpikir, maka secara otomatis manusia hanya bisa bersuara dan bergerak. Pada posisi atau keadaan seperti ini, dapat dikatakan bahwa manusia sama saja dengan binatang yang hanya bisa bergerak ke sana-ke mari dan meraung-raung tidak berarti. Apabila dicermati lebih jauh, manusia-manusia seperti ini hanya memiliki perwujudan manusia (raga) saja dan tidak memiliki sifat-sifat kemanusiaan (jiwa) lagi.
Tidak terbatasnya pikiran manusia sering kali menjadi penghalang manusia untuk mencapai keberadaban manusia yang sejati. Setidaknya harus diikuti dengan keseimbangan dalam perkataan dan perbuatan. Dalam konsep Tri Kaya Parisudha dijabarkan secara jelas bahwa keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan mutlak diperlukan manusia dalam hidupnya. Penilaian manusia terhadap manusia umumnya dilihat dari pola berpikir, kesantuanan dalam perkataan, dan kesopanan dalam berprilaku. Adanya ketidakseimbangan di antara ketiga unsur tersebut sering kali digunakan untuk menjastifikasi beradab atau tidaknya manusia dalam hidupnya.
Dalam faslafah agama hindu yang lazim dikenal sebagai Tri Hita Karana disebutkan secara jelas bahwa sebagai manusia hendaknya menghormati dan selalu menjaga hubungan baik antara manusia dengan tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. Terciptanya keseimbangan atau keharmonisan hubungan-hubungan tersebut dalam kehidupan manusia akan semakin mengindikasikan bahwa manusia beradab.
Gambaran beberapa fenomena yang sangat mencolok yang terjadi dalam kehidupan manusia dewasa ini yang mengilustrasikan kebiadaban manusia antara lain:
(1) Hubungan majikan dengan pembantu rumah tangga, dimana pembantu dipekerjakan sedemikian rupa dan bahkan sering kali diperbudak karena harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan bayaran yang sangat kecil. Pembantu seharusnya hanya membantu majikannya dalam mengerjakan suatu pekerjaan rumah tangga, bukan mengerjakan seluruhnya. Jika harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, semestinya nama profesi tersebut dirubah menjadi Pekerja Rumah Tangga;
(2) Hubungan pengusaha dengan karyawan, sering kali para pengusaha tidak begitu peduli terhadap karyawannya terutama mengenai kesejastraannya tetapi mereka harus bekerja dengan keras dan berdedikasi tinggi kepada perusahaan dimana mereka bekerja. Ini dapat dilihat dengan mudah di kehidupan masyarakat terutama dalam dunia bisnis. Kesenjangan sosial dan ekonomi antara pengusaha dengan karyawan sangat mencolok. Pengusaha yang telah memiliki modal usaha yang besar terus dan terus mengeruk keuntungan dari usahanya sedangkan karyawannya terus dan terus memeras keringatnya dan membanting tulang hanya atau demi sesuap nasi untuk diri dan keluarganya;
(3)Perselingkuhan, kasus perselingkuhan sangat marak terjadi di perkotaan dewasa ini baik pasangan suami-istri maupun yang masih dalam proses pacaran. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya perselingkuhan adalah kerakusan dan ketidakpuasan manusia dalam seks. Prilaku bejat ini selalu ditutupi dengan berbagai alasan seperti broken home, ingin mencari teman bicara, latar belakang ekonomi dan lain-lain yang itu semua sebenarnya hanya semata-mata untuk memuaskan napsu birahi manusia yang sudah hampir seperti prilaku binatang yang sama sekali tidak peduli lagi dengan sesama manusia. Parahnya lagi, hubungan perselingkuhan juga terjadi di dalam keluarga dekatnya dan teman sekantor.
(4) Korupsi, gencarnya pemerintah memerangi korupsi ternyata tidak membuat jera para koruptor untuk terus menguras uang rakyat sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa pejabat negara yang dibuktikan dengan adanya beberapa pejabat pemerintah sudah dipenjarakan dan masih dalam proses persidangan. Korupsi yang dilakukan sama sekali tidak mempedulikan rakyat yang masih dalam kemiskinan dan kelaparan. Terlalu kejam dan biadab mereka yang melakukan, mereka lupa dengan sesamanya yang terus merintih kelaparan, menggelandang di ruas-ruas jalan demi sesuap nasi untuk menghentikan jeritan cacing-cacing dalam perutnya.
Contoh-contoh di atas semestinya dapat dijadikan sebagai cermin seberapa biadab manusia-manusia sekarang ini. oleh karena itu, sebagai manusia yang beragama dan berbudaya kita harus mulai menunjukan sifat-sifat manusia yang beradab dan berbudaya sehingga bisa menghargai sesama. Jika tidak, kita tinggal menunggu untuk disebut manusia beradab atau biadab?
Curup Gangsa- di Way Kanan, Lampung
Pertama kali gue mean ksana wektu gue masih SMP ama tmen-tmen di kampung. tempatnya kira-kira 3 jam dari rumah gue di Lampung. jalanya, wah… naik-turun, berliku-liku dan lewatin uten lebat. jalannya sepi banget, jadi ngeri deah klo sana sendirian.
Inilah air terjun yang paling tinggi dan besar yg gue pernah liet langsung. airnya bsar banget…. klo ke bawah, wah… embunnya minta ampun…… jadi klo sana ama pacar baru asik… dingin-dingin gemana… gitu…!
Tempatnya sih lumayan terpencil, tapi klo liburan ramenya bukan maen. sampe nga ada t4 parkir lagi, saking banyaknya oarang yang sana. biasanya sih anak-anak muda aja yang sana. Klo nga salah, penduduk asli sana sih orang lampung. jadi mesti agak ati-ati. taulah orang lampung kamana-mana bawa badik ato clurit. Konon katanya itu tradisi dari nenek moyangnya sih… tapi nga apa koq… yang penting mereka kan nga ganggu orang yang maen sana.
Wektu gue dan tmen-tmen SMU ksana baru seru… ujan-ujan, naek trek ditambah kegiatan trekking lagi. Pokoknya seru abis….. lumayan juga sih di sana bisa mandi, foto-foto dan ngadain acara. sritanya wektu itu pulang dari kemah selama lima hari empat malem di Banjit-Way Kanan. Eh.. pulang dari sana gue sakit lama banget….. mpe 3 mingguan nga skolah. kasian de gue…
Tapi sayang, tempat ini belum diklola dengan baek. coba aja ada yang mengelola pasti tambah rame and terkenal dah… Tau tuh… Dinas PAriwisata di Sana nga bgitu pduli ama potensi tu. Kapan-kapan deah klo gue dah PULKAM and ada modal ta urus itu tempat wisata.
Pulau Bangka-Pangkal Pinang
Pulau Bangka-Pangkal Pinang
Gue kesana pas wektu kelas satu SD ama bokap dan nyokap dan adek gue.taonnya yang pasti gue lupa tuh. wektu itu seneng… banget karena masih kecil dah diajak maen yang jauh ama bokap gue. Abang gue yg jd polisi kbetulan dines di sana. jadi bisa maen-maen deah.. kata bokap, gue bandel amat wektu itu krn penegnnya maen… terus. Sedangkan bokapkan nga tau daerah sana juga. jaraknya seh lumayan jauh. ya.. kira-kira satu hari satu malem dari Lampung menuju Palembang. Nyebrangin Sungai Musi aja berjam-jam, ombaknya gede, kapalnya goyang-goyang, ih…… ngeri deah..!
Makanan yang paling gue suka di sana “kretek” dan “martabak”.kretek itu kayek krupuk bulet-bulet tapi enak bner rasanya. katanya sih buatnya pake ikan tenggiri campur tpung. lagian tiap abang gue pulang kampung pasti bawa itu oleh-olehnya. klo martabaknya, ngak ada nyaingin deah… skarang gue nyari-nyari nga ada yang juel to…
Mungkin itu pertama kali gue tau yang namanya kolam renang. Gue diajak maen dan renang ama abang gue yang satunya. jujur aja, gue seneng banget to renang di sana. klo nga salah sih fotonya masih gue simpen baek-baek. Lagian, gue nga tau kapan bisa maen sana lagi….soalnya abang gue uda nga dines di sana lagi. tapi sodara istri abang gue masih ada di sana seh..
Hotel Correspondence Tasks
By: I Nengah Subadra
________________________________________________________
Dosen Bahasa Inggris dan Pariwisata
Di Yayasan Triatma Surya Jaya
(MAPINDO, AKPAR Triatma Jaya, dan STIE Triatma Mulya)
Handphone : 081 239 26773
Email : insubadra@yahoo.com
Homepage : www.subadra.wordpress.com
Melayani:
• Private Bahasa Inggris untuk umum dan in-house training
• Private Bahasa Indonesia untuk orang asing
• Bimbingan IELTS, TOEIC, dan TOEFL
• Terjemahan bahasa asing tersumpah
________________________________________________________
Module Task-1
Mention and explain parts of a business letter as well as articles written on each part. Your answer shall be supported by an example of formal business letter which then marked based on the theory to understand well the parts of the exemplified business letter.
Highly needed:
Write the book (Author, Year. Title. Place of Publication: Publisher) used for answering the above task.
=================================================================
Module Task-2
Direction:
Translate the following sentences into well-constructed English!
1.Saya baru saja melihat harga penawaran khusus anda yang ditayangkan di website, saya tertarik dengan paket wisata tersebut.
2.Sesuai dengan pembicaraan kita tadi pagi di telepon, dengan ini saya kirimkan harga kontrak terkini dan beberapa brosur.
3.Kami baru saja mengembangkan beberapa kantor cabang di Bali dan mencari partner-partner bisnis.
4.Saya mendapatkan nama dan alamat hotel anda dari teman saya bernama “Bob” yang tinggal di hotel ini bulan yang lalu.
5.Saya ingin memesan dua kamar standar yang menghadap ke pantai. Tolong beritahu saya harga dan fasilitas kamarnya.
6.Dua dari sepuluh kamar superior kami sedang direnovasi dan akan siap dalam jangka satu setengah bulan.
7.Terima kasih atas email anda tertanggal dua November tahun 2006. Kami akan menindaklanjuti permohonan anda.
8.Semua kamar standar kami penuh. Kami menyarankan anda untuk memesan kamar superior dengan harga yang lebih mahal dan fasilitas yang lebih lengkap.
9.Manajer Pemasaran dan Penjualan kami sedang mengadakan perjalanan bisnis sehingga kami tidak bisa menentukan harganya sekarang. Kami akan memberitahu anda ketika dia sudah kembali.
10.Uang muka satu malam yang tidak bisa ditagih kembali akan dibebankan kepada rekening bank anda pada saat pesanan kamar anda dipastikan.
11.Nomor kartu kredit anda tidak benar dan masa berlakunya sudah habis.
12.Dengan senang hati kami memberikan harga kontrak dan berharap untuk mengadakan kerjasama bisnis yang baik. Tolong tanda tangani dan stempel apabila anda setuju dengan persayaratan dan ketentuan yang tertera dalam kontrak tersebut.
=======================================================
Module Task-3
You are a sales manager in a new travel agency arranging holiday packages for this year. Write a formal business letter to one of international chain hotels in Bali asking for a confidential contract rate. You need to have an inspection to the hotel to explore more about the hotel facilities, room type and facilities before the contract rate issued.
Mantra Panca Sembah
Kontribusi dari Jro Mangku Wayan Natia
Pinandita Loka Palaya Seraya di Kecamatan Banjit, Way Kanan-Lampung
Sembah pertama, sembah tanpa sarana sebagai pembuka
Mantra:
Om atma tatwatma suddhamam swaha
Sembah kedua, sembah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase manifestasinya sebagai Sang Hyang Aditya (matahari)
Mantra:
Om aditya sya param jyoti
Rakta teja namo stute
Sweta pangkaja madyasta
Bhaskara ya namo stute
Om rang ring sah parama cintya yenamah swaha
Sembah ketiga, sembah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase manifestasinya sebagai Ista Dewata (Dewa yang berstana di tempat melakukan pemujaan)
Mantra:
Om nama dewa adhi sthanaya
Sarwa wiapi wai siwa ya
Padmasana eka pratisthaya
Adhanareswaraya namah swaha
(Tambahkan mantra berikut jika muspa pada Hari Raya Saraswati)
Om brahma putri maha dewi
Bramanyam brahma wandhini
Saraswati sayadnyanam
Pradnyana ya saraswati
Om saraswati dipata ya namah swaha
(Tambahkan mantra berikut juka muspa di Pura Kayangan Jagat)
Om brahma wisnu iswara dewam
Jiwat manam tri lokanam
Sarwa jagat prastiyanam
Sawra roga wisnu cirtam
(Tambahkan mantra berikut jika muspa di Pura Dalem/Mrajapati)
Om ang brahma prajapati sresta
Swayem bhu paradham guru
Patmayoni catur watra
Brahma skayem unceyate
Om rang ring syah parama cintya ye namah swaha
Sembah keempat, sembah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wase manifestasinya sebagai dewa pemberi anugerah.
Mantra:
Om anugraha mano hara
Dewa data nugrahaka
Archanam sarwa pujanam
Namah sarwa nugrahaka
Om dewa dewi maha sidhi
Yajnanga nirmalatmaka
Laksmi sidhis ca dirgahayu
Nirwigenha sukha werdhis ca
Om sryam bhawantu
Shukham bhawantu
Purnham bhwantu
Om ksama sampurna ya namah swaha
Sembah kelima, sembah tanpa sarana sebagai penutup
Mantra:
Om dewa suksma parama cintya ya namah swaha
Om santih, santih, santih, om
Mantra Dupa
Kontribusi dari Jro Mangku Wayan Natia
Pinandita Loka Palaya Seraya di Kecamatan Banjit, Way Kanan-Lampung
Om ang dupa dipastra yenamah swaha
Om agenir agenir
Om dupa samarpayem ye namah swaha
Mantra Pasupati
Kontribusi dari Jro Mangku Wayan Natia
Pinandita Loka Palaya Seraya di Kecamatan Banjit, Way Kanan-Lampung
Om ang ung pasupati badjra yuda agni raksa rupaya purwa muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati pasa yuda agni raksa rupaya pascine muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati cakra yuda agni raksa rupaya utara muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati padma yuda agni raksa rupaya madya muka desa tanaya pasupatnya ong pat
Om ang ung pasupati para mantra pasupatnya ong pat
Om ang brahma urip
Om ung wisnu urip
Om mang iswara urip
Urip,…… Urip,….. Urip,…. Tang rerajahan
Om dewa urip, manusia urip, sing teka pada urip
Om kedep sidhi mandi mantra sakti












